
Zip Your Mouth! (Jaga mulutmu)
Aku tahu pasti akan seperti ini ketika aku memutuskan untuk makan di kantin bersama Shanty, Olive dan Dika di kantin. Semua mata tertuju padaku dan berbisik, tak sedikit yang menatapku dengan pandangan meremehkan terutama dari karyawan bagian atas.
Ini untuk kali pertamanya aku makan di kantin bersama dengan teman-teman setelah semua orang mengetahui tentang hubungan ku dan Caraka. Biasanya aku akan makan bersama dengan Caraka, tapi kali ini dia ada janji dengan bersama Candra, jadi di sinilah aku … menjadi tontonan orang-orang sekantor di kantin.
Nah, bisa dibayangkan bagaimana tanggapan semua orang kalau aku menerima jabatan yang ditawarkan Caraka untukku? Yang ada aku akan diacuhkan oleh rekan kerjaku nanti, selain dianggap tidak mampu, juga karena aku mendapatkan jabatan itu karena Caraka.
Nepotisme. Ya, itu mungkin akan menjadi nama tengahku seandainya aku memaksakan diri dengan jabatan yang diberikan Caraka.
Bukannya aku tak menyukai orang-orang yang mendapat pekerjaan karena bantuan orang dalam. Sekali lagi perlu digaris bawahi selama mereka mampu dan itu benar-benar bidangnya, menurutku pribadi tidak apa-apa. Tapi ketika dia hanya mengandalkan orang dalam tanpa kemampuan yang mumpuni … hmmm, lebih baik, dia berpikir dua kali untuk menerima posisi itu dan menyerahkan kepada ahlinya.
“Jadi itu, cewek yang katanya pacar Mas Bos?”
Aku akan mulai menyuap soto sulung ketika mendengar beberapa orang perempuan di meja sebelah membicarakan Caraka. Mungkin lebih tepatnya membicarakanku.
“Biasa saja. Dikirain cantik, seksi, tahunya biasa saja.”
Yaelah nih Markonah. Kalau aku cantik, seksi, aku sudah jadi artis kali bukan jadi resepsionis.
“Kena pelet kali Mas Boss, malah melepas Anggi yang jelas-jelas selevel sama dia.”
Waaah. Suudzon nih Nenek Lampir. Aku menatap ke arah meja mereka yang malah menatapku sambil mengangkat alis. Aaah, pantas saja mereka berani berbicara seperti itu, mereka adalah para sekretaris Direksi dan Komisaris, salah satu dari mereka adalah sekertaris Big Boss yang pernah adu mulut denganku ketika aku dipanggil oleh Big Boss untuk membahas tentang kasusku.
Aku tak melihat Bu Yesi, sekertaris Caraka, di antara mereka karena kalau ada Bu Yesi mereka semua tidak akan ada yang berani membicarakanku seperti itu, bisa disemprot habis mereka sama Bu Yesi.
“Tidak usah didengerin, Na, mereka hanya iri.”
Aku tersenyum sambil mengangguk mendengar ucapan Olive.
“Iya, biarin saja, Kak … lagain siapa sih yang tidak iri sama Kak Kirana … aku saja iri.” Shanty terlihat merajuk membuatku tertawa.
“Iya, aku juga iri.” Olive ikutan merajuk membuatku menggelengkan kepala.
“Tenang … masih ada Mas Dika yang selalu siap menjadi objek kehaluan para gadis.”
“Mimpi buruk itu mah bukan menghalu.”
“Hahaha.”
Aku akan kembali menyuap ketika aku kembali mendengar ucapan mereka yang membuat darahku mendidih bahkan Olive, Shanty dan Dika berhenti menyuap makanan sepertiku. Mereka kini menatapku dengan wajah was-was.
“Dia kan yang kemarin kena kasus pelecehan oleh tamu.”
Aku diam mematung. Aura dingin merambati tubuh, diingatkan kepada kejadian yang seolah menjadi mimpi buruk dalam hidupku. Seperti efek domino, seisi kantin yang tadi riuh oleh suara orang berbincang, dan denting sendok yang beradu dengan piring, kini hening.
“Gue yakin itu bukan pertama kalinya dia mendapat pelecehan seperti itu.”
“Iya, dan tebak siapa pelaku pelecehan kemarin?” semua orang di mejanya kini menatap ke arah sekertaris Big Boss penasaran. “Ferdi Izam!”
“What? Seriously?”
“Yess.”
“Ya, dia memang terkenal bajingan sih, tapi dia tak kalah dari Mas Boss … putra dari pengusaha batu bara yang dikenal sebagai Sultan Borneo, siapa yang mau menolak coba.”
“Nah itu dia! mungkin tidak sih kalau ternyata itu bukan pelecehan, tapi memang ceweknya saja yang kegatelan dan cuma buat cari perhatian saja dari Mas Boss.”
“Tidak sangka Mas Boss ternyata sangat bodoh ... mereka benar-benar beda level, bikin malu nama Mahesa saja.”
Cukup! Aku tak bisa lagi menahan amarahku. Tubuhku bergetar mencoba menahan amarah karena bagaimanapun ini masih lingkungan kerja dan aku tak ingin membuat keributan di sini, tapi ketika mereka bercanda dengan luka yang belum sembuh seutuhnya … aku tak bisa menerimanya.
“Na!” Olive mencoba menahanku yang tiba-tiba berdiri, emosiku sudah mencapai ubun-ubun. Aku tak bisa menahannya lagi
“Maaf … Mbak sekertarisnya Papah kan?” (Mudah-mudahan Big Boss tidak mendengar aku memanggilnya Papah).
“Papah?”
“Ah, maaf lupa … maksud saya Bapak Rudi Mahesa.” Aku memberi penekanan ketika menyebutkan nama Big Boss. “Bukankah sebagai seorang sekertaris seharusnya Mbak menjaga ucapan apalagi ini menyangkut salah satu anggota keluarga beliau.”
“Anggota keluarga? Memangnya kamu anggota keluarga Mahesa?”
“Wah, besar kepala dia, baru juga pacaran sudah merasa bagian dari Mahesa.”
“Hei, Anggi saja yang jelas-jelas selevel dan lebih pantas untuk jadi menantu Mahesa, dan sudah dijodohkan bisa putus cuma gara-gara perempuan seperti kamu. Apa lagi yang hanya resepsionis, cih!”
“Hahaha, tinggal tunggu waktu saja sebelum dbuang.”
Mereka menertawakanku, dan kini kami telah menjadi tontonan satu kantin. Beberapa dari mereka berbisik dan setuju dengan ucapan empat orang wanita berbalut stelan mahal yang kini tersenyum merendahkanku.
“Mbak, saya tidak pernah bilang saya anggota keluarga Mahesa … atau mungkin pemahaman Mbak yang lemah?” Wajah ke empatnya kini mengeras, tapi aku tak peduli. “Saya tadi bilang salah satu anggota keluarga Mahesa, bukan saya … bukankah tadi Mbak sedang membicarakan Kakang? Maksudku Caraka?”
Mereka berdecih mendegarku memanggil Caraka dengan panggilan Kakang. Belum tahu saja mereka, seberharga apa panggilan keramat itu.
“Terus kenapa?”
“Mbak bilang Caraka itu bodoh, dan tadi apa? Caraka kena pelet? Hati-hati, Mbak, itu termasuk fitnah.” Aku menghela napas memberi jeda beberapa saat sebelum kembali berkata,
“Bagaimana pun Caraka itu adalah atasan kita semua, juga putra pemilik hotel ini yang tak lain adalah atas Mbak.” Aku menatap sekertaris Big Boss yang menatapku dengan rahang terkatup menahan amarah. “Apakah pantas seorang sekertaris membicarakan putra dari atasannya, yang juga merupakan salah seorang Direktur di sini dengan mengatakan dia bodoh hanya karena menyukai seorang resepsionis?”
Hening … kantin kini benar-benar hening, bahkan para pegawai kantin kini telah ke luar untuk melihat apa yang terjadi saat ini.
“Caraka itu jauh lebih pintar dari kita, karena itu dia menjabat posisi sekarang diusianya yang terbilang muda, jadi lebih baik hati-hati kalau berbicara. Dan mengenai dia menyukai resepsionis yang katanya tidak selevel dengan Caraka …”
Aku menatap keempatnya yang masih terdiam menatapku dengan sorot mata marah.
“Menganai perasaan … itu tidak sama seperti kalau kita beli seblak, ditanya mau level yang mana? Jadi jangan ngomong soal level kalau tentang perasaan. Dan …” Aku memberi jeda untuk menatap mata keempatnya secara langsung. “Jangan pernah jadikan pelecehan sebagai bahan bercandaan. Mbak-Mbak ini kan perempuan, jadi setidaknya kalau tidak bisa berempati dengan korban pelecehan, maka bersimpatilah, kalau tidak bisa melakukan keduanya maka diamlah … jangan jadikan kami bahan olok-olokan. Paham!”
Dengan sengaja aku memberi tekanan pada kata diamlah dan paham dengan mata menatap mereka tajam. Untuk beberapa saat mereka tak berani menatap mataku langsung, dan itu menjadi celah untukku kembali memberi serangan. Aku membungkuk mendekat, dan dengan berbisik aku kembali berkata,
“Apa kalian tahu kalau ayah dari baj*ngan itu meminta Papah dan Kakang untuk merahasiakan identitas anaknya?” Aku menatap keempatnya yang kini terlihat tak sekeras tadi lagi. “Dan Mbak sudah membocorkan hal yang menjadi rahasia itu.” Mata sekeretaris Big Boss terlihat membelalak terkejut menyadari kesalahannya. “Mbak, tahukan apa yang bisa dilakukan mereka seandainya tahu siapa yang telah membocorkan rahasia ini?”
Mata sekertaris itu kini bergetar mengetahui kalau apa yang aku ucapkan benar adanya. Aku kembali berdiri tegak menatap keempatnya yang kini telah memucat.
“Jadi jaga mulutmu, sebelum ucapanmu balik melawan dirimu sendiri.”
Aku berbalik dan berjalan ke luar diikuti tatapan seisi kantin. Aku terus berjalan tak memedulikan Olive, Shanty dan Dika yang berusaha mengejarku.
Aku masih kesal? Tentu saja aku masih kesal. Tapi aku harus bisa menahan diri, aku tak mau membiarkan mereka menang dengan melihatku bersikap kasar, karena dengan begitu itu sama saja aku membenarkan mereka kalau aku memang tak pantas untuk seorang Caraka Buana.
Setelah kejadian ini keingananku untuk ke luar dari pekerjaan ini semakin besar. Selain untuk membuktikan kepada keluarga Mahesa kalau aku tidak akan mengecewakan mereka dan pantas untuk menjadi pasangan Caraka, aku juga melakukannya demi diriku sendiri, demi Mamah dan Oka. Namun sebelum aku membuktikan kemampuanku … aku harus bisa kembali berdiri tegak dan melupakan kejadian yang membuatku terpuruk. Tapi bagaimana aku bisa melupakannya ketika semua orang di sekelilingku mengetahui tentang pelecehan itu, dan sebagain dari mereka menjadikan itu bahan olok-olokan?
Aku harus ke luar dari sini dan mencari tempat di mana tidak ada yang akan terus mengingatkanku akan kejadian itu, agar aku bisa kembali bergiri tegak, dan menunjukan kemampuanku sebelum nanti berdiri di samping Caraka dengan percaya diri.
*****