
A picture of a puzzle
Kirana dan Caraka kembali masuk ke dalam hotel dimana Ibu Widya tengah duduk di lobi dan berbincang dengan beberapa wanita. Kirana mengingat mereka adalah tamu yang tadi duduk di meja VVIP.
“Kirana!” Panggil Ibu Widya.
Kirana berjalan mendekati kumpulan para wanita dengan penampilan ciri khas high class woman.
“Kenalin, Jeng, ini Kirana … calonnya Caraka.”
Kirana menyalami para wanita itu dengan sopan. Seperti biasa akan ada tatapan menyelidik, namun kali ini bukan tatapan merendahkan hanya rasa penasaran mereka terhadap sosok yang telah berhasil membuat seorang Rudi Mahesa dengan bangga mengenalkannya di muka umum seperti tadi sebagai calon menantu Mahesa.
“Ini Ibu Mayang, beliau adalah istri dari Andi Santoso yang tidak bisa hadir hari ini.” Ibu Widya mengenalkan kepada perempuan terakhir dengan rambut panjang yang di tata sedemikian rupa hingga terlihat cantik.
“Jadi ini yang akhirnya berhasil menaklukan seorang Caraka Mahesa,” ucap Ibu Mayang dengan mata terlihat mengamati Kirana yang masih menyunggingkan senyum ramah.
“Bukan saya yang menaklukan Caraka, tapi Caraka yang berhasil menaklukan saya.”
“Hahaha … benar itu! Caraka sampai ditolak berkali-kali sebelum akhirnya berhasil meyakinkan Kirana untuk menerimanya.” Ibu Widya tertawa mendengar ucapan Kirana.
“Apa Mamah sebahagia itu mengetahui ada perempuan yang menolak anakmu sampai berkali-kali?”
“Hahaha … tentu saja!”
Caraka hanya bisa tersenyum pasrah melihat ibunya yang terlihat bahagia menertawakannya.
“Papah mana, Mah?” tanya Caraka setelah menatap sekeliling, tapi tak menemukan ayahnya di sana.
“Masih bicara dengan Pak Salim, biasa kalau sudah bicara bisnis papahmu itu bisa lupa waktu.” Caraka mengangguk mengerti. “Na, kamu di sini saja sama Mamah, soalnya dari tadi papahmu mencari kamu, pasti mau dikenalin sama Pak Salim. Mau pamer dia.”
“Hahaha.” Kirana hanya tertawa mendengar ucapan Bu Widya.
“Telat,” ucap Caraka sambil menunjuk dengan matanya ke arah Rudi Mahesa yang tengah berjalan sambil berbincang bersama seorang pria lanjut usia, di belakangnya mengekor tiga orang yang sepertinya pengawal pria paruh baya itu.
“Na!”
“Iyo tho … kandani og, wis telat yen awakmu meh delik. (Tuh kan … apa Mamah bilang, sekarang telat kalau kamu mau sembunyi).”
“Hahaha … Kirana ke Papah dulu ya, Mah.” Ibu Widya mengangguk memberi izin. “Saya permisi, semuanya.” Kirana berjalan bersama Caraka yang merangkulnya meninggalkan Ibu Widya yang tersenyum melihat keduanya.
“Dapat calon mantu seperti itu dari mana, Jeng? Cantik, sopan, pinter lagi.”
“Hahaha.” Ibu Widya tertawa bangga mendengar pujian dari salah satu kenalanya yang mendapat sautan setuju dari yang lainya.
Ibu Mayang yang dari tadi mengamati bagaimana interaksi antara keluarga Mahesa dan gadis itu bisa melihat kalau Kirana sudah sepenuhnya diterima oleh keluarga Mahesa. Siapa sebenarnya gadis itu sampai bisa membuat seorang Caraka Mahesa yang telah digaadang-gadangkan menjadi menantu Andi Santoso sampai nekad memutuskan perjodohan.
Memang tidak pernah ada ucapan resmi untuk menjodohkan Anggi dan Caraka, hanya obrolan antar orangtua saja, tapi Anggi sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Caraka hingga segala cara dia lakukan untuk menarik perhatian seorang Caraka Mahesa, tapi semua sia-sia. Putrinya tidak pernah mendapat perhatian dari lelaki yang kini tengah menatap Kirana dengan pemujaan.
Kesan pertama yang Ibu Mayang dapat dari Kirana adalah perempuan yang sangat percaya diri terlihat dari pembawaannya yang selalu terlihat tenang, kecerdasannya terlihat dari cara dia bertutur kata dan sepertinya itu yang membuat keluarga Mahesa menerima gadis itu dengan tangan terbuka. Melihat bagaimana Rudi Mahesa dengan bangganya mengenalkan perempuan itu di depan semua orang dan kepada para pebisnis-pebisnis nomer satu negri ini, maka tidak akan ada lagi keraguan tentang kecerdasan dan kemampuannya dalam bisnis, apalagi setelah mandapat pengakuan dari Haryanto. Pebisnis nomer satu di wilayah timur. Dan kini sepertinya dia kembali mendapat pengakuan dari pemilik Salim group, salah satu dari lima besar pebisnis negri ini, pria dengan rambut putih yang sudah menipis itu kini tertawa sambil menepuk lengan Kirana setelah mendengar gadis itu mengatakan sesuatu membuat Rudi Mahesa tersenyum bangga.
Sudah dipastikan Anggi akan kalah kalau harus bersaing dengan seorang Kirana. Sesungguhnya Anggi bukanlah gadis yang bodoh, dia cukup pintar hanya saja karena sedari kecil semua keinginanya akan dikabulkan membuatnya tumbuh menjadi gadis malas, manja dan keras kepala. Dan sepertinya kemarin Anggi dihadapkan langsung dengan kenyataan kalau dia tak akan bisa mengalahkan perempuan yang telah mencuri hati laki-laki yang dia sukai, membuatnya larut dalam minuman alkohol dan pulang dalam keadaan mabuk berat.
Sebagai seorang ibu tentu saja dia tak ingin putrinya larut dalam kesedihan patah hati, tapi dia juga tidak bisa memaksakan perasaan orang lain hanya karena permintaan putrinya.
***
Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
“Kalau kamu ingin segera kembali ke Jakarta hubungi Candra, tidak perlu menunggu sampai bulan depan.”
Kirana mengangguk mendengar ucapan Rudi Mahesa. Saat ini dia tengah mengantar kepulangan calon mertua juga ke kasihnya di bandara Junda, Surabaya.
“Saya akan pulang ke Jakarta setelah Ivan dirasa siap untuk saya tinggalkan, selain itu … masih ada satu urusan yang harus saya selesaikan di sini.”
Rudi Mahesa terdiam kemudian mengangguk. Caraka pernah memberitahunya kalau Kirana tengah mencari ayah kandungnya di Surabaya, dan sepertinya sampai saat ini gadis yang membuatnya kagum dengan kemampuannya itu belum berhasil menemukan ayah kandungnya.
“Kalau kamu membutuhkan apapun itu, jangan sungkan untuk menghubungi Papah.”
Kirana terdiam kemudian mengangguk semangat. Ada perasaan hangat di dadanya ketika mendengar Rudi Mahesa menyebut dirinya sendiri Papah seolah mengikrarkan kalau dia adalah ayah dari Kirana, membuat matanya tanpa sadar berkaca-kaca.
“Lho ngopo to malah nangis (Lho kenapa malah nangis)?” Ibu Widya merangkul Kirana yang sibuk menghapus air matanya.
“Senang karena sekarang Kirana memiliki seorang Papah.”
“Oalah …” Ibu Widya memeluknya erat. “Wis ora popo, ojo nangis meneh (Sudah tidak apa-apa, jangan nangis lagi) … malu dilihatin orang.”
Kirana tersenyum sambil menghapus air mata yang kembali mengalir.
“Dasar cengeng!” Caraka mengelus kepala Kirana.
“Waaah, jangan gitu dong, Pah, doanya. Mentang-mentang sudah punya high quality daughter in law sampai tak peduli sama anaknya.”
“Makanya cepat lamar dia yang benar bukannya malah pacaran mulu … direbut orang saja nangis-nangis.”
“Iya nanti, setelah menemukan H. Joko.”
“H. Joko? Siapa H. Joko?”
“Kakeknya Kirana … H. Joko tuan tanah, punya peternakan kambing Etawa, Pakde Bayu, Randi Prasetyo. Sampai hapal aku.”
“Hahaha.”
Kirana dan Caraka tertawa berbeda dengan Rudi Mahesa yang terlihat mengerutkan kening berpikir.
“H. Joko … peternakan kambing Etawa,” gumam Rudi Mahesa.
“Ayo, kita harus masuk sekarang! Iso (bisa) ketinggalan pesawat kita.” Ibu Widya kembali memeluk Kiran. “Baik-baik di sini, jangan sampai telat makan.” Kirana menagguk mengerti. “Simpan saja perhiasannya, siapa tahu nanti kamu perlu untuk memakainya.” Kirana tersenyum dan kembali mengangguk.
Sesuai janji Kirana mengembalikan perhiasan yang dia gunakan kemarin, tapi Ibu Widya menolaknya dan menyuruhnya untuk menyimpan kotak itu. Dengan berat hati akhirnya Kirana menerima perhiasan itu, dia berniat hanya akan menyimpannya saja sampai nanti ketika dia telah sah menjadi menantu Mahesa, barulah dia akan memakainya.
“Ingat kalau perlu apa-apa hubungi Papah.”
“Iya, Pah.”
Rudi Mahesa mengelus kepala Kirana membuat gadis itu kembali merasa haru.
“Kirana … boleh memeluk Papah?” pinta Kirana terlihat ragu membuat Rudi Mahesa tersenyum dan langsung memeluk Kirana yang matanya kembali berkaca-kaca.
“Kamu hebat Kirana, Papah bangga sama kamu,” ucap Rudi Mahesa membuat Kirana tak kuasa lagi menahan tangis.
Selama 20 tahun ini dia selalu berharap mendengar itu dari ayahnya, dan kini walaupun bukan ayahnya yang mengatakan itu, tapi itu sedikit mengobati kerinduannya.
“Jangan nangis terus, aku tak akan sanggup meninggalkanmu kalau kamu menangis terus seperti ini,” bisik Caraka ketika kini gilirannya memeluk Kirana sedikit menjauh dari orangtuanya.
“Aku menangis karena bahagia.”
“Karena kini mempunyai seorang Papah?”
Kirana tersenyum menatap Caraka. “Memilikimu adalah anugrah terindah yang pernah ku miliki. Dengan memilikimu, aku kini bisa merasakan bagaimana rasanya dipuji oleh seolah ayah.” Caraka tersenyum mendengar ucapan Kirana. “Terima kasih karena tak menyerah denganku, hingga aku bisa sebahagia ini sekarang.”
Caraka mengecup pucuk kepala Kirana sebelum melepaskan pelukan.
“Terima kasih juga karena akhirnya menyerah dan memilih untuk menjadi Cinderella untukku.” Kirana tersenyum mendengar ucapan Caraka.
Ya, dulu mungkin Kirana adalah gadis realistis yang tidak akan percaya kisah cinta layaknya cerita-cerita negri dongeng. Namun kini kisah cintanya sendiri sudah seperti cerita Disney, dan bahkan kisah hidupnya ternyata tak ayalnya drama Korea ketika esok harinya Kirana mendapat laporan dari Pak Supri yang kemarin pergi ke Pacet.
“Dia tidak mau memberi kita alamat tinggal Pak Bayu, ataupun H. Joko,” lapor Pak Supri.
Saat ini seperti biasa Kirana akan membawa Pak Supri jauh dari E-World untuk melaporkan hasil temuannya.
“Tapi dia berjanji akan memberitahu kepada Pak Bayu kalau Bu Kirana tengah mencarinya, dan kalau bersedia dia akan menghubungi saya untuk memberitahu kapan kita bisa bertemu dengan beliau.”
Kirana mengangguk mengerti.
“Tapi sepertinya tidak bisa sekarang-sekarang, Bu, soalnya Pak H. Joko sedang sakit jadi katanya Pak Bayu harus bulak-balik ke Singapur untuk pengobatan.”
Kirana kembali mengangguk.
“Dan mengenai adik Pak Bayu … betul, Bu, namanya Randi tapi orang-orang di sana memanggilnya Andi, katanya dari kecil panggilannya memang Andi. Itupun hanya sedikit yang tahu kalau nama aslinya adalah Randi, untungnya saya bertemu dengan teman sekolah Pak Andi yang sekarang bekerja di peternakan.”
Jadi benar kalau Andi adalah nama kecil Randi. Ayah Kirana.
Randi Prasetyo, apakah tetap akan menjadi Andi Prasetyo?
“Keluarga dan teman kecilku memanggilku Raka, rekan bisnis memanggilku Caraka Mahesa atau Benua Mahesa, sedikit yang mengenalku sebagai Caraka Benua.”
Kirana teringat perkataaan Caraka apakah ini juga berlaku untuk ayah Kirana?
Apa orang-orang akan mengenalnya sebagai Randi Prasetyo? Andi Prasetyo? Atau mungkin menggunakan nama keluarga seperti halnya Caraka?
Kirana tak tahu siapa nama keluarga H. Joko, tapi kepingan-kepingan puzzle yang telah dia temukan dia coba susun sedemikian rupa hingga akhirnya membentuk satu nama.
Satu nama yang membuat bulu kuduknya meremang, tubuhnya bergetar dengan aura dingin menyelimutinya dan jantungnya berdetak menggila.
Tidak! Ku harap itu hanya pikiran terliarku saja, tak untuk jadi nyata.
Harap Kirana dalam hati.
*****