I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
45. Mood Booster




Mood Booster



“Hahaha.”


“Berhentilah tertawa, kamu benar-benar membuatku dalam masalah.”


“Hei, kapan lagi aku bisa menggodanya seperti ini, biasanya dia yang selalu membuatku kebakaran jenggot,” ucap Candra sambil menyeruput espresso.


Saat ini kami tengah berada di salah satu café yang berada di area outdoor mall.


“Dia membuatmu kebakaran jenggot?”


“Iya.” Dia menggelengkan kepalanya. “Sering.”


“Hahaha.” Kini giliranku yang tertawa, membuatnya berdecak sambil kembali menyeruput espresso.


“Jadi menurutmu bagaimana? Apa ada kemungkinan kita untuk menembus daerah timur dengan E-Word?”


Kini giliranku yang menyeruput es frappuccino. “Susah,” jawabku jujur. “Branding itu memiliki pengaruh yang sangat kuat dan Haryanto sudah memiliki itu. Nama yang sudah dibangun bertahun-tahun sudah pasti miliki tempat tersendiri di sebagain besar customer. Anak baru seperti kita sudah bersyukur seandainya bisa bertahan di sini.” Candra mengangguk setuju. “Tapi tidak ada yang tak mungkin kan?”


Candra menatapku kemudian tersenyum. “Karena itu aku percayakan ini padamu. Apa kamu tahu sekuat apa Raka menahanmu sampai akhirnya Big Boss harus tutrun tangan?”


“Raka tahu kalau kamu akan menarikku di E-Word?”


“Tentu saja, apa kamu pikir aku akan menarikmu tanpa izin darinya?”


“Waaaah!” Aku menyeruput frappuccino lalu mengunyah es batu dengan kasar.


“Apa aku baru saja membocorkan sebuah rahasia?”


“Yap.”


“Ups!”


Aku bedecak menatap Candra yang sepertinya tidak menyesal sama sekali karena telah membocorkan rahasia kakaknya.


“Pantas saja hari itu dia memberikanku izin dengan sangat mudah, ternyata dia sudah mengetahuinya dari awal ... ckkk.”


Candra tersenyum melihatku yang kesal. Bagaimana tidak kesal, mengingat bagaimana hari itu aku sangat takut ketika akan meminta izin darinya.


“Kenapa dia tidak memberitahuku, jadi aku tak perlu berpikir bagaimana cara memberitahunya.”


Candra terdiam menatapku.


“Karena dia takut kamu akan berpikir kalau dia yang telah mengatur semuanya. Padahal ini semua murni ideku.” Candra terdiam beberapa saat menatapku. “Dari pertama kali bertemu denganmu, aku merasa kalau kita satu frekuensi dalam bisnis. Biasanya aku akan sangat sulit menemukan orang yang memiliki pemikiran yang sama denganku.”


“Beberapa kali aku berpikir untuk menarikmu, tapi mengingat kamu sepertinya sangat menikmati bekerja di hotel aku sempat ragu sampai akhirnya pada saat makan malam di rumah Menteng, Mamah menyinggung tentang kamu yang menolak posisi manager keuangan karena berpikir kalau itu bukan bidangmu. Saat itulah aku kembali memikirkan untuk menarikmu ke sini.”


Candra menyeruput espresso-nya sebelum kembali berkata, “Tapi Raka sempat menolak dengan berbagai alasan, salah satunya karena dia khawatir dengan keamananmu, karena itulah aku menawarkan dia boleh ikut mengatur apapun keperluanmu di sini hanya untuk membuatnya merasa tenang kalau kamu akan baik-baik saja di sini.”


“Dengan mengurungku di dalam gedung ini.”


“Hahaha … itu karena dia sangat menyayangi dan takut sesuatu terjadi padamu, apa lagi jarak yang jauh jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa kalau sesuatu sampai terjadi padamu. Itu akan membuatnya larut dalam penyesalan juga rasa bersalah.”


Yang dikatakan Candra ada benarnya kalau sampai terjadi sesuatu padaku Caraka pasti akan merasa bersalah.


“Apa lagi setelah kejadian kemarin, jadi kamu harus memaklumi kalau dia menjadi sedikit posesif ketika menyangkut dirimu.”


“Kamu … tahu tentang kejadian kemarin?”


Candra menangguk. “Kamu pikir dengan siapa Raka menghancurkan mobil bajingan itu?”


Aku membelalakan mata.


“Aaah, hari itu sangat menyenangkan.” Candra tersenyum miring sambil bersandar dan berpangku tangan. “Seharusnya kamu ikut dan melihat apa yang kami lakukan pada isi garasi milik bajingan itu.”


“Kami semua?”


“Iya, selain aku dan Raka, beberapa temannya juga ikut andil dalam menghancurkan harga diri Ferdi Izam. Kamu mengenal Gara dan Abi? Mereka ikut bagian juga.”


Aku semakin membelalakan mata tak percaya mendengar kalau Sagara dan Abiseka ikut andil dalam masalah kemarin.


Aku mengangguk setuju.


“Begitu juga sebaliknya, perempuan harus menghargai dan menghormati lelaki, karena ayah mereka adalah seorang lelaki.”


“Hahaha … intinya kita harus saling menghargai dan menghormati.”


“Betul!”


“Hahaha … setuju.”


Aku baru menyadari kalau Candra tidaklah sependiam yang ku bayangkan, dia cukup menyenangkan untuk menjadi teman ngobrol. Sifatnya hampir sama dengan Caraka, tapi tetap saja sedikit lebih diam, aku saja sedikit kesulitan untuk mengajaknya ngobrol pada awal bertemu. Aku berusaha mencari bahan obrolan dari mulai gosip artis, drama korea terbaru sampai dengan games online yang sedang in yang sering dimainkan Oka, tapi tak satupun yang berhasil.


Satu-satunya yang berhasil membuat kami bisa ngobrol untuk pertama kalinya adalah tentang bisnis. Seperti sekarang kami kembali membicarakan tentang pekerjaan sampai seseorang menghubunginya dan mengatakan kalau rapat dengan semua store dan product manager MHG retail cabang Surabaya akan segera dimulai. Dia mengajakku ikut gabung, tapi dengan senang hati aku menolaknya … kepalaku sudah pusing memikirkan pekerjaan akhir-akhir ini, aku ingin pulang lebih awal dan tidur, tapi sebelumnya ku akan menghubungi rumah untuk menanyakan kabar mereka.


“Assalamualaikum, Mah.”


“Wa’alaikum salam, Teteh masih di kantor? Jangan pulang malam terus, mentang-mentang pulangnya tinggal ke atas, setiap hari kerja sampai malam”


Aku tertawa mendengar panggilan Mamah, belum terbiasa dengan panggilan itu. Ketika aku bertanya ko’ manggil Teteh? Kata mamah, “Kan sekarang sudah serius sama si Akang, jadi panggilannya diganti Teteh biar matching.” Dasar Bu Mega.


“Iya, Mah, ini lagi siap-siap mau ke atas.”


“Teh kotak! Eh Teh bulat ini mah kaya tahu gak kotak.”


Oka si trouble maker ikutan nongol di layar ponsel membuatku berdecak.


“Kayanya ada yang kangen nih.”


“Iiih, ngapain juga gue kangen sama lo, Kak.”


“Manggilnya Teteh!”


Aku tertawa melihat Oka yang meringis karena lengannya dipukul Mamah.


“Iya-iya, Teteh.”


“Gimana, Teh, pekerjaannya lancar kan?”


“Alhamdulillah lancar, Mah.”


“Jangan sampai telat makan, belum juga sebulan sudah kurus begitu.”


“Kurus dari mana sih, Mah? Orang bulat gitu dibilang kurus.”


“Waaah, beneran minta dipotong jatah bulanan nih.”


“Aduuuh, Teh, makan yang betul dong, Teh, itu lihat sampai pipinya tirus gitu.”


“Hahaha … telat!”


Berbicara dengan Mamah dan Oka selalu berhasil mengembalikan mood-ku, mereka berdua adalah mood buster-ku ketika aku merasa lelah bahkan ketika aku akan menyerah, aku teringat mereka. Walau besar tanpa seorang ayah, tapi Mamah selalu berusaha sekuat tenaga agar kami tak kekurangan kasih sayang juga materi, karena itulah aku dan Oka bisa tumbuh seperti sekarang.


Mamah yang dari dulu bekerja banting tulang seorang diri demi kami bertiga kini tak semuda dulu lagi, badannya tak sekuat dulu lagi. Dan kini saatnya aku yang menggantikan Mamah bertanggung jawab mencari nafkah untuk kami bertiga, berusaha sekuat tenaga agar mereka tak kekurangan apapun, seperti Mamah yang telah berusaha sekuat tenaga agar aku dan Oka tak kekurangan apapun walaupun kami kidup dalam kesederhanaan.


Dan kini alasanku untuk terus maju, tidak menyerah bertambah satu lagi yaitu orang yang juga menjadi mood buster-ku akhir-akhir ini, juga orang yang setiap saat memastikan aku baik-baik saja walau jarak memisahkan kami, orang yang setiap malam mengatakan kalau dia merindukan dan mencintaiku, orang yang telah mendobrak prinsipku tentang sebuah hubungan.


Jujur saja, masih ada satu rahasia yang sampai saat ini aku belum memberitahunya. Rahasia yang ku simpang dalam-dalam, rahasia yang menjadi milikku seorang. Aku tak tahu ini penting apa tidak, tapi ini jelas hanya masa laluku. Masa lalu yang membuatku bersikap realistis dalam mencari pasangan, masa lalu yang membuatku tidak menyukai para pangeran, masa lalu yang membuatku berpikir kisah Cinderella hanya ada di negri dongeng.


Dan masa lalu itu kini berdiri di hadapanku, memandangku dengan pandangan tak percaya. begitupun aku … bagaimana bisa dunia begitu sempit, setelah bertahun-tahun tak bertemu kini kami kembali dipertemukan di sebuah kota yang asing bagi kami berdua.


“Nana?”


Biasanya aku menyukai ketika Caraka memanggilku dengan panggilan itu, tapi ketika nama itu ke luar dari mulut pria yang masih manatapku tak berkedip. Aku merasa muak.


“Apa kabar?” Dia bertanya dengan pandangan masih tak percaya.


“Baik,” jawabku singkat, berusaha terlihat biasa-biasa saja. “Permisi.” Dengan cepat aku pergi meninggalkannya yang masih bergeming menatap kepergianku.


Kalau kalian pikir aku melakukan itu karena aku masih menyukainya … kalian salah. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena rasa sakit hati akibat penghinaan yang diterima darinya juga keluarganya kembali menyeruak ke permukaan setelah berusaha ku kubur rapat-rapat selama ini.


*****