
Marry me! (menikahlah dengan ku)
Setelah melewati sederet kejadian yang membuatku lelah secara fisik dan mental, berendam air hangat cukup membuat otot-ototku kembali relex.
Identitas Bi, pertemuan mamah dan Bi, dan juga reuni kedua orangtuaku yang menjadi ketakutanku selama ini ternyata tidak semeyeramkan yang ku pikirkan. Mamah yang selama ini ku takutkan akan hancur ketika mendengar semua kebenaran itu, ternyata bisa menerima dengan sangat baik. Lebih baik dariku malah.
Aaaah, rasanya legaaa … seolah semua beban yang selama ini menumpuk terangkat secara perlahan tak lagi terlalu menghimpit dadaku. Masalah keluarga yang selama ini menjadi beban dalam hidupku, kini hampir berakhir, memberikan berbagai pembelajaran dalam hidupku.
Sekarang ku tahu arti pentingnya sebuah komunikasi, arti saling menghargai, arti pentingnya meredam ego, dan yang pasti arti pentingnya sebuah keluarga di atas semuanya. Darah lebih kental dari apapun, seburuk-buruknya orangtua kita, tetaplah mereka yang telah membawa kita ke dunia ini, bertarung nyawa melahirkan dan merawat kita sedari kecil, yang telah banyak berkorban untuk kita. Darah yang mengalir dalam tubuh kita tidak bisa diganti atau ditukar, bukankah itu yang membuat kita hidup? Karena darah orangtua kita yang mengalir dalam pembuluh darah kita.
Selagi mereka masih ada jangan sampai aku menyia-nyia kesempatan untuk berbakti kepada mereka, karena kalau mereka sudah tidak ada lagi … semua sudah terlambat. Aku tak ingin terlambat dan hanya menyesalinya seumur hidup, maka dari itu aku akan berusaha menerima ayah kembali walaupun mungkin akan memerlukan waktu. Yang terpenting aku sudah berusaha kan?
Selain itu mungkin kalau dari dulu aku mengetahui Andi Santoso adalah ayahku, yang dijodohkan dengan Caraka bisa jadi aku. Dan kalau itu terjadi mungkin kami tidak akan mengetahui artinya cinta sejati yang saling menerima apa adanya, saling melindungi, dan mendukung satu sama lain, juga berjuang memertahankan cinta kami. Mungkin kami hanya akan menganggap ikatan kami tak ayalnya sebuah perjodohan biasa.
Ya … Allah mengatur semuanya sedemikian rupa agar kami sama-sama kuat, sama-sama mengetahui arti sama lain. Aku yakin, inilah jalan terbaik yang Allah rencanakan untuk kami.
“Lagi ngerjain apa?”
Aku ke luar dari kamar dengan rambut masih basah selesai mandi dan mendapati Caraka yang terlihat segar dan wangi, tengah duduk di atas sofa serius menghadap laptop. Dia menatapku kemudian tersenyum, tangannya menepuk sofa di sampingnya menyuruhku duduk.
“Hanya membalas email.”
Aku menatap layar MacBook pro miliknya sambil mengeringkan rambutku menggunakan handuk. Sederet email yang belum terbuka memerlukan perhatiannya, sepertinya Caraka akan memerlukan waktu untuk membalas semua email-email itu. Bagaimana tidak, setelah kejadian malam itu dia tak kembali ke Jakarta, dan semua pekerjaannya hanya dikirimkan lewat email oleh bu Yesi dan juga Hans, sekertaris dan asisten kepercayaannya.
“Kopi?”
Caraka menoleh ke arahku, tanpa diduga dia langsung mengecupku. “Terima kasih, Sayang, aku benar-benar memerlukan kopi yang kental,” ucapnya sambil tersenyum dengan tampannya membuat pipiku memerah.
“Ehm!” Aku berdehem sambil berdiri. “Kopi kental, oke!” Dengan cepat aku berjalan menuju dapur meninggalkan Caraka yang tertawa melihatku.
“Sayang … apa kamu memerlukan yang lain selain kopi?” tanyanya yang ternyata mengekor di belakangku.
“Tidak,” jawabku sambil memasukan penyaring kopi ke dalam keranjang penyaringan. “Aku hanya memerlukan kopi kental dan manis.”
Aku baru akan menuangkan kopi ke dalam penyaringan ketika tiba-tiba saja Caraka merengkuh pinggangku dari belakang membuat jantungku berdetak tak karuan, tanganku yang memegang sendok takaran kopi mematung melayang di udara, dan bulu kudukku meremang ketika tiba-tiba saja dia mencium leherku sambil berbisik,
“Wangi.”
Untuk sesaat aku terdiam, sebelum akhirnya ku cubit tangan Caraka yang langsung mengaduh dan melepaskan pelukan.
“Jangan macam-macam, kita cuma berdua di sini!” ancamku sambil kembali memasukan kopi walaupun jantungku masih berdebar menggila.
“Hahaha … Sayang, kamu pikir aku akan melakukan hal-hal aneh kepadamu? Calon istri juga ibu dari anak-anakku?”
“Setan itu bisa datang kapan saja dan dimana saja, termasuk di dapur ketika membuat kopi.” Aku menuang air ke dalam mesin pembuat kopi tak memedulikannya yang terkekeh. “Lagian kenapa harus ikut ke dapur sih, bukannya banyak pekerjaan?” Aku menyalakan mesin pembuat kopi dan kini menatapnya sambil berpangku tangan.
Caraka mengangkat bahunya sambil berjalan mendekatiku, kemudian memelukku erat. “Hanya ingin memastikan kalau kamu benar-benar aman.”
Mendengar ucapannya membuatku tersenyum lalu balas memeluknya. “Aku tidak kemana-mana, hanya ke dapur.”
“Kamu tidak tahu setakut apa aku waktu melihatmu tergeletak di atas lantai dengan para baj*ngan itu mengerumunimu.”
Tubuhnya sedikit gemetar membuatku mengelus punggungnya.
“Aku tidak apa-apa, kamu datang tepat waktu seperti biasanya untuk menyelamatkanku.”
Dia semakin memelukku erat.
“Aku selalu datang terlambat. Dulu aku datang terlambat, kemarin pun aku terlambat … aku tak ingin terlambat lagi.”
“Hei!” Ku renggangkan pelukan kami supaya aku bisa melihat langsung ke dalam manik matanya. “Kamu tidak terlambat!” Ku coba meyakinkannya. “Kamu lupa siapa yang menghajar mereka untukku? kamu … kamu yang membela kehormatanku baik dulu maupun sekarang.”
Dia menghela napas.
“Tetap saja dulupun kamu sudah terluka, begitu juga kemarin.”
“Dulu aku terluka?” aku mengerutkan kening sebelum kembali tersenyum menatapnya. “Aku lupa karena dulu kamu sudah mengobatinya dengan saaangat baik,” lanjutku yang langsung membuatnya tersenyum.
“Hmmm …” Dia kembali menarikku ke dalam pelukannya. “Aku lupa,” ucapnya sambil mencium pelipisku yang terluka. “Kali ini aku belum mengobatimu.”
“Iya … kamu belum mengobatiku.”
“Hahaha.”
Daaan pengobatan itu berjalan dengan saaangat manis. Benar-benar obat yang mujarab dan ampuh!
Aaah, ternyata aku memang lebih membutuhkan pengobatan dari kang kopi daripada secangkir kopi kental.
***
Kirana sepertinya benar-benar kelelahan secara fisik dan mental. Bagaimana tidak, setelah melewati malam yang mencekam melawan para baj*ngan itu, dia seolah berpacu menyelesaikan masalah keluarga yang tertunda selama dua puluh tahun.
Sungguh aku tak tahu bagaimana aku bisa seberuntung ini mendapatkan perempuan hebat yang kini tertidur di pangkuanku. Perempuan yang begitu kuat, mandiri, dan selalu berpikir dengan kepala dingin, juga realistis. Namun sekarang aku tahu dari siapa dia mewarisi sifatnya itu.
Ibu Mega, calon ibu mertuaku yang sering Kirana sebut sebagai drama queen, ternyata memiliki pemikiran yang sangat luar biasa. Dia terlihat tenang ketika dihadapkan pada berbagai kenyataan yang kami dapatkan, dia masih bisa bersikap realistis dengan memberi pandangannya sendiri tanpa menyalahkan atau memojokkan mantan suaminya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari putra-putrinya. Mungkin bu Mega tidak ingin mereka memiliki pikiran buruk tentang ayah mereka, hingga tak ada lagi dendam pada diri mereka.
Sungguh beruntungnya aku mendapatkan mereka sebagai keluarga baruku nanti. Dan perempuan yang akan menjadi istri masa depanku ini kini tidur dengan mulut sedikit terbuka, terlihat lucu dan menggemaskan.
Setelah ‘pengobatan’ di dapur tadi, kami kembali ke ruang depan. Dia menemaniku mengerjakan pekerjaanku yang tertunda sambil menikmati kopi buatannya, sampai akhirnya karena lelah dia tertidur di pangkuanku. Sebuah gambaran masa depan yang selama ini aku impikan.
Berbincang sambil menikmati kopi buatannya, atau hanya sekedar menonton tv sambil membicarakan kegiatan seharian kami sampai akhirnya dia tertidur di pangkuanku seperti sekarang, atau … berakhir dengan kegiatan menyenangkan lainnya. Aaah! ingin rasanya cepat-cepat ku halalkan hubungan kami.
Dengan perlahan dan hati-hati aku membopongnya takut membengunkannya untuk ku pindahkan ke dalam kamar tidur. Sepertinya dia benar-benar lelah, dia tak bergerak sedikitpun. Bibirnya hanya menyunggingkan senyum membuatku ikut tersenyum melihatnya.
Ku rebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian menyelimutinya. Ku tatap wajah lelapnya membuat perasaanku yang ingin segera meminangnya kembali menyeruak ke permukaan.
“Sayang.”
“Hmmm.” Dia mengubah posisi tidurnya menjadi miring, dengan mata yang masih terpejam.
“Marry me (menikahlah denganku), please.”
Diam tak ada jawaban, sepertinya dia benar-benar kembali tertidur tanpa menjawab lamaranku membuatku tersenyum.
Apa yang ku pikirkan hingga berani melamarnya disaat dia tertidur. Bukankah aku telah berjanjin memberinya waktu hingga benar-benar siap? Dan sepertinya aku harus kembali bersabar menunggu hari itu tiba.
“Mimpi indah, Sayang … aku akan menunggumu sampai kapanpun.” Ku cium keningnya lama sebelum ke luar dari kamar.
Ku berjalan menuju balkon untuk menikmati udara dingin malam dan menghabiskan beberapa batang rokok dengan pikiran yang berkecamuk.
Aku ingin menikahinya secepatnya, tapi … apa sekarang waktu yang tepat untuk melamarnya? Dia baru saja menemukan ayah kandungnya, dan aku yakin hubungan mereka belum begitu baik. Jadi apa pantas kalau saat ini aku meminta menikah denganku, disaat hubungannya dengan ayahnya sendiri masaih belum jelas.
Aaaah …
Ku hembuskan asap putih rokok secara perlahan, sebelum ku matikan rokokku (entah batang yang keberapa). Malam semakin larut, sudah lebih dari tengah malam ketika aku kembali masuk ke dalam dan memutuskan tidur di atas sofa depan kamar Kirana. Ya, saat ini aku harus puas dengan hanya tidur di atas sofa depan kamarnya, tapi secepatnya aku akan tidur di sampingnya sambil memeluknya erat. Tentu saja setalah hubungan kami sah di depan hukum negara dan agama.
Aku merasa kalau aku baru saja terlelap ketika sayup-sayup terdengar suara adzan subuh di kejauhan bersamaan dengan bunyi alarm dari aplikasi adzan yang terpasang di ponselku. Walau lelah dengan mata yang masih berat aku memutuskan untuk mengambil wudhu dan bersiap shalat subuh.
Ku ganti bajuku dengan pakaian bersih yang kemarin ku bawa dari hotel, memakai sarung, dan peci kemudian masuk ke dalam kamar Kirana untuk membangunkannya.
“Sayang, bangun, sudah subuh.”
Tubuhnya perlahan bergerak bukan untuk bangun, tapi malah memeluk guling membuatku tersenyum. Sepertinya dia benar-benar kelelahan.
“Sayang … asholatu khairum minannaum (lebih baik sholat daripada tidur),” bisikku sambil berjongkok di samping tempat tidurnya.
Perlahan matanya terbuka, beberapa kali dia mengerjap-ngerjapkan bulu matanya yang lentik kemudian tersenyum menatapku.
Ya Allah, nikmat mana lagi yang ku dustakan ketika hendak sholat subuh disuguhkan senyuman bidadari surgaku. Izinkan aku meminangnya, secepatnya, Ya Rob. Bismillah, jadikan dia istri halalku secepatnya … aamiin.
Rasanya aku hampir gila karena sudah tak sabar ingin mempersuntingnya.
“Kita shalat subuh berjamaah.”
Dia terbangun kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ku bentangkan sejadah untuk kami shalat dan setelah dia siap kamipun shalat subuh berjamah. Banyak doa yang ku panjatkan pagi itu, dan hampir dari semua doaku adalah meminta sang Maha Pemilik untuk menjadikan perempuan yang menjadi makmumku pagi ini, menjadi makmum halalku sepanjang umurku. Ku amini doa-doaku pagi itu dengan penuh harap. Aku masih tepekur duduk di atas sejadah ketika ku dengar Kirana memanggilku.
“Kang.”
Ku putar dudukku hingga berhadapan dengan Kirana yang sama-sama masih duduk di atas sejadah mengenakan mukena broken white dengan bahan yang sangat halus. Terlihat sangat cantik.
“Aku pernah bilangkan waktu itu, kalau waktunya tiba aku yang akan melamarmu.”
Manik matanya kini menatapku serius membuatku tersenyum sambil mengangguk. Ku pikir dia ingin meminta waktu lagi, walau kecewa tapi aku pasti akan menunggunya sampai dia siap. Namun ternyata aku salah, ucapan selanjutnya ternyata adalah jawaban dari semua doa-doaku.
“Dan … aku pikir sekaranglah waktunya,” ucapnya membuat mataku terbelalak menatapnya. “Jadilah imamku untuk seumur hidupku, bimbing aku sebagai makmum halalmu yang akan kamu bawa menuju surga-Nya Allah."
Dia terdiam sesaat sebelum kembali berucap,
"Kang, jabat tangan ayahku secepatnya untuk kamu ucapkan ijab qobul, agar aku bisa sah menjadi istrimu.”
Untuk sesaat aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Mata kami saling mengunci, ku cari keyakinan dan kepastian dari setiap ucapan dari manik matanya yang menatapku lembut, membuatku akhirnya tersenyum dan bernapas lega.
Keraguan yang semalam menderaku karena takut kalau sekarang bukan waktu yang tepat, kini telah menguap. Mendengar ‘lamaran’ Kirana barusan seolah memberiku petunjuk kalau sekaranglah saatnya aku bertindak sebagai seorang pria sejati. Melamarnya secara resmi … secepatnya.
*****