
My Past (Masa laluku)
Biar ku beritahu rahasia yang selama ini hanya menjadi miliki, tak ada yang mengetahuinya bahkan Mamah atau Siska sekalipun.
Namanya Elvan Anggara, dia seniorku ketika kuliah dulu, satu tingkat di atasku. Pintar, tampan, juga salah satu aktivis kampus. Boleh dibilang dia adalah salah satu idola kampus, pembawaannya yang supple membuatnya dikelilingi banyak teman pria dan disukai banyak wanita, tapi perempuan yang beruntung menjadi kekasihnya adalah … aku.
Boleh dibilang Elvan adalah pria pertama yang berani mendekatiku dan mengungkapkan perasaannya. Seperti Caraka, Elvan tak pernah menyerah walau berulang kali aku tolak hingga akhirnya aku yang menyerah setelah melihat kegigihannya.
Dia adalah kekasih yang hampir sempurna … sangat perhatian, juga pengertian. Banyak yang iri dengan hubungan kami, tak sedikit yang menganggap kalau kami adalah pasangan ideal di kampus, hingga tak sedikit yang menebak kalau kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama hingga akhir.
Apa aku bahagia ketika bersamanya? Ya tentu saja, teramat sangat bahagia … hingga untuk sesaat aku lupa tentang perbedaan status sosial di antara kami.
Elvan bukanlah anak pengusaha atau konglomerat seperti halnya Caraka, tapi orangtuanya adalah seorang pedagang yang cukup sukses dengan memiliki kios di Tanah Abang dan ITC, sedangkan aku … aku hanya putri dari seorang single parents. Saat itu mamah masih bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah swasta di daerah Cibubur, Jakarta Timur.
Melihat Elvan yang begitu baik dan menerimaku apa adanya, dengan naifnya aku pun berpikir keluarga mereka akan menerimaku seperti Elvan, tapi aku salah. Masih terngiang di telingaku bagaimana ibunya menghinaku … aku tidak masalah kalau hanya aku yang dihina, tapi ketika Mamah yang dihina, maka aku tak akan menerimanya begitu saja.
Hari itu Elvan mengajakku ke rumahnya untuk menghadiri acara keluarga. Dengan perasaan berdebar, tapi juga bahagia karena akhirnya aku akan bertemu dengan keluarga besar Elvan aku menghadiri acara keluarga yang ternyata merupakan acara penghukumanku.
Dari awal aku datang aku sudah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, semua orang menatapku menilai dari atas sampai bawah dengan menghina membuat kepercayaan diriku terjun bebas saat itu juga. Tak ada seorangpun yang mengajakku berbicara, seolah aku adalah makhluk astral yang tak kasat mata.
“Bibit, bebet dan bobot itu penting dalam mencari pasangan,” ucap wanita dengan penampilan yang memerlihatkan kekayaannya.
Gelang emas memenuhi kedua tangannya, belum lagi kalung dengan rantai sebesar 2 ruas jari dan liontin bulat besar membuatku berpikir apa lehernya tidak sakit dan tangannya tidak berat? Wanita itu duduk dengan anggun di ruang tamu di antara keluarga besar, bukan hanya keluarga inti tapi juga hadir saudara lainnya yang juga mengenakan perhiasan tak kalah hebohnya.
“Dan saya beruntung karena mendapatkan suami dengan bibit, bebet, dan bobot yang luar biasa.”
Semua orang tersenyum mendengarnya membuatku ikut tersenyum tanpa tahu kalau itu akan menjadi boomerang untukku.
“Saya pun berharap putra-putri saya akan mendapatkan pasangan dengan bibit, bebet dan bobot seperti orangtuanya.”
“Anak muda sekarang hanya mengandalkan penampilan luar dari pada hal itu.”
“Apa bagusnya cantik hanya dari luar saja, kalau latar belakang keluarganya saja tidak jelas.”
Aku mulai mengerutkan keningku mencoba menebak maksud di balik kata itu.
“Betul itu, penampilan itu bisa kita ubah selama kita memiliki uang, tapi yang namanya bibit, bebet, dan bobot itu tidak akan bisa membohongi. Itu yang paling penting.”
Perkataan setuju saling bersautan tentang pentingnya bibit, bebet dan bobot. Sedangkan aku hanya bisa tertunduk terdiam.
“Saya harap para perempuan yang mendekati anak saya akan menyadari posisinya, karena bagaimana pun saya tidak akan menerima perempuan dari keluarga yang tidak jelas asal usulnya.”
Masih ku ingat mata wanita itu menatapku dengan tajam ketika mengatakan itu, tubuhku bergetar mendengarnya. Tak cukup sampai sana, pembicaraanpun berlanjut.
“Namamu Kirana?” wanita itu menatapku masih dengan tatapan tajam.
“Iya, Bu.”
“Saya dengar orangtuamu bercerai?”
“Betul.”
Dia terdiam masih dengan mata menatapku penuh selidik. Ruangan pun tiba-tiba menjadi hening, semua orang menatap ke arah kami seolah-olah ini adalah pertunjukan utama yang daritadi mereka tunggu.
Aku terdiam sebelum menggelengkan kepala.
“Berapa lama kamu tidak bertemu dengan ayahmu?”
Aku terdiam sebelum menjawab pertanyaan itu, “Dari saya berumur enam tahun.”
Semua orang di dalam ruangan itu terkesiap mendengar jawaban jujur dariku, sebelum kembali hening setelah mendengar decihan dari nyonya rumah.
“Apa yang bisa kita harapkan dari anak yang tumbuh dari keluarga yang bercerai.” Semua terdiam, begitu juga Elvan yang hanya tertunduk terdiam. “Tapi tidak semua buruk, ada orangtua yang bercerai, tapi mereka masih saling menjaga komunikasi demi kebaikan anaknya. Tapi ini sudah belasan tahun ayahmu tidak pernah bertemu denganmu? Bukan seorang ayah yang bertanggung jawab.”
Aku hanya terdiam karena ada kebenaran dari ucapannya.
“Tapi kita tidak bisa menyalahkan ayahmu saja, bisa saja ibumu yang bersalah di sini. Seorang lelaki tidak akan berselingkuh apalagi menceraikan istrinya kalau tidak ada masalah dengan istrinya.”
“Betul itu, pasti ibunya tidak melayaninya dengan baik di rumah.”
“Atau jangan-jangan ibunya berselingkuh?”
“Bisa jadi, kalau melihat ayahnya sampai tidak mau bertemu dengannya selama belasan tahun sudah pasti ayahnya sangat marah juga kecewa sampai menelantarkan anaknya juga.”
“Anak biasanya meniru orangtuanya. Ibunya saja sudah seperti itu, bagaimana anaknya.”
“Tidak ada yang salah dengan ibu saya, dan ibu saya tidak berselingkuh.” Aku tak bisa tinggal diam lagi ketika mereka mulai menghakimi Mamah tanpa mengenalnya.
“Lihat itu? Kau berani menjawabku? Dasar tak punya sopan santun!”
Semua orang kini menatapku, sautan ucapan yang menghinaku menggema mengisi ruangan seolah aku ini adalah seseorang yang tak memiliki akhlak.
Aku mencoba mencari dukungan dan bantuan dari Elvan yang hanya terdiam tak berbuat apapun melihatku yang dihina dan di hakimi oleh keluarganya. Saat itu aku menyadari kalau aku tengah bertarung seorang diri.
“Bagaimana cara ibumu mendidikmu hingga kamu berani untuk menjawab orangtua ketika berbicara.”
“Ibu saya mendidik saya dengan sangat baik. Beliau mendidik saya untuk menghormati dan menghargai orang lain.”
Aku tak peduli ketika dia menghinaku, atau ayahku yang memang tak ku kenal. Tapi aku tak akan tinggal diam ketika dia menghina Mamah. Aku juga sudah tak peduli lagi bagaimana orang-orang itu akan menilaiku saat ini.
“Apa ibumu memberitahumu kalau menjawab ucapan orangtua adalah hal yang tidak sopan, dan salah?”
“Ibu saya mengajarkan saya untuk menghormati dan menghargai orang lain, terutama orangtua. Namun beliau juga mengajarkan untuk tidak tinggal diam ketika orang lain menghina kita. Dan anda telah menghina ibu saya … orang yang paling berharga bagi saya.”
Wanita itu menatapku tajam begitu juga dengan semua orang yang tak percaya kalau aku akan berani menjawab wanita yang notabanenya adalah ibu dari kekasihku, atau boleh ku katakan saat itu telah menjadi mantan kekasihku.
Aku berdiri dengan tubuh gemetar menahan amarah.
“Saya memang dari keluarga bercerai, mungkin tidak memiliki bibit, bebet, bobot sesuai kriteria keluarga anda, tapi saya meyakini … sebaik-baiknya orang adalah orang yang tidak merendahkan derajat orang lain, dan merasa memiliki derajat paling tinggi … permisi.”
Aku pergi dengan tubuh gemetar mencoba menahan amarah dan dada yang terasa sesak mengingat bagaimana mereka menghinaku terutama mamah. Saat itulah hubungan ku dengan Elvan berakhir tanpa pernah ada kata putus dariku atau maaf darinya. Setiap bertemu di kampus aku akan menghindar, muak rasanya melihat wajahnya ketika aku mengingat bagaimana dia hanya diam melihat keluarga besarnya menghinaku dan Mamah.
Kepada Mamah dan Siska aku memberi alasan kalau hubungan kami berakhir karena Elvan sedang fokus skripsi dan persiapan kuliah ke luar negri.
Itulah salah satu yang menjadi alasanku akhirnya berpikir realistis dalam mencari pasangan. Namun Tuhan berkata lain dengan mengenalkanku kepada sosok Caraka Benua, seolah ingin memberitahuku kalau tidak semua orang dengan status sosial tinggi berprilaku seperti itu, buktinya keluarga Mahesa menerimaku apa adanya, bahkan ketika aku terkena masalah merekalah yang berdiri paling depan untuk mendukung dan melindungiku. Dan kini mereka memberiku sayap agar bisa terbang setinggi yang aku mau untuk menunjukan kapada dunia kalau anak-anak dari keluarga broken home-pun mampu terbang tinggi.
******