
Memories
“Mah! Masuk kamar, telepon polisi, SEKARANG!!!”
Kirana berteriak sambil berusaha menutup pintu. Namun sia-sia karena tenaganya tak bisa menang melawan lima orang pria yang mendorong masuk hingga tubuh Kirana terhuyung ke belakang.
“Urus ibunya!” perintah Ferdi Izam membuat Marcel dan seorang lagi berjalan cepat menuju kamar.
“Jangan berani menyetuh Mamah!” Kirana berteriak, merangsak menuju dua orang yang mendekati kamar, tapi tubuhnya seketika terpelanting hingga menabrak dinding ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar.
“Hei, bi*ch, remember me?” Ferdi Izam berdiri di depan Kirana, tengannya masih mencengkram lengan Kirana kasar.
Napas Kirana memburu, matanya membulat menatap Ferdi yang menyunggingkan seringai bak iblis yang baru ke luar dari neraka paling bawah.
“Kita lihat apa yang bisa kamu lakukan sekarang. Tanpa pangeranmu itu.”
“Aku bisa melakukan … ini!” Kirana menanduk wajah Ferdi hingga pria itu meraung sambil memegang hidungnya yang berdarah.
Seorang pria maju mencoba menghadang Kirana yang terlepas dari cengkraman Ferdi yang masih meraung memaki mengeluarkan sumpah serapah, namun sial pria itu tak mengetahui kalau Kirana bisa bela diri hingga harus menerima tendangan tepat di ulu hatinya.
“An*ing!” Seorang lagi maju yang langsung dibanting oleh Kirana tanpa ampun.
Marcel yang tadi berusaha mendobrak kamar kini menghadapinya dengan segala sumpah serapah khas seorang baj*ngan.
Ferdi izam yang hidungnya patah pun telah kembali merangsak maju melawan Kirana yang tengah melawan Marcel dan seorang pria plontos. Begitu juga dengan dua orang yang tadi kena tendang dan bantingan telah kembali berdiri, membuat Kirana harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Pertarungan tak seimbang antara seorang perempuan yang harus melawan lima orang pria dengan badan jauh lebih besar darinya, membuat Kirana mulai kesulitan dan beberapa kali terkena pukulan dan tendangan hingga akhirnya dia tersungkur ke lantai setelah mendapat pukulan cukup keras dari Ferdi.
Kelima pria itu kini berdiri mengelilinginya dengan seringai puas.
“Masih mau melawan?” Ferdi berjongkok, tangannya mencengkram rahang Kirana.
“Bajingan tetaplah bajingan, yang beraninya hanya melawan perempuan dan main keroyokan,” geram Kirana dengan mata tajam menatap Ferdi tanpa rasa takut sedikitpun.
“Bicaralah semau mu sebelum kamu benar-benar berakhir di tangan kami. Seperti kekasihmu yang telah menghancurkan hal paling berharga bagiku, kamu pun akan hancur di tanganku.”
Kepalan tangan Ferdi terangkat membuat Kirana refleks memejamkan matanya. Namun sejurus kemudian…
“Teteh!”
“Kirana!”
Kirana mendengar teriakan dari arah depan membuat pria-pria yang mengerumuni Kirana langsung memaki melihat Caraka dan Oka datang dengan napas tersengal-sengal, dan amarah yang terpancar dari mata keduanya.
“Baj*ngan!” Teriak Oka dan Caraka sambil merangsak maju dan perkelahian pun tak bisa dihindari lagi.
Mereka berdua seperti kesetanan mulai menghajar orang-orang yang berani melukai perempuan paling berharga bagi keduanya.
Di sisi lain Bu Mega yang dari tadi mengunci diri di kamar kini berani ke luar setelah mendengar suara Oka dan Caraka. Setelah Kirana menyuruhnya masuk kamar, Bu Mega langsung menghubungi Oka menceritakan yang terjadi. Beruntung Oka dan Caraka berada di bawah jadi bisa dengan cepat kembali ke atas. Tak sabar menunggu lift membuat mereka berlari menaiki tangga darurat ke lantai 8 dimana unit Kirana berada, untung saja mereka tidak begitu terlambat hingga bisa menghajar para bajingan itu.
“Teteh nggak apa-apa?”
Dengan tubuh dan suara gemetar Bu Mega membantu Kirana berdiri. Namun tiba-tiba matanya membelalak ketika ujung matanya menangkap seseorang setengah berlari menuju Kirana sambil mengangkat vas bunga di tangannya.
“Teteh!” Bu Mega langsung memeluk Kirana melindunginya dari hantaman vas bunga yang kini pecah mengenai belakang kepalanya.
Hening … semua terkejut mendengar teriakan Bu Mega diikuti suara pecahan kaca, sebelum akhirnya Oka berteriak memecah keheningan.
“Mamah!” Oka langsung berlari untuk menghajar pria yang membuat Bu Mega ambruk di atas tubuh Kirana.
“Baj*ngan!” Caraka tambah murka, dia menghajar siapapun di hadapannya.
Tak seorang pun yang lepas dari amukan Caraka dan Oka, mereka seolah menggila sampai akhirnya beberapa security dan polisi datang untuk mengamankan Ferdi dan gerombolannya.
Dengan terhuyung Oka kembali mendekati tubuh Bu Mega yang tak sadarkan diri.
“Mamah, Mamah! Bangun, Mah!” Suara Oka bergetar seperti kedua tangannya yang memeluk tubuh ibunya yang tak sadarkan diri.
“Ya Allah, Mah! Mamah, bangun, Mah!” Kirana kini sudah terduduk dibantu Caraka mendekati tubuh ibunya dalam dekapan Oka. “Astgafirullahadzim, Mah! Mamah!” tangisnya pecah ketika Oka dengan mata membulat mengangkat telapak tangannya yang gemetar dan penuh oleh darah.
***
Pagi itu Anggi bangun dengan perasaan yang tak menentu, dia tak bisa melupakan mimpinya semalam. Gambaran dua anak kecil yang bersembunyi di balik selimut, terlihat saling menguatkan satu sama lain, berganti dengan gambaran kedua anak yang sama tengah bermain di atas hamparan salju.
Nama – nama yang asing, tapi tak terasa asing begitupun dengan tempat itu. Dia mengenal tampat itu, tapi dimana?
Kepalanya kembali berdenyut ketika berusaha mengingat-ingat. Apa mungkin ini adalah kenangan yang sudah lama terkubur dan dia lupakan? Anggi mengerutkan keningnya … bisa jadi, atau mungkin saja itu hanya bunga tidur.
Dia mengambil ponselnya untuk mengecek pesan yang masuk berusaha melupakan mimpi yang seolah nyata itu, matanya menangkap salah satu pesan yang diterima tengah malam tadi. Anggi menghela napas membaca nama si pengirim pesan.
Ferdi Izam : Tomorrow is d day.
Anggi terdiam membaca isi pesan dari Ferdi Izam. Hari ini adalah hari yang telah direncanakan Ferdi dan Marcel untuk membalas Caraka lewat Kirana.
Anggi : I told u before, I’m out! Jangan bawa-bawa aku dalam masalah ini lagi.
Setelah mengalami mimpi itu, entah kenapa Anggi merasa ragu untuk melanjutkan rencananya dengan Ferdi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk ke luar dari rencana mereka dan minta jangan diikut sertakan lagi. Masalah ini sekarang murni hanya dendam Ferdi dan Marcel, tanpa campur tangan dirinya di sana.
Dan mimpi semalam semakin menguatkan keputusannya untuk tidak lagi mengganggu hubungan Caraka dan Kirana. Selama ini sebenarnya dia sadar kalau perasaan tidak bisa dipaksakan, tapi dia terlalu keras kepala dan gengsi untuk mengakui kekalahannya dari perempuan yang levelnya di bawah dia.
Sampai akhirnya Kirana menyebut sebuah nama yang masih terngiang di telinganya … Sagita Bentari. Sebuah nama yang menggelitik hatinya, seperti halnya nama kedua anak dalam mimipi-mimpinya.
“Morning, Mom!” Anggi menyapa ibunya yang tengah menikmati sarapannya di meja makan.
“Morning, Baby!”
“Kapan ayah pulang?”
“Dengan eyang?”
“Iya, eyang sudah jauh lebih baik jadi mereka putuskan untuk melanjutkan berobat di sini.”
Anggi mengangguk sambil menyuap roti yang telah dioles pasta coklat. Dia kemudian menatap ibunya, menimbang apa perlu dia menceritakan tentang mimpinya? Siapa tahu ibunya mengenal kedua anak itu kan?
“Mah.” Ibunya menatapnya sambil menyeruput teh. “Pernah bermimpi aneh tidak? Mimpi yang seperti benar-benar nyata.”
“Mimpi? Mimpi apa?”
Anggi kembali mengingat mimpinya dan seperti biasa ada sesuatu yang dia rasakan, tapi sulit diungkapkan seolah itu terkubur di dalam sudut hatinya. Anggi menceritakan mimpinya yang membuat ibunya terdiam mematung. Untuk sesaat jantung Bu Mayang seperti berhenti berdetak, ada aura dingin karena rasa takut merambati tubuhnya, dia bahkan tak bisa menyembunyikan tangannya yang gemetar membuat Anggi mengerutkan kening menatapnya.
“Apa … Mamah mengenal anak-anak itu?”
“Ti-tidak.” Bu Mayang berusaha tersenyum dan terlihat biasa, tapi terlambat Anggi bisa menangkap itu semua, membuatnya kini menatap ibunya dengan penuh selidik.
“Kak Nana, Bi … apa mengenal nama itu?” Bu Mayang menggelengkan kepalanya yang terlihat gugup. “Sagita Bentari.” Mata Bu Mayang terbelalak ketika mendengar nama itu dari mulut Anggi yang masih menatapnya.
“Ma-mamah baru sekali ini mendengarnya.”
Bu Mayang berusaha terlihat seperti biasa dengan mengalihkan pembicaraan tentang jadwal mereka melakukan perawatan wajah dan tubuh. Tapi itu semua malah membuat Anggi menyadari kalau ibunya tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Seharian itu Anggi mencoba berpikir, mengingat semuanya, mencoba mencari tahu sendiri karena sepertinya ibunya tidak akan memberitahunya. Sampai akhirnya dia mengingat sosok pria yang menggendong paksa anak kecil dalam mimpinya.
“Ayah.”
Ya, satu-satunya sosok yang dia kenal dalam mimpi itu hanya ayahya. Penemuan itu malah membuatnya semakin penasaran, hingga malamnya dia mengulang mimpi yang sama namun lebih jelas lagi, dadanya berpacu hebat ketika menyadari kalau sosok Bi adalah dirinya ketika masih kecil.
Kalau dia adalah Bi, siapa Kak Nana? Kenapa mimpi ini baru muncul sekarang? Dia mencoba mencari tahu lagi dan satu-satunya yang masuk akal adalah ucapan Sulis salah satu temannya yang sedang melanjutkan S2 psikologi di Belanda, yang dia hubungi via telepon.
“Bisa jadi itu adalah kenangan yang tersimpan di alam bawah sadarmu, Gi.”
“Alam bawah sadar.”
“Iya, mungkin itu adalah sebuah kenangan masa kecil yang paling berkesan hingga secara tidak langsung tersimpan di alam bawah sadar kita.”
“Tapi selama ini aku tak pernah mengingat kejadian itu.”
“Hmmm … gini-gini, di ilmu kejiwaan itu ada yang namanya amnesia infantile atau sering disebut amnesia masa kecil, yaitu ketidak mampuan orang dewasa mengingat kenangan masa kecil dari usia empat tahun atau kurang, salah satu penyebabnya bisa karena banyaknya memori-memori baru yang masuk. Namun ada sebagian orang yang mengingat kejadian-kejadian yang berkesan dan penting dalam hidupnya, sebagian lagi menyimpan memori itu di alam bawah sadarnya dan bisa muncul kembali jika ada pencetusnya.”
“Pencetus?”
“Iya sesuatu yang mengingatkanmu pada kejadian itu.”
Pencetus? Apa yang menjadi pencetusnya? Anggi berpikir mulai merunut semua kejadian beberapa hari ini dimana mimpinya mulai muncul dan semakin jelas.
Sagita Bentari …
Anggi terbelalak ketika mengingat hari dimana dia mendengar nama itu seolah ada sesuatu dalam dirinya yang tergeletik hingga perlahan menyeruak ke luar, dan malamnya dia bermimpi tentang Kak Nana dan Bi.
Tapi kenapa Kirana menanyakan nama itu padanya? Apa Kirana mengenalnya?
“Sagita Bentari … Kirana … Sagita Bentari … Kirana …” Anggi terus mengucap nama-nama itu berulang, dan tiba-tiba potongan-potongan itu muncul seperti film yang berputar sangat jelas … tubuhnya meremang, dadanya merasakan kesakitan seperti yang biasa dia rasakan ketika bermimpi, tapi ini bukan mimpi … ini nyata.
“Kak Nana, tungguin Bi!”
“Bi kakinya pendek kaya pinguin, jadi jalannya lambat.”
“Tati Bi ndak pendek! Bi bukan ping-u-win!”
“Haahaha … Bi si pinguin.”
“Bukan! Bi bukan ping-u-win!”
“Hahaha, pinguin-pinguin.”
“Huaaaa … Mamah! Kak Nana, nakal!”
“Pinguin cengeng!”
“Huaaa … Bi ndak tengeng! Huaaa, Bi bukan ping-u-win tengeng.”
“Hahaha.”
Gambaran yang selama ini tak ada dalam mimpinya kini hadir secara nyata membuat air mata Anggir berderai tak tertahan lagi. Air matanya terus mengalir semakin deras ketika beberapa kenangan lain kembali muncul.
“Kak Nana! Mamah!”
Anggi terus menangis memanggil kakak dan ibunya hingga dadanya terasa sakit. Dengan perasaan campur aduk dia menghapus air mata, menyambar tasnya kemudian berlari ke luar kamar. Kemarin dia tak tahu kemana harus mencari Kak Nana, tapi kini dia tahu … dia tahu kemana harus mencari kakaknya itu, dan dia akan datang kepadanya sekarang juga sebagai Sagita Bentari.
Langkahnya terhenti ketika dia sampai di lantai satu pintu depan rumahnya, di sana ada dua orang polisi yang tengah berbicara dengan ibunya yang kini menatapnya dengan wajah pucat pasi.
“Gi …”
“Ada apa, Mah.”
“Saudari Anggi Santoso?”
“Iya.” Anggi menjawab pertanyaan salah satu petugas polisi yang terlihat kaku.
“Anda diminta ikut dengan kami untuk dimintai keterangan sebagai saksi.”
“Keterangan? Sebagai saksi? Saksi apa?”
“Saksi atas penganiayaan terhadap saudari Kirana Az Zahra dengan tersangka Ferdi Izam.”
Seketika tubuh Anggi lunglai, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ferdi Izam, dia melupakan rencana yang telah disusun Ferdi dan teman-temannya karena terlalu sibuk dengan mengurai kenangan masa lalunya, dan kini semua telah terlambat Ferdi telah menjalankan rencana busuk mereka dan yang menjadi korbannya di sini adalah tak lain dan tak bukan Kirana Az Zahra, kakak yang akhir-akhir ini hadir dalam setiap mimpinya … Kak Nana.
*****