I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
72. The Truth




The Truth (Kebenaran)



Kirana, pov.


“Dulu ego ayah sebagai seorang lelaki seolah terluka ketika ayah kehilangan pekarjaan dan harus hidup hanya dengan mengandalkan gaji ibumu. Sebagai seorang lelaki, suami dan ayah … ayah merasa gagal karena tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai tulang punggung dan seolah hidup hanya menumpang dari ibumu.”


Ayah mulai bercerita setelah kami berdua tenang dan aku kembali menuntut penjelasan darinya.


“Ego dan gengsi ayah yang besar juga terluka membuat emosi ayah menjadi labil, itulah yang memicu pertengkaran-pertengkaran ayah dengan ibumu. Ibumu tidak salah, sudah sering dia mengalah tapi itu malah membuat emosi ayah semakin menjadi. Dan akhirnya ibumu mulai merasa lelah karena harus menghadapi emosi ayah yang tidak stabil, dan pertengkaranpun tak bisa dihindari. Sampai akhirnya hari itu tiba.”


Hari dimana ayah meninggalkanku dengan membawa Bi.


“Ayah memang sudah merencakan untuk pulang ke Indonesia, jadi semua dokumen telah ayah siapkan untuk kita berempat, namun hari itu ibumu mengatakan kalau dia tidak bisa pulang ke Indonesia karena kontrak yang terlanjur ditanda tangan. Ego ayah kembali terluka karena ibumu tidak mau mendengarkan ayah, membuat ayah pergi membawa BI dengan harapan ibumu akan menyerah dan pulang bersama-sama.”


Ku lihat mata ayah sedikit menerawang seolah mengingat hari itu.


“Hari itu ayah menghubungi ibumu mengatakan kalau ayah dan Bi akan pulang ke Indonesia dan akan menunggu kalian di bandara. Namun ternyata sampai panggilan terakhir kalian tak pernah datang, hingga akhirnya dengan penuh kekecewaan ayahpun pergi bersama dengan Bi yang tertidur karena lelah menunggumu dan ibumu.”


Ada kekecewaan dari sorot mata juga suaranya. Sedikit banyak aku memahami kekecewaannya, tapi …


“Bukan kah mamah sudah memberi tahu kalau kami tidak bisa ikut karena terlanjur dikontrak dan tidak memiliki uang untuk membayar biaya pembatalan kontrak kerja?”


Ayah menganggukkan kepala. “Iya, tapi ayah telah mengatakan kepada ibumu kalau ayah akan berusaha mencari uang untuk membayar biaya pembatalan kontrak itu, tapi ibumu menolak. Dia tidak inign memiliki hutang kepada siapapun terutama orangtua ayah.”


Aku juga memahami alasan mamah. Bisa dibayangkan ... mamah belum mendapat restu dari orangtua ayah, dan kalau harus berhutang kepada mereka bisa dibayangkan akan seperti apa mereka menghina mamah.


“Karena itulah setibanya di Indonesia ayah bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang agar bisa membawa kalian kembali ke Indonesia dengan membayar biaya pembatalan kontrak ke kantor ibumu dengan uang hasil kerja keras ayah sendiri. Namun usaha ayah tidak berjalan seperti yang diharapkan.”


Aku melihat ayah menghembuskan napas berat, wajahnya tertunduk menatap cangkir teh dengan pandangan menerawang.


“Tahun pertama jatuh bangun ayah mulai merantis usaha bahkan tak jarang ayah tidak pulang meninggalkan Bi bersama eyang dan tante Mayang. Ibu sambungmu.”


Ayah menatapku mungkin mencoba melihat reaksiku ketika ayah menyebutkan nama perempuan lain selain mamah. Tapi aku tak peduli, yang kuinginkan sekarang adalah mendengar penjelasannya.


“Ayah terlalu fokus dengan bisnis hingga tanpa terasa Bi yang awalnya rewel selalu mencari kamu dan mamahmu kini mulai terbiasa dengan Mayang yang menjadi sosok pengganti ibumu. Awalnya ayah merasa tenang karena Bi sudah terbiasa dengan orang-orang di sini juga nama barunya, membuat ayah semakin gila bekerja. Tanpa ayah sadari perlahan dia sudah tak lagi mengingat kalian juga nama lamanya.”


Aku melihat mata penyesalan ayah, membuatku hanya bisa menghela napas menahan kekesalan.


“Usaha yang ayah rintis dengan susah payahpun mengalami kerugian … cukup besar. Ketika itu terbayang wajah kalian berdua, ayah merasa malu untuk kembali kepada kalian dalam keadaan gagal seperti itu.”


“Setahun lebih ayah pergi meninggalkan kalian tanpa kabar berita karena sibuk merintis usaha yang malah mengalami kerugian hingga ayah terlilit banyak hutang, ditambah Bi yang telah melupakan kalian lagi-lagi membuat ayah merasa gagal sebagai seorang suami dan ayah. Dalam keadaan terpuruk dan hancur itulah ayah memutuskan menceraikan ibumu, karena ayah merasa tidak pantas untuk ibumu yang luar biasa, dan ayah juga tidak ingin menyeret kalian dalam pusaran hutang yang ayah ciptakan sendiri dan malah membawa kalian dalam kemiskinan.”


“Ayah ternyata tidak mengenal mamah dengan baik.” Ayah menatapku yang menatapnya serius. “Mamah tidak akan mempermasalahkan itu semua, dia akan menerima ayah dengan tangan terbuka dan menjalaninya bersama-sama … kalau ayah mau kembali kepada kami.”


Ku lihat ayah mengangguk.


“Karena kebaikan ibumu-lah yang semakin membuat ayah malu dengan diri ayah sendiri. Dengan sombongnya ayah pulang ke tanah air meninggalkan kalian di Jepang dengan harapan bisa sukses dan membuktikan kalau ayah mampu. Namun nyatanya ayah gagal, dan mengalami kerugian, bahkan ayah harus menjual asset orangtua ayah untuk membayar hutang-hutang ayah. Bisa kamu bayangkan akan seperti apa ibumu kalau mengetahui ayah memakai asset orangtua ayah untuk membayar hutang karena kebodohan ayah dalam berbisnis? Dia akan sangat terpuruk, dan akan menjadi pergunjingan keluarga besar ayah. Ayah tidak mau kalian merasakan itu, Na.”


Aku tak tahu harus berkomentar seperti apa. Memakluminya atau kembali kecewa? Di satu sisi aku bisa memaklumi alasan ayah memutuskan bercerai dengan mamah. Harga dirinya sebagai seorang suami telah hancur dengan kegagalan bertubi-tubi, dari mulai terkena PHK yang membuatnya menjadi pengangguran yang hidupnya bergantung kepada penghasilan istri, pergi meninggalkan istri dan anak pulang ke tanah air dengan harapan bisa sukses dalam berbisnis, tapi malah mengalami kegagalan dan kerugian membuatnya tak punya muka lagi untuk bertemu istri dan anaknya, dan mungkin dia berpikir dia akan melindungi kami dengan melepaskan kami.


Tapi di sisi lain, tetap saja … aku kecewa.


“Ayah benar-benar terpuruk saat itu, untung saja ada Bi yang menjadi penyemangat ayah.”


“Anggi … bukankah saat itu dia sudah berganti nama menjadi Anggi dan lupa kalau dia adalah Sagita Bentari?”


Ayah menatapku dan kembali mengangguk.


“Iya … Anggi yang sudah terbiasa dengan nama dan lingkungan barunya …”


“Dan istri baru ayah.”


Ayah menatapku sesaat. “Saat itu ayah belum menikah lagi. Keadaan Anggi lah yang membuat ayah memutuskan menikah dengan Mayang.”


“Mayang adalah teman ayah ketika sekolah, rumah kami pun berdekatan. Dia perempuan yang baik dan sangat menyayangi Anggi … ketika pertama datang ke sini Anggi kehilangan sosok seorang ibu. Namun akhirnya dia menemukan sosok seorang ibu di dalam diri Mayang yang setiap hari selalu meluangkan waktu menemaninya, memenuhi kebutuhannya, dan semakin hari Anggi semakin bergantung pada Mayang dan tak ingin lepas.”


Ayah mengambil napas dalam sebelum melanjutkan kembali ceritanya.


“Saat itu ayah sedang berusaha kembali bangkit dari keterpurukan karena kegagalan juga perceraian dengan ibumu. Di sisi lain ayah juga memerlukan seseorang yang benar-benar bisa menyayangi Anggi tanpa syarat layaknya seorang ibu … dan Mayang adalah jawabannya.”


Aku terdiam mulai memahami alasan ayah menikah kembali, namun tetap saja aku masih merasa kecewa padanya.


“Dan setelah menikah ayah mengganti akta lahir Bi menjadi Anggi. Bukan hanya nama, tapi tanggal lahir dan juga nama ibu kandungnya,” ucapku penuh kekecewaan.


Ayah menatapku terdiam beberapa saat, sebelum dia kembali menjelaskan hampir semua tanyaku selama ini.


“Setelah menikah ayah kembali fokus dengan bisnis hingga ayah jarang ada di rumah, semua urusan tentang rumah ayah serahkan kepada Mayang. Saat itulah orangtua ayah membuat akta lahir untuk Bi dengan nama barunya tanpa sepengetahuan ayah.”


“Bagaimana bisa ayah tidak tahu tentang itu? Ayah kan orangtuanya.”


“Ayah sedang di luar kota ketika Mayang memberitahu ayah tentang permintaan eyangmu untuk membuat akta lahir dengan nama Anggi Santoso. Tak sekalipun ayah berpikir kalau nama ibumu akan diganti dengan Mayang. Eyangmu beralasan untuk membuat akta diperlukan buku nikah dan dia menggunakan buku nikah ayah dan Mayang sebagai dokumen pelengkap.”


“Kenapa ayah diam saja? kenapa ayah tidak protes?”


“Tentu saja ayah marah saat itu, bagaimana pun ibumu adalah perempuan yang pernah ayah cintai dan ibu dari anak-anak ayah, tidak mungkin ayah hanya diam diri melihat hal itu. Namun semua telah terjadi, tak ada lagi yang bisa ayah lakukan karena akta itu telah dipakai untuk memenuhi persyaratan masuk sekolah. Ayah telah berjanji pada diri ayah sendiri, suatu saat nanti Anggi harus tahu tentang semuanya.”


“Dan suatu saat itu kapan? Sekarang sudah terlambat. Kami hampir saja saling menyakiti satu sama lain hanya karena seorang lelaki, dan itu hanya karena ayah menyembunyikan tentang aku dan mamah dari Bi.”


Ayah kembali terdiam, beberapa kali dia menghela napas di antara diamnya.


“Mayang … dia tidak bisa memiliki keturunan.” Aku sedikit terkejut mendengar ucapan ayah. “Setelah beberapa tahun menikah kami belum dikarunia keturunan, sempat Mayang hamil namun kegugura hingga harus di kuret.” Ayah terdiam dia kembali terlihat beberapa kali menghela napas panjang. “Setelah kejadian itu Mayang beberapa kali keguguran, sampai akhirnya dokter mengatakan kalau Mayang menderita sinderom Asherman atau pelengketan rahim yang membuatnya akan sulit memiliki anak.”


Hening … aku terdiam mendengar penjelasan ayah. Aku teringat sosok tante Mayang yang terlihat anggun dengan penampilan elegan, tak terlihat sedikitpun dia menderita sebuah penyakit langka yang seolah menjadi momok bagi kaum perempuan.


“Setelah Anggi dewasa, beberapa kali ayah berniat menceritakan tentang kalian, tapi Mayang selalu memohon untuk menunda. Dia takut … takut kalau Anggi akan meninggalkannya, karena bagi Mayang, Anggi adalah dunianya, putri semata wayangnya yang dia besarkan sedari kecil.”


Aku semakin terdiam … sebagai perempuan aku sangat memahami kondisi tante Mayang, dan bisa merasakan ketakutannya ditinggal oleh satu-satunya ‘anak’ yang dia milik dan dia sayangi. Akan tetapi …


“Nana paham perasaan ayah dan istri ayah, tapi Bi berhak mengetahui kebenarannya begitu juga dengan mamah.” Ayah terdiam kemudian mengangguk. “Tapi sekarang ayah sudah terlambat … Bi sudah mengingat Nana dan Mamah, juga nama kecilnya dulu.”


Ayah membelalakan mata terkejut.


“Anggi sudah mengingatnya?”


“Iya … tapi ingatan itu datang terlambat. Nana, Oka dan juga mamah sudah terluka, begitupun dia yang kini harus menerima konsekuensinya dengan diinterogasi polisi selama berjam-jam … semua sudah terlambat, Yah.”


Ayah terdiam, terlihat lelah dan penuh penyesalan.


“Nana … ingin mengajukan satu lagi pertanyaan yang selama ini selalu mengganjal di hati Nana.” Ayah menatapku kemudian mengangguk. “Kenapa selama ini ayah tak pernah sekalipun mencari Nana?”


Ayah terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaanku.


“Ayah tadi cerita kalau ayah merintis usaha baru setelah pindah ke Surabaya. Ternyata bisnis tidaklah semudah yang ayah bayangkan, apalagi ayah memulainya dari nol. Tahun-tahun awal ayah mengalami banyak kendala, hingga ayah benar-benar hanya fokus kepada bagaimana bisa bertahan di dunia bisnis. Itu juga yang menjadi salah satu alasan ayah selalu mengabulkan apapun keinginan Anggi, karena rasa bersalah tidak bisa menemaninya tumbuh, dan juga karena rasa bersalah padamu yang membuat ayah semakin memanjakan Anggi berharap ayah bisa menebus kesalahan ayah pada kalian dengan memanjakan dan mengabulkan apapun keinginannya.”


Ayah terdiam beberapa saat, matanya terlihat menerawang. Dia menghela napas sebelum melanjutkan kembli ucapannya.


“Kurang lebih di tahun ke tujuh, modal ayah mulai kembali dan mendapatkan sedikit keuntungan. Saat itulah ayah bertekad untuk mencarimu.”


Hatiku sedikit bergetar mendegar ayah mencariku.


“Ayah tahu kalian sudah tidak ada di Jepang, dan satu-satunya tempat yang ayah ketahui untuk mencari kalian adalah rumah kakekmu di Bekasi. Walaupun tahu kakekmu sangat marah dan kecewa kepada ayah, tapi hari itu ayah nekad datang dan siap menerima kemarahan beliau …” ayah menghela napas terlihat sedih sesaat. “Tapi ayah telambat, kakekmu sudah meninggal dan rumah di Bekasi sudah di jual. Ayah kehilangan jejak kalian dan tak tahu harus mencari kemana … sampai akhirnya salah satu tetangga kakek memberitahu ayah kalau kalian kembali lagi ke Jepang, dia juga memerlihatkan fotomu dengan seorang anak laki-laki kecil yang tengah bermain bersama anaknya, saat itulah ayah mengira kalau ibumu telah menikah kembali di Jepang dan kalian tinggal di sana.”


Hatiku mencelos mendengar penjelasan ayah. Di satu sisi aku gembira karena ayah mencari keberadaanku, tapi di sisi lain … bolehkah aku masih sedikit kecewa kepada ayahku karena berpikir seperti itu tanpa mencari dahulu kebenarannya?


*****


Note:


Asherman syndrome merupakan kondisi di mana ada jaringan luka di rahim yang bisa merusak endometrium atau dinding rahim dan bisa menyebabkan keguguran berulang bahkan sebelum mengetahui sudah hamil. Sindrom Asherman juga dikenal sebagai perlengketan rahim, tergolong penyakit yang jarang terjadi.