
Rapunzel
“Kiki di Surabaya?” Anto bertanya dengan senyum lebar.
Bukan, Medan! Ingin ku jawab seperti itu. Maksudku kan dia tahu sekarang kami di Surabaya bukan di Medan atau Pekan Baru.
“Iya.”
“Waaah, kenapa tidak mutasi ke hotel saja, jadi kan kita bisa sama-sama lagi.”
“Hehehe.” aku hanya bisa tertawa sumbang membayangkan harus satu tempat kerja lagi sama tempe kriuk.
“Sopo iki, Cok? Ayune … kenalno opo’o (Siapa ini? Cantiknya … kenalin dong).”
“Hahaha, iki koncoku teko Jakarta (Ini temanku dari Jakarta).”
Anto mengenalkanku kepada teman-temannya yang bekerja di hotel M yang berada di area superblock ini. Kalau begini ceritanya bakal sering nih bertemu sama tempe kriuk and the gang, anggap saja mereka bakwan, tahu isi, dan lumpia isi bihun.
Untung saja Willy yang baru datang dari riset menyapaku jadi aku menggunakan Willy untuk melarikan diri. Lagian itu kenapa sih si tempe kriuk bisa berkeliaran di mall pada jam kerja? Ah, entahlah yang pasti bagiku pribadi saat ini jangankan untuk jalan-jalan, waktuku seminggu ini benar-benar ku habiskan hanya kantor – apartemen, begitu saja setiap hari. Dan karena apartemenku berada di gedung yang sama dengan kantorku, jadi kesimpulannya adalah aku belum pernah ke luar dari gedung ini!
“Jadi sudah kemana saja selama di Surabaya?”
“Nyindir – nyindir!”
“Hahaha.”
Saat ini seperti biasa setiap malam aku akan melakukan panggilan video dengan the one only Kang kopi yang bikin kangen.
“Tahu tidak, aku bahkan belum pernah ke luar dari gedung ini. Aku curiga kamu sengaja cari apartemen untukku di sini supaya aku tidak kemana-mana. Lama-lama aku seperti bukan jadi Cinderella tapi jadi Rapunzel.”
“Hahaha, rambut kamu tidak sepanjang itu, Sayang.”
Aku mendelik mendengarnya yang malah menggodaku.
“Jangan-jangan kamu sengaja ya, mencari apartemen di sini, biar aku tidak kemana-mana?”
“Itu tidak sengaja. Tadinya aku hanya berpikir keefisienan dan keamananmu saja. Minimal dengan apartemen di sana, kamu tidak perlu macet-macetan sepulang kerja kan.”
“Oh, percayalah, aku sangat merindukan macetnya pulang dan pergi kerja!”
Ku lihat sepertinya dia tengah duduk di balkon apartemen dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Sedangkan aku baru selesai mandi, shalat isya, dan sekarang tengah memakai cream malam bersiap untuk tidur.
“Yaaah, malah kangen sama macet, pacar sendiri tidak dikangenin.”
“Hahaha.”
Aku tertawa melihatnya yang merajuk. Hei! Kapan lagi bisa melihat seorang Caraka Benua merajuk seperti itu, dan itu sangat menggemaskan!
“Aku juga kangen sama Kang … kopi.”
Caraka mengerutkan alisnya terlihat berpikir.
“Siapa sih sebenarnya Kang kopi ini? Siska dulu juga bilang kamu kencan sama Kang kopi.” Nada suaranya terdengar serius membuatku mengulum senyum.
“Kang kopi?” Aku dengan santai naik ke atas tempat tidur, menyelimuti tubuhku hingga dada. Tak memedulikan Caraka yang sepertinya sedang cemburu pada dirinya sendiri. “Kang kopi itu seseorang yang sangat luar biasa.” Ku sandarkan ponsel di bantal sebelah hingga aku masih bisa melihat wajahnya.
Caraka mengerutkan alisnya. “Seluar biasa apa?”
“Hmmm … sangat luar biasa menurutku.”
Caraka menghisap rokoknya dalama lalu menghembuskan asap putihnya terlihat kesal, dan itu semakin membuatku menahan tawa.
“Terus?”
“Hmmm … dia orang yang bisa terlihat dewasa, serius, pintar, sangat bisa diandalkan pada satu sisi, tapi di sisi lain dia sangat kekanak-kanakan, posesif, terkadang manja dan keras kepala.”
“Tidak terlihat hebat. Menurutku dia biasa saja.” Dia kembali menghisap rokoknya.
“Benarkah? Tapi menurutku dia adalah seseorang yang luar biasa. Dia tidak menyerah ketika aku berulang kali menolaknya, dia tetap di sampingku bahkan ketika aku merasa jijik dengan diriku sendiri, dia yang kembali menumbuhkan rasa percaya diriku, dia juga yang membuatku menyadari kelebihan diriku sendiri.”
Caraka terdiam, terlihat berpikir, senyum simpul kini menghiasi wajahnya sepertinya mulai menyadari siapa Kang kopi itu.
“Dia menyiapkan segala sesuatu yang terbaik untukku, memastikan kalau aku baik-baik saja bahkan ketika aku jauh dari pandangannya, dan setiap hari dia membelikanku kopi bahkan ketika jarak ratusan mil memisahkan kami.”
Senyum lebar kini benar-benar menghiasi wajah tampannya, membuatku ikut tersenyum.
“Dia terdengar luar biasa.”
“Tadi kamu bilang dia biasa saja.”
“Kamu salah dengar, tadi aku bilang dia luar biasa.”
“Hahaha.”
Dia mematikan rokoknya kemudian berdiri dan berjalan masuk ke dalam apartemennya.
“Hmmm … aku harus menyiapkan berbagai imun juga peralatan perang.”
“Hahaha.”
“Bagaimana seminggu setelah ditinggalkanku? Apa sudah ada lalat hijau yang berusaha mendekat?”
Dia hanya mengangkat bahunya santai, membuatku berdecak.
“Hahaha, tidak ada, Sayang, tenang saja.” Dia tertawa melihatku yang memandangnya dengan pandangan tak percaya. “Bagaimana denganmu? Apa sudah ada yang berani mendekatimu?”
“Oh iya, aku hampir lupa!” Aku teringat kejadian tadi sore. “Tebak tadi aku bertemu dengan siapa?”
“Hmmm …” Caraka menggelengkan kepala.
“Anto!”
“Anto?”
“Iya, Anto si tempe kriuk.” Caraka terlihat berpikir. “Masih ingat tidak kejadian di lift? Yang seseorang menyapaku? Anak akunting yang akhirnya dimutasi?” Aku memberi petunjuk yang membuatnya membulatkan mata.
“Yang manggil kamu Kiki?”
“Iya.”
“Kenapa dia ada di sana?”
“Kamu lupa dia di mutasi ke Surabaya, dan ternyata dia di mutasi di hotel area Superblock Surabaya.”
Caraka terlihat berpikir, membuatku curiga.
“Jangan berpikir untuk kembali memutasinya!”
“Hahaha, bagaimana kamu tahu?”
“Terlihat dari mukamu yang sedang merencakan sesuatu.”
“Hahaha … tapi kalau dia berani macam-macam, aku tak segan-segan memutasinya ke tempat yang sangaaat jauh.”
Aku tersenyum sambil berdecak. Caraka si posesif … aaah aku sangat merindukannya, walaupun setiap malam kami akan video call, tapi tetap saja berbeda rasanya ketika kita hanya berbicara lewat layar ponsel dengan berbicara langsung.
Dia terdiam memerhatikanku yang sudah mulai menguap, dan mata yang sudah mulai terasa berat.
“Ngantuk?”
“Heeh”
“Tidur saja, aku akan menamanimu di sini.”
Aku tersenyum kemudian memejamkan mata.
“Tadi pasti sangat lelah di kantor ya?”
“Iya, lumayan … bagaimana denganmu?”
“Seperti biasa aku harus membereskan beberapa pekerjaan, rapat sana, rapat sini …” dia mulai bercerita tentang kegiatannya satu hari ini. Suaranya mulai timbul tenggelam ketika perlahan alam mimpi mulai memelukku.
Sayup-sayup ku dengar Caraka berbisik,
“Sleeping tight and sweet dream, Honey … I Love you (Tidur yang nyenyak dan mimpi indah, Sayang … aku mencintaimu).”
Aku tersenyum mendengarnya kemudian berbisik, “Love you too.” Sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
****
Caraka, pov
Melihatnya tertidur seperti itu setiap malam membuatku benar-benar merindukannya, bahkan rasanya hampir gila. Aku benar-benar ingin terbang ke Surabaya saat ini juga untuk memeluknya, mencium wangi parfumnya yang lembut menenangkan.
Ini gila! Benar-benar gila! Untuk pertama kalinya aku bisa seperti ini hanya karena seorang perempuan.
Kulihat napasnya sudah mulai teratur, mulutnya sedikit terbuka yang artinya dia sudah tertidur dengan nyenyak. Kumatikan panggilan video, sebelum aku bertambah gila dengan mencium layar ponsel, layaknya anak kemarin sore yang tengah jatuh cinta.
Aku menghubungi seseorang untuk mengalihkan perhatianku dari perempuan yang kini telah tertidur nyenyak tak menyadari kalau telah membuat seseorang hampir gila karena merindukannya.
“Halo, semua baik-baik saja kan?”
Aku terdiam mendengar laporan.
“Tolong awasi dan jaga dia baik-baik. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan segera laporkan kepada saya. Satu lagi … ingat, jangan sampai dia curiga kalau sedang diawasi!”
Aku mematikan ponselku, dan menghempaskan tubuhku di atas kasur. Terlentang dengan mata menatap langi-langit kamar yang terasa sepi. Apa yang akan Kirana lakukan seandai mengetahui aku menugaskan seseorang untuk mengawasi dan menjaganya?
Aku tersenyum membayangkan Kirana yang marah-marah, dan mulai menghubung-hubungkannya dengan drama korea atau sinetron yang sering di tonton mamahnya.
Ah, aku benar-benar sudah gila, bagaimana mungkin aku bahkan merindukan marah-marahnya. Apa aku ke Surabaya saja besok, dan sia-siap menerima amukannya?
*****