
She’s not your kind (Dia bukan dari golonganmu)
“Pak Supri nanti tolong pastikan lagi nama adiknya Pak Bayu itu Andi atau Randi? Dan kalau bisa coba cari tahu lebih banyak tentang Randi atau Andi ini.”
“Baik, Bu.”
“Dasar arek kurang ajar, awakmu gak tau diajari sopan santun ta karo wong tuamu? (dasar bocah kurang ajar, tak pernah diajarkan sopan santun sama orangtuamu ya?)”
Terdengar keributan dari meja depan, membuatku mengalihkan pandangan dari Pak Supri ke arah depan. Ku lihat seorang pria dewasa terlihat sangat marah dengan mata melotot menghadap anak lelaki tampan dengan tubuh tinggi dan kulit kecoklatan.
“Bapak yang tidak sopan dengan merokok di tempat ini.”
Aku tersenyum melihat bagaimana anak itu dengan berani melawan lelaki yang jauh lebih tua darinya. Sepertinya si bapak telah melakukan kesalahan dengan merokok di area yang jelas-jelas dilarang untuk merokok. Anak itu mengingatkanku pada Oka yang terkadang karena darah mudanya tanpa berpikir panjang, dia akan berani melawan siapapun kalau memang benar.
“Waaah, pancen anak kurang ajar! (memang anak kurang ajar!)”
Melihat bagaimana lelaki yang hanya dewasa secara umur itu terlihat marah, sepertinya aku harus turun tangan karena semua orang hanya terdiam menonton saja. Aku berdiri dan berjalan mendekat ke arah mereka.
“Ade!” aku berseru sambil berjalan dengan cepat ke arah anak lelaki yang mengerutkan kening menatapku. “Nunggu dari tadi ya? Maaf tadi di toiletnya antri, jadi kakak sedikit lama.” Aku langsung merangkul bahunya yang kini menatapku bingung.
“Ada apa ini?” Aku menatap pria yang masih terlihat marah menatapku dan anak lelaki itu bergantian.
“Awakmu mbak ne ta? (Kamu kakaknya?)”
“Iya, saya kakaknya.” Aku menjawab setelah menebak pertanyaannya, ada mbak-mbak nya intinya dia nanya aku mbaknya kan ya? Mudah-mudahan saja benar.
“Ajarono adikmu sopan santun (Ajari adikmu sopan santun).”
Oke, kalau ini sepertinya dia menyuruhku mengajarkan adikku sopan santun. Waaah, dia bakal kaget kalau bertemu Oka karena dia sangaaat sopan sekali.
“Memangnya ada apa?” Aku menatap anak lelaki yang ada di sampingku.
“Bapak ini merokok di salam ruangan ini.” Anak itu berkata dengan mata menatapku.
“Waaah, maaf nih, Pak.” Aku balik menatap si bapak yang masih akan kembali mengumpat mendengar ucapan ‘adikku’. “Sebelum Bapak menyuruh saya mengajarkan adik saya sopan santun bagaimana kalau Bapak belajar membaca dulu?”
Mata si bapak terlihat membulat. Ckkk, orang-orang seperti ini memang ada di mana-mana, yang sok pintar tanpa berkaca terlebih dahulu, hanya bisa mengkritik orang padahal dirinya belum tentu benar.
“Atau Bapak tidak memakai kacamatanya, ya?”
“Koen! (kau!)” Bapak itu menggebrak meja sambil berdiri, membuat kami semakin menjadi tontonan orang. Teman-teman semejanya pun kini ikut berdiri membuat Pak Supri maju dan terlihat waspada.
“Di situuu …” Aku menunjuk tulisan no smoking yang terpasang di beberapa tempat. “Jelas-jelas tertulis no smoking, artinya tidak boleh merokok, Pak. Kalau Bapak tidak mengerti no smoking atau tidak bisa membaca, itu ada gambar rokok yang dicoret, Pak, artinya sama … dilarang merokok.”
Pria itu kini menatapku dengan rahang mengeras.
“Dan kalau Bapak merokok di ruang ber-AC seperti ini, apa Bapak tahu itu artinya Bapak meracuni semua orang yang ada di sini dengan asap rokok? Bahaya lho, Pak.”
Si bapak kini berdehem dan mulai mengalihkan pandangan.
“Ayo, Dek!” aku menarik adik yang bahkan namanya pun aku tak tahu. “Kita belajar sopan santun, dan … Bapak jangan lupa belajar membaca ya,” ucapku ketika berpapasan dengannya yang menatapku dengan mata membulat.
“Orang seperti itu memang harus diberi pelajaran. Mereka sangat menyebalkan!” Aku terus mengoceh sambil menarik tangan anak lelaki yang dengan sabarnya masih mengikutiku hingga turun melewati escalator.
“Kamu hebat, sangat berani.” Saat ini kami telah berada di lantai 1 dan akan kembali turun ke UG. Aku tersenyum membuatnya tersenyum simpul sambil tertunduk. “Memang sekarang ini banyak orang yang acuh dengan hal seperti itu, menganggap enteng padahal itu bahaya, ya?”
“Iya,” ucap anak itu setelah terdiam beberapa saat.
“Yang kamu lakukan itu sudah benar dengan menegurnya.”
Anak itu kembali tersenyum sambil tertunduk. Saat ini kami sudah ada di lantai G dan akan kembali turun ke lantai LG dimana E-world berada.
“Lain kali kalau ada orang seperti itu kamu boleh kok menegurnya.” Aku kembali tersenyum menatapnya. “Bilang saja … maaf, di sini tidak boleh merokok, atau kalau kira-kira orangnya itu wajahnya menyeramkan atau kamu merasa tidak nyaman lebih baik kamu meminta bantuan orang yang lebih dewasa, misalnya kamu bisa lapor security atau pelayan yang ada di sana. Oke?”
Anak itu terdiam kemudian mengangguk membuatku tersenyum. Saat ini kami telah berada di lantai LG dan tengah berjalan menuju E-World. Tanpa kusadari di belakang kami ikut mengekor tiga orang teman si adik baruku, dan juga Pak Supri. Aku hampir lupa kalau tadi aku tengah bersama Pak Supri dan tengah membicarakan masalah serius. Tapi aku juga tak boleh membiarkan anak ini mengahadapi bapak-bapak itu sendirian kan?
“Nah, sudah sampai! Kakak bekerja di sini nanti kalau kamu main ke sini, kamu boleh mencari Kakak, bilang saja mau bertemu Kirana.”
Anak itu kembali mengangguk, membuatku kembali tersenyum. Tadi dia mengingatkan kepada Oka dengan sikap beraninya, tapi melihatnya seperti ini ternyata dia jauh lebih pendiam dari pada Oka yang pecicilan.
“Dan namamu adalah …”
Dia terdiam terlihat ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Reka.”
“Reka?” Dia mengangguk membuatku tersenyum. “Baiklah, Reka. Kakak harus kembali lagi bekerja, jadi sampai jumpa lagi.”
Dia terdiam terlihat malu sebelum akhirnya berkata, “Terima kasih.”
Aku tersenyum sambil menepuk lengannya.
“No problem, that’s what sister is for (Tidak masalah itulah gunanya kakak perempuan).”
Aku berjalan menuju kantor diikuti oleh Pak Supri meninggalkan Reka yang kini dikerumuni teman-temannya.
“Pak Supri tidak perlu lapor kepada Caraka soal kejadian barusan.”
Pak Supri terlihat terkejut kemudian menggaruk tengkuknya sambil tersenyum. “Ibu sudah tahu?”
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Pak Supri. Bagaimana aku tidak tahu, secara aku tak pernah pergi kemana pun jadi aku tak membutuhkan sopir pribadi, tapi Pak Supri setiap hari dengan setia berada di kantor, dan setiap sore membawakanku kopi dari Caraka. Jadi apa lagi namanya kalau bukan sebagai pengawal pribadiku, dan terbukti tadi ketika aku menghadapi bapak-bapak itu, Pak Supri terlihat langsung siaga.
“Masalah Pacet-pun biar nanti saya yang memberi tahu Caraka, dan Pak Supri tidak perlu menjaga saya lagi.” Pak Supri menatapku terkejut. “Pak Supri cukup fokus tentang H. Joko, Pak Bayu dan juga Randi atau Andi ini.”
Ku lihat Pak Supri terlihat lega sesaat mungkin tadi dia berpikir aku aku akan memecatnya, namun sejurus kemudian dia terlihat ragu.
“Bapak tak perlu khawatir nanti saya yang akan berbicara pada Caraka kalau saya memberi pekerjaan khusus untuk Pak Supri.”
Akhirnya Pak Supri kembali bernapas lega sambil mengangguk mengerti.
Aaah, Caraka Benua, dia pikir bisa diam-diam memberi pengawal pribadi tanpa sepengethuanku? Ckkk! Dasar pria posesif! Tapi aku menyukainya, hehehe.
***
Author pov.
“Kamu yakin kalau itu Caraka?” Tanpa basa basi Anggi langsung bertanya.
“Yes, 100%.”
Anggi yang baru saja datang langsung duduk bergabung bersama teman-temannya, terlihat tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Dan dia bersama perempuan itu?”
“Yap!”
Anggi kembali terdiam.
“Apa yang mereka lakukan di sini?”
Kedua temannya menggelengkan kepala. Anggi dikejutkan oleh laporan kedua temannya kalau mereka melihat Caraka di Surabaya bersama dengan seorang perempuan. Akhir-akhir ini dia meminta temannya di Jakarta untuk mengawasi Caraka mencari tahu siapa perempuan yang telah merebut Caraka darinya, tapi laporan yang dia terima kalau Caraka hanya kantor – apartemen, tak pernah sekalipun dia menemui perempuan lain.
Sempat dia berpikir kalau Caraka menjadikan issue perempuan lain hanya sebagai alasan untuk pembatalan perjodohan, tapi ternyata dia salah. Perempuan itu jelas ada … dan perempuan itu di sini, di kota yang sama dengannya tinggal.
“Kita melihat mereka tadi di Sky Restaurant.”
“And he literally treats her like a princess (Dan dia benar-benar memerlakukannya seperti seorang putri).”
Anggi semakin terdiam mengingat dulu Caraka memerlakukannya dengan penuh kesopanan, dan selalu menjaga jarak. Anggi ingat dulu selalu dia yang pertama menghubungi Caraka lebih dulu, tak pernah sekalipun Caraka menghubunginya. Dan sekarang Caraka memerlakukan perempuan lain seperti seorang Putri? Bagaimana bisa?
“Seperti apa perempuan itu?”
Anggi penasaran dengan sosok yang telah membuat seorang Mahesa bertekuk lutut hingga memutuskan pertunangan dengan seorang Anggi Santoso.
“Ah, tunggu!” Gadis berbaju peach mengeluarkan ponselnya. “Ini, aku sempat memotret mereka.”
Anggi menerima ponsel temannya, matanya menatap layar ponsel dan hatinya tiba-tiba terasa panas sebelum akhirnya amarah menyeruak ke permukaan. Matanya nyalang menatap Caraka yang tengah merangkul perempuan lain dengan senyum di wajahnya, dan yang pasti walau dari jauh dia bisa melihat bagaimana Caraka menatap perempuan itu dengan penuh kasih sayang, tatapan dan senyuman yang tak pernah Caraka berikan untuknya.
Perempuan dalam rangkulan Caraka terlihat sederhana, bukan seperti perempuan-perempuan yang selama ini dekat dengan Caraka. Tidak begitu cantik, masih kalah cantik darinya, dengan penampilan yang biasa saja. Apa yang sebenarnya Caraka lihat dari perempuan itu? Dan itu semakin membuat amarahnya semakin menjadi, karena merasa dikalahkan oleh perempuan yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dia.
Siapa perempuan itu? Apa yang membuat Caraka jatuh cinta padanya? Dan yang pasti apa yang sedang mereka lakukan di sini?
Apa mereka dengan sengaja datang ke Surabaya hanya untuk memerlihatkan kemesraan mereka padanya?
Apapun alasannya itu, dia tak akan membiarkan perempuan biasa itu mendapatkan seorang Caraka Mahesa. Dia masih bisa mengakui kekalahannya kalau perempuan itu sebut saja anak pejabat negara, atau mungkin anak pengusaha yang kelasnya di atas dia.
Tapi perempun itu? Melihat sekilas dari penampilannya saja sudah dipastikan kalau perempuan itu jauh berada di bawahnya.
Tidak … dia tidak pernah merasa terhina seperti ini. Dikalahkan oleh seseorang yang bukan siapa-siapa. Dan seorang Anggi Santoso tidak pernah membiarkan dia kalah begitu saja.
******
I’m Jealous
By. Divinyls
You’ve got a new girlfriend
Kamu punya pacar baru
But I still love you
Tapi aku masih mencintaimu
I can’t stand the thought of her
Aku tidak tahan membayangkan dia
Having a piece of you
Memiliki sebagian dari dirimu
What she got that i don’t
Apa yang dia punya tapi aku tidak (miliki)
What she do that I won’t
Apa yang dia lakukan tapi aku tidak (lakukan)
You must be blind
Kamu pasti buta
Take a good look at her
Perhatikan dia baik baik
She’s not your kind
Dia bukan dari golonganmu
I don’t’ know what I’d do
Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan
If I saw her with you
Jika aku melihatnya bersamamu
I’m Jealous
(Aku cemburu)
I’m Jealous
(Aku cemburu)
I’m Jealous
(Aku cemburu)