
Be safe, be happy
“Jujur saja akhir-akhir ini Mamah selalu memikirkan hubunganmu dan Caraka membuat Mamah berpikir mungkin ini saatnya Mamah mencari keberadaan ayahmu, tapi Mamah bingung kemana harus mencarinya? Mamah tidak memiliki kenalan di Surabaya yang minimal bisa membantu mencari tahu kabar ayahmu … apa masih ada atau tidak.”
Mamah benar … apa ayah masih hidup? Selama ini aku tak pernah berpikir ke sana … mungkin saja ayah sudah tidak ada karena itu ayah tidak mencari kami. Kalau ayah sudah tidak ada bagaimana keadaan Bi? Bersama siapa dia sekarang?
“Ketika kamu meminta izin untuk ke Surabaya.” Mamah kembali berkata membuatku kembali fokus menatap Mamah, melupakan pikiran yang tadi sempat berkelana. “Mamah sempat berpikir mungkin ini jalan yang sudah ditentukan oleh Allah supaya kamu bisa dipermudah mencari ayah dan adikmu.”
Aku tersenyum sambil mengangguk. Ya, seperti yang Mamah bilang dengan aku di tugaskan di Surabaya mungkin ini salah satu petunjuk juga jalan dari yang Maha Kuasa kalau ini saatnya aku mencari keberadaan ayah juga adikku. Suka atau tidak, terima atau tidak, seperti yang dikatakan Mamah ayahku tetaplah wali sahku ketika menikah nanti.
“Baiklah, Kirana akan usahakan mencari ayah dan Bi, tapi dari mana Kirana harus mencarinya?”
“Nah, itu dia, Na, Mamah juga lupa-lupa ingat nama daerah asal ayahmu.”
“Bagaimana Kirana bisa mencari mereka, Mah, kalau hanya berbekal nama saja.”
Mamah terdiam terlihat berpikir beberapa saat.
“Yang Mamah ingat ayahmu cerita kalau di rumahnya itu mereka punya peternakan kambing Etawa. Coba saja kamu cari ke tempat-tempat peternakan kambing Etawa.”
Hadeuh, nih Ibu Mega dikira hanya ada satu peternakan kambing Etawa di Surabaya.
“Itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu, Mah, bisa saja sekarang mereka sudah tidak punya peternakan lagi.”
“Iya juga ya.” Mamah mengangguk setuju. “Tapi bisa juga masih sampai sekarang.” Hadeuh, kalau sudah seperti ini Ibu Mega telah berubah menjadi Ibu Negara, yang artinya tidak ada yang bisa membantahnya. Titahnya adalah sebuah keharusan layaknya tugas negara.
“Daerahnya deh, Mah, minimal daerahnya … Surabaya itu kan luas, Mah.”
“Mamah lupa, Na … namanya kalau tidak salah dari P … apaaa gitu.” Mamah terdiam kembali terlihat berpikir. “Purwokerto? Bukan, Purwodadi? Bukan, Pasuruan? Bukan, Pekalongan? Juga bukan.”
Aku menganga mendengar Mamah yang bermonolog.
“Palembang? Pekanbaru? Pare-Pare?”
Mamah menatapku sebelum memukul lenganku.
“Ih, kamu mah suka aneh. Itu mah bukan daerah di Jawa atuh.”
“Mamah juga aneh, yang Mamah sebutkan tadi itu bukan daerah Surabaya, Mah.”
“Tapi minimal kan masih di Jawa, Na.”
Ya … emak-emak mah bebaslah, terserah.
“Namanya deh, Mah.”
“Kan tadi sudah Mamah kasih tahu … Randi Prasetyo.”
“Bukan nama ayah, Mah.” Lama-lama aku seperti bicara dengan H. Bolot ini. “Nama orangtua ayah, yang punya peternakan kambingnya.”
“Oooh, bilang atuh dari tadi.” Mamah tertawa melihatku yang menghela napas berat. “H. Joko.”
“H. Joko?”
“Iya, dulu ayahmu sering cerita kalau peternakan ayahnya cukup terkenal. Mereka menghasilkan susu kambing Etawa yang nantinya dijual ke koperasi untuk dijadikan oleh-oleh.”
Aku mengangguk mengerti. “H. Joko. Pakde Bayu. Randi Prasetyo.” Aku mencoba mengingat ketiga nama ini, untuk memudahkan pencarianku nanti di Surabaya.
“Peternakan kambing Etawa.” Mamah menambahkan list yang harus aku ingat membuatku mengangguk.
“Peternakan kambing Etawa.”
“Tuan tanah.”
Aku menghela napas mendengar Mamah menambahkan satu lagi list.
“H. Joko, tuan tanah yang punya peternakan kambing Etawa, Pakde Bayu, Randi Prasetyo.”
Kali ini Mamah mengangguk puas mendegar aku telah menghapal semuanya.
“Jangan lupa Bi.”
“Iya ... H. Joko, tuan tanah yang punya peternakan kambing Etawa, Pakde Bayu, Randi Prasetyo, Bi.”
Mamah semakin mengangguk puas.
“Tapi, Na, bisa saja panggilannya bukan Bi lagi sekarang. Kita dulu kan manggil Bi biar orang Jepang gampang manggil dia, seperti kamu juga kan dulu di Jepang di panggil Nana.”
Aku mengangguk setuju dengan ucapan Mamah.
“Tenang aku akan mencari dengan namanya yang jelas … Bentari.”
“Nama lengkapnya …”
“Iya, Mah, Kirana ingat. Mamah tenang saja.” Aku memotong Mamah yang akan mengucapkan nama lengkap Bi. Karena kalau dibiarkan terus itu tidak akan ada akhirnya, akan terus semakin panjang dan lebar. Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam dan aku harus tidur agar besok tak terlambat sampai bandara.
Jadi case close dengan … H.Joko, tuan tanah yang punya peternakan kambing Etawa, Pakde Bayu, Randi Prasetyo, Bentari. Oke, Noted.
***
Pagi-pagi Siska yang akan mengantarku ke bandara sudah datang bersama Bu Yati. Ibunya Siska. Sedangkan Oka sudah pergi menggunakan si merah dengan senyum lebar, karena akhirnya bisa pergi ke sekolah dengan membawa motor sendiri tanpa harus nebeng teman-temannya atau naik ojek online.
Dengan di antar Mamah, Bu Yati dan Siska sebagai sopir kami pergi menuju bandara. Mamah dan Bu Yati duduk di belakang yang mendumel karena jalanan yang padat, sedangkan aku duduk di depan bersama Siska, merasa sudah terbiasa dengan kemacetan di pagi hari. Jadi aku bisa sedikit santai karena sudah memperkirakannya, karena itulah kami berangkat lebih awal.
“Gue kira lo diantar Caraka.”
“Guenya yang enggak mau.”
“Kenapa?”
“Karena gue takut malah tambah sedih, dan berat buat meninggalkan dia.”
"Yaelah, Munaroh, cuma tiga bulan doang kali, kaya yang mau pergi berapa tahun saja.”
Saat ini kami telah melewati lampu merah Ceger, belok kanan kemudian kiri memasuki terowongan Taman Mini, dan untung saja jalanan sepanjang TMII lumayan lancar sampai perempatan Tamini Square – Podok Gede yang sedikit panjang antriannya.
“Tapi tetap saja, ini kali pertama gue pergi lama meninggalkan pacar gue yang tampan dan tajir itu.”
“Tolong itu tampan dan tajirnya tidak perlu digaris bawahi.”
“Hahaha, justru itu harus digaris bawahi, di caps lock, bold dan italic.”
“Hahaha.”
“Kamu juga meninggalkan Mamah sama Oka. Kamu tidak sedih?”
Mamah yang duduk di belakang terdengar protes membuatku kembali tertawa.
“Ya bagaimana mau sedih kalau pas dikasih tahu Kirana tugas ke luar kota Oka malah bersorak bahagia banget karena bisa memakai si Merah selama Kirana di Surabaya, dan Mamah senang banget karena akhirnya bisa jalan-jalan ke Surabaya dengan alasan menjengukku.”
“Hahaha, nanti Siska temanin ya, Tan, siapa tahu nanti ketemu jodoh crazy rich Surabaya di sana.”
“Jangan yang kreji-krejian ah pusing,” sambung Bu Yati. “Nanti kamu malah disiksa seperti di sinetron-sinetron gitu, malah jadi kreji beneran.”
Nah, pahamkan sekarang kalau Bu Yati sama Bu Mega itu 11-12 soal daya khayal?
“Calon mertua Kirana baik kok, Tan, tidak bikin Kirana kreji.”
“Nah, jangan dilepas lagi, Na, susah itu nyari yang seperti itu. Kalau Caraka punya adik bolehlah kamu kenalkan sama Siska.”
“Siska sudah bilang, Mah, tapi kata Kirana dia tidak mau punya adik ipar seperti Siska.”
“Hahaha.” Aku tertawa mendengar Siska yang mengadu kepada ibunya.
“Benar juga sih. Kamu makannya banyak, bikin malu.”
“Hahaha.” Tawaku semakin kencang mendengar ucapan Bu Yati yang membuat Siska cemberut.
Saat ini kami sudah memasuki kawasan bandara Halim Perdana Kusuma setelah tadi terjebak di beberapa titik kemacetan, tapi alhamdulillah tidak begitu parah jadi bisa datang lebih awal untuk mengurus tiket dan lain-lainnya.
Dan tebak apa yang membuatku terkejut ketika sampai di ruang tunggu depan pintu keberangkatan?
Yap! Kang kopi tengah duduk dengan tampannya dengan senyum lebar ketika melihatku dan yang lainnya memasuki area bandara.
“Kok, bisa ada di sini?”
“Kamu pikir aku akan melepaskanmu pergi tanpa melihatmu dulu?”
Aku hanya bisa tersenyum menatapnya.
“Masih ada waktukan?”
Aku melihat jam tangan yang menunjukan pukul 9.25, masih ada waktu kurang dari sejam lagi dari jam take of yang tercetak di atas tiket.
“Masih.”
“Boleh bicara sebentar?”
Aku pamit kepada Mamah yang tengah berbincang dengan Bu Yati, sedangkan Siska terlihat asik berpose di depan kamera ponselnya.
“Candra sudah memberitahumu tentang siapa yang akan kamu temui di sana?”
“Iya, Candra sudah menjelaskan tentang semuanya.”
Caraka mengangguk.
“Nanti di bandara akan ada sopir yang menjemputmu, namanya Pak Supri.”
Aku sudah mengetahuinya karena Candra sudah memberitahu tentang itu.
“Mamahmu memberitahuku kalau nanti kamu akan mencari ayahmu.”
Mamah memberitahu Caraka? Kapan? Apa malam waktu mereka ngobrol berdua dan aku membeli soto Betawi? Sepertinya sih iya.
“Kamu sudah mengetahuinya.”
Caraka mengangguk sambil berkata, “Aku akan menemanimu mencari ayahmu, tapi kalau kamu ingin pergi mencari ayahmu sendiri atau ingin pergi kemanapun dan aku tidak ada. Kamu pergi dengan Pak Supri jangan pergi sendiri, paham?”
Aku hanya kembali mengangguk walaupun belum begitu paham. Pak Supri itu kan sopir kantor, bagaimana bisa aku menyuruhnya menjadi sopir untuk urusan peribadiku?
“Dan … simpan ini.”
Aku benar-benar menganga melihat kartu berwarna hitam yang kini berada di tanganku.
“Aku tak memerlukan ini.” Aku menyerahkan kembali kartu itu kepada Caraka. “Kamu lupa kalau sekarang aku seorang Manager, dan gajiku cukup besar walaupun masih jauh di bawahmu.”
“Jangan tolak!” Caraka kembali menyerahkan kartu itu di tanganku, tak memedulikan aku yang menolaknya. “Anggap saja ini dana darurat, kamu gunakan kalau benar-benar perlu.”
“Tapi …”
“Dengar, Na, aku mohon untuk sekali ini jangan keras kepala. Aku tahu kamu tidak menyukai hal-hal seperti ini, tapi di Surabaya kamu sendiri. Tidak ada keluarga, saudara, bahkan mungkin teman yang akan menolongmu kalau kamu perlu sesuatu yang bersifat darurat. Jadi aku mohon, simpan ini.”
Aku masih terdiam menatap black card di tanganku. Berat … sungguh berat tanggung jawab yang akan ku pikul karena kartu kecil ini. Saat ini hubunganku dengan Caraka belum sejauh itu hingga dia memiliki kewajiban untuk memberiku sebuah kartu yang ku tahu tanpa limit. Hanya saja ucapannya benar … di Surabaya aku sendiri, tidak ada yang bisa ku andalkan andai sesuatu terjadi padaku. Jadi untuk sementara aku akan menyimpannya, hanya menyimpannya saja. Mudah-mudahan tidak ada kondisi darurat yang membuatku harus menggunakan kartu itu.
“Aku tidak pernah memberikan kartu ini pada orang lain, bahkan Arletha.”
Aku tersenyum mendengar penjelasannya yang seolah takut aku berpikir kalau dia memberikan kartu yang sama kepada para mantan-mantannya.
“Baiklah, aku akan menyimpannya, tapi ketika aku kembali ke Jakarta aku akan mengembalikannya padamu.”
Caraka mengangguk, bersamaan pemberitahuan mengenai penerbangan Jakarta – Surabaya, pesawat yang akan aku tumpangi. Aku berdiri disusul yang lainnya yang berjalan mengantarku sampai depan pintu keberangkatan.
Siska, Bu Yati, Mamah bergantian memelukku dengan berbagai macam petuah, bahkan Mamah terlihat menahan tangisnya walaupun begitu tetap saja ketika memelukku, dia berbisik,
“Ingat, H. Joko, punya peternakan kambing Etawa, tuan tanah, Pakde Ba …”
“Kirana ingat, Mah.”
Dengan cepat aku melepaskan pelukan karena sudah hapal betul dengan apa yang akan Mamah ucapkan selanjutnya.
Kini giliran Caraka yang memelukku, sambil berbisik,
“Please be safe, be happy, be success, and keep your heart just for me … love you.”
“Love you too.”
Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Hanya tiga bulan, aku akan segera kembali.”
Caraka mengangguk.
Dengan perlahan aku mulai berjalan meninggalkan orang-orang yang ku sayangi, untuk kuraih apa yang menjadi imipianku dan akan kembali pulang dengan kepala tegak.
******