
52. Another puzzle pieces (Kepingan puzzle yang lain)
Aku kembali disibukan dengan pekerjaan setelah dua hari kemarin aku habiskan dengan berkencan dengan Caraka. Dari mulai sarapan, makan siang sampai makan malam sambil melihat kota Surabaya dari ketinggian di sebuah resto bernama Sky, sebelum akhirnya kemarin Caraka harus kembali ke Jakarta karena pekerjaan yang telah menunggunya di sana, dia berjanji akan kembali ke sini setelah Pak Supri menemukan alamat peternakan H. Joko.
Dan mengenai bonus hadiah tambahan … yap! dia berhasil mendapatkan bonus hadiah tambahannya.
Double bonus! Yang pertama ketika dia mengantarku pulang ke apartemen setelah kami makan malam, dan yang kedua saat dia akan pergi ke bandara, katanya buat recharge energi selama kami jauh. Dasar, Kang kopi paling bisa kalau cari alasan.
“Mbak, sudah dapat info perubahan harga belum?”
Aku mengalihkan pandangan dari layar komputer ke Pak Ade yang mejanya tak jauh dari mejaku.
“Belum, brand apa saja, Pak?”
“Banyak ini lumayan.”
“Mulai kapan?
“Besok.”
“Yaaah, kok store sama product belum info? IT sudah tarik data perubahannya belum Pak Ade?”
“Belum, ini kita baru dapat email dari product di suruh tarik data perubahan nanti malam.” Penarikan perubahan harga memang dilakukan malam hari ketika toko sudah tutup, atau pagi sebelum toko buka.
“Van, Yud!” Ivan dan Yudi yang tengah anteng di depan komputer membuat design promo menoleh ke arahku. “Ada perubahan harga, coba cek ke bagian product atau store lihat barang apa saja yang berubah, dan lihat kalau ada yang bisa kita up di bagian promo.”
“Siap.”
“Van, kalau sudah dapat data perubahan harga, kasih ke Willy buat riset harga ke competitor. Kalau harga kita lebih rendah dari mereka, itu yang kita up.”
“Oke, Mbak.”
“Bu Na, risetnya boleh tidak aku ajak Aileen?” tanya Willy sambil cengengesan.
“Jangan diizinin Bu Na, modus itu!” seru Yudi yang membuat seisi kantor heboh.
“Gak modus yo, tapi cuma’ trik ae ben uwong-uwong iku gak curiga nek awake dewe iki lagi riset (Bukan modus, tapi trik biar mereka tidak curiga kalau aku lagi riset).”
“Ojok kakean alasanmu, Cok, awakmu nek seneng yo gari nembak ae. Ngono ae kok repot (Jangan banyak alasan, kalau kamu suka tinggal tembak. Gitu aja kok repot).” Seloroh Ivan membuat seisi kantor tertawa.
Aku tak paham apa yang mereka bicarakan tapi kalau melihat pipi Aileen yang sudah merah, terus ada kata-kata seneng sama nembak … hmmm, sepertinya ada yang cinlok nih. Dan sebagai bagian dari para pejuang cinta, aku tidak boleh mempersulit mereka kan.
“Oke, tapi jangan mampir dulu kemana-mana ya!”
“Yes!”
Aaah, masa-masa pendekatan seperti itu memang menyenangkan, sebelum akhirnya di hadapkan dengan pertengkaran-pertengkaran. Ngomong-ngomong soal pertengkaran, aku sepertinya patut bersyukur karena sampai saat ini aku dan Caraka belum pernah bertengkar, masalah yang kami hadapi sejauh ini selalu dari luar, jadi kami bisa menghadapinya bersama-sama.
“Permisi.” Pak Supri masuk ke dalam kantor. “Bisa bicara sebentar, Bu.”
Aku langsung berdiri dari kursiku dan berjalan ke arah pintu.
“Van, kalau ada apa-apa tolong handle dulu ya, aku ada perlu sebentar dengan Pak Supri.”
“Oke, Mbak.”
“Kita bicara di luar, Pak.” Aku berjalan mendahului Pak Supri dengan perasaan tak karuan.
Kedatangan Pak Supri membawa dua kemungkinan. Beliau sudah menemukan alamat pasti H. Joko, atau H. Joko ternyata sudah pindah dan tidak diketahui rimbanya. Apapun itu, jujur saja itu membuat jantungku berdebar dua kali kebih cepat.
Aku mengajak Pak Supri ke lantai 2, berusaha mencari tempat yang jauh dari E-Word agar tidak ada yang mengganggu kami. Aku masuk ke dalam cafe yang cukup sepi, dan memilih duduk di pojok terdalam.
“Bagaimana, Pak?”
Aku langsung bertanya setelah memesan minum untuk kami berdua.
“Betul, Bu, di Pacet ada peternakan H. Joko.”
Jantungku mulai berdebar kencang mendengar ucapan pak Supri.
“Tapi itu hanya peternakannya saja, mereka tidak tinggal di sana.”
Aku mengerutkan alis.
“Mereka tidak tinggal di sana?”
Hatiku mencelos mendengarnya, bukankah ini artinya aku kembali lagi ke titik nol.
“Tapi kata mereka seminggu sekali orang kepercayaan Pak Bayu akan datang untuk mengecek peternakan, dan sebulan sekali Pak Bayu datang untuk pengecekan semuanya, termasuk pembukuan dan lain-lain.”
Aku mengangguk semangat karena kembali menemukan titik terang.
“Dan kapan tepatnya itu?”
“Sabtu atau minggu ini rencanya saya akan kembali lagi ke Pacet, supaya bisa bertemu dengan orang kepercayaannya Pak Bayu, mungkin dengan begitu saya bisa menanyakan alamat rumahnya di mana.”
Aku kembali mengangguk.
“Bu Kirana tidak usah khawatir, saya sudah memberikan nomer telepon saya, jadi kalau ada info terbaru mereka bisa menghubungi saya.”
Sepertinya yang dikatakan mamah benar kalau ayah berasal dari keluarga cukup berada. Mendengar mereka memiliki rumah di Mojokerto dan Surabaya membuatku berpikir apa mungkin salah satu rumah di Surabaya ditinggali oleh ayah dan juga Bi?
“Maaf, Pak, waktu Bapak berbicara dengan para pegawai peternakan di sana apa ada yang menyinggung tentang adik dari Pak Bayu?”
Pak Supri terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia mengingat sesuatu.
“Iya, Bu, saya ingat!”
Jantungku kembali berdebar menunggu apa yang akan Pak Supri ucapankan, mudah-mudahan itu adik yang bicarakan para pegawai peternakan itu dengan Pak Supri adalah tentang ayah. Randi Prasetyo.
“Kata mereka Pak H. Joko itu dulunya tuan tanah ... tanahnya cukup luas dan memiliki tanah di beberapa daerah Mojokerto dan Surabaya.”
Aku tahu kalau H. Joko itu tuan tanah, tapi aku baru tahu ternyata dia memiliki tanah yang cukup banyak hingga tersebar di beberapa daerah.
“Awalnya Pak H. Joko ini hanya usaha pertenakan kambing Etawa saja, tapi setelah anaknya lulus kuliah, anaknya ini mengembangkan tanah yang dimiliki keluarga Pak H. Joko jadi perumahan, ada juga yang dibangun villa, seperti di daerah Pacet itu ada beberapa resort dan Villa yang awalnya tanah Pak H. Joko kemudian dikembangkan oleh anaknya. Mulai dari situlah keluarga Pak H. Joko tidak tinggal lagi di Pacet, dan usaha mereka kini sangat berkembang bukan hanya peternakan, tapi pengembang juga.”
Aku terkejut mendengar penuturan Pak Supri, kalau seperti ini keluarga ayahku cukup kaya. Dan kenyataan ini membuatku mendengus menyadari, apa mungkin ini alasan sebetulnya keluarga ayahnya tidak merestui Mamah yang lahir dari keluarga sederhana? Tapi sisi lain diriku mengetahui kenyataan kalau ayah orang cukup berada membuat ku bersyukur karena kini tahu kalau hidup Bi tidak akan kekurangan.
“Bapak tahu nama anaknya H. Joko yang jadi pengembang itu?”
“Sopo yo? Lali aku, Bu (Siapa ya? lupa saya, Bu).”
Pak Supri terlihat berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya matanya membulat.
“Saya ingat, Bu!” serunya membuat mataku ikut membulat, “Jenenge, Pak Andi!” (Namanya Pak Andi!)
“Andi?” Aku mengerutkan kening, apa mungki Pak Supri salah? Atau kami tengah membicarakan orang yang salah?
“Iya, Bu … Andi.”
“Bapak yakin Andi? Bukan Randi?”
Pak Supri kembali terlihat bingung. “Andi opo Randi yo? (Andi atau Randi ya?)” Pak Supri menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Namanya hampir mirip ya, Bu.” Pak Supri masih terlihat bingung. “Minggu depan kalau saya kembali ke Pacet, saya akan pastikan lagi, Bu, takut salah.”
Aku mengangguk mengerti.
Kepalaku memutar segala kemungkinan. Yang pasti aku sudah berada di jalur yang benar.
H. Joko, Pakde Bayu, kota dengan huruf P, itu menunjukan kalau mereka adalah orang yang aku cari hanya saja … Andi? Mamah tidak pernah menyinggung sedikitpun tetang orang bernama Andi … apa mungkin Andi adalah nama kecil dari Randi, ayahku? Ataukah Andi adalah saudara ayah?
Aku tak mau gegabah mengambil kesimpulan yang belum pasti. Lebih baik aku bersabar sampai semuanya jelas.
*****
Assalamualaikum,
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442 H ...
Minal Aidzin Walfaizin, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim ... semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian ... aamiin yaa robbal'alaamiin .
Mohon dimaafkan atas semua kesalahan dan kekhilafan saya selama ini, mudah"an kita semua diberi kesehatan, keselamatan, dan selalu dilindungi Allah, SWT ... aamiin.
LOVE
A.K