I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
If




If (Jika)



“Jadi dia adalah mantan kamu?”


Aku mengangangguk sambil menghapus sisa-sisa air mataku. Saat ini kami tengah berada di apartemen dan telah kuceritakan semuanya pada Caraka.


“Dia menghinamu juga Mamah?”


“Keluarganya dia, bukan dia.”


“Sama saja,” ujarnya tegas membuatku terdiam. “Orang yang hanya diam ketika melihat suatu kejahatan terjadi, itu sama saja dia melakukan kejahatan yang sama.”


Aku mengangguk setuju.


“Dan kapan tepatnya kamu bertemu dengannya lagi?”


Aku berpikir mencoba mengingat kapan aku bertemu dengannya lagi. “Sepertinya ketika Candra datang.”


“Dan kamu tidak memberitahuku?”


“Maaf, aku pikir aku tak akan bertemu dia lagi dan hari itu hanya kebetulan saja.”


Ku lihat Caraka menghela napas. “Dan tadi apa yang dia inginkan dari kamu?”


“Meminta maaf.”


“Setelah sekian tahun?” Aku mengangguk. “Apa … kamu memaafkannya?”


Aku menghela napas kemudian mengangguk. “Aku harus memaafkannya kan?” Caraka terdiam menatapku. “Tapi aku tidak mungkin bisa melupakannya.” Aku tertunduk sambil menghela napas. "Apa aku salah kalau aku belum bisa melupakannya?"


Aku menengadah ketika ku rasa tangan Caraka mengelus rambutku sebelum akhirnya memelukku.


“Kamu tidak salah, itu hal yang sangat wajar ... kamu hebat karena telah bertahan selama ini, dan tadi kamu telah melakukannya dengan sangat baik.”


Diam-diam aku tersenyum lega sekaligus merasa hebat untuk sesaat karena ada seseorang yang memahamiku.


Ku balas memeluknya tak kalah erat sambil berbisik. “Terima kasih karena selalu berada di sampingku untuk mendukungku, dan memahamiku.”


“Untuk itulah Tuhan menciptakanku, untuk melindungi, menyayangi dan mencintaimu.”


Aku terkekeh mendengarnya.


"Lain kali ketika kamu bertemu dengan orang-orang yang membuatmu terluka, beri tahu aku, agar aku bisa segera datang untuk mendukungmu."


Aku mengangguk dalam pelukannya.


“Apa sekarang semua telah selesai?” Aku melepaskan pelukan menatapnya tak mengerti dengan pertanyaannya. “Urusanmu dengan mantanmu, apa sudah selesai? Apa tidak ada lagi urusan yang tertunda dan belum terselesaikan?”


“Bagiku semua sudah selesai lima tahun lalu, tadi itu … mungkin hutang yang seharusnya dia bayar dulu. Jadi saat ini semua sudah benar-benar selesai.”


Caraka menganggukan kepala. “Jadi tidak ada alasan untuknya menemuimu lagi?”


“Tidak, tidak sama sekali. Semuanya sudah benar-benar selesai.”


“Bagus! Aku tak ingin ketika seharusnya aku yang memberi kejutan dengan kedatanganku malah dikejutkan dengan melihatmu dengan pria lain.”


“Hahaha … tapi aku sangat senang kamu datang. Bertemu dengannya mau tidak mau mengingatku pada kejadian lima tahun lalu, saat itu aku benar-benar sendiri dan tadi aku kembali merasa kesendirian itu, tak ada seorangpun yang berdiri di sampingku dan ketika tadi melihatmu aku begitu bahagia kerena tahu kali ini berbeda. Aku tak lagi sendiri … ada kamu yang selalu ada di sampingku.”


Dia tersenyum sambil mengangkat alisnya bangga. “Aaah, aku memang luar biasa, paling bisa diandalkan untuk segala urusan.”


“Hahaha.” Aku tertawa menyesal memujinya, tapi bagaimanapun yang dia katakan benar … dia paling bisa diandalkan untuk itulah aku menghadiahinya sebuah kecupan di pipi. “Terima kasih untuk selalu bisa diandalkan.”


Dia terdiam kemudian berdecak. “Kurang dong, masa cuma gitu doang.”


“Hahaha.” Aku berdiri dan berjalan menuju kamar. “Shalat, udah adzan magrib tuh.”


“Lanjutin sudah shalat ya?”


“Hahaha.”


Aku tertawa sambil melanjutkan berjalan menuju kamar untuk mandi, dan bersiap shalat magrib berjamah dengan orang yang ku harap menjadi imamku di masa depan.


Setelah shalat magrib untung saja Caraka lupa akan 'hadiah tambahan' yang tadi dia minta, karena aku langsung mengajaknya pergi makan malam, dan ini kali pertama aku keluar dari area superblock menikmati malam kota Surabaya yang tak kalah temaran seperti Jakarta.


“Sering ke Surabaya? Kok hapal jalanan Surabaya?” Aku bertanya ketika mobil yang dikendarai Caraka berbelok ke arah UNESA (Universitas Negeri Surabaya). “Ah, aku lupa kalau mantan calon tunangan dulu orang Surabaya.”


“Hahaha … aku ke Surabaya hanya untuk urusan pekerjaan.”


“Hei, siapa yang baru bertemu dengan mantan di sini? Yang jelas bukan aku.”


“Itu pertemuan tidak disengaja bukan sengaja niat bertemu.”


“Aku tidak pernah datang ke sini dengan niat menemuinya,” ucapnya dengan senyum lebar membuatku mendelik. “Aku serius, Sayang. Satu-satunya perempuan yang membuatku dengan sengaja datang ke Surabaya adalah kamu.”


Aku mengulum senyum sambil menatap ke luar dimana mobil Caraka kini membawa kami memasuki perumahan elit. Rumah-rumah mentereng berderet dengan megah membuatku mengerutkan alis.


“Kita mau makan atau mau ke mana? Kok masuk komplek?”


Kami kini melewati taman dengan danau buatan lengkap dengan patung Merlion seperti di Singapur. Di kanan kiri jalan terdapat cluster-cluster mewah yang dijaga ketat.


Caraka hanya tersenyum tanpa menjawab. Kami kini berbelok kanan dan suasana temaran mulai terlihat dengan diawali neon sign bertuliskan G-Walk, sebuah area makan yang berada di dalam komplek perumahan elit, dengan café dan restoran berderet sepanjang puluhan meter.


“Ayo!”


Caraka merangkul bahuku dan kami pun mulai memasuki area G-Walk, mencari tempat yang cocok di antara banyaknya pilihan yang tersedia. Sepanjang jalan dia tak melepaskan rangkulannya membuatku benar-benar merasa aman berada di antara lalu lalang orang-orang yang tengah mencari tempat untuk makan malam, atau sekedar nongkrong.


Mataku disuguhkan oleh suasana temaran dari hiasan café dan resto yang berdiri di samping kiri dan kanan jalan, ada café yang menawarkan suasana syahdu dengan hiasan lilin, ada juga yang temaran dengan neon-neon, dengan berbagai pilihan menu dari modern sampai tradisional.


Kami memutuskan duduk di area outdoor restoran dengan penerangan temaran lilin dan obor yang membuat suasana romantis benar-benar terbangun, sebuah restoran yang menyuguhkan menu tradisional.


“Jadi, selain pria tadi apakah masih ada mantan yang harus aku antisipasti lagi?” Caraka bertanya sambil menerima piring yang telah ku isi dengan nasi talam bebek putri Madura.


“Tidak, mantanku tidak sebanyak kamu. Hanya Elvan saja.” Aku menyendok nasi lengakap dengan bebek untuk diriku sendiri.


Caraka terdiam menatapku, “Jadi namanya Elvan … berapa lama kamu pacaran dengannya?”


“Hahaha.” Aku tertawa mengerti arti dari pertanyaannya. Saat ini dia tengah cemburu pada masa laluku. “Hampir setahun.”


Aku menyuap nasi talam bebek putri Madura yang rempah-rempahnya sangat terasa hampir mirip dengan nasi kebuli, ditambah potongan cabe, tomat hijau, teri medan, serta kacang tanah yang sepertinya ditumis dengan minyak samin dan olive oil menjadi sambal yang disajikan di atas bebek goreng yang nikmat.


“Ternyata bukan aku yang harus sedia pestisida, tapi kamu karena kamu yang didekatin para lalat hijau.”


“Hahaha.” Aku hanya bisa tertawa sambil menikmati bebek goreng.


“Apa dia tinggal di sini?”


“Tidak tahu, aku tidak bertanya dan itu tidak penting juga kan?” Caraka menganggukkan kepala sambil mengunyah makanannya. “Dari pada memikirkan dia tinggal dimana, aku lebih penasaran dengan dimana ayahku dan Bi tinggal sekarang.” Aku kembali menyuap makananku.


“Oh iya,” ucapnya dengan mulut penuh, dia mengunyah kemudian menelan makannya. “Apa sudah ada titik terang?”


“Belum, aku mencoba mencari tahu dari anak-anak di kantor, kata mereka tidak ada peternakan H. Joko, adanya H. Tutus. Tapi aku berencana mendatangi peternakan-peternakan itu siapa tahu ada yang mengenal H. Joko, Pakde Bayu, Randi Prasetyo atau Bi.”


Caraka terdiam menatapku, “Siapa? Randi Prasetyo?”


“Iya, itu nama ayahku.”


Caraka mengerutkan alis.


“Apa kamu mengenalnya?”


Caraka terlihat berpikir. “Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya?” Caraka kembali terlihat berpikir. “Randi … Randi …”


“Randi … nama yang umumkan?”


Caraka terdiam kemudian mengangguk.


“Kamu benar, nama yang umum. Mungkin salah satu kenalanku dulu.” Aku mengangguk lalu kembali melanjutkan makan. “Nanti aku coba minta tolong temanku yang tinggal di Surabaya untuk mencari tahu tentang mereka.”


Aku kembali tersenyum sambil mengangguk.


“Aku selalu penasaran seandainya kita berhasil menemukan mereka … apa yang pertama kali harus aku katakan? Apa aku jujur mengatakan kalau aku putrinya? Bagaimana kalau dia tak mengakuiku?”


Pertanyaan yang selama ini selalu berputar-putar di kepalaku … aku tak bisa membayangkan apa nanti akan menjadi pertemuan keluarga yang tidak di harapkan dan malah akan menjadi pertemuan yang canggung, atau malah akan menjadi pertemuan yang mengharu biru, penuh dengan air mata kebahagiaan?


“Jangan terlalu dipikirkan sekarang? Terkadang apa yang kita bayangkan belum tentu terjadi, malah terjadi kebalikannya.” Caraka meneguk air mineral sebelum kembali berkata. “Jadi daripada kita menghabiskan energi untuk memikirkan apa yang akan terjadi nanti, lebih baik kita fokus mencari keberadaan ayah dan adikmu dulu … kalau hal yang terburuk terjadi misalnya mereka tidak mengakuimu … itu bukan salahmu, tapi mereka yang rugi karena telah menyia-nyiakan putri dan kakak luar biasa seperti kamu.”


Aku tersenyum mendengarnya.


“Yang perlu kamu ingat aku selalu akan mencintaimu terlepas dari siapapun ayahmu, apa ayahmu menerimamu atau tidak … karena bagiku kamu adalah kamu, dan aku mencintai sosokmu seutuhnya bukan latar belakang keluargamu.”


Bagaimana hatiku tidak berdesir mendengarnya dan bagaimana aku tidak semakin jatuh cinta kepada pria yang duduk di hadapanku. Mendengar kata-katanya membuatku merasa lega karena apapun hasilnya nanti, ayah menerimaku atau tidak itu tidak akan berpengaruh kepada hubunganku dengan Caraka.


Mungkin hanya akan membuatku sedih untuk sesaat, tapi setelah itu aku akan terbiasa. Toh selama ini aku dan Oka tumbuh tanpa sosok ayah.


Ya, yang perlu aku lakukan sekarang hanya fokus mencari ayah juga Bi, untuk hasil akhirnya kita serahkan kepada Yang Maha Pemilik Takdir.


*****