
Lunch time (Makan Siang)
Author, pov
“Perkenalkan saya Kirana, Pak.”
Kirana mengulurkan tangannya ke arah Rudi Mahesa lengkap dengan senyum dan suara lembut khas customer service hasil training dari para professional, tapi sepertinya itu tidak mempan kepada Rudi Mahesa yang masih bergeming membuat ruangan kembali dilanda ketegangan beberapa saat, sebelumnya akhirnya Sang Raja menerima uluran tangan tanpa berkata apa-apa.
Kirana tersenyum merasa lega, setidaknya uluran tangannya diterima tak diacuhkan begitu saja. Big Boss mah bebaslah, mau senyum mau tidak, mau jawab salamnya mau tidak, bebaaas … dari pada dipecat, bahaya … ya dipecat dari pekerjaan, ya dipecat juga jadi calon mantu … jadi bebas deh, terserah.
“Sini, Kak, kita duduk di sini saja ya?”
Arletha kembali merangkul lengan Kirana untuk duduk di sofa berwarna krem di ruang keluarga. Dan sesuai perkiraan Kirana, sofa itu terasa empuk dan nyaman membaur dengan ruang keluarga yang luas dengan nuansa putih gading.
Sebuah smart TV 55’ terpasang di dinding depan sofa, sebelah kiri sofa terdapat kursi pijat elektrik berwarna coklat susu yang juga terlihat sangat nyaman. Kirana membayangkan pasti sangat nyaman setelah bekerja seharian kemudian duduk di kursi itu dan menikmati pijatan, aaah kenikmatan yang hakiki. Mata Kirana menatap sebuah tangga spiral berada dekat pantry modern yang berada di ujung ruangan.
Dinding kaca menghiasi sisi lain ruangan itu yang memerlihatkan teras belakang dimana terdapat dapur modern lengkap dengan meja bar dan satu set meja makan terbuat dari kayu, ayunan rotan di sisi lainnya menghadap taman belakang yang yang terlihat hijau oleh tanaman hias dan rumput yang membentang menuju sebuah kolam renang dengan kursi-kursi berjemur di sisinya, tak ketinggalan sebuah meja taman dari besi tempa berada di dekat pohon mangga dan kelengkeng yang memberi keteduhan.
“Jadi sudah berapa lama Kakak pacaran sama Kakang?” Arletha bertanya memecah keheningan sekaligus mengembalikan Kirana dari menjelajah rumah mewah itu dengan matanya.
Dua orang pelayan membawa cangkir-cangkir berisi teh dan piring-piring kecil berisi makanan ringan.
“Hmmm … kami belum pacaran,” jawab Kirana membuat semua orang menatapnya terkejut.
Caraka hanya tersenyum mendengar jawaban Kirana, dia memberikan cangkir berisi teh kepada Kirana, kemudian dia mengambil teh untuk dirinya sendiri.
“Belum?” tanya Ibu Widya masih menantapnya bingung.
Semua kini menatap Kirana sama bingungnya. Bebeda dengan Caraka yang dengan santai menyeruput tehnya, kemudian tertawa melihat wajah bingung keluarganya.
“Hahaha, aku lupa memberitahu kalau aku beberapa kali di tolak Kirana, bahkan sampai kemarin aku masih ditolaknya.”
“Ditolak? Kamu ditolak?” Ibu Widya bertanya dengan mata membulat seolah tak percaya kalau putra sulungnya akan ditolak seorang perempuan. Cangkir teh yang sudah terangkat kini dia letakan kembali di atas lepekan.
“Kakang ditolak? Waaah berita baru ini!” seru Arletha sambil tertawa, kemudian menyeruput tehnya.
“Hahahaha.” Kirana terkejut mendengar Candra yang sepertinya cuek dan pendiam kini ikut tertawa terbahak-bahak mendengar kakaknya ditolak.
“Iya, perlu perjuangan lebih untuk mendapatkannya. Semua jurus yang biasa digunakan tidak mempan.”
“Serius?” tanya Candra tak percaya. “Termasuk kartu ajaib?” Caraka mengambil sosis solo kemudian menyuapnya dengan hanya dua gigitan.
“Yap, termasuk kartu ajaib.” Caraka menganggukan kepala membuat Candra dan Arleta kembali tertawa.
Rudi Mahesa juga Ibu Widya sepertinya mulai tertarik dengan pembicaraan putra-putri mereka. Mereka berdua kini terlihat menikmati teh sambil mendengarkan pembicaraan anak-anak muda.
“Kenapa? Kakang kan the most eligible, and the most wanted bachelor in this year.” Arletha terlihat penasaran dengan alasan Kirana menolak kakaknya yang mendapat julukan bujangan yang paling memenuhi syarat dan bujangan yang paling diinginkan untuk dijadikan pasangan tahun ini.
“Dia juga the most ideal son in law.” Tak mau kalah Mamah Widya melanjutkan ucapan Arletha sambil mentap Kirana penasaran. Kenapa gadis itu menolak putra sulungnya yang menurut teman-teman memenuhi syarat sebagai menantu idaman?
Kirana menatap Caraka meminta pertolongan, tapi sialnya Caraka hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya santai dengan mulut penuh menikmati arem-arem, berbeda dengan dirinya yang hanya bisa memegang cangkir teh tanpa berani untuk meminumnya.
“Justru itu alasannya,” ucap Kirana membuat semua orang menatapnya tak mengerti. “Saya tidak begitu menyukai tipe-tipe Pangeran seperti Bos.”
“Bos?” tanya Rudi Mahesa dengan alis berkerut.
Aha! Sepertinya si Big Bos sudah mulai penasaran dia.
“Maksud saya … Caraka.”
“Dia masih manggil saya, Bos.” Caraka tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Kirana menatap semua orang yang kini menatapnya penasaran termasuk Big Boss yang kini serius menatapnya.
“Karena Caraka memang Bos saya di kantor, dan semua orang memanggilnya seperti itu.”
“Bukan itu.” Suara penuh wibawa membuat Kirana langsung menatap ke kursi paling ujung dimana sang Big Boss duduk sambil menatapnya. “Kenapa kamu tidak menyukai pria seperti Raka?”
“Itu … karena saya lebih menyukai pria pekerja keras bukan pria yang hanya mengandalkan nama besar keluarga. Karena menurut saya lelaki sejati adalah lelaki yang bisa berdiri dengan kakinya sendiri, bukan lelaki yang hidup dari warisan orangtua.”
Semua orang terdiam terkejut mendengar ucapan Kirana, berbeda dengan Caraka yang diam-diam tersenyum. Namun tanpa diguda Candra ikut tersenyum, dia kini tahu kenapa sang kakak yang notabanenya seorang petuangan sejati bisa bertekuk lutut kepada seorang resepsionis dari keluarga biasa, sampai nekad membatalkan perjodohan dengan seseorang yang dinilai paling cocok untuk mendampingi seorang Caraka Benua.
Kesan pertama yang Candra tangkap ketika pertama bertemu dengan Kirana adalah kecantikannya yang sangat alami tanpa make up yang berlebihan, justru itu semakin menonjolkan kecantikannya. Setelah memerhatikannya berbicara, Candra bisa mengetahui kalau Kirana adalah gadis yang jujur juga pintar, terlihat bagaimana dia berusaha terlihat tenang ketika di hadapkan dengan sang Big Boss dan kondisi yang sempat membuat semua orang seolah ikut menahan napas. Kirana juga bisa menjawab pertanyaan Big Boss tanpa terlihat gugup, to the point tanpa bertele-tele, dan yang pasti tak ada kesan dia berusaha menjilat orangtuanya, bahkan dengan terang-terangan dia mengatakan kalau dia tidak menyukai lelaki yang hidup hanya dengan nama besar dan kekayaan keluarganya.
“Ngapunten, Ndoro, daharipun sampun cemawis (Maaf, Nyonya, makanan sudah siap).” Mbak Nunung memecah keheningan membuat Ibu Widya berdiri kemudian meminta semua orang untuk pindah ke meja makan yang berada di teras belakang.
Di atas meja telah tersaji piring-piring yang berisi daging seperti steak, lengkap dengan potongan kentang, buncis dan wortel, disiram oleh kuah berwarna coklat seperti semur sebagai sausnya. Terlihat perpaduan warna yang sangat cantik.
“Selat solo, steaknya orang Solo,” bisik Caraka sambil tersenyum ketika dia menarik kursi untuk Kirana, yang dibalas Kirana dengan senyuman.
Tidak ada nasi? Apa orang kaya tidak pernah makan nasi? Kirana tak ambil pusing, mungkin ini memang kebiasaan keluarga Caraka.
“Jadi kapan pertama kali kalian dekat?”
Candra memotong daging kemudian memakannya, dia menatap Kirana yang tersenyum menerima piring dengan daging yang telah dipotong dari Caraka. Melihat itu Candra yakin keduanya saling menyukai, tapi kenapa mereka tidak jadian? Apa karena alasan yang diberitahu Kirana tadi? Atau karena perjodohan kakaknya?
“Ingat proyek di Takengon, Aceh?” Candra mengangguk mengingat proyek yang menerima investasi dari investor Jepang. “Kirana yang menjadi penerjemah waktu itu.”
“Kakak bisa bahasa Jepang?”
“Kirana besar di Jepang.” Caraka yang menjawab pertanyaan Arletha karena melihat Kirana baru saja menyuap makanannya, membuat Caraka tersenyum. “Dan karena idenya juga investasi itu terjadi.”
Kirana menatapnya dengan mata membulat dan mulut penuh, membuat Caraka tertawa sambil mengacak rambut Kirana sedikit, dia seolah lupa kalau ada empat pasang mata yang kini tengah menatap aksinya.
“Aku?” Kirana bertanya setelah menelan makananya, untung saja dia tidak tersedak tadi kalau sampai tersedak bisa malu dia.
“Iya, kamu ingat ketika pertama kali kita meeting dengan Mr. Takeda di hotel?”
Kirana menganggukkan kepala mengingat hari dimana dia didapuk menjadi penerjemah dadakan karena penerjamah yang biasa bekerja untuk Caraka berhalangan hadir hari itu.
“Aku masih ingat ekspresi wajahmu ketika harus menerjemahkan tentang konsep resort di Takengon. Setelah kita keluar dari ruang rapat, kamu mengatakan kalau konsepnya seperti ini sepertinya aku akan kehilangan investor.”
“Hahaha.” Kirana tertawa mengingatnya.
Kirana tak bisa menyembunyikanpikirannya saat itu. Pikiran yang dia pikir hanya dia ucapkan pelan ternyata tak sepelan yang dia kira dan akhirnya dia harus menjelaskan kelemahan konsep Caraka, dan mengutarakan konsepnya sendiri. Dia tak pernah berpikir kalau konsepnya akan digunakan Caraka dan berhasil menggaet investasi yang cukup besar.
“Dan itu untuk pertama kalinya ada seorang bawahan yang berani mengkritik konsepku.”
“Hahaha … selalu diperlukan seseorang untuk mengkritik, kalau memang itu memerlukan kritikan, dan tentunya kritik yang membangun, yang membisa memberi solusi bukan hanya kritik kosong.”
Caraka mengangguk setuju sambil tersenyum.
“Dan konsepmu berhasil dengan sangat baik, Mr. Takeda benar-benar terkesan ketika aku mengajukan revisi ulang.”
“Sangat sayang kalau aset alam yang dimiliki Takengon hanya dibangun resort biasa. Sekarang ini orang sudah mulai bosan dengan konsep modern seperti mall dan perkotaan, kebanyakan lebih memilih berlibur dengan berpetualang di alam.”
“Benar, sekarang mall sudah menjamur dimana-mana membuat omset terjun bebas, kita harus benar-benar mengatur strategi marketing,” ucap Candra yang mendapat sautan setuju dari Kirana, dan tanpa diduga Candra dan Kirana terlibat dalam pembicaraan seru tentang bisnis, bahan pembicaraan itu berlanjut hingga mereka selesai makan.
Di ujung meja makan, di kursi kepala, Rudi Mahesa diam-diam memperhatikan Kirana. Tak bisa dipungkiri Kirana memang pintar, dia memiliki ide-ide segar dalam bisnis yang tak pernah terbayangkan oleh Caraka, Candra bahkan dirinya sekali pun. Selain itu yang jelas-jelas terlihat adalah bagaiman putra sulungnya memperlakukan gadis itu dengan penuh kasih sayang, matanya selalau menatap Kirana dengan sorot mata penuh cinta, senyum tak pernah lepas dari wajah Caraka ketika dia berbicara dengan Kirana. Tak diragukan lagi, putranya telah benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu.
Aaah, sepertinya benteng Takeshi tak lagi sekokoh dulu, buktinya serangan tak terduga dari Kirana cukup membuatnya mulai goyah.
*****