I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
25. Paradeisos




Paradeisos



Aaaah … akhirnya aku bisa bernapas lega ketika kendaraan Caraka mulai memasuki jalan raya, keluar dari gerbang kompleks yang seolah menghimpit.


“Apa aku tadi melakukan kesalahan?” Aku menatap Caraka dengan was-was, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum santai. “Ih, malah senyum-senyum, tadi aku tidak melakukan kesalahan kan?”


“Bilang dong … Kang, tadi Eneng tidak bikin kesalahan kan?”


“Iiiih!!!”


“Awww! Hahahaha.”


Ku cubit pinggangnya kesal karena dia terus menggodaku dengan panggilan yang tadi Ibu Suri sebutkan. Tadi memang aku sempat manggil Bos. Bukan apa-apa, tapi merasa tidak enak kalau manggil dia Raka di depan keluarganya, secara bagaimana pun, keluarga mereka adalah pemilik tepat aku bekerja.


“Tidak,” jawabnya sambil tersenyum. “Kamu tidak melakukan kesalahan.” Dia menatapku sambil tersenyum kemudian berkata, “Kamu telah melakukannya dengan sangat baik.”


Aku tersenyum mendengarnya, sambil menghela napas lega. Tadi aku benar-benar merasa gugup, dan sempat down ketika Big Boss ragu untuk menerima uluran tanganku, tapi untung saja perlahan semua mulai mencair apalagi ketika makan, semua seolah benar-benar mencair. Walaupun aku masih gugup, sampai lupa tadi makan aku kunyah apa tidak ya?


“Dan sepertinya kamu telah mengambil hati Arletha, Candra dan Mamah.”


“Mamah? Ibu Widya? Ibu Suri?” Aku bertanya tidak percaya.


Ya, bagaimana bisa percaya, selama acara tadi Ibu Suri hanya menatapku saja, paling tersenyum … itu juga cuma ketika mendengar putra kesayangannya aku puji saja.


“Iya, Mamah menyuruhmu memanggilku Kakang, itu tandanya Mamah sudah menerimamu menjadi bagian dari keluarga.”


Tadi aku memang sempat merasa percaya diri ketika Ibu Widya menyuruhku memanggil Caraka dengan panggilan di dalam keluarganya, apalagi pakai ada acara cipika cipiki segala. Namun tetap saja, Big Boss hanya menatapku dengan penuh selidik, tanpa sekalipun mengajakku berbincang walaupun aku sudah mengeluarkan jurus senyum tiga jari dan suara selembut customer service nomor wahid, tapi rupanya itu tidak berpengaruh terhadap Big Boss.


Ponselku berbunyi beruntun membuatku berdecak sambil tersenyum melihat nama si pengirim pesan.


“Siapa?”


“Siska.”


Caraka mengangguk, matanya kembali fokus menatap jalanan, dan aku sibuk berbalas pesan dengan


Siska : Na, gimana?


Siska : Aman kan?


Siska : Mereka nggak macam-macam kan?


Siska : Lo nggak disiram pakai air kobokan kan, Na?


Siska : Ibunya Bos ngasih cek nggak?


Siska : Kalau dia ngasih cek, lo jangan terima.


Siska : Minta cash saja!


Hahaha, mulai ngaco nih makhluk satu.


Kirana : Semua aman terkendali.


Kirana : Nggak ada siram-siraman, cek, apalagi cash.


Siska : Syukur deh …


Siska : Eh, gue harus senang atau kecewa ya lo nggak dapat cek?


Siska : Secara itu artinya gue gagal dapat investasi buat modal jadi WO nikahannya si Mela, anak Mpo Rohaye.


Kirana : Hahaha … tenang modal amanlah, gue baru dapat arisan.


Siska : Serius? Kenapa lo nggak ngomong dari awal, jadikan gue nggak perlu doain lo disiram, terus dilemparin cek atau duit segepok.


Kirana : Ah, lo mah doain nya nggak bener!


Siska : Ya, sorry, Na, namanya juga doa orang kepepet, hihihi.


Siska : Btw, lo dapat arisannya berapa?


Kirana : sejuta.


Siska : Ya elah, Julaeha, segitu mah mana cukup buat biaya kawinan!!!


Kirana : Hahaha, lumayanlah buat DP tukang cendol, hahahaha.


“Ngetawain apa?”


“Hahaha … biasa Siska.” Aku memasukan kembali ponselku yang terus berbunyi, bisa ku bayangkan bagaimana Siska ngoceh-ngoceh saat ini.


“Kenapa Siska?”


“Tidak apa-apa.”


Caraka tersenyum sebelum dia kembali berkonsentrasi menatap jalanan.


“Dari semalam belum tidur?”


“Kok tahu?”


“Hahaha, tegang?”


“Ya, bagaimana tidak tegang, ini sih seperti diterjunkan ke medan perang tanpa persiapan.”


“Hahaha, keluargaku tidak semenakutkan itu kan?”


“Oh, percayalah itu sangat horror, melebihi film pengabdi setan.”


“Hahahha … ayolah, keluargaku tidak sehoror itu.”


“Adik-adikmu memang tidak horror, Arletha sangat manis, dan aku bersyukur ada dia hari ini, kalau tidak …” Aku bergidik ngeri membuat Caraka tertawa. “Candra juga tidak begitu horor walaupun sepertinya dia memiliki kosa kata terbatas.”


“Hahaha … Candra memang seperti itu, jarang sekali berbicara, sekalinya berbicara kadang bikin kesal.”


“Hahahaha.”


“Bagaimana dengan orangtuaku?”


“Aku hampir saja mengira kalau aku ini amuba yang tidak kelihatan di mata Big Boss, padahal tadi aku sudah memperlihatkan senyuman tiga jari andalanku.”


“Hahaha … Papah hanya mencoba menilai kamu saja.”


Caraka tersenyum melihatku yang berdecak.


“Bagaimana dengan Mamah?”


“Ibu Suri mendinganlah, dia masih senyum walaupun senyumnya itu terbit ketika aku memuji putra kesayangannya.”


“Hahahaha, jadi kamu memujiku di depan Mamah?”


“Jangan senang dulu, aku memujimu hanya ingin melihat Ibu Suri tersenyum, dan itu berhasil. Mamah bilang yang namanya orangtua dimana-mana juga sama, suka kalau mendengar orang lain memuji anaknya … dan itu berhasil.”


“Hahaha … jadi kamu bilang apa sama Mamah? Kalau aku tampan?”


“Huaaah!” Aku pura-pura tak menguap. “Aku mau tidur, ngatuk!”


“Keren?”


Aku memejamkan mata dan mencari posisi nyaman.


“Ganteng?”


Aku sedikit memiringkan tubuhku hingga menghadap pintu.


“Sempurna?”


Aku menutup telingaku.


“Hahahaha.”


Dia tertawa sambil mengelus kepalaku. Hening … sebelum akhirnya perlahan ku dengar intro lagu yang membuatku tersenyum mendengarnya, dengan diiringi lagu to the bone aku mulai tertidur dalam perjalanan pulang karena merasa lelah dan mengantuk seperti habis bertempur, tapi juga merasa lega seolah beban yang selama ini ku pikul mulai terangkat, membuatku bisa bernapas lega dan tersenyum dalam tidurku.


Ya … satu fase hubungan kami telah dilalui walaupun belum tahu hasilnya seperti apa, tapi ternyata ini tidak semengerikan yang kubayangkan.


*****


Club Paradeisos, Surabaya.


Satu minggu kemudian


Suara hentakan musik menggema di dalam ruangan yang temaran dengan lampu kerlap-kerlip. Bau parfume, minuman dan rokok membaur menjadi satu terasa menyesakan di antara hentakkan musik yang memekakan telinga, tapi bagi mereka para pencari hiburan malam hal ini merupakan hal yang normal. Mereka tertawa dengan tubuh bergoyang mengikuti musik, tidak sedikit dari mereka yang setengah tak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol. Beberapa dari mereka hanya duduk berbincang dengan gelas di tangan dan botol-botol minuman di meja, pakaian dan semua yang melekat pada tubuh mereka memerlihatkan dari kalangan mana mereka berasal.


Club Paradeisos menjadi tempat berkumpulnya kaum Jetset Surabaya, dari mulai pejabat dan pengusaha yang ingin ‘bersenang-senang’, kaum muda yang berusaha naik strata sosial dengan cara singkat yaitu dengan mencari sugar daddy sampai orang yang menggolongkan mereka dalam golongan crazy rich. Paradeisos namanya yang berarti surga dalam bahasa Yunani, club ini pun seperti surga bagi mereka yang memerlukan tempat untuk ‘bersenang-senang’ tanpa diganggu oleh apa dan siapapun, termasuk aparat hukum sekalipun. Dari luar tempat ini hanya berupa hotel biasa, tapi dengan menggunakan kartu anggota mereka memiliki akses lift khusus menuju lantai rahasia di mana surga duniawi berada.


Di salah satu sudut ruangan seorang perempuan dengan tubuh semampai, kulit putih terawat, rambut hitam mengkilat terurai hingga punggung, jangan tanya soal rupanya yang memang rupawan. Beberapa orang melirik ke arah meja dimana dia duduk dengan tiga orang temannya yang tak kalah menawan seperti dirinya.


“Sudahlah, Gi, dari awalkan kamu tahu dia itu siapa … dia itu pria brengsek yang kerjaannya gonti-ganti pasangan.”


“Iya, makanya aku heran waktu kamu mau dijodohkan sama dia. Ya … dia memang hot, kita memang tidak akan membantah itu ...”


“Jangan lupakan juga kalau dia itu salah satu pengusaha muda sukses yang sedang diperbincangkan.”


“Iya, tapi terlepas dari itu … he’s a jerk.” (Dia itu pria berengsek)


“And I’m falling in love with that jerk.” (Dan aku jatuh cinta kepada pria berengsek itu).


Anggi menegak minumannya, matanya menerawang mengingat beberapa bulan lalu ketika ayahnya memberitahu dia kalau dia telah dijodohkan dengan salah satu pengusaha muda yang tengah naik daun.


Saat itu dia sempat marah dan tidak menerima perjodohan. Andi Santoso, sang ayah, yang akan mengabulkan semua permintaan putrinya berjanji kalau dia tidak menyukai pria yang dijodohkan dengannya, maka Andi Santoso akan membatalkan perjodohan itu. Namun semua berbeda ketika dia pertama kali bertemua dengan Caraka Benua, pria yang akan dijodohkan dengannya.


Tidak bisa Anggi pungkiri, fisiknyalah yang membuat Anggi pertama kali menyukai Caraka, tapi setelah berbincang beberapa saat ternyata Caraka adalah lawan bicara yang sangat menyenangkan, dia bisa mencairkan suasana dengan cepat.


Dan setelah pertemuan pertama itu, dialah yang seolah mengejar Caraka tak memedulikan teman-temannya yang mengingatkan tentang sepak terjang Caraka dengan beberapa model dan artis papan atas. Cinta benar-benar telah membutakannya.


Bahkan ketika dia berulang tahun, secara pribadi dia mengundang Caraka, tapi pria itu menolaknya hingga dia harus menggunakan kekuasaan ayahnya untuk langsung berbicara dengan Rudi Mahesa agar meminta Caraka menjadi pasangannya dalam pesta itu. Dan seperti yang dia harapkan, ayahnya tidak pernah mengecewakannya. Hari itu dia bisa melenggang dengan senyum mengembang, tangannya merangkul pria yang dia idam-idamkan, memerlihatkannya kepada seluruh dunia kalau dia lah perempuan beruntung yang akan menjadi Nyonya Caraka Benua. Walau kenyataannya Caraka meninggalkannya di tengah pesta, tapi dia tidak peduli. Minimal pria itu ada pada saat dia menyerahkan potongan kue pertamanya, dan semua orang bersorak untuk itu.


Tapi kini semua berbeda ketika Rudi Mahesa, ‘Sang Raja’, sendiri yang memutuskan perjodohan, dan kali ini ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.


“Apa kamu tahu alasan Caraka menolak perjodohan itu?”


Anggi menggeleng menjawab pertanyaan salah satu temannya.


“What else … that must be a Women.” (Apa lagi, pasti seorang perempuan)


“Apa dia balik lagi sama Sherly?”


Anggi menatap teman-temannya.


“Tidak, waktu ke Jakarta week end kemarin untuk party-nya Marcel, aku bertemu dengan Sherly, dan dia sempat bilang kalau aku harus hati-hati sama Caraka karena dia melihat Caraka jalan sama perempuan lain.”


“Siapa? Dari kalangan kita? Atau mungkin model? Artis?”


“Kalau perempuan itu model atau artis Sherly pasti mengenalnya, tapi dia bilang kalau dia tidak mengenalnya. Dia hanya mengatakan kalau perempuan itu sangat menyebalkan.”


“Jadi dari kalangan kita?”


“Kemungkinan besar iya, siapa yang berani melawan Sherly kalau perempuan itu dari kalangan biasa.”


Anggi terdiam memikirkan siapa perempuan yang telah membuat Caraka memutuskan pertunangan dengannya.


“Siapapun perempuan itu, aku akan mencari tahunya … dan dia harus tahu siapa Anggi Santoso sebenarnya.”


“Nah, gitu dong, Gi!”


“Kasih cewek itu pelajaran!”


“Itu baru Anggi Santoso!”


Iya, bagi seorang Anggi Santoso, tidak ada kata kalah atau menyerah dalam hidupnya, semua yang dia inginkan harus menjadi miliknya. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan semua keinginannya, termasuk dengan cara licik sekalipun.


*****


Haiii ...


Kemarin ada yg protes Don Juan NYPD gak ikut ngucapin selamat puasa 🤣🤣🤣


Oke, atas nama Keluarga Winchester, para pewaris Royal & Regan, Don Juan NYPD, IT kesayangan Raina, Ayumi-Erik, Anna-dr. Lee, dan Alice yg nyesel karena Daddy nya ternyata sangaaaat nakal, kami semua mengucapkan,


Selamat berbuka puasa hari pertama, mudah"an puasa hari ini diterima Allah SWT ... aamiin.


Note : Mereka semua lagi buka puasa bareng di rumah Jendral Kopassus😝


Lap-lap


A.K