I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
54. Just a story from the past




Just a story from the past (Hanya sebuah kisah di masa lalu)



“Pak Supri akan kembali lagi ke Pacet week end ini, siapa tahu dia bisa bertemu dengan orang kepercayaannya Pakde Bayu.”


Saat ini seperti biasa aku tengah video call dengan Caraka dan menceritakan tentang apa yang Pak Supri laporkan tadi.


“Ternyata mencari keluarga ayahmu tidak segampang yang ku kira.”


“Hei, kalau ini akan gampang sudah dari kemarin-kemarin aku menemukan mereka.”


“Hahaha, kamu benar.”


“Oh iya, aku meminta satu pertolongan lagi kepada Pak Supri.”


“Apa itu?” Caraka terlihat santai duduk berselonjor di atas sofa, dengan sebatang rokok di antara jari telunjuk dan tengahnya, di belakangnya terlihat pintu kaca yang menuju balkon terbuka lebar.


“Aku meminta Pak Supri menyelediki adiknya Pakde Bayu.”


“Maksudmu ayahmu?”


“Aku tak yakin.” Aku membuka lemari es dan mengambil minuman vitamin C.


“Tak yakin bagaimana?”


Aku kembali berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sofa.


“Nama mereka berbeda.” Aku membuka tutup botol minumanku setelah menaruh ponsel di atas meja disandarkan pada vas bunga.


“Namanya beda?”


“Iya.” Aku meneguk minumanku. “Mungkin saja itu ayahku, tapi mungkin juga itu adik atau kakak ayahku yang lain.”


Caraka terdiam kemudian mengangguk.


“Sudah tanya mamahmu?”


Aku menggeleng sambil menutup botol. “Belum, tapi sepertinya Mamah tidak ingat juga, kalau misalnya dia ingat pasti sudah memberi tambahan note padaku, selain H. Joko, Pakde Bayu, Randi Prasetyo, dan Bi.”


Caraka tersenyum sambil menghembuskan asap rokok.


“Atau bisa jadi memang ayahmu hanya dua bersaudara. Bisa saja itu nama kecil ayahmu, seperti aku ... Caraka, tapi keluarga dan teman kecilku memanggilku Raka, rekan bisnisku memanggilku Benua Mahesa atau Caraka Mahesa, sedikit yang mengenalku sebagai Caraka Benua.”


Aku mengangguk mengerti. “Itu sempat ku pikirkan, tapi aku perlu memastikannya lebih jauh lagi karena itulah aku menyuruh Pak Supri untuk mencari informasi lebih lagi. Aku pikir aku harus mencari tahu nama H. Joko terlebih dahulu, karena bisa jadi bukan Prasetyo.”


Caraka mengangguk setuju. Jawa berbeda dengan Sumatra atau daerah lain yang memiliki marga keluarga, karena di Jawa tidak mengenal adanya marga. Nama satu keluarga belum tentu memiliki nama akhir yang sama, atau mungkin orang yang memiliki nama akhirnya yang sama belum tentu mereka keluarga. Seperti Caraka dan Candra, mereka tidak memakai nama Mahesa di akhir namanya. Caraka Benua dan Candra Buana, tanpa embel-embel Mahesa di belakang nama mereka, tapi semua orang mengenal mereka sebagai Caraka Mahesa dan Candra Mahesa hanya karena ayahnya adalah Rudi Mahesa sang pemilik Mahesa group. Coba kalau mereka hanya orang biasa, keluarga mereka tidak memiliki group Mahesa, pasti tetap akan dikenal sebagai Caraka Benua dana Candra Buana.


Begitu juga dengan aku dan Oka, kami tidak memakai nama Prasetyo di belakang nama kami. Tapi tidak ada yang memanggilku kami Kirana Prasetyo, atau Asoka Prasetyo, cukup Nana Kirana dan Oka. Kalau pun ada embel-embelnya … Nana mana? Itu Nana anaknya Bu Mega yang suka drama Korea.


“Jadi, untuk beberapa waktu ini jangan menyuruh Pak Supri untuk mengawalku, biarkan dia bekerja mencari informasi yang ku minta.”


Caraka terdiam menatapku sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.


“Kamu mengetahuinya?”


“Tentu saja, kamu pikir selama ini aku percaya kalau Pak Supri hanya sopir pribadiku mengingat aku bahkan tidak perlu sopir untuk pulang ke apartemen.”


“Hahahaha. Aku tidak berpikir sampai sana.”


“Ckkk!” Aku berdecak, tapi mulutku tersenyum melihatnya yang tertawa menyadari kebodohannya sendiri.


Caraka Benua … boleh saja dia jenius dalam bisnis, lulusan dari universitas ternama dunia, tapi soal trik asmara sebaiknya dia belajar dari drama Korea.


***


Aku memasuki kantor yang langsung disambut kehebohan anak IT dan Store yang sedang tertawa lebar.


“Mbak, terget penjualan tercapai!” seru Pak Ade membuatku membelalakan mata dan menganga.


“Serius, Pak?” Aku mentap Pak Ade dan Pak Wiradi bergantian yang tersenyum lebar.


“Iya, hahaha … akhirnya pecah telor juga.” Pak Wiradi tertawa bahagia, perut gendut dan pipi tembemnya bergoyang, matanya yang sudah sipit kini terlihat hanya segaris.


“Hahaha, alhamdulillah … insentif ke luar nih,” selorohku yang membuat Pak Wiradi kembali tertawa bahagia.


“Makan siang nanti saya traktir.”


“Sama semua staff saya ya, Pak, mereka sudah bekerja keras lho buat promo.”


“Iya, ajak semua yang ada di office!” seru Pak Wiradi membuatku dan Pak Ade berasik ria.


Memang orang dimana-mana kalau belanja pasti akan mencari toko dengan harga termurah walaupun selisih harganya tidak seberapa. Itu juga yang ku manfaatkan ketika melihat perubahan harga dan cukup banyak harga di bawah Haryanto, membuatku berani untuk membuat promo cukup besar dengan slogan “Jika ada yang lebih murah, kami akan ganti selisihnya 2x lipat”. Tentu saja hal itu untuk type barang tertentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.


Dan ternyata berhasil, hanya memerlukan waktu kurang dari dua minggu untuk target penjualan tercapai.


Sepetinya aku harus kembali bersabar untuk menemui ayahku.


Makan siang seperti yang telah dijanjikan, Pak Wiradi mentraktir kami semua di kantin karyawan yang berada di area parkir PTC lantai 5. Banyak stand makanan yang tersaji di sana dengan harga aman bagi kantong, kebanyakan adalah makanan-makanan tradisional dan makanan rumahan.


Aku sedang antri memesan sop buntut kesukaanku ketika seseorang menyapaku.


“Halo, Na!”


Aku mengerutkan alisku terkejut melihan Elvan berada di kantin karyawan. Ya, walaupun ini terbuka untuk umum dan tidak sedikit pengunjung mall yang makan di sini karena harga yang murah dan pilihan yang banyak.


“Tidak berubah ternyata, masih suka sop buntut.”


Aku hanya mengerdikkan bahu, malas rasanya untuk sekerdar berbasa-basi. Bukankah urusan kami sudah selesai kemarin? Jadi tak ada alasa bagi kami untuk ngobrol.


“Pak Elvan!” tanpa di duga Pak Wiradi menyapa Elvan membuatku semakin mengerutkan alis. “Makan di sini juga, Pak?”


“Iya, Pak,” jawab Elvan sopan. “Diajakin anak-anak.” Elvan menunjuk satu meja panjang dimana terdapat beberapa orang duduk sambil makan dan tertawa.


Aku mengerutkan kening melihat salah satu dari mereka memakai id card yang tergantung di lehernya dengan sangat jelas tercetak di tali itu logo M dalam lingkaran seperti halnya id card milikku sebagai tanda Mahesa group, hanya saja di taliku tercetak E-World dan mereka tercetak SUHO, yang merupakan bagian dari MHG retail. Jadi Elvan bekerja di MHG juga? Hadeuh, bisa runyam kalau begini ceritanya, karena bisa dipastikan aku akan sering bertemu dia, minimal selama aku di Surabaya.


“Sudah saling kenal?” tanya Pak Wiradi menatapku dan Elvan bergantian.


“Kami …”


“Teman kuliah,” potongku yang membuat Elvan langsung menatapku. “Permisi, saya duluan.” Aku mengambil nampan yang telah terisi satu mangkuk sop buntut dan sepiring nasi ke meja dimana yang lainnya telah duduk.


Ternyata keinginanku untuk menghindari Elvan tak segampang itu. Pak Wiradi dengan baik hatinya mengajak Elvan untuk gabung di meja kami dan mengenalkannya kepada kami semua.


“Ini Pak Elvan, GM di SUHO.”


Elvan menyalami semuanya kecuali aku.


“Saya dan Kirana teman kuliah,” ucap Elvan sambil duduk di samping Pak Wiradi membuat semua ber-oh ria.


“Bu Na, waktu kuliah bagaimana, Pak?” Aileen bertanya penasaran.


“Hmmm … salah satu aktivis yang cukup vokal.”


Mau tak mau aku tersenyum mendengarnya, karena itu benar dulu ketika kuliah aku cukup vokal.


“Kamu lebih vokal dari pada aku.”


“Hahaha, itu dulu ketika pikiran kita masih idealis.”


Aku mengangguk setuju.


“Kamu ingat, Na, ketika kita demo di depan gedung DPR menuntut pembatalan pengesan UU yang sangat merugikan masyarakat?”


Aku terdiam mencoba menggali kenangan yang sudah cukup lama, sampai akhirnya aku tertawa.


“Iya! Hahaha, dan kamu tertangkap hari itu.”


“Iya, aku harus mendekam di penjara hari itu, dan kamu demo di depan kantor polisi bersama beberapa teman kita.”


Kenangan itu membuatku tersenyum mengingat bagaimana dulu aku dan teman-temanku cukup vokal menyerukan ketidak adilan oleh para penguasa negri ini.


“Akhirnya aku bebas, dan kamu menangis menyambutku seketika melihatku ke luar dari kantor polisi malam itu.”


Meja seketika hening, semua orang menatap ke arah kami. Tanganku yang hendak menyuap sop mengggantung di udara. Ini yang aku takutkan ketika kembali berinteraksi dengan Elvan. Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak kejadian yang kami lewati bersama yang mau tidak mau pasti akan muncul ketika kami membicarakan masa lalu.


“Ehm!! Sepertinya bukan hanya teman kuliah saja nih,” goda Pak Ade membuat semua orang tersenyum menggosa.


“Teman seperjuangan ketika dulu demo, tidak lebih.” Aku berkata sambil menyuap sop buntutku. Aku tahu saat ini Elvan sedang menatapku. “Itu hanya cerita masa lalu, artinya itu sudah jauh berada di belakang kami. Yang terpenting adalah sekarang dan masa depan.”


“Jadi sudah ada nih masa depannya?” Pak Wiradi tersenyum menggoda membuatku tertawa.


“Iya.” Aku tersenyum menatap Pak Wiradi yang duduk di samping Elvan. “Seseorang yang selalu ada untukku, mendukungku, melindungiku, dan … menerimaku apa adanya.”


“Ooh, yang kemarin Bu Na?”


Aku tersenyum sambil mengangguk menjawab pertanyaan Aileen, kemudian melanjutkan makanku. Aku ingin segera menghabiskan makananku dan pergi dari sana.


“Kamu tahu, Leen?” Yuli bertanya penasaran.


“Iya, sabtu kemarin Aileen ketemu Bu Na di Blauran lagi sama cowok guanteng-teng-teng, poko’e guanteeeng buanget.”


“Waaah, Bu Na, jadi penasaran seganteng apa sih?”


Lagi-lagi aku hanya tersenyum sambil lanjut makan.


Kenangan dan cerita masa laluku dengan Elvan sudah terjadi dan tidak mungkin bisa ku hapus, bagaimana pun Elvan adalah bagian dari masa laluku. Kenangan itu mungkin akan muncul sewaktu-waktu, tapi itu hanya akan menjadi sebuah cerita masa lalu yang bukunya telah ku tutup dan tak akan pernah ku tulis cerita masa depanku di sana.


Cerita masa depanku adalah cerita yang saat ini tengah ku rangkai dengan seseorang bernama … Caraka Benua.


****