I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
74. Stay with me




Stay with me (tetaplah bersamaku)



Kirana, pov.


Setelah berbicara dengan ayah perasaanku sedikit tenang, seolah ada batu besar yang selama ini mengganjal di hatiku kini perlahan mulai hilang. Walaupun secara utuh aku belum bisa memaafkan atau menerimanya kembali, tapi setidaknya hatiku sedikit tenang ketika mendengar alasannya dan lukaku sedikit terobati mendengar ayah pernah mencariku walau hanya sekali.


“Semua baik-baik saja?” Aku menatap Caraka yang duduk di belakang kemudi.


Saat ini kami dalam perjalanan ke rumah sakit, awalnya ayah ingin ikut tapi aku melarangnya. Aku harus menyiapkan Oka dan mamah terlebih dahulu, selain itu ayah harus membereskan masalah Bi. Maksudku Anggi. Karena ku tahu saat ini Anggi pasti memerlukan penjelasan.


“Kalau aku belum bisa memaafkan dan menerima ayah seutuhnya apa aku akan menjadi anak durhaka?”


Caraka terdiam menatapku kemudian tersenyum, dia kembali menatap jalanan sambil berkata,


“Apa alasan dan penjelasannya tidak masuk akal?”


“Tidak.” Aku menghela napas mengingat pembicaran dengan ayah tadi. “Di satu sisi aku bisa memahami semua alasannya, tapi di sisi lain …”


Aku menceritakan semuanya pada Caraka yang serius mendengarkan ku.


“Alasannya masuk akal kan?”


Caraka mengangguk. “Masuk akal, tapi terkesan egois.”


“Itu dia, maksudku!” Aku menghembuskan napas lega. “Aaah, akhirnya ada seseorang yang memahamiku.”


“Tentu saja kita kan satu hati,” ucap Caraka sambil mengangkat alis dan tersenyum menggoda.


“Ckkk!” Aku berdecak walau tak bisa menyembunyikan tawaku membuatnya ikut tertawa.


“Hahaha.”


Untuk kali pertama aku benar-benar tertawa setelah kejadian semalam dan itu karena lelaki yang duduk di sampingku, yang selalu ada untukku, mendukungku, melindungiku dan membuatku tertawa disaat hatiku gundah.


“Kang …”


“Ya, Sayang.”


“Aku harap hubungan kita didasari oleh kejujuran dan saling terbuka. Kalau ada masalah kita bicarakan dan cari jalan ke luar sama-sama, jangan seperti ayah yang dengan egoisnya memutuskan semua hal, dan akhirnya menyakiti banyak orang.”


“Deal! (Setuju!)”


“Kalau kita menikah nanti aku tak ingin hanya menjadi seorang istri yang tugasnya hanya berdiri di samping suami layaknya pajangan, aku ingin menjadi tempatmu berbagi masalah apapun itu, jika itu ada hubungannya dengan keluarga kita, aku ingin dilibatkan dalam mengambil keputusan walaupun tentu saja sebagai kepala rumah tangga keputusan akhirnya ada padamu, tapi setidaknya aku hanya ingin kita saling terbuka.”


Caraka menggenggam tanganku kemudian menciumnya. “Absolutely! (Tentu saja!)”


“Dan kalau misalnya. Walaupun ini tak mungkin terjadi. Misalnya kamu jadi pengangguran dan hanya aku yang bekerja, aku tak ingin kamu merasa minder, apalagi merasa kalau kamu hanya menumpang hidup.”


“Aku akan dengan senang hati menjadi pengangguran, dan menggantikanmu mengurus si kecil di rumah.”


Walaupun pandangannya ke depan terlihat fokus mencari tempat parkir yang kosong di rumah sakit, tapi aku bisa melihat Caraka mengulum senyum berusaha untuk tak tertawa mendengar ucapanku.


“Aku tahu ucapanku terdengar bodoh, hanya saja … aku tak ingin kembali ditinggalkan oleh orang yang aku sayangi hanya karena ego dan harga diri.” Caraka menatapku yang terdengar serius, dia kini telah memarkirkan mobilnya sedikit di ujung tempat parkir rumah sakit.


Aku menatapnya dengan penuh kesungguhan. “Please stay with me no matter what happens (Jadi tolong tetaplah bersamaku tak peduli apapun yang terjadi).”


“Hei, Sayang, siapa yang akan meninggalkanmu?” Caraka membuka sabuk pengaman. Dia kini duduk menghadapku, kedua tangannya menggenggam tanganku. “Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Jadi, jangan berpikiran macam-macam oke?!”


Tangannya kini menangkup pipiku, matanya menatap tepat manik mataku membuatku terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum, kemudian mengangguk.


“I love you … I will never leave you. (Aku mencintaimu, aku tak akan meninggalkanmu),” ucapnya dengan mata menatap mataku membuat hatiku kembali merasa hangat.


“Promise? (janji?)”


Caraka mengelus kepalaku, dia kembali menatap manik mataku, sambil tersenyum lembut dia berkata, “Promise!”


Entah kebaikan apa yang telah aku lakukan atau mungkin leluhurku lakukan hingga Allah mengirimkan seorang lelaki luar biasa seperti Caraka Benua untukku.


Ku tatap Caraka yang masih tersenyum lebar dengan pandangan ke depan fokus terhadap jalanan. Hatiku bergetar terasa hangat, ingin rasanya saat ini juga aku memeluknya erat hanya untuk mengungkapkan betapa aku sangat beruntung memilikinya.


“So do I (Begitu juga dengan aku).”


Aku tersenyum mendengar ucapan Caraka yang juga tersenyum.


“Tadi terima kasih karena memberiku waktu untuk berdua dengan ayah.”


Caraka mengangguk sambil mengelus rambutku.


“Aku tahu kamu memerlukan waktu berdua ayahmu. Lagipula ada sesuatu yang harus ku urus.”


Aku mengerutkan kening.


“Aku harus berkoordinasi dengan beberapa orang untuk masalah semalam.” Caraka membuka pintu mobil. “Kita keluar sekarang?”


Aku mengikuti Caraka ke luar dari mobil.


“Dan ... apa aku boleh tahu apa itu?” aku bertanya penasaran.


“Aku meminta Pak Supri menyelediki beberapa hal. Bagaimana mereka mengetahui nomer unitmu tinggal, bagaimana mereka bisa masuk ke dalam gedung dengan bebas.”


Ya itu memang aneh. Keamanan di apartemen tempat tinggalku tinggal cukup ketat, hanya penghuni dan tamu dengan izin dari penghuni yang bisa masuk.


“Apa pak Supri sudah mendapatkan jawabannya?”


“Belum, aku akan memberitahumu kalau pak Supri sudah memberi laporan.”


Aku mengangguk mengerti. Saat ini kami tengah menunggu lift yang akan membawa kami ke ruang VVIP. Di dalam lift kami kembali terdiam, berdesakan dengan pengunjung yang turun di lantai berbeda-beda. Sampai akhirnya hanya kami berdua yang menuju lantai 6 dimana ruangan mamah berada.


“Kamu jangan pikirkan masalah ini. Kamu cukup fokus dengan masalah keluargamu, oke?”


Caraka kembali merangkul bahuku ke luar dari lift. Lorong lantai kamar vvip terasa sepi, hanya ada perawat yang bertugas di ruangan perawat yang tersenyum menyapa ramah ketika kami melewati ruangan itu.


“Jadi apa rencanamu selanjutnya? Apa kamu akan memberitahu mamah dan Oka mengenai ayahmu dan Anggi?”


Aku menghela napas, kembali merasa lelah … ingin rasanya aku istirahat sejenak, tapi aku tak boleh menunda lagi masalah ini. Aku ingin mamah mendengar dari mulutku sendiri mengenai Anggi, begitu juga Oka, aku ingin memberitahunya tentang ayah.


“Mamah pasti ingin bertemu dengan Bi, dan aku ingin memersiapkanya dulu agar mamah bisa menerima kenyataannya. Begitu juga dengan Oka, aku akan mengenalkannya kepada ayah. Mereka berhak mengenal satu sama lain. Oka sudah dewasa sudah bisa mengambil keputusan sendiri, dan aku tak akan ikut campur mengenai itu.”


Caraka mengangguk setuju dengan keputusanku.


“Tapi … untuk sementara aku ingin merahasiakan mengenai keterlibatan Anggi dalam kejadian semalam.”


“Anggi sudah diperbolehkan pulang.” Aku menatap Caraka yang serius menatapku. “Dimas menghubungiku dan melaporkan tentang perkembangan di polres.”


“Statusnya?”


“Saksi.”


Aku menghela napas lega.


“Anggi pada dasarnya adalah anak yang baik, mungin karena salah didikkan juga salah pergaulan, hingga dia seperti itu. aku tak habis pikir bagaimana Anggi bisa berteman dengan para baj*ingan itu?’


Saat ini kami sudah berada di depan ruang inap mamah, namun memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang berada di depan kamar.


“Para baj*ngan itu, apa sekarang pun mereka akan kembali lolos?”


Caraka tersenyum. “Soal mereka kamu tak perlu memikirkannya, biarkan aku dan Papah yang mengurus itu. Kali ini akan ku pastikan mereka membusuk di penjara.”


“Papah … tahu?”


Caraka kembali tersenyum, dia menumpukan telapak tangannya di atas kepalaku. “Bagaimana mungkin aku tidak melaporkan kejadian yang menimpa menantu kesayangannya.”


Aku ikut tersenyum mendangar ucapannya.


“Saat ini aku yakin Papah pasti sudah menghubungi Hadian menanyakan perihal Ferdi yang bisa berada di Surabaya tidak sesuai kesepakatan kami dulu. Kini baik Hadian maupun Ferdi harus menerima konsekuensinya. Tak ada lagi kelonggaran bagi mereka yang telah melukai menantu Mahesa untuk kedua kalinya.”


Aku sedikit lega mendengarnya, karena itu artinya mereka tidak akan bebas seperti dulu lagi, kali ini mereka benar-benar akan mendekam di penjara.


Dan tanpa sepengetahuanku, bukan hanya Papah yang menekan Hadian Izam Noor, tapi ayahpun melakukan hal yang sama hingga akhirnya Hadian Izam benar-benar tak berkutik mendapat tekanan dari dua orang ayah yang melindungi putrinya.


*****