I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
71. I love you, I’m sorry




I love you, I’m sorry



Kirana mantap tajam Andi santoso yang belum sembuh dari kenyataan yang dia temukan.


“Apa sedemikian tidak sukanya ayah saya kepada kami, bahkan ibu saya yang telah mengandung selama sembilan bulan, dan bertarung nyawa melahirkan putrinya, kini namanya tak tercetak di akta lahir berganti dengan nama perempuan lain.”


Kirana terdiam sesaat, sedangkan Andi Santoso masih tak bisa berkata apa-apa.


“Ibu saya tidak berhak menerima perlakuan seperti itu. Ibu saya adalah perempuan hebat yang membesarkan kami berdua dengan penuh kasih sayang hingga kami tumbuh menjadi pribadi mandiri dan menghargai orang lain. Berbeda dengan adik saya yang tumbuh menjadi pribadi manja dan egois karena terlalu dimanjakan oleh materi.”


“Apa pernah terpikir oleh ayah saya kalau dia memisahkan anak-anaknya dari kecil dan membesarkan salah satunya dengan segala kebohongan, ketika besar mereka akan mejadi orang asing yang tak saling mengenal bahkan mungkin melukai satu sama lain, tanpa mengetahui kalau mereka adalah saudara kandung.” Kirana terdiam, gambaran ibunya yang tergeletak lemas dengan infus di tangan dan luka jahit di kepala membuat hatinya terasa sakit.


“Atau yang lebih parah … dia melukai ibu kandungnya sendiri tanpa sadar kalau perempuan itu adalah wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.”


Kirana manatap Andi Santoso yang kini sudah sepucat mayat, matanya menatap Kirana nanar, beribu penyesalan, juga kerinduan terpancar jelas di sana.


“Apa ini yang ayah inginkan? Membuat saya dan Bi menjadi orang asing yang saling melukai, namun pada akhinya … lagi-lagi mamah yang terluka karena melindungi saya.”


Suara Kirana sedikit bergetar, matanya menatap Andi Santoso dengan sorot mata terluka. Dia tak lagi menyembunyikan identitasnya sebagai Kirana Az Zahra.


“Nana …”


Kirana mendengus tertawa miris, matanya mulai berkaca-kaca. 20 tahun ini betapa dia sangat merindukan panggilan itu. Namun kini betapa mirisnya dia harus mendengar itu sekarang ketika mereka terlibat dalam kasus yang melibatkan adik dan ibunya.


“Nana mengenali ayah?” Andi Santoso kembali bertanya dengan suara gemetar membuat air mata Kirana tak bisa dibendung lagi.


“Bagaimana mungkin Nana tidak mengenali ayah. Selama ini Nana selalu menunggu kedatangan ayah, berharap ayah akan kembali pulang bersama dengan Bi, tapi selama apapun Nana menunggu …” Kirana mengggelengkan kepala, air matanya terus mengalir. “Ayah tak pernah datang.” Kirana menghapus air mata yang mengalir.


“Apa sebetulnya salah Nana, Yah? Kenapa selama ini ayah tidak pernah mencari Nana? Sebegitu bencinya kah ayah sama Nana.”


“Tidak-tidak! Ayah tidak membeci Nana, ayah sayang … sangat sayang sama Nana.”


“Terus kenapa ayah tidak mencari Nana!?” Pekik Kirana dengan air mata yang semakin deras ke luar. “Sekalipun ayah tidak pernah mencari Nana. Dan sekarang Nana yang mencari ayah, bukan ayah yang mencari Nana.”


Hati Andi Santoso merasa sakit mendengar penuturan Kirana, beribu penyesalan kembali menggelayuti hatinya membuatnya terasa sesak, bahkan kini matanya sudah memerah menahan tangis.


“Apa ayah lupa kalau memiliki putri lain selain Bi?”


“Tidak, tidak mungkin ayah lupa sama Nana!”


Kiran mendengus tertawa dengan air mata terus mengalir, merasa lucu tapi juga sedih mendengar ucapan ayahnya itu.


“Ayah tidak lupa sama Nana, ayah sangat menyayangi Nana, tapi ayah tidak pernah mencari Nana … bukankah itu sangat lucu?”


Andi Santoso terdiam mendengar pertanyaan sinis dari putri sulungnya yang sedang berusaha menghapus airmatanya.


“Dimana ayah ketika Nana memerlukan sosok ayah selama ini? Dimana ayah ketika orang-orang mengganggu Nana dan Oka, dan kami memerlukan sosok seorang pelindung? Dimana ayah ketika Nana sakit dan memanggil ayah karena begitu merindukan ayah? Dimana, Yah, dimana?”


Kirana menatap Andi Santoso nanar, air matanya kembali membasahi pipinya. Sedangkan Andi Santoso hanya terdiam membiarkan putrinya mengeluarkan semua kemarahannya yang selama ini terpendam. Hatinya benar-benar merasa hancur mendengar bagaimana Kirana menunggu dan merindukannya selama ini, membuat penyesalannya semakin menggunung.


“Asoka Danubrata.”


Jantung Andi Santosa berhenti berdetak beberapa saat, matanya manatap Kirana tak berkedip mendengar nama yang terasa asing namun membuat hatinya merasakan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan.


Walau samar tapi bibir Kirana sedikit membentuk senyuman di antara air matanya ketika membicarakan Oka.


“Tapi Oka adalah putra dan adik yang hebat … dia akan berdiri paling depan untuk membelaku dan Mamah walau dia sendiri gemetar ketakutan, setiap malam dia akan menunggu kepulanganku di depan komplek walau kedinginan dan nyamuk mengeruminya, ketika hujan dia akan memayungiku walaupun tubuhnya sendiri basah kena air hujan. Dialah yang menggantikan tugas ayah selama ini.”


“Namun terkadang dia akan menatap iri teman-temannya yang berfoto bersama keluarga lengkapnya, dia akan terlihat sedih setiap memenangkan pertandingan dan tidak bisa memamerkannya kepada sosok ayah yang akan memeluk dan menepuk pundaknya sambil berkata dengan bangga, ‘putra ayah yang hebat, ayah bangga padamu!’.”


Andi Santoso tak bisa lagi menyembunyikan penyesalannya, matanya terlihat berkacaca-kaca menatap Kirana yang menatapnya tajam.


“Dan mamah … apa sebetulnya salah mamah sama ayah? Apa mamah telah melakukan dosa besar hingga ayah begitu membencinya?”


“Tidak, ibumu tidak melakukan kesalahan apapun.”


“Jadi kenapa ayah meninggalkannya?” Kirana bertanya dengan suara sarat akan kekecewaan membuat Andi Santoso kembali terdiam.


“Mamah harus melewati kehamilannya seorang diri di negri orang tanpa mendengar satupun kabar dari ayah, mamah harus merasakan kesakitan saat melahirkan seorang diri tanpa mendapat dukungan dari suaminya, mamah harus banting tulang seorang diri untuk membesarkan putra-putrinya. Belum cukup sampai di sana, nama mamah bahkan dihapus dari akte putrinya yang telah dia lahirkan dengan bertarung nyawa … sebegitu bencinya kah ayah dan keluarga ayah terhadap mamah, sampai kalian tega melakukan itu terhadap seorang perempuan yang notabanenya adalah istri dan menantu keluarga H. Joko yang terhormat?!”


Andi Santoso hanya bisa menggelengkan kepala dengan mata nanar menatap Kirana yang masih terlihat emosi.


“Mamah tidak pantas menerima perlakukan seperti itu, Yah … apa salah mamah? Tidak cukupkah dia kehilangan suami dan dipisahkan dengan putrinya, hingga harus menerima perlakuan seperti itu?”


Kirana manatap Andi Santoso nanar.


“Apa pernah terpikir oleh ayah ketika ayah memisahkan kami dengan menyembunyikan identitas Bi hal seperti ini bisa saja terjadi? Kami tidak akan saling mengenal, malah akan saling menyakiti … atau seandainya salah satu dari kami lelaki bisa saja kami saling jatuh cinta dan akan terjadi perkawinan sedarah, apa ayah pernah berpikir sampai sana?”


Wajah Andi Santoso semakin memucat mendengar perkataan Kirana yang benar adanya.


“Apa sebenarnya ayah harapkan dengan mengganti dan menyembunyikan identitas Bi? Bi berhak tahu tentang identitas dia sebenarnya, seperti mamah yang namanya berhak tertulis di akta lahirnya,” ucap Kirana dengan tegas.


“Dan apa ayah tahu kepada siapa Bi memberitahu keberadaanku di sini hingga kejadian ini terjadi?”


Andi Santoso menggelengkan kepala lemah.


“Para baj*ngan itu yang telah melecehkan Nana beberapa bulan lalu.”


Mata Andi Santoso membulat terkejut mendengar putrinya adalah korban pelecehan.


“Iya … mereka melecehkan Nana di depan umum. Ayah bisa bayangkan seterluka apa Nana saat itu, tapi ayah tidak ada di sana untuk membela kehormatan Nana yang telah mereka injak. Dan semalam bisa ayah bayangkan setakut apa Nana ketika melihat mimpi buruk Nana beberapa bulan lalu berdiri di hadapan Nana dengan senyum yang membut bulu kuduk Nana berdiri.”


“Nana takut, Yah, sangat takut," ucap Kirana dengan air mata bergulir. Ini adalah kali pertama Kirana mengungkapkan ketakutannya akan kejadian semalam. “Nana takut kalau mereka kembali menyentuh Nana.” Tubuh Kirana kembali bergidik membayangkan hal itu. “Namun kali ini Nana salah, bukan Nana yang terluka, tapi mamah.”


Wajah Andi Santoso kini pucat pasi mendengar penuturan Kirana.


“Saat ini mamah terbaring di rumah sakit dengan luka jahitan di kepala karena melindungi Nana dari para bajingan yang tak lain dan tak bukan adalah teman dari adik kandung Nana sendiri.”


Air mata Kirana semakin deras berderai, dengan suara gemetar dia bertanya,


“Apa sebetulnya salah kami, Yah? Apa?”


“Tidak – tidak! Kalian tidak salah, ini salah ayah!” Andi Santoso kini memukul dadanya dengan penuh penyesalan. “Salah ayah! Kalian tidak salah sama sekali. Ini karena keegoisan dan kekeras kepalaan ayah. Nana tidak salah.” Andi Santoso menggenggam tangan Kirana dengan erat.


“Maafkan ayah, Na, maafkan ayah. Ayah salah!” Andi Santoso tak bisa lagi menahan air mata penyesalannya. “Tolong maafkan ayah.” Andi Santoso mencium tangan anaknya yang kembali tergugu melihat ayahnya menangis seperti itu.


Rasa sayang, kerinduan akan sosok ayah selama ini mengalahkan kemarahan juga kekecewaan yang selama bersemayam dalam hari Kirana. Sebagai seorang anak mana mungkin dia tega melihat ayahnya menangis meminta maaf penuh penyelasan seperti itu, membuat Kirana hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


*****