I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
76. Anaking jimat awaking




Anaking jimat awaking


(B. Sunda ... Anakku, belahan jiwaku)



Ucapan mamah seolah menamparku. Selama ini aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri sebagai seseorang yang ditinggalkan. Hanya menunggu dan menunggu, tak pernah sekalipun aku mencoba berpikir dari sisi ayah, atau bahkan mencarinya.


Ku lihat Oka hanya terdiam, tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran anak itu, begitupun dengan Caraka yang dari tadi sepertiku dan Oka, terdiam mendengar ucapan mamah.


“Kenapa, Teh? Masih ada yang teteh belum kasih tahu mamah?”


Aku menatap mamah yang menatapku dengan selidik.


“Teh, kenapa?” mamah kembali bertanya.


Aku ragu apa ini waktu yang tepat untuk memberi tahu mamah identitas Bi yang telah diubah.


“Kak Bi,” ucap Oka sambil tertunduk, sebelum akhirnya menatap mamah yang menatapnya sambil mengangkat alis.


“Bi kenapa?” Mamah bertanya dengan suara cemas.


Oka menatapku seolah meminta izin membuatku menatap Caraka yang terdiam sesaat kemudian mengangguk. Ya, kami harus menyelesaikan ini secepatnya. Bukankah lebih cepat lebih baik, hingga tak ada lagi yang akan menjadi masalah di kemudian hari.


“Mereka … mereka mengganti nama Bi.”


Mamah terlihat bingung.


“Mereka mengganti nama Bi? Kenapa?”


“Katanya karena Bi sering sakit-sakitan ketika masih kecil, jadi eyang menggantinya menjadi … Anggi.”


Mamah terdiam sesaat sebelum akhirnya dia tersenyum.


“Eyangmu ternyata masih percaya dengan mitos.” Aku mengangguk. “Apa setelah Bi ganti nama, dia jadi jarang sakit?”


Aku terdiam kemudian kembali mengangguk. “Katanya sih seperti itu.”


“Ya sudah kalau seperti itu, tidak apa-apa yang penting Bi sehat.”


Aku dan Oka menatap mamah tak percaya, yang hanya tersenyum menatap kami bergantian.


“Mamah tidak marah?”


“Kenapa mamah harus marah?”


“Aku pikir mamah akan sedih dan marah mengetahui Bi diganti namanya.”


“Semua orangtua akan melakukan apapun agar anaknya bisa sehat, kalau mengganti nama bisa membuat Bi sehat mamah akan mengganti nama Bi setiap minggu.”


Kami tersenyum menatap mamah. Mamahku yang hebat, yang kadang menjadi drama queen tapi juga sangat bijaksana. Membuat kesedihan kembali melandaku mengingat namanya kini tak tertulis di akta lahir putri kandungnya sendiri.


“Ada apa lagi? Ayo keluarkan semuanya? Biar pusingnya sekalian,” ujar mamah sambil menatap kami bertiga.


“Tanggal lahir Bi juga diganti.”


“Apa? kenapa tanggal lahirnya diganti?” mamah sedikit terkejut, dia menatapku meminta penjelasan.


“Karena Bi lahirnya setelah ashar dan katanya kalau setelah ashar itu sudah pergantian hari.”


“Selain itu apa ada lagi yang diganti?” Mamah menatapku penuh selidik, membuat kami bertiga kembali saling tatap. Untuk sesaat aku ragu, apa mamah siap menerima kenyataan ini.


“Teh … apa lagi yang diganti?”


Mamah kembali bertanya membuatku mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya memberitahu kebenaran itu kepada mamah.


“Nama … ibu kandung.”


Mamah terdiam, terlihat terkejut untuk sesaat sebelum kembali terlihat tenang. Ini di luar perkiraanku. Aku kira mamah akan menangis sedih dan kecewa, tapi mamah hanya mengangkat alisnya sambil berkata.


“Ini pasti perbuatan kakek tua itu kan? Ayahmu tidak akan melakukan ini pada mamah.”


Aku hanya bisa mengangguk.


“Mama tidak masalah kalau hanya nama Bi yang diganti, atau tanggal lahir karena banyak juga orang yang tanggal lahir sesungguhnya dan tanggal di akta berbeda apa lagi ini cuma berbeda sehari saja, tapi … kalau sampai nama mamah pun diganti … itu terlalu berlebihan bukan?”


Aku kembali mengangguk setuju dengan ucapan mamah.


Mamah menghela napas berat, sebelum dia berkata,


“Tapi, Teh … akta itu hanya sebuah kertas yang bisa diubah oleh manusia dengan mudah, namun mereka lupa kalau mereka tidak bisa mengganti darah yang mengalir di tubuh Bi. Nama mamah mungkin tidak tertulis di akta Bi, tapi tidak akan mengubah kalau darah yang mengalir di tubuh Bi adalah darah mamah, dan tidak akan ada yang bisa mengubah status mamah sebagai ibu kandungnya.”


Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan mamah, aku tak menyangka mamah akan bisa menerima ini lebih mudah dari yang ku bayangkan.


“Sekarang banyak anak yang tidak mengakui ibu kandungnya, walau nama ibunya itu tercetak jelas di dalam akta. Bagi mamah tidak peduli nama mamah tertulis di dalam akta atau tidak, selama anak-anak mamah masih mengakui mamah sebagai ibu kandungnya itu sudah cukup. Itu yang terpenting.”


Entah apa yang hatiku rasakan mendengar ucapan mamah, mungkin lega karena mamah bisa menerima ini dengan baik, atau mungkin sedih, tapi juga bangga karena mamah bisa menerima itu dengan tenang.


“Pengakuan dari anak-anak mamah lebih dari cukup untuk mamah dari pada pengakuan di atas sebuah kertas yang bernama akta. Darah lebih kental dari apapun, dan tidak akan ada yang bisa mengubah darah yang mengalir di pembuluh darah anak-anak mamah. Kalian adalah milik mamah, buah cinta yang mamah lahirkan dengan bertarung nyawa, darah yang mengalir di tubuh kalian adalah darah mamah dan darah pria yang dulu mamah cintai. Tidak akan ada yang bisa mengubah itu! Anak-anakku adalah belahan jiwaku."


Tak kuasa lagi, ku langsung memeluk mamah erat.


“Sampai kapanpun mamah adalah ibu kami, tidak akan ada yang bisa mengubah itu dan tak akan ada seorangpun yang bisa menggantikan mamah,” ucapku dengan suara bergetar.


Oka ikut memeluk kami “Mamah selalu memiliki kami, bagi kami mamah adalah saatu-satunya.”


Suasana haru sangat terasa, ku pikir mata kami bertiga kini sudah mulai basah oleh air mata.


“Maaf, saya boleh ikut berpelukan?” tanya Caraka yang disambut senyum kami dwngan mata berkaca.


Mamah langsung merentangkan tangannya menyambut Caraka, yang akan menjadi anaknya suatu saat nanti.


“Jadi kapan mau sahnya?” Mamah bertanya setelah kami melepaskan pelukan. “Wali sahnya sudah ketemu, tinggal ijab qobulnya.”


“Secepatnya, Mah, kalau mau sekarang juga saya siap.”


“Jangan sekarang, mukaku masih hancur gini malu nanti duduk di pelaminannya," ucapku sambil menghapus air mata di pelupuk mataku.


“Teh, mau nanti juga muka teteh tetap saja hancur kok.”


“Kurang ajar!”


Ku jitak kepala Oka yang telah kembali kepada mode menyebalkannya.


“Kang, karena sekarang ayah sudah ketemu jadi nanti yang menjadi wali kita itu ayah, berarti … perjanjian sama Oka batal, Kang.”


“Enak saja!” Oka langsung protes. “Pokoknya kemarin sudah sah ya, Kang, tidak bisa dibatalin.”


“Ya batallah, kan yang jadi walinya juga ayah,” ucapku membuat Oka menatapku sebal, dan aku tersenyum penuh kemenangan.


“Kang, dibayar tunai kan, Kang?”


“Hahaha … dibayar tunai.”


“Yes!” Oka bersorak gembira membuatku, Mamah dan Caraka tertawa melihatnya.


Aku tak menyangka mamah dan Oka akan semudah ini menerimanya, atau lebih tepatnya mamahlah yang membuat swmuanya lebih mudah. Mamah membuat kami melihat masalah ini dari sudat yang berbeda hingga kini aku bisa memiliki gambaran lain tentang sosok ayahku.


Perasaan takut melihat mamah terluka dan sedih mengetahui tentang Bi, ternyata hanya ketakutan dan kekhawatiranku saja karena semua berakhir dengan tawa kebahagian.


Bi … apa ayah berhasil meyakinkan Bi? Aku harap iya, agar dia bisa ikut tertawa bersama kami.


***


Author, pov.


Ruangan keluarga rumah megah itu tampak hening, tak ada satupun yang bicara. Andi Santoso baru saja menjelaskan tentang pertemuannya dengan Kirana kepada H. Joko yang duduk di sofa besar berwarna krem. Seluruh rambutnya telah memutih dengan tubuh yang tak lagi setegap dulu yang kini bertambah bungkuk, wajahnya pucat, dan matanya menyorotkan keterkejutan.


Begitu juga dengan Mayang yang kini wajahnya pucat pasi dengan tubuh gemetar menyorotkan antara keterkejutan juga ketakutan yang terpancar jelas di matanya. Sedangkan di sisi lain Anggi terlihat beberapa kali mengusap air matanya yang menyorotkan kemarahan.


“Kenapa kalian setega itu?” Anggi memecah keheningan dengan suara gemetar. “Apa salah kami?”


Semua terdiam tak ada yang menjawab pertanyaannya, begitu juga dengan Andi Santoso yang terlihat paling tenang dari semuanya. Sebelumnya dia telah mempersiapkan diri dan dengan penuh keyakinan dia meminta semuanya berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan hal ini.


“Kalau ayah dan mamah bercerai itu hak kalian. Tapi kenapa kami yang menjadi korban di sini?”


Andi Santoso hanya terdiam membiarkan Anggi mngungkapkan semuanya, seperti yang dia lakukan kepada Kirana.


“Kenapa namaku diganti? Apa supaya mereka tidak bisa menemukanku? Dan … di akta. Di akta lahirku tertulis jelas nama ibu kandungku adalah Mayang Wicaksono. Kenapa kalian mengubah nama ibu kandungku?” Anggi menatap semua orang mencoba mencari jawaban.


Namun semua terdiam, air mata Mayang mulai bergulir, sedangkan H. Joko masih terdiam seolah belum tersadar dari keterkejutannya.


“Aku berhak mengetahui semuanya!” Anggi terlihat mulai emosi. “Yang kalian permainkan di sini adalah hidupku, hidup Kak Nana juga ibu kandungku!” Anggi terdiam sesaat sebelum dia kambali berkata, “Dan hidup adikku, yang tak pernah ku kenal dan ku ketahui keberadaannya.”


Semua masih terdiam, air mata Mayang semakin deras keluar mendengar teriakan Anggi.


“Kapan kalian akan memberitahuku tentang kebenaran ini? Ketika aku masuk penjara karena telah berkomplot untuk membunuh kakak kandungku?! Atau ketika aku melukai adik kandungku? Atau mungkin ketika ibu kandungku sudah terbaring di dalam kubur, dan semua terlambat karena aku tak bisa memeluknya dan bertemu dengannya?”


Anggi menatap ketiganya dengan mata berapi-api.


“Itu semua sudah terlambat!”


Anggi menelan salivanya yang terasa seperti bongkahan batu.


“Dan sekarang pun sudah terlambat.” Anggi menggigit bibir bagian dalamnya mencoba menahan tangis. “Apa ayah tidak lihat luka-luka di tubuh Kak Nana?”


H. Joko dan Mayang kini tersentak menatap Anggi terkejut mengetahui Kirana mengalami luka-luka.


“Wajah cantiknya penuh dengan memar, dan aku yakin di tubuh bagian lainnya lukanya lebih banyak dan lebih parah lagi, tapi apa kalian tahu ketika aku bertemu dengannya apa yang pertama kali dia ucapkan padaku?”


Mata Anggi kembali menatap ketiganya dengan mata yang sudah basah oleh air mata.


“Apa aku baik-baik saja?” Suara Anggi bergetar karena tangis. “Apa polisi memerlakukanku dengan baik?” Anggi menghapus air matanya kasar. “Di antara luka pada tubuhnya yang belum kering, dia mengkhawatirkanku. Aku!” Anggi menepuk dadanya penuh emosi. “Aku yang telah membuatnya terluka, aku yang menghubungi para baj*ngan itu dan memberitahu keberadaannya. Aku! Aku yang telah melakukannya karena kecemburuanku kepada sosok perempuan luar biasa yang mendapat cinta dari pria yang ku sukai, mendapat pengakuan dari Rudi Mahesa, Haryanto bahkan Salim karena kepintaran dan kecerdasannya, dan ternyata perempuan yang ku benci itu adalah kakak kandungku sendiri.”


Semua kembali terdiam.


“Seandainya aku tahu kalau perempuan yang mendapat gelar menantu Mahesa, juga mendapat pengakuan dari orang-orang hebat negri ini adalah kakak kandungku yang telah terpisah selama 20 tahun, aku akan sangat bangga kepadanya. Aku akan memeluk dan memberinya selamat, aku akan menjadi pendukung pertamanya walaupun aku harus kehilangan pria yang ku sukai.”


Ruangan kembali hening, Anggipun terlihat menenangkan emosinya.


“Kenapa kalian merahasiakan semuanya?” Anggi kini menatap Andi Santoso yang masih terdiam. “Kenapa ayah tidak memberitahuku tentang mereka? Apa ayah berniat untuk memberitahu kebenarannya padaku atau akan merahasiakannya seumur hidup?”


“Ayahmu tidak bersalah.” Mayang berkata dengan suara gemetar. “Mamah yang meminta ayah untuk tidak memberitahumu.”


Anggi menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.


“Mamah takut … mamah takut kamu akan pergi meninggalkan mamah. Kamu putri mamah satu-satunya, mamah tidak mau kehilanganmu.”


Anggi terdiam menatap Mayang yang berurai air mata.


“Apa mamah menganggapku sebagai anak durhaka yang akan pergi meninggalkan mamah yang telah mengurusku dari kecil? Apa setidak percaya itu mamah kepadaku?”


Mayang hanya menggelengkan kepala lemah.


“Mamah takut kehilanganku, tapi di sana ada seorang perempuan yang telah mengandungku selama 9 bulan dan bertarung nyawa melahirku, namun telah kehilanganku selama 20 tahun … bahkan namanyapun tidak tercatat di akta lahirku.” Anggi menatap Mayang tajam. “Sebagai seorang perempuan apa yang akan mamah rasakan kalau mamah berada di posisi perempuan itu?”


Hening tak ada jawaban.


Pertanyaan yang sangat sederhana, tapi tak ada yang bisa menjawabnya membuat Anggi berdiri dan ke luar dari ruangan itu dengan penuh kekecewaan, meninggalakan tiga orang yang dilanda rasa bersalah.


*****