
Identitas Bi
Ruangan itu kini tak lagi secanggung saat pertama mereka bertemu. Pakde Bayu yang sudah mengetahui status Kirana dan Oka kini terlihat antusias menanyakan kabar mereka.
“Jadi tahun ini kamu lulus SMA?”
“Iya, Om, eh Pakde,” jawab Oka yang masih belum terbiasa memanggil pakde Bayu dengan sebutan pakde.
“Hahaha, nggak apa-apa, panggil sesuka kamu saja.”
Oka hanya tersenyum mendengar ucapan pakde Bayu.
“Mau kuliah di mana nanti?”
“Belum tahu,” jawab Oka singkat yang mendapat anggukan dari pakde Bayu.
Pakde Bayu kini menatap Kirana.
“Dan … kalian mau menikah?”
Kali ini pakde Bayu menatap Kirana dan Caraka bergantian.
“Iya,” Caraka yang menjawab dan mendapat perhatian lebih dari Pakde Bayu.
“Namamu Caraka?”
“Iya, Pakde, Caraka Benua.”
“Kerja atau bisnis?”
“Kerja, Pakde.”
“Dimana?”
“Hotel M.”
“Bagian apa?”
Caraka tersenyum mendengar serentetan pertanyaan dari pria yang baru dia kenal. Selama ini dia selalu mendengar kalau menghadapi calon ayah mertua itu sangat mengerikan. Akan ada seribu satu pertanyaan untuk membuktikan apa dia pantas mendapatkan putrinya atau tidak, dan sekarang dia seperti tengah merasakan interogasi itu.
“Orangtuamu masih ada?”
“Alhamdulillah masih ada.”
“Sudah pensiun atau …”
“Papah bisnis kecil-kecilan.”
“Hffftt!” Oka menahan tawa mendengar jawaban Caraka, sedangkan Kirana hanya duduk bingung melihat pakdenya tiba-tiba melancarkan pertanyaan kepada Caraka.
“Apa Pakde menyinggung kamu?”
Melihat reaksi Oka, pakde Bayu memahami kalau bisnis kecil-kecilan yang dibilang Caraka pastilah bukan bisnis kecil, itu juga terlihat dari mobil yang mereka kendarai dan penampilan Caraka yang jauh dari kata sederhana.
“Tidak, Pakde … silahkan kalau Pakde ada yang mau ditanyakan tentang saya dan keluarga saya.”
Pakde menganggukkan kepala sambil tersenyum puas.
“Maaf kalau Pakde tidak mengetahui bisnis keluargamu. Pakde tidak seperti Andi, ayah Kirana, yang memang berkecimpung di dunia bisnis. Pakde hanya meneruskan bisnis keluarga … peternakan ini. Jadi, yang Pakde tahu hanya tentang hewan ternak saja.”
Caraka mengangguk mengerti.
“Pakde juga jarang nonton TV, kalau kata anak-anak sekarang pakde itu gaptek, handphone juga dipakai cuma buat telepon atau kirim pesan saja jadi pakde tidak begitu paham tentang berita - berita bisnis. Kalau soal kambing, sapi, atau hewan ternak apapun itu kamu boleh tanya pakde. Kalau soal bisnis nanti saja kamu tanya sama ayahnya Kirana, dia cukup paham kalau soal bisnis.”
Caraka tersenyum dan kembali mengangguk mengerti.
“Jadi kapan kalian akan menikah?”
“Kami masih menunggu ayah Kirana.”
Pakde Bayu mengangkat alisnya, kemudian mengangguk mengerti.
“Karena itu saya mencari ayah untuk meminta restu sekaligus memintanya menjadi wali nikah saya dan Caraka nanti.”
Pakde Bayu menatap Kirana kemudian tersenyum sambil mengangguk-angguk.
“Kalau ayah tidak bersedia, saya yang akan menikahkan kakak saya.”
Pakde Bayu kembali menatap Oka, dia bisa melihat kekecewaan di mata keponakannya itu, membuatnya tersenyum karena sangat memaklumi kemarahan dan kekecewaannya mereka.
“Ayahmu pasti akan dengan senang hati menjadi wali nikah kakakmu. Selama ini ayah kalian selalu dihantui rasa bersalah.”
“Merasa bersalah kenapa?” Oka bertanya dengan wajah dingin. “Karena meninggalkan kami? atau karena tidak pernah mencari kami selama ini?”
Pakde Bayu hanya terdiam membiarkan Oka mengeluarkan amarahnya.
“Kami masih tinggal di Indonesia kok, bukan di Antartika atau Mars hingga tak bisa di jangkau.”
“Oka …” Kirana menyentuh tangan Oka berusaha memperingatinya karena bagaimana pun pakde Bayu bukan orang yang tepat untuk menerima kekecewaan mereka.
“Tidak apa-apa, pakde paham kalau kalian marah dan kecewa … pakde pun tidak bisa memberi pembelaan apa-apa, semuanya biar ayahmu yang menjelaskannya nanti.”
Oka menghela napas masih terlihat kesal.
“Kapan ayah pulang dari Singapura?”
“Rencananya lusa ayah dan eyangmu pulang dari Singapura, tapi nanti biar pakde tanyakan apa dia bisa pulang besok agar secepatnya bisa bertemu dengan kalian.”
“Apa Bi ikut bersama ayah ke Singapura?”
“Bi?” Pakde Bayu mengerutkan alisnya terlihat bingung.
“Bi … Sagita Bentari, adik saya.” Kirana menatap pakde Bayu penuh harap.
“Ah!” Pakde bayu menepuk tangannya sambil tertawa. “Pakde hampir lupa kalau adikmu itu dulunya namanya Sagita.”
“Dulu?” Kirana terlihat bingung dengan alis berkerut menatap pakde Bayu yang mengangguk-anggukan kepala.
“Iya … ketika baru datang ke sini, adikmu itu sering menangis memanggil kamu juga mamahmu, hingga jatuh sakit cukup parah dan harus di rawat.”
Hati Kirana bergetar mengingat Bi yang hari itu berteriak memanggilnya.
“Namun eyangmu itu cukup percaya mitos, beliau mengatakan kalau nama Sagita tidak cocok makanya adikmu sering sakit-sakitan dan rewel, hingga akhirnya kami memutuskan mengganti namanya.”
Kirana sering mendengar ibu-ibu ketika membicarakan bayi yang sering sakit mereka akan mengatakan namanya tidak cocok atau namanya terlalu berat jadi harus ganti nama. Dia tak percaya kalau sekarang adiknya sendiri mengalami hal itu.
“Entah kebetulan atau tidak setelah berganti nama adikmu jadi jarang sakit. Mungkin selain karena masih sangat kecil hingga dia mudah beradaptasi walau awalnya sulit, ditambah dia juga menemukan sosok seorang ibu dari seseorang, hingga akhirnya perlahan dia mulai … menerima dan terbiasa dengan kami.”
Kirana menghela napas karena mengetahui arti sebenarnya dari kalimat menerima dan terbiasa dengan kami, yang diucapkan pakde Bayu.
“Maksud pakde, Bi telah melupakanku dan Mamah, dan menganggap kalian adalah keluarganya sendiri.”
Pakde Bayu terdiam menatap Kirana sebelum akhirnya walau ragu dia menganggukkan kepala.
“Saat itu adikmu masih kecil, kalau tidak salah belum 4 tahun kan? Jadi jangan salahkan adikmu kalau dia melupakan kalian karena dia masih terlalu kecil untuk mengingat.”
Kirana terdiam kemudian mengangguk, walaupun dia ingin memuntahkan semua kekecewaannya bukan karena Bi melupakannya. Bukan. Kirana sangat bisa memaklumi itu karena memang umur Bi yang masih sangat kecil, tapi yang dia tidak mengerti kenapa ayahnya diam saja? Kenapa ayahnya tidak memberitahu Bi ketika beranjak dewasa, dimana dia bisa mulai mengerti dan paham, kalau Bi masih memiliki ibu dan kakak kandung?
Pakde Bayu bukanlah orang yang tepat untuk dia tanya mengenai itu, jadi dia akan menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu nanti ketika dia bertemu dengan ayahnya.
“Apa Bi juga tidak mengingat namanya dulu?”
“Tidak, dia juga sudah lupa dengan nama kecilnya dulu.”
Kirana menghela napas. Terlalu banyak perubahan yang dialami Bi, hingga wajar saja kalau selama ini dia kesulitan mencari Bi.
“Awalnya dia kesulitan membiasakan diri dengan nama barunya, tapi lama kelamaan dia menjadi terbiasa dan mulai melupakan nama masa lalunya.”
“Jangan bilang kalau akte lahirnya pun diubah?” Kali ini Oka yang bertanya. Awalnya dia hanya bertanya iseng, tapi melihat reaksi pakde Bayu yang hanya terdiam membuat Oka, dan Kirana membelalakan mata tak percaya.
“Kalian mengubah akte lahirnya juga?”
Walaupun berat pakde Bayu menganggukan kepala.
“Setelah ayahmu menikah lagi, mereka mengubah semuanya termasuk akte lahir.”
“Mengubah semuanya? Jangan bilang kalau nama mamahpun diubah?” Pakde Bayu hanya terdiam membuat Kirana terbelalak tak percaya. “Kalian mengganti istri barunya ayah sebagai ibu kandung Bi? Astagfirullahaladzim!”
Kirana tak bisa lagi menahan kekecewaannya, dadanya merasa sesak membayangkan kesakitan yang harus dirasakan ibunya nanti ketika mengetahui bahkan namanya pun tak tercatat di akte kelahiran putri yang dia lahirkan dengan bertarung nyawa.
“Kami memutuskan mengubuhnya agar adikmu tidak merasa bingung, karena dia telah menganggap istri baru ayahmu sebagai ibunya.”
“Alasan yang tidak masuk akal!” pekik Kirana. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. “Bagaimana pun Mamah adalah ibu kandung Bi, yang sudah mengandung dan melahirkan Bi dengan bertarung nyawa, dan kini hanya karena takut Bi bingung kalian mengubahnya dengan mudah ... atau itu bukan alasan yang sebenarnya kan? Kalian hanya ingin Bi memiliki identitas baru dan melupakan kami kan?"
Pakde Bayu hanya terdiam tak bisa membuat pembelaan karena dia tahu kalau apa yang telah mereka lakukan itu salah. Melihat itu Kirana kembali istigfar karena sepertinya jawabannya benar. Beberapa saat dia terdiam, berusaha menenangkan diri sebelum kembali bertanya,
“Apa lagi yang kalian ubah selain nama Bi dan juga nama ibu kandung?”
Kirana menatap pakde Bayu tajam membuat pria berambut setengah memutih itu menghela napas dan memberitahukan semuanya.
“Tanggal lahir,” jawab pakde Bayu membuat Kirana, Oka dan Caraka membelalak tak percaya. “Ayahmu bilang kalau adikmu lahir setelah magrib, sedangkan menurut perhitungan orangtua dulu jika melewati ashar maka sudah dianggap pergantian hari, maka dari itu eyangmu mengubahnya ketika membuat akte baru.”
“Ini … bukankah penipuan? Bagaimana bisa membuat akte lahir seperti itu?” Oka tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Dulu membuat dokumen sesuai yang kita inginkan itu sangat mudah. Hanya perlu orang dalam dan uang, maka semua selesai.”
Oka menganga tak percaya mendengar penjelasan pakde Bayu.
“Ayah setuju dengan perubahan akte itu?” Kirana bertanya mencoba mencari secercah harapan kalau ayahnya tidaklah seberengsek itu, dan semua itu akhirnya terjawab.
“Tidak, ayahmu tidak mengetahui tentang perubahan akte adikmu karena eyangmulah yang membuatnya dan itu tanpa sepengetahuan ayahmu. Ayahmu sangat marah ketika mengetahui perihal akte baru adikmu, tapi semuanya sudah terjadi ayahmu tidak bisa berbuat apa-apa lagi … setelah kejadian itu ayahmu memutuskan pindah ke Surabaya dengan keluarga barunya, agar terbebas dari eyangmu yang selalu ikut campur. Bahkan hubungan mereka sempat renggang beberapa waktu sebelum akhirnya mereka bisa kembali berdamai."
Kirana bisa sedikit bernapas lega mengetahui kalau bukan ayahnya otak di balik perubahan akte Bi. Memang semua terkesan tak masuk akal, tapi dua puluh tahun lalu semuanya menjadi mungkin ketika semuanya bisa dibeli dengan uang. Mungkin kalau hanya mengganti nama di akte saja Kirana tidak akan sekecewa ini, tapi bahkan nama ibu kandung dan tanggal lahirpun ikut diubah. Itu keterlaluan.
Tanggal lahir? Kirana mengerutkan kening mengingat sesuatu.
“Tadi pakde bilang tanggal lahir Bi diubah?”
“Iya, karena menurut kepercayaan orang Jawa dulu setelah ashar itu sudah pergantian hari.”
“Kalau begitu … Bi lahir tanggal 22 Juni, jadi sekarang di aktenya tertulis … 23 Juni?”
Pakde Bayu menganggukan kepala, membuat jantung Kirana tiba-tiba berdetak kencang mengingat laporan yang dia terima dari Siska.
“Anggi Santoso, lahir di Surabaya, 23 Juni 199…”
“Siapa nama Bi sekarang?” Kirana bertanya dengan penuh harap kalau nama Bi yang sekarang bukanlah seperti yang dia pikirkan.
Namun harapannya kandas ketika pakde Bayu menjawab pertanyaannya.
“Anggi … Anggi Santoso, itu nama adikmu sekarang.”
Seketika Kirana benar-benar merasa dunianya jungkir balik mengetahui kalau perempuan yang beberapa kali dia temui, beberapa kali pula mereka saling sindir, dan beberapa hari lalu berhasil dia bungkam mulutnya adalah Bi, adik yang selama ini dia cari, dia rindukan, yang namanya selalu hadir dalam doa-doanya.
*****