
Family reunion (Reuni keluarga)
Author pov.
Anggi ke luar dari rumah itu dengan hati tak karuan. Sedih, kecawa, marah bercampur jadi satu. Orang-orang yang selama ini dihormati dan sayangi dengan tega menyembunyikan kebenaran darinya selama puluhan tahun ini.
Anggi terus ke luar melewati halaman rumahnya yang luas dimana taman tertata dengan rapi dengan pohon palm berderet sepanjang jalan masuk memberi keteduhan di antara sengatan matahari kota Surabaya.
“Mau kemana?”
Sebuah suara bariton menghentikan Anggi yang akan menaiki mobil BMW putih miliknya. Birendera berdiri dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana, wajahnya seperti biasa lurus tanpa ekspresi.
“Kemana saja. Pergi dari sini.” Anggi kembali membukan pintu mobilnya, tapi dihentikan oleh pria berkemeja biru tua yang kini menatap manik matanya.
“Aku akan bertemu dengan kakakmu. Mau ikut?”
Anggi menatap Birendra. “Kak Nana?”
“Apa kamu memiliki kakak lain selain Mba Kirana?” Anggi terdiam masih menatap Birendra. “Ayo, mereka sudah menunggu!”
Birendra berjalan menuju mobil X-Trail hitam miliknya, membukakan pintu untuk Anggi yang masih terlihat ragu sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil salah satu orang kepercayaan ayahnya itu. Di luar terlihat Birendra menghubungi seseorang sebelum masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Sepanjang jalan diisi oleh keheningan, Anggi menatap ke luar jendela samping dengan pikiran yang berkecamuk, sedangkan Birendra terlihat fokus menatap jalanan di depan. Hanya lagu-lagu yang mengalun lembut dari audio mobil yang interiornya sudah dimodifikasi sedemian rupa hingga terasa jauh lebih nyaman.
Anggi mengerutkan kening menyadari mobil Birendra berbelok memasuki rumah sakit.
“Rumah sakit? Bukankah kita akan bertemu dengan kak Nana?”
Birendra melirik ke arahnya kemuadian kembali fokus mencari tempat parkir.
“Mereka menyuruh kita ke sini.”
Anggi semakin terlihat bingung, tapi dia ke luar juga mengikuti Birendra yang berjalan beberapa langkah di depannya. Mereka memasuki lobi rumah sakit kemudian berbelok kiri dimana sebuah cafetaria berada. Birendra melihat sekeliling cafetaria yang cukup sepi hingga tak sulit untuknya melihat Caraka dan Kirana yang duduk sambil tertawa di salah satu meja yang berada di kursi dekat jendela.
“Maaf terlambat,” ucap Birendra setelah mereka sampai ke meja dimana Caraka dan Kirana berada.
“Tidak apa-apa.”
Kirana tersenyum menatap Anggi yang berdiri sesaat sebelum akhirnya berhambur ke dalam pelukannya sambil tergugu. Membuat semua orang menatap mereka.
Sesaat Kirana hanya terdiam sambil mengelus punggung Anggi, membiarkannya menangis mengeluarkan semuanya.
“Ayah sudah menjelaskannya padamu?” Anggi mengangguk dalam pelukannya, membuat Kirana menghela napas.
“Kang, hubungi ayah, suruh dia ke sini. Sekarang!” ucap Kirana kepada Caraka yangmengangguk dan tanpa menunggu lagi langsung berjalan menjauh untuk menghubungi Andi Santoso memintanya datang ke rumah sakit.
“Aku tidak mau bertemu ayah,” ucap Anggi dengan air mata berderai. “Aku terlalu kecewa, Kak. Kenapa selama ini mereka hanya diam.”
Kirana menuntun Anggi duduk di smping kursi dimana tadi dia duduk.
“Kita akan bertemu mamah, dan menyelesaikan semua masalah dan kesalah pahaman ini.”
Anggi terdiam. “Mamah di sini?”
Kirana mengangguk.
“Mamah sakit?”
Kirana terdiam.
“Kak, mamah kenapa?” jantung Anggi berdetak menggila, pikirannya berkelana memikirkan alasan mamahnya berada di rumah sakit Surabaya.
“Mamah … terluka.”
Anggi menutup mulutnya dengan air mata yang kembali mengalir deras.
“Mamah terluka karena … aku?”
“Kamu ngomong apa sih? Ini bukan salah kamu.”
“Mamah terluka karena aku kan, Kak? Ya Allah, apa yang telah aku lakukan pada mamah, Kak? Ini salahku, Kak! Salah aku!”
“Ssstttt!” Kirana kembali memeluk Anggi yang tergugu menyadari alasan ibu kandungnya dirawat di rumah sakit. “Bukan salah kamu. Ini bukan salah kamu … mamah hanya berusaha melindungi kakak dari para baj*ngan itu. Ini bukan salah kamu.”
“Tapi aku ikut andil, Kak. Seandainya … seandainya aku tidak menghubungi mereka, dan memberitahu kalau kakak berada di sini. Ini semua tidak akan terjadi.”
“Hei, dengarkan kakak!” Kirana menatap mata Anggi yang begitu terpukul dengan informasi yang dia terima secara bertubu-tubi. “Mau kamu menghubungi mereka atau tidak, mereka tetap akan mencari cara untuk melukai kakak dan Caraka. Ini bukan salahmu.”
“Itu benar.” Kirana dan Anggi menatap Birendra yang duduk di hadapan mereka di samping Caraka. “Ferdi, sudah ada di Surabaya sebelum kamu menghubunginya.”
“Kami telah mencari bukti tetang keberadaan Ferdi Surabaya, dan itu jauh sebelum Anggi menghubunginya.”
“Marcel mengirimi fotomu pada saat acara di rumah Haryanto, dan besoknya Ferdi langsung ke Surabaya.”
“Selama ini mereka mengawasi Mbak Kirana, tapi karena selalu ada pengawal di samping Mbak Kirana, dan mbak-pun tidak pernah keluar dari gedung, jadi satu-satunya tempat dimana mereka bisa melukai mbak hanya apartemen.”
“Mall terlalu beresiko, banyak CCTV juga orang. mereka akhirnya memutuskan untuk menyewa unit selantai yang sama denganmu.”
“Bagaimana mereka tahu lantaiku tinggal?” tanya Kiran setelah mendegar penjelasan Caraka dan Birendra secara bergantian.
“Money talk,” ucap Birendra santai. “Polisi telah menetapkan salah satu staff bulding management sebagai tersangka karena menerima suap dengan membocorkan lantai dan nomor unit apartemen mba Kirana, dan lewat dia juga mereka berhasil menyewa unit tepat di depan unit yang mbak Kirana tempati.”
Kiran memucat kalau selama ini para baj*ngan itu berada dekat dengannya.
“Mereka baru pindah selama dua hari.” Caraka yang menyadari ketakutan Kirana mencoba menjelaskan. “Mereka telah merencanakan malam itu menjadi hari H nya. Kesalahan mereka adalah tidak melihat kedatangan mamah dan Oka malam sebelumnya. Mereka hanya melihat kita bertiga ke luar dari apartemenmu pagi itu, mereka tidak mengetahui kalau mamah ada di dalam. Malamnya ketika kita pulang, mereka melihatku dan Oka pergi dari apartemen, dan itu dijadikan kesempatan mereka untuk menjalankan rencananya karena mengira kalau kami telah pulang dan kamu sendirian di dalam.”
Kirana terdiam. Kini semua pertanyaannya mulai terjawab, ada perasaan takut karena baru mengetahui kalau selama ini dia diawasi, tapi di sisi lain dia merasa lega karena itu semakin membuktikan kalau Anggi tidak ada hubungannya dengan kejadian malam itu.
“Kamu dengar, Gi? Kamu tidak salah. Ini tidak ada hubungannya denganmu.”
Anggi masih terdiam seolah tak percaya, dia kini manatap Biendra penuh harap. “Mas Rendra yakin itu yang sebenarnya?”
Birendra mengangguk sambil berkata, “Aku memastikannya sendiri. Dan orang suruhan Mas Caraka sangat membantuku untuk mencari tahu itu semua.”
“Bukan tanpa alasan aku menyewa pak Supri untuk menjadi … supir pribadimu.”
Kirana tersenyum mendengar ucapan Caraka, saat itulah dia melihat sosok Andi Santoso berjalan memasuki area cafetaria.
“Ayah sudah datang.”
Semua orang kini menatap ke arah pintu masuk.
“Sekarang kita akan bertemu mamah,” lanjut Kirana membuat Anggi menatapnya. “Mamah dan Oka tidak mengetahui mengenai kamu yang dipanggil polisi sebagai saksi, dan kakak ingin ini hanya menjadi rahasia kita saja, jangan biarkan mereka berdua mengetahuinya. Paham?”
Anggi mengangguk mengerti, sebelum mereka berdiri kemudian berjalan menuju kamar rawat inap Bu Mega.
Perjalanan menuju ruang VVIP terasa sangat lama dan tegang, semakin mendekati ruang inap Anggi diliputi rasa gugup yang teramat sangat, tangannya dingin menggandeng lengan Kirana yang tersenyum melihat kegugupannya. Di belakang mereka berjalan Andi Santoso yang tak kalah gugup, sedangkan di belakang mengekor Caraka dan Birendra yang tengah berbisik membicarakan perkembangan kasus Ferdi Izam dan teman-temannya.
“Aku dan Rendra menunggu di ruang tunggu, ada yang harus kami bicarakan,” ucap Caraka setelah mereka sampai di depan ruang kamar inap yang mendapat anggukan dari Kirana.
Kirana menatap Anggi dan ayahnya yang terlihat sama-sama gugup, sebelum akhirnya dengan perlahan Kirana membuka pintu kamar inap bu Mega.
Di dalam terlihat Oka tengah duduk di atas sofa sambil bermain game di ponselnya, sedangkan bu Mega duduk di atas tempat tidur sambil menonton acara televisi yang tengah menayangkan acara infotainment.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab bu Mega dan Ok berbarengan, tanpa mengalihkan matanya dari TV ataupun ponsel.
“Teteh darimana sa …” suara bu Mega menghilang, matanya kini membulat menatap orang-orang yang berada di belakang Kirana.
Oka yang juga menyadari ada yang salah kini menurunkan ponselnya menatap dua orang yang tak dia kenal.
“Mah … ini … Bi.”
Dengan lembut Kirana merangkul bahu Anggi yang matanya sudah berkaca-kaca, dan giginya menggigit bibirnya yang bergetar. Sesaat bu Mega mematung, sebelum akhirnya tangannya terlentang dengan air mata yang sudah mengalir membuat Anggi tanpa dikomando langsung berlari ke dalam pelukan ibu kandungnya.
“Mamah!”
Mereka berdua berpelukan erat sambil tergugu, tak kuasa lagi menatahan tangis.
“Ya Allah, alhamdulillah, Ya Allah!” seru bu Mega di antara tangisnya. “Bi! Ya Allah Bi, putri mamah.”
Mereka terus berpelukan sambil terisak, menyalurkan kerinduan setelah terpisah selama dua dekade.
“Mah, maafin Bi, Mah, maafin Bi.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Bi, tidak salah apapun.” Bu Mega merenggangkan pelukan.
“Biarkan mamah melihat Bi.”
Dengan tangannya yang gemetar bu Mega menyibak sebagian rambut Anggi yang menempel di wajahnya karena basah oleh air mata, tangannya kini mengelus pipi Anggi menghapus air putrinya.
“Masyaallah, Bi cantik,” puji bu Mega dengan air mata yang kembali bergulir. “Sangat cantik.” Bu Mega mencium pipi kemudian kening Anggi yang kembali menangis dan memeluk bu Mega.
Mereka kembali berpelukan dengan air mata yang kembali menganak sungai.
Kirana yang melihat itu tak kuasa menahan air matanya yang ikut mengalir deras. Di sisi lain, Oka yang menyaksikan itu hanya terdiam mematung, jantungnya ikut berdetak kencang melihat ibu dan kakaknya menangis mengharu biru. Sebelum akhinrya matanya teralihkan kepada sosok pria yang dari tadi menatapnya dengan sorot mata haru, sesaat mereka saling pandang membuat jantung Oka berdetak semakin menggila.
Entahlah, perasaan apa ini? Dia tahu pria yang mengawasinya dalam diam itu adalah ayah kandungnya, tapi dia seolah tak memiliki ikatan batin dengan pria itu. Mungkin karena dia sama sekali tak mengenalnya, juga mungkin karena tak ada kenangan yang pernah terjalin di antara dirinya dan pria yang disebut sebagai ayah kandungnya itu. Tak seperti Kirana dan Anggi yang telah mengetahui, mengenal dan memiliki kenangan satu sama lain, tapi bagi Oka pria itu tak ayalnya orang asing yang baru dia temui pertama kali, dan kebetulan darahnya mengalir di pembuluh darahnya.
*****