I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
32. An eye for an eye




An eye for an eye


(Mata dibalas mata)



Author, pov


Sekitar pukul tujuh Caraka naik ke lantai 16 dimana sky dining restaurant berada. Restoran dengan tema indoor dan outdoor yang selalu menjadi tempat favorite para pencari kenyamanan dan kemewahan serta suasana romantis. Dia berjalan menuju area outdoor dimana seorang pria kisaran enampuluh tahun tengah duduk berbincang dengan Rudi Mahesa.


Seorang pria dengan kemewahan yang terlihat jelas dengan kalung rantai emas yang lebarnya lebih dari satu ruas jari. Delapan dari sepuluh jari tangannya diisi oleh cincin emas dan berlian berkarat besar, tidak ketinggalan gelang rantai emas dan juga jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


Terlihat nyentrik? Memang iya, itu adalah ciri khas Hadian Izam Noor. Pria nyentrik berusia kisaran enam puluh tahun, dengan tiga orang istri dan harta yang bisa membuat orang menganga.


“Ini dia, Caraka Mahesa!” seru Hadian ketika melihat Caraka berjalan mendekati mereka yang tengah duduk menikmati minuman dan cerutu.


“Apa kabar, Om? Maaf saya sedikit terlambat.” Caraka menyalaminya kemudian duduk di samping Rudi Mahesa.


“Kurang begitu baik, dan kamu tahu sendiri tahu kan alasannya?”


Caraka tersenyum sambil mengangguk.


“Saya sangat menyesal. Saya tidak tahu kalau baj … maaf, dia putra, Om.”


“Hahaha … tidak apa-apa, dia memang brengsek.”


Caraka tersenyum miring mendengar Hadian yang mengakui anaknya memang brengsek.


“Jadi, perempuan itu kekasih barumu?”


“Lebih tepatnya … calon istri saya.”


Hadian terkejut mendengar jawaban Caraka, dia menatap Rudi Mahesa yang hanya tersenyum sambil menikmati minumannya di bawah langit malam, dan pemandangan kota Jakarta pada ketinggian.


“Bukankah … kamu dan anaknya Andi Santoso?”


“Perjodohan itu dibatalkan,” jawab Rudi Mahesa santai. “Anak-anak zaman sekarang sepertinya sudah tidak mau lagi mendengarkan orangtua mereka, apalagi masalah perjodohan.”


“Masalah hati itu tidak bisa dipaksakan,” ucap Caraka sambil tersenyum.


“Cih! Kita ini laki-laki.” Hadian mendecih mendengar perkataan Caraka. “Kau tinggal menikah dengan anaknya Andi Santoso, dan jadikan resepsionis itu simpananmu. Gampang kan?!”


Wajah Caraka mengeras menahan amarah, sekarang dia tahu darimana sikap brengsek Ferdi menurun. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ayah dan anak ini sama-sama brengsek.


“Hahaha … anak-anakku itu persis seperti bapaknya. Kami tipe pria setia,” ucap Rudi Mahesa sambil tertawa membuat Hadian mendengus. Di bawah meja tangan Rudi Mahesa menepuk kaki Caraka menyuruhnya menahan emosi. “Dan kami akan melakukan apa saja untuk melindungi perempuan yang kami sayangi.” Suara Rudi Mahesa kini berubah serius, ada acaman di dalam kata-katanya yang membuat Hadian kini terdiam mematung.


Hadian berdehem, kemudian menegak menumannya.


“Sepertinya anakku telah memilih perempuan yang salah kali ini.”


“Sangat salah, karena saya tidak akan melepaskannya begitu saja.”


Ada keheningan setelah mendengar ucapan Caraka, ada kemarahan yang tersirat jelas dari kalimat yang diucapkannya, juga dari sorot mata Hadian yang merasa diremehkan oleh Caraka yang dia anggap sebagai anak kemarin sore.


“Sebetulnya kalau orang itu bukan anakmu, aku tidak akan ikut campur urusan Caraka. Tapi karena orang itu anakmu, aku meminta putraku untuk sedikit menahan diri.” Rudi Mahesa menyesap minumannya sebelum kembali berkata, “Aku bahkan memintanya mengatasi berita yang tersebar di internet.” Rudi Mahesa berkata dengan suara tenang terkendali seperti biasanya.


Berbeda dengan Hadian yang malah mengerutkan kening mendengar ucapan rekan bisnisnya itu.


“Berita di internet?”


“Iya, dia melakukannya di depan umum, jadi banyak yang menjadi saksi bagaimana dia melakukan … pelecehan itu,” ucap Caraka dengan penuh emosi mengingat kejadian yang menimpa Kirana.


“Aku berusaha menahan agar berita itu tidak muncul ke permukaan karena aku tahu apa yang akan terjadi kalau mereka mengetahui identitas pelaku pelecehan itu adalah anakmu. Kamu tahu sendiri, sanksi sosial lebih menakutkan dibanding hukuman penjara. Namun kita juga sama-sama tahu apa yang terjadi di dalam penjara terhadap pelaku kejahatan seksual.”


Hadian diam-diam menelan ludah. Tentu saja dia tahu apa yang terjadi seandainya tersebar kabar putranya melakukan pelecehan di depan umum. Nama baik yang selama ini dia jaga akan hancur. Walaupun dia sendiri bukanlah orang yang bersih, tapi selama ini dia selalu bermain aman hingga namanya cukup disegani, tapi kini semua itu terancam hancur kalau sampai tersebar ke masyarkat luas. Begitu juga dengan keamanan Ferdi, di dalam penjara pelaku kejahatan seksual akan mendapat perlakukan khusus dari para penghuni penjara lainnya. Apalagi ada Mahesa di balik semuanya, maka dia akan sulit untuk membantu Ferdi seandainya dia sampai dipenjara.


Bukan hanya sekali ini saja dia membereskan masalah anak-anaknya, dan biasanya semua bisa selesai dengan uang. Tapi ketika berhadapan dengan Rudi Mahesa, uang tidak akan berlaku, apa lagi sepertinya gadis itu memiliki tempat tersendiri di dalam keluarga Mahesa. Sepertinya kali ini Hadian Izam Noor harus mengakui kekalahannya.


“Jadi … apa yang harus aku lakukan agar kalian membebaskan Ferdi?”


Big Boss terdiam, dia mengangkat bahu kemudian menatap Caraka, membiarkan putranya itu mengambil keputusan. Caraka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia menatap mata Hadian dengan sungguh-sungguh.


“Mata dibalas mata.” Satu kalimat dari Caraka cukup membuat Rudi Mahesa tersenyum bangga, sedangkan rahang Hadian terlihat mengeras.


Sial! Hadian mengumpat dalam hati menyadari kalau anaknya telah benar-benar melakukan kesalahan fatal kali ini.


***


Ferdi dan Marcel duduk dalam penjara hanya beralaskan tikar tipis. Namun itu lebih baik karena mereka mendapat sel sendiri tidak harus berdesakan dengan yang lainnya. Mereka sudah mendekam di penjara lebih lama dari yang diperkirakan, pengacara mereka gagal mendapatkan izin penangguhan penahanana, tapi setidaknya mereka masih bisa menikmati sedikit kemewahan di dalam sini. Sel sendiri, ketika malam petugas akan membawakan mereka bantal dan selimut, makanan berbeda dengan tahanan lain. Money talk … ketika uang berbicara maka semua aman terkendali.


Tapi sebesar apapun kenyamanan yang mereka rasakan di sana, rasa ingin ke luar dari tahanan sangat besar. Dan kesempatan itu akhirnya datang ketika seorang penjaga datang membuka pintu sel.


“Kalian bebas,” ucapnya membuat Ferdi dan Marcel tersenyum sambil berdiri.


“Sudah saatnya.”


Mereka berjalan ke luar dengan percaya diri tanpa rasa bersalah sedikit pun. Melenggang dengan bebas meninggalkan kantor polisi, meninggalkan segala urusan administrasi ke tangan pengacaranya.


Bukan sekali ini saja dia melakukan hal seperti ini, tapi semua selalu terkendali. Ini mungkin kali pertama dia harus menginap sedikit lama di penjara, tapi dia tahu tidak ada yang tidak bisa dilakukan ketika Hadian Izam Noor turun tangan langsung.


Namun rupanya kali ini dia salah. Hadian Izam Noor tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerah dengan mengabulkan keinganan Caraka agar pria itu mencabut tuntutan kepada Ferdi.


“Goblok!”


Sebuah gelas melayang menyambut kedatangannya ketika dia baru saja membuka pintu. Darah segar ke luar dari pelipis, matanya terkesiap menatap ayahnya yang berdiri dengan wajah merah padam.


“Apa isi otak ikam tu (Apa isi otakmu itu), hah?!”


Stik golf beberapa kali menghantam tubuhnya yang berusaha bertahan, walau ekspresi wajahnya menggambarkan kesakitan yang teramat sangat, tapi Ferdi hanya bisa terdiam menerima amukan ayahnya karena dia tahu ketika dia melawan maka itu akhir dari hidupnya.


“Apa yang kau pikirkan, hah!” Sebuah pukulan keras kini mendarat di rahangnya hingga tubuh Ferdi sedikit terhuyung tak kuasa lagi menahan amukan ayahnya, tapi dengan cepat dia kembali berdiri tegak tak ingin terlihat lemah di depan ayahnya, yang hanya akan semakin murka.


“Tahu kah ikam sapa binian to? (Kau tahu siapa perempuan itu?)” Hadian mencengkram kerah Ferdi hingga sedikit tercekik, tak memedulikan wajah anaknya yang sudah memerah hampir kehabisan napas. “Ikam (kau) tahu?!” Matanya melotot, rahangnya mengeras, urat-urat di pelipisnya menonjol ke luar menahan amarah.


“Dia seorang Mahesa!” geramnya. “Kau dengar? Dia Mahesa!” Hadian berteriak sambil mendorong Ferdi hingga terhuyung ke belakang yang langsung terbatuk-batuk dan menghirup udara secara rakus.


“Apa kau ingin mati, berani menyentuh seorang Mahesa!” Hadian kembali berteriak sambil melempar vas bunga yang berada di atas meja. “Pakai otak ikam gasan bapikir! (Pakai otakmu buat berpikir)”


Mahesa? Ferdi mengerutkan alis berpikir. Bagaimana bisa resepsionis itu seorang Mahesa? Sial! Seharusnya dia menyadari ada sesuatu yang salah ketika dia mendekam di penjara dengan waktu cukup lama.


Hadian kini duduk di sofa, dadanya naik turun dengan napas memburu, hidungnya kembang kempis, matanya nyalang menatap Ferdi yang masih berdiri dengan luka - luka di wajah juga tubuhnya.


Walau emosinya sudah tak semenggebu tadi, tapi sisa-sisa kemarahan masih terpampang jelas di wajah Hadian Izam Noor, sang Sultan dari Borneo. Dia tak terima karena harus kalah dari Caraka Mahesa, orang yang dia anggap bocah ingusan, tapi lihatlah bocah itu sudah berani melawannya demi seorang perempuan. Dan dia akui dia kalah karena kebodohan anaknya.


Dia berpikir bisa membujuk Caraka dengan investasi, tapi ternyata Caraka menolaknya mentah-mentah, bahkan kali ini Rudi Mahesa mendukung putranya. Bagi Mahesa harga diri dan kehormatan keluarga ada di atas segalanya, tapi Ferdi telah berani mencoreng salah satunya jadi sangat wajar kalau keluarga Mahesa murka.


Untung saja dia masih bisa membujuk mereka untuk membebaskan Ferdi dan meredam berita yang akan beredar luas.


“Bereskan barang-barang kau dan ikut pulang ke Kalimantan.”


Ferdi terbelalak tak percaya mendengar ucapan ayahnya.


“Pah!”


“Aku telah berjanji menghukum kau secara pribadi.”


Ferdi terbebelak mengerti arti menghukum secara pribadi. Dan itu lebih mengerikan daripada harus mendekam di penjara.


“Tapi bagaimana mungkin, Papah hanya menerima permintaan mereka begitu saja?”


"Menurut kau, apa aku hanya diam!" Hadian kembali meninggikan suaranya membuat Ferdi menutup mulutnya rapat-rapat. "Gara-gara kelakuan kau, aku kehilangan harga diriku dengan memohon kepada mereka agar melepaskan kau! Dan kau bilang aku hanya diam!"


Kali ini asbak yang melayang mengenai tubuh Ferdi, dan berakhir pecah berkeping-keping berserakan di atas lantai bersama pecahan gelas juga vas bunga.


"Kau merusak harga diri juga kehormatan seorang Mahesa, dan aku yang harus membayarnya dengan mengorbankan harga diri dan kehormatanku." Hadian menatap Ferdi nyalang. "Mata dibalas mata, itu yang dikatakan bocah itu padaku ... Caraka Mahesa."


Ferdi hanya bisa menunduk tak berani menatap ayahnya yang kembali terlihat mencoba menenangkan diri. Kali ini dia benar-benar telah melakukan kesalahan. Ayahnya selama ini terkenal tak pernah menundukan kepala dan memohon kepada siapapun, tapi kini melihat amarah yang benar-benar membuncah membuat Ferdi tahu kalau harga diri dan kehormatan ayahnya telah benar-benar terluka, dan penyebabnya adalah kebodohannya sendiri.


“Sabarataan ni gara-gara ikam sorang. Ikam nang harus betanggung jawab (Ini semua karena ulah kau sendiri. Kau harus bertanggung jawab).”


Hadian tahu maksud Mahesa memintanya mengusir Ferdi dari Jakarta. Mata di balas mata. Ferdi telah menghancurkan sesuatu yang berharga bagi keluarga Mahesa, maka mereka akan mengambil sesuatu yang berharga bagi Ferdi. Kebebasannya, juga semua fasilitas yang selama ini dia nikmati.


Dengan tinggal di Kalimantan di bawah pengawasan langsung Hadian, dan mengambil segala fasilitas mewahnya di Jakarta itu lebih membuat Ferdi merasa putus asa daripada di penjara, tapi masih mendapat bantuan Hadian.


Itu adalah harga lain yang harus dibayar Ferdi, selain harga diri dan kehormatan keluarganya yang telah hancur di depan keluarga Mahesa.


Tak bisa menolak, walau dengan marah Ferdi mengikuti perintah ayahnya. Dia bersiap ikut ayahnya pulang ke Kalimantan. Namun untuk terakhir kalinya dia berjalan menuju garasi tempat koleksi mobil-mobil mewahnya, dia ingin melihat mobil Lamborghini Aventador kesayangannya yang baru saja selesai dicustom bagian interiornya, juga modifikasi di beberapa bagian. Tak sedikit uang yang di keluarkan untuk membuat supercar itu menjadi mobil kebanggaanya. Terbayang sudah dia mengendari supercar itu di jalanan Ibu Kota, pasti akan menjadi luar biasa. Namun semua harus tertunda karena seseorang bernama Mahesa.


Beberapa bulan! Ya, Ferdi hanya akan tinggal di Kalimantan selama beberapa bulan saja, jadi dia hanya harus bersabar selama itu dengan mengambil kepercayaan ayahnya lagi agar bisa kembali ke Jakarta secepatnya dan bisa memamerkan mobil itu, membuat semua orang iri dan kembali ke kehidupannya yang gemerlap.


Sementara dia tinggal di Kalimantan, Ferdi akan menyuruh orang kepercayaannya untuk merawat mobil-mobil kesayangannya. Namun ketika dia membuka pintu garasi mobil seketika tubuhnya membeku, matanya membulat, mulutnya menganga melihat mobil kesayangannya kini telah hancur tak berbentuk.


Kaca dan lampunyanya pecah, catnya penuh goresan benda tajam, dan badannya sudah penyok parah hasil hantaman benda tumpul, dengan coretan pilox warna-warni memenuhi sebagian besar tubuh kendaraan yang semakin membuatnya terlihat parah. Bahkan custom interior yang dia banggakan seolah menjadi korban amukan. Jok kulit mahal kini terlihat bak kain rombeng karena tersayat-sayat, perlengkapan audionya pun ikut hancur. Dada Ferdi naik turun, napasnya memburu, tubuhnya bahkan seolah membeku melihat pemandangan di hadapannya.


Bukan hanya satu, tapi ketiga koleksi mobil kesayangan Ferdi kini memiliki nasib yang sama. Garasi mobil mewahnya kini tak ayalnya garasi mobil rongsok.


Sebuah tulisan besar memenuhi satu bagian dinding garasi seperti grafiti, hanya saja tulisan itu tak seindah grafiti-grafiti yang ada di jalanan. Tubuhnya gemetar, rahangnya seketika mengeras membaca tulisannya, sebelum akhirnya dia berteriak, meraung layaknya singa yang sedang marah.


An aye for an eye … mata dibalas mata.


-Mahesa-


Kali ini dia tahu kalau benar-benar telah berurusan dengan orang yang salah.


*****


Haiiii ...


Terima kasih banyak untuk Mbak Sami yang dengan berbaik hati telah menerjemahkan ke bahas Banjar ... tarima kasih Mbak Sami 😘😘 juga bocah tua nakal a.k.a Emak seribu pulau Ceu Renitha yg sudah membantu mencari nama khas Banjar, hatur nuhun ceu 😘😘 buat Denia yg sudah membantu mencari idiom yang pas untuk bab 30, matur nuwun, Mbak Nia 😘😘 buat warga antah berantah yang selalu melayangkan panci, sandal, juga barbel kalau demo, tp membuat hari semakin berwarna, terima kasih 😘😘😘 Dan buat semuanya yang masih betah, anteng sampai sekarang baca kisah si Kakang ... terima kasih banyak semuanya 😍😍😘😘 oh ya, sepertinya kisah ini akan sedikit lebih panjang daripada cerita sebelumnya, tp tdk panjang-panjang banget sih, tidak sampai ratusan ... mudah"an lancar proses penulisannya jd insyaallah bisa up setiap hari, aamiin.


Sekali lagi terimakasih banyak semuanya ...


Love


A.K