I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
78. Forgiveness




Forgiveness (pengampunan)



“Kamu tumbuh dengan sangat baik.” Bu Mega kembali mengusap wajah Anggi, menghapus air matanya. “Cantik … sangat cantik.”


Saat ini mereka sudah jauh lebih tenang, air mata sudah tak sedaras tadi, bahkan senyum kini muncul di wajah Bu Mega, Anggi dan Kirana, sedangkan Oka dan Andi Santoso masih terdiam.


“Maafkan Bi, Mah… Bi baru mengingat mamah sekarang.”


“Sudah! Jangan dipikirkan lagi, yang penting sekarang kamu sudah ingat mamah, juga teteh. Oh iya!” Bu mega seperti teringat sesuatu. “Oka, sini … ini Bi, kakak kamu.”


Oka yang dari tadi hanya terdiam menyaksikan reuni keluarga itu, kini berdiri dan berjalan mendekati tempat tidur dimana ibu dan kedua kakaknya berada.


“Ini Asoka Danubrata, adikmu. Kita memanggilnya Oka.”


Bu Mega mengenalkan Oka kepada Anggi yang kini berdiri lalu memeluk Oka dengan senyum lebar, namun matanya berkaca-kaca.


“Maafin kakak, kakak tidak tahu kalau kakak punya adik setampan ini.”


Oka hanya sedikit tersenyum mendengar ucapn Anggi.


“Tampan apaan, kamu belum tahu saja, kalau dia itu menyebalkan.” ucap Kirana ketika Anggi melepaskan pelukan.


“Sirik!”


Kirana hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum lebar melihat Oka yang mendelik ke arahnya.


Ruangan kembli hening ketika mata bu Mega akhirnya bersirobok dengan Andi Santoso yang masih berdiri menatap putra-putrinya dengan hati terasa hangat, tapi juga rasa bersalah yang kembali menggerogoti jiwanya. Banyak kalimat seandainya yang berkecamuk dalam dirnya … namun semua sudah terjadi, kalimat seandainya pun hanya akan jadi sebuah khayalan dan mimpi yang tak mungkin jadi nyata.


“Apa kabar, Mas?” tanya bu Mega.


“Baik,” jawab Andi Santoso setelah terdiam beberapa saat. “Kamu … apa lukanya parah?”


“Tidak, hanya sedikit luka saja.”


Ruangan kembali hening, kecanggungan benar-benar mengisi ruangan itu ketika dua orang yang dulu pernah hidup bersama dan saling mencintai namun keadaan membuat mereka berpisah. Dan kini setelah dua puluh tahun mereka kembali dipertemukan dalam kondisi terikat oleh darah daging yang menuntut sebuah penjelasan.


“Kamu sudah bertemu dengan Kirana kan?”


Andi Santoso menatap Kirana kemudian tersenyum bangga.


“Kamu berhasil membesarkannya menjadi perempuan luar biasa. Persis dirimu ketika muda dulu.”


“Maksud, Mas, sekarang aku sudah tua!”


“Hahaha … ya, sekarang kita berdua sudah tua.”


“Enak saja, mas saja sendiri yang tua. Aku sih tidak … jiwaku masih muda.”


“Hahaha.” Andi Santoso hanya bisa tertawa mendengar ucapan mantan istrinya itu.


Dari dulu memang dia tak pernah bisa melawan ucapan Mega dan kini sepertinya mantan istrinya itu mewariskan kefasihan berbicaranya kepada putri sulung mereka.


“Aku akan selalu kalah kalau berdebat denganmu.”


“Hahaha.” Kali ini Mega yang tertawa mendengar ucapan pria yang pernah menjadi sosok pria yang paling dia cintai.


Kirana, Anggi dan Oka yang dari tadi melihat interaksi kedua orangtuanya hanya bisa menatap tak percaya, kalau kedua orangtuanya yang sudah berpisah karena keegoisan kedua keluarga yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka kini bisa tertawa seperti itu.


“Dan kamu, Mas, masih saja suka menyalahkan diri sendiri dan akhirnya membuat semua orang memiliki persepsi yang salah tentangmu.”


Andi Santoso terdiam kemudian tersenyum.


“Bahkan setelah kita berpisah selama dua puluh tahun pun kamu masih saja memberiku tugas untuk menjelaskan kepada mereka.”


Andi Santoso kembali tersenyum. “Seperti pepatah bilang, serahkan kepada ahlinya. Dan kamu ahlinya dalam hal itu.”


Bu Mega berdecak, tapi bibirnya menampilkan senyum.


“Mas, itu Asoka Danubrata. Putramu,” ucap bu Mega setelah menyadari kalau dia belum mengenalkan Oka kepada ayahnya. “Nama Danubrata yang dari dulu kamu inginkan untuk menjadi nama anak laki-laki telah ku sematkan padanya. Dan seperti arti namanya … seorang pemimpin … Oka telah menjadi pemimpin di keluarga kami.” Bu Mega menatap Oka penuh kasih sayang, bibirnya menyunggingkan senyum lembut untuk putra kebanggannya itu. “Dia putra yang luar biasa, kamu akan mengetahuinya nanti seluar biasa apa dia.”


Andi Santoso menatap Oka tak kalah haru, matanya berkaca-kaca. Ingin rasanya dia memeluk putra yang baru saja dia ketahui keberadaannya, tapi mungkin nanti ketika Oka sudah mulai bisa membuka diri dan menerimanya sebagai seorang ayah. Saat ini, sebagai seorang lelaki Andi Santoso tahu kalau putranya itu telah membangun benteng yang akan sulit dia tembus.


“Dia persis seperti kamu, Mas, ketika masih jadi anggota BEM dan idola di kampus.”


Andi Santoso mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum bangga menatap Oka yang hanya terdiam.


“Jangan bangga dulu!” ujar bu Mega membuat Andi Santoso kembali mengalihkan tatapannya ke arah Mega. “Dia juga bikin aku jadi langganan dipanggil ke ruang BP karena sering bolos, bahkan kadang berantem.” Bu Mega menghela napas sambil menggelengkan kepala.


“Tidak apa-apa, namanya juga anak cowok kalau bandel-bandel sedikit wajar itu.”


Walau sedikit, tapi bibir Oka naik memerlihatkan senyum bahagia karena ada seseorang yang membelanya. Apa ini rasanya memiliki seorang ayah yang selalu membela kita?


Andi Santoso berdehem sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal setelah mendapat pelototan dari mantan istrinya itu.


“Aku lihat kamu juga sudah membesarkan Bi dengan baik … maksudku Anggi.” Bu Mega melirik pak Andi tajam. “Aku lupa kalau Bi sudah berganti nama, tanggal lahir … bahkan ibu kandungnya.”


Ruangan kembali hening untuk sesaat.


Anggi tersenyum sambil tertunduk.


“Maafin Bi, Mah, selama ini Bi tidak pernah mencari mamah karena Bi benar-benar tidak mengetahui keberadaan mamah dan kak Nana.” Anggi terdiam sesaat sebelum melanjutkan kembali ucapannya. “Tak pernah ada yang memberitahu Bi tentang mamah maupun kak Nana.” Anggi menatap ayahnya dengan sorot mata kecewa sambil berkata, “Termasuk ayah.”


Bu Mega menyadari kekecewaan Anggi terhadap ayahnya karena telah merahasiakan tantang identitas dirinya yang sebenarnya.


“Yang penting sekarang kita sudah berkumpul kembali.” Bu Mega berusaha menenangkan Anggi. “Seharusnya dari dulu mamah menyuruh teteh buat nyari kamu, karena sepertinya teteh lebih pintar dalam mencari orang daripada ayahmu.”


Anggi tersenyum mendengar ucapan sarkas bu Mega yang membuat Andi Santoso hanya bisa menghela napas pasrah.


“Mamah rindu banget sama kamu.”


“Bi juga.”


“Banyak hal yang ingin mamah dengar dari kamu dan banyak juga yang akan kita bicarakan,” ucap bu Mega membuat Anggi tersenyum. “Tapi sekarang, bisa kalian tinggalkan mamah berdua dengan ayah kalian?” Bu Mega menatap ketiga putra-putrinya yang kini saling pandang. “Ada yang harus mamah bicarakan dengan ayah kalian. Sebentar saja.”


Mereka bertiga saling pandang sebelum akhirnya Kirana mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruangan disusul oleh Anggi dan Oka.


Sepeninggalan mereka bertiga ruangan dilanda keheningan. Andi Santoso berjalan mendekati tempat tidur bu Mega kemudian duduk di kursi yang tadi di duduki Kirana.


“Kaki mas sudah sembuh total?”


Andi Santosa tersenyum kemudian mengangguk. “Hanya terkedang masih suka sakit kalau lelah.”


“Itu karena faktor umur.”


“Hahaha.” Andi Santoso tergelak mendengar ucapan bu Mega.


Mereka kembali terdiam dengan senyum di wajah mereka dan mata saling tatap. Ya, bagaimana pun mereka pernah saling mencinta, dan berakhirnya hubungan merekapun bukan karena hilangnya cinta di antara mereka, tapi karena ego masing-masing juga karena orangtua mereka yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya.


“Kepalamu tidak apa-apa? Apa sudah dilakukan pemeriksaan menyeluruh? Hasil CT scan bagaimana? Tidak ada penggumpalan darah di dalamkan?”


“Hahaha.” Giliran bu Mega yang tertawa mendengar serentet pertanyaan Andi Santoso yang menatapnya dengan khawatir. “Tidak, semua baik-baik saja. Hanya saja anak-anak terlalu khawatir jadi mereka memintaku untuk rawat inap sampai benar-benar sembuh.”


Andi Santoso mangangguk mengerti. Mereka kembali terdiam, terihat canggung untuk sesaat.


“Bapak … sehat?” tanya bu Mega mencoba memecah kecanggungan.


“Ya. Bapak baru pulang dari Singapura. Paru-parunya, efek rokok setelah puluhan tahun.” Bu Mega mengangguk mengerti. “Bapak ingin bertemu denganmu juga anak-anak untuk meminta maaf.”


Bu Mega terdiam sesaat.


“Ingin rasanya aku bilang kalau semua sudah terlambat, Mas.” Bu Mega tersenyum miris. “Kita sudah berpisah hampir dua puluh tahun dan hampir dua puluh tahun juga anak-anak berpisah, sudah terlalu banyak hal yang terjadi akibat keegoisan orangtua kita.”


Yang dikatakan Mega benar, sudah banyak kesedihan, kesalah pahaman, kekecewaan yang mereka rasakan selama ini akibat dari keegoisan dua keluarga.


“Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?” Mega tersenyum membuat Andi Santoso ikut tersenyum sambil mengangguk. “Bilang pada bapak. Aku telah memaafkan bapak, tidak perlu memikirkannya lagi. Semua sudah terjadi … ini sudah menjadi takdir dan garis nasib kita, Mas.”


“Terima kasih.”


Mega kembali tersenyum sambil mengangguk.


“Aku tidak akan melarang ataupun memaksa anak-anak untuk menemui bapak. Mereka sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan sendiri.”


Andi Santoso mengangguk setuju.


“Sebelum bapakku meninggal. Bapak menceritakan semuanya … walaupun sudah sangat terlambat, aku ingin menyampaikan perminta maaf bapak kepadamu, Mas. Bapak sangat menyesal karena telah memintamu menceraikanku disaat kamu benar-benar terpuruk dan memerlukan dukungan, melarangmu untuk bertemu dengan Kirana, juga menyembunyikan tentang keberadaan Oka. Tolong maafkan bapak.”


Andi Santoso tersenyum sambil berkata,


“Tanpa kamu beritahupun sudah dari dulu aku memaafkan bapak. Aku tahu bapak melakukan itu karena rasa kecewanya kepadaku.”


“Terima kasih,” ucap Mega sambil tersenyum tulus. “Aku juga telah memenuhi janji bapak kepadamu, dengan mengirim Kirana untuk mencarimu dan memintamu sebagai wali nikahnya. Dan kamu pun sudah menepati janjimu untuk merawat Anggi dengan sangat baik.”


“Itu sudah kewajibanku untuk merawat Anggi. Seperti kamu yang telah merawat Kirana dan Oka dengan sangat baik.”


Mereka kembali tersenyum tulus. Masalah di masa lalu yang belum usai kini benar-benar telah berakhir.


Janji yang dulu terucap kini sudah terpenuhi.


Maaf yang dulu belum sempat terucap kini sudah terhapus.


Orangtua dan anak yang dulu terpisah kini sudah dipertemukan.


Dua saudara yang terpisah, sudah kembali bersatu.


Dua orang yang dulu mencinta namun terpaksa berpisah kini kembali bertemu namun bukan berarti mereka akan kembali Bersatu.


Manusia sekiranya adalah tempatnya segala kesalahan, dan khilaf. Namun dengan kesalahan itu kita belajar bagaimana untuk memperbaikinya, dan dengan khilaf kita belajar akan pentingnya arti sebuah kata maaf.


Memaafkan bukan berarti melupakan, karena dengan tidak melupakan kita belajar untuk tidak kembali melakukan kesalahan yang sama.


Memaafkan memang tidak akan mengubah masa lalu, namun dengan memaafkan akan membuat kita menapaki masa depan dengan lebih mudah.


...Memaafkan adalah kemenangan terbaik....


...(Ali Bin Abi Thalib)...


*****