
I’m here for you (Aku di sini untukmu)
Author, pov
“Ternyata benar itu kamu.”
Kirana berdiri bergeming, sedangkan Elvan berjalan mendekat dengan senyum lebar di wajahnya.
“Kemarin aku sempat ragu, apa itu benar-benar kamu? Dan ternyata itu benar.” Elvan masih tak percaya kalau Kirana kini berdiri di hadapannya. Perempuan yang selama ini berusaha dia lupakan, namun terlalu sulit melupakannya.
“Kalau anda mau membeli sesuatu, bisa minta bantuan salah satu SPG atau SPM, permisi.”
Kirana beralik dan berjalan dengan cepat meninggalkan Elvan yang terlihat terkejut dengan reaksi Kirana.
“Na, Nana! Kita harus bicara,” ucap Elvan sambil berjalan cepat mengejar Kirana.
“Tidak ada yang harus kita bicarakan.”
“Na!” Elvan mencengkram tangan Kirana yang langsung membuat gadis itu tersentak terkejut dengan wajah pucat pasi membuat Elvan langsung melepaskan cengkramannya. “Maaf-maaf.”
Napas Kirana terlihat memburu, tubuhnya gemetar. Cengkraman Elvan tadi membuat Kirana teringat kejadian beberapa bulan lalu … kejadian yang membuatnya memiliki sedikit trauma. Diam-diam Kirana mengatur napas dan perlahan mulai kembali tenang, dia menatap sekeliling dimana beberapa orang terlihat penasaran dengan apa yang terjadi, membuat Kirana menghembuskan napas berat.
“Maaf aku tak bermaksud mengejutkanmu,” ucap Elvan dengan sungguh-sungguh. “Tapi kita harus bicara, Na.”
Beberapa saat Kirana terdiam menatap Elvan yang menatapnya dengan serius.
“Aku mohon,” lanjut Elvan membuat Kirana kembali menghela napas.
“Tidak di sini.” Kirana berbalik dan terus berjalan keluar dari E-Word diikuti oleh Elvan yang mengekor di belakangnya.
Kirana terus berjalan sampai akhirnya masuk ke dalam sebuah café yang tak begitu ramai. Mereka kini duduk di meja dekat dinding kaca.
“Mau minum apa?” Elvan bertanya sambil membaca menu.
“Dari mana kamu tahu aku bekerja di sana?”
Elvan menunjuk kalung ID card yang menggantung di leher Kirana dengan tali merah bertuliskan E-World membuat Kirana menghela napas menyadari kebodohannya mengingat hari ketika bertemu dengan Elvan dia belum mencopot ID cardnya.
“Mau minum apa? Late? Kamu masih suka late?” Elva kembali bertanya sambil menatap Kirana yang masih diam terkesan dingin.
“Langsung saja, apa yang mau kamu bicarakan?”
Elvan menghela napas melihat kekeras kepalaan Kirana.
“Apa kabar, Na?”
“Tidak perlu basa-basi, aku bilang langsung pada intinya.”
“Tapi kita harus pesan minum dulu kalau tidak, bisa diusir kita dari sini,” Elvan berdiri menuju counter untuk memesan minumannya, tak lama kemudian dia kembali dengan nampan berisi late dan cheese cake untuk Kirana, dan es americano untuk dirinya.
“Masih menyukai cheese cake kan?”
Kirana diam tak menjawab, membuat Elvan kembali menghela napas sambil duduk di kursinya. Dia terdiam beberapa saat terlihat gugup sedangkan Kirana masih terdiam menatapnya dingin.
“Kalau tidak ada yang mau dibicarakan aku pergi.”
“Aku minta maaf,” ucap Elvan cepat setelah melihat Kirana hendak bangkit.
“Minta maaf untuk?”
“Untuk apa yang telah keluargaku lakukan kepadamu dulu.”
Kiran mengangkat alisnya kemudian mendengus.
“Perlu lima tahun untukmu menyadari kalau apa yang keluargamu lakukan itu salah?”
Elvan terdiam menatap Kirana, tak mampu dia membantah itu karena yang dikatakan Kirana memang benar adanya.
“Saat itu aku masih naif dan lugu … aku terlalu malu untuk mengakui kalau apa yang dilakukan dan dikatakan keluarga itu salah.”
Kirana terdiam, kemudian mengangguk.
“Aku sudah memaafkannya.” Kirana berdiri.
“Na … Na tunggu!”
“Apa lagi? Itu saja kan yang kamu mau bicarakan? Ya sudah, kamu sudah minta maaf dan aku sudah memaafkan, jadi perlu apa lagi? Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.”
“Na …”
Elvan terdiam menatap Kirana yang terlihat serius dengan ucapannya.
“Bahkan sebagai seorang teman?”
“Terima kasih, tapi aku tak memerlukan teman yang hanya diam saja ketika aku dihina di depan umum.”
Kirana berjalan ke luar dari café meninggalkan Elvan yang hanya bisa termangu menatap kepergiannya. Elvan terus menatap sosok Kirana hingga dia berbelok ke arah lorong toilet dan menghilang dari pandangannya.
Entah sudah berapa ratus kali Elvan mengkhayalkan pertemuan mereka kembali dalam berbagai skenario, yang selalu diawali dengan adegan yang sama yaitu dia yang meminta maaf. Permintaan maaf yang tertunda hingga bertahun-tahun.
Namun sepertinya dia sudah sangat terlambat. Kirana memang sudah memaafkannya, tapi Kirana tidak akan bisa melupakannya … luka yang telah ditorehkan oleh dirinya juga keluarganya.
****
Kirana, Pov
Lima tahun, maaf itu akhirnya terucap setelah lima tahun? Kemana saja dia selama ini? Apa mengucap kata maaf sesusah itu … aaah, dasar dodol! Dia pikir setelah dia bilang maaf aku akan tersenyum dan menyambutnya kembali? Jangan mimpi!
Apa aku memaafkannya? Iya, aku memaafkannya bukankah itu kewajiban kita untuk memaafkan orang yang meminta maaf, tapi … aku belum bisa melupakannya. Bagaimana bisa aku melupakan orang-orang yang menghina Mamah … seperti kata pepatah lidah itu lebih tajam daripada pedang, dan itu benar karena walau setelah lima tahun aku masih mengingatnya dengan jelas.
Aku membasuh wajahku, berharap air bisa memberi sedikit kesegaran juga ketenangan. Bertemu dengan Elvan seolah membuka kenangan juga luka lama. Masih terbayang ketika aku berdiri seorang diri di antara kerumunan orang yang menunjukan jari tangannya ke arahku, menghina dengan sedemikan rupa hanya karena status ku yang dianggap tidak layak.
Orang yang ku percaya akan selalu berada di sampingku, melindungiku nyatanya hanya berdiri menjadi sebagaian dari para penonton itu.
Apa dia dilemma karena diharuskan memilih antara aku dan keluarganya? Mungkin saja, tapi bisakah setidaknya dia mengejarku ketika aku pergi dan mengatakan maaf mewakili keluarganya? Atau besoknya ketika aku menghindar karena terlanjur sakit hati, kenapa dia tak segigih dulu ketika mendekatiku untuk kemudian meminta maaf? Kenapa harus menunggu lima tahun ketika aku sudah bisa menerima itu semua dan akhirnya mendobrak semua pertahananku tentang sosok Pangeran.
Aaaah … aku merindukan pangeranku yang selalu ada untukku, menjagaku dan melindungiku. Ku rogoh saku blazerku untuk mengambil ponsel.
“Halo, Kang.”
“Halo, Sayang.”
“Lagi sibuk?” Sepertinya dia lagi di luar, aku bisa mendengar keriuhan menjadi latarnya.
“Tidak … ada apa? Are you okay? (Apa kamu baik-baik saja?)”
“Hehe … tidak … tidak apa-apa, hanya saja …” aku menelan saliva untuk mentralkan suaraku. “I need shoulder to cry on.” Hening di ujung sana sepertinya dia menyadari ada sesuatu yang salah denganku. “Wish you were here to hold me. (Aku memerlukan bahu untuk menangis, aku berharap kamu ada di sini untuk memelukku).”
Hening … membuatku menghala napas berat sebelum akhirnya dia berkata,
“Kalau begitu ke luarlah.” Aku terdiam tak mengerti dengan ucapannya. “Ke luarlah, Sayang, I’m here for you (aku di sini untukmu).”
Mataku terbelalak mendengar ucapannya. Dengan jantung berdebar hebat dan kaki yang terasa lemas aku melangkah dengan cepat ke luar dari dalam toilet berharap apa yang diucapkannya benar.
Dan di sanalah dia berdiri dengan senyum dan tangan yang terlentang membuat airmataku luluh lantah. Tak memedulikan sekeliling aku langsung berlari ke arahnya yang menangkapku dalam pelukannya.
***
Caraka, Pov
Sebulan sudah aku tak bertemu dengan perempuan yang membuat hari-hariku dilanda kerinduan. Bukan tak ingin aku mendatanginya, tapi aku hanya memberinya waktu karena aku tahu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pekerjaan baru tidaklah mudah, apalagi ini adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Tapi sekarang sudah sebulan, pekerjaannya sudah tak begitu padat lagi, dia sudah mulai menemukan ritme kerjanya apalagi menurut Candra kalau Kirana telah bekerja dengan sangat baik di Surabaya. Telah banyak perubahan positif yang terjadi di E-Word karena kontribusinya. Jumlah pengunjung yang mencapai taget membuat pendapatan penjualannya pun meningkat, dan itu membuat Candra tertawa bahagia karena menurutnya hanya tinggal menunggu waktu penjualanpun akan mencapai target selama Kirana ada di sana.
Mendengar itu membuatku memutuskan … ini saatnya aku menemuinya. Melepas rindu, me-recharge energiku yang kini mulai menipis.
Dengan perasaan membuncah bahagia dari bandara aku langsung menuju supermall, Pak Supri mengatakan kalau Kirana selama ini tak pernah sekalipun ke luar dari area supermall, dia terlalu disibukan oleh pekerjaan.
Ini kesempatanku untuk membawanya berkeliling menikmati kota Surabaya, membayangkan kami berkencan keliling Surabaya berdua membuat senyumku tak pernah surut. Jam sudah menunjukan pukul 4.30 ketika aku memasuki area supermall dan menuju lantai LG dimana E-Word berada. Pas, sesuai perkiraan hanya tinggal menunggu setengah jam menuju waktu pulang dan aku akan mengajaknya berkencan … tak sabar rasanya untuk melihat wajah terkejut dengan senyum lebarnya yang menyambutku.
Mataku langsung menangkap sosok perempuan yang ku rindukan ketika kakiku menginjak lantai LG membuat senyumku langsung terbit ketika melihat Kirana kini berjalan meninggalkan area E-word, tanganku sudah terangkat untuk memanggilnya ketika aku menyadari ada sesuatu yang salah. Wajahnya pucat, namun rahangnya mengeras menahan amarah, di belakangnya mengekor seorang lelaki yang menatapnya dengan …
Ah, sial! Aku tahu tatapan apa itu. Aku menebak ini akan terjadi kalau aku membiarkannya jauh dariku. Ckk! Apa dia orang yang dulu ku mutasi? Sepertinya bukan, kalau itu memang dia akan ku pastikan besok dia sudah di mutasi ke antah berantah.
Mereka kini masuk ke dalam coffee shop, untung saja Kirana memilih kursi di dekat dinding kaca jadi aku bisa mengawasinya dari jauh. Lelaki itu terlihat gugup … apa yang akan mereka bicarakan? Apa lelaki brengsek itu akan menyatakan perasaannya pada Kirana?
Tidak! Aku tidak boleh membiarkannya, tapi aku juga tidak boleh dengan bodohnya masuk ke dalam tanpa tahu duduk permasalahannya. Mungkin saja pria itu adalah supplier yang bermasalah karena itulah Kirana terlihat marah, tapi tatapan pria itu kepada Kirana adalah tatapan yang sering dia lihat ketika teman-temannya jatuh cinta.
Aku bisa saja masuk saat ini juga dan mengukuhkan kepemilikanku atas Kirana kepada lelaki itu, tapi saat ini aku akan percaya pada Kirana, apapun itu …
Dan keputusanku tidak salah ketika Kirana menghubungiku seketika dia ke luar dari café itu meninggalkan si pria yang masih menatapnya hingga Kirana menghilang di lorong yang menuju toilet.
Aku bermaksud berbicara dengan pria itu untuk mengetahui siapa dan ada keperluan apa dia berbicara dengan Kirana, kakiku baru melangkah masuk ke dalam café ketika Kirana menghubungiku dan menginginkanku berada di sampingnya, membuatku kembali berputar arah untuk kemudian setengah berlari ke arah Kirana berada saat ini karena kutahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
Benar saja ketika dia ke luar dari toilet dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, dia berlari ke arahku membuatku memeluknya erat.
Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa bisa membuat perempuan hebat ini menangis? Tapi siapapun dia, aku tak peduli, aku tak akan melepaskannya begitu saja karena membuat perempuanku menangis.
***