
Randi Prasetyo
Aku baru selesai shalat isya ketika pintu kamarku diketuk oleh Mamah.
“Sudah mau tidur?”
“Belum, Mah, lagi mau ngecek takut ada yang tertinggal.”
Mamah mengangguk sambil berjalan dan duduk di atas tempat tidur.
“Cuma bawa itu saja, Na?” Mamah menunjuk koper dengan matanya yang telah siap di salah satu pojok kamarku.
“Iya, Kirana hanya bawa pakaian dan beberapa keperluan yang penting saja. Lagian Kirana hanya tiga bulan di sana, Mah.”
Mamah kembali menangguk.
“Mamah kok jadi sedih ya, Na, kaya mau ditinggal kamu nikah terus pindah rumah.”
“Hahaha, Kirana bukan mau nikah, Mah. Kirana hanya pindah rumah sementara saja, nanti klaau Kirana kangen Mamah, Kirana pulang ke Jakarta.” Aku memasukan peralatan make up yang baru saja ku beli ke dalam tas untuk di gunakan di sana.
“Jangan, biar Mamah saja yang ke Surabaya sekalian jalan-jalan sama Oka.”
“Hahaha, bilang saja Mamah mau jalan-jalan ke Surabaya.”
“Kan biar tahu Surabaya seperti apa, Na, walaupun ayahmu orang Surabaya, tapi Mamah belum pernah ke sana.”
Aku menatap Mamah kemudian tersenyum sambil menutup tas.
“Na.” Mamah memanggilku lirih membuatku menatapnya. “Mamah pikir sekarang waktunya kamu mengetahui tentang ayahmu.”
Aku mengalihkan pandangan kembali ke tas kemudian menaruhnya di dekat koper agar tak tertinggal.
“Kirana tak perlu mengetahui tentang ayah, Mah. Dari dulu Kirana hanya punya Mamah dan Oka.”
“Tidak boleh seperti itu.”
“Kalau dia memang ayah Kirana, kenapa dia tidak pernah mencari Kirana? Bahkan Oka … dari lahir sampai sekarang tidak mengetahui seperti apa ayahnya.”
Ini bukan kali pertama Mamah ingin menceritakan masalah yang sebenarnya tentang apa yang terjadi di masa lalu, tapi aku tak pernah siap mendengarnya. Kenangan buruk di hari terakhir aku melihat ayahku masih terpatri di kepalaku, walaupun bayangan itu sudah memudar. Penantian Kirana kecil dengan setiap hari duduk di depan jendela berharap ayah dan Bi akan kembali, tapi selalu berakhir dengan kekecewaan karena sampai hampir dua puluh tahun ini aku tak pernah kembali melihat mereka.
“Tapi sekarang suka tidak suka, kamu harus mencari tahu keberadaan tentang ayahmu.”
“Untuk apa, Mah?” Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur sebelah Mamah, kemudian duduk bersila sambil memeluk bantal menghadap Mamah. “Mungkin ayah dan Bi sudah bahagia dan memiliki keluarga sendiri.”
Mamah menatapku sesaat kemudian menggenggam tanganku sambil berkata,
“Hubunganmu dan Caraka, Mamah lihat sudah serius. Umur kalian pun sudah pas untuk menikah, dan kamu perlu wali untuk menikahkanmu, yaitu ayahmu.”
“Ada Oka yang akan menjadi wali Kirana.”
“Na, kalau ayahmu masih hidup, ayahmu yang paling berhak untuk menjadi walimu.” Mamah kini duduk menghadapku. “Kamu anak yang lahir dari sebuah pernikahan yang sah di mata hukum dan agama, bukan anak yang lahir di luar pernikahan. Dan ayahmu adalah walimu yang sah.”
Aku tahu itu, hanya saja … ayah yang selama ini meninggalkan ku, tiba-tiba menjadi wali di hari paling penting sekali seumur hidup aku. Rasanya tidak adil untukku … kemana saja dia selama ini? Apa tidak ada keinginan untuk mencariku? Bahkan Oka seumur hidupnya tidak pernah mengetahui seperti apa sosok seorang ayah.
“Bagaimanapun, dia tetap ayahmu. Ketika kamu akan menikah nanti kamu wajib meminta restunya, memintanya untuk menjadi wali nikahmu. Kalau dia menolak, minta dia untuk mewakilkannya kepada Oka.”
Aku diam tertunduk, tanganku memilin ujung kain sarung bantal.
“Ayahmu sesungguhnya pria yang baik.” Mamah kembali bercerita setelah terdiam beberapa saat. “Kamu masih ingat namanya?”
Aku mengangguk, bagaimana aku bisa lupa kalau setiap aku memerlukan dokumen pendukung, nama ayahku tertera jelas di dalam akte kelahiranku.
Jeda sebentar sebelum Mamah kembali melanjutkan ceritanya seolah ida tengah mengingat-ingat kenangan masa lalu.
“Dulu kami satu kampus, hanya berbeda jurusan. Mamah, jurusan sastra Jepang, sedangkan ayahmu jurusan arsitektur. Ketika kuliah kami tidak saling mengenal satu sama lain, kami hanya saling tahu satu sama lain. Ayahmu cukup tampan dan menjadi idola di kampus, sedangkan Mamah dulu hanya fokus belajar dengan harapan cepat lulus dan mendapat pekerjaan. Dan akhirnya impian Mamah tercapai … lulus kuliah Mamah mengajar di JIS (Japan International School), dan suatu hari mendapat tawaran untuk study banding ke Jepang selama setahun. Di sanalah Mamah bertemu kembali dengan ayahmu yang sedang meneruskan S2 di Jepang.”
Mata Mamah terlihat menerawang, melemparkannya kepada masa lalu.
“Tinggal di negara orang, membuat kami saling tergantung satu sama lain dan akhirnya saling jatuh cinta. Rencana Mamah pun berubah yang seharusnya setahun ternyata diperpanjang karena Mamah mendapat tawaran untuk mengajar di sana, dan Mamah tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mamah ambil kesempatan itu. Tapi kakekmu merasa khawatir, takut kami khilaf karena bagaimana pun kami berdua sama-sama hidup seorang diri di negri orang jauh dari pengawasan orangtua, karena alasan itu kakekmu meminta kami berdua pulang dahulu ke Indonesia dan menikah.”
Mamah kini mendapatkan fokusku. Untuk pertama kalinya aku mendengar kisah kedua orangtuaku. Mamah menatapku kemudian tersenyum sebelum kembali melanjutkan kisahnya.
“Tapi sayang, kami tak mendapat restu dari orangtua ayahmu.”
“Kenapa?"
“Mitos.”
Aku mengangkat alis bingung.
“Mitos?”
“Iya, Mitos. Ayahmu berasal dari keluarga cukup berada … walau tak sekaya Caraka.” Mamah tersenyum membuatku ikut tersenyum. “Ayahnya. Kakekmu. Adalah juragan tanah juga memiliki peternakan kambing di Jawa, yang masih sangat kental memegang adat juga mitos.”
“Mitos apa?”
“Mitos kalau lelaki Jawa tidak boleh menikahi perempuan Sunda.”
Alisku semakin mengerut bingung. Mamah memang memiliki darah Sunda, namun bahasa sundanya tak begitu fasih karena sudah lama tinggal di Jepang dan langsung tinggal di Jakarta ketika pulang ke Indonesia, selain itu dari kecil Mamah sudah tinggal di Bekasi dimana bahasa sehari-hari di sana menggunakan bahasa Indonesia.
“Memangnya kenapa?”
“Namanya juga mitos, Na, kita tidak tahu alasan pastinya apa. Namun sebagian orang masih percaya dengan hal-hal seperti itu, salah satunya adalah kakek dan nenekmu.”
Aku terdiam tak habis pikir dengan alasan itu.
“Karena itu, ayah meninggalkan kita? Karena mitos?”
“Tidak, ayahmu termasuk nekad. Dia tetap menikahi Mamah, dan yang menjadi saksi dari pihak ayahmu saat itu adalah kakaknya, Mas Bayu. Pakdemu. Beliau sangat baik, bahkan setelah menikah ketika kakekmu menghentikan semua dukungan materil kepada ayahmu, Mas Bayu diam-diam selalu mengirimi kami uang untuk biaya kuliah ayahmu yang belum selesai, sedangkan untuk hidup sehari-hari itu cukup dari gaji bulanan Mamah.”
“Semua berjalan lancar, ayahmu lulus kuliah S2 dan langsung mendapat pekerjaan di Jepang, tidak ada kesulitan yang berarti. Kehidupan pernikahan kami semakin lengkap ketika kamu lahir, dan dua tahun kemudian Bi lahir. Tapi masalah mulai muncul ketika ayahmu terkena PHK masal saat ini, keadaan kami benar-benar sulit hanya mengandalkan gajiku saja, sedangkan Mas Bayu tidak lagi bisa mengirimi kami uang karena telah diketahui orangtua mereka.”
“Sampai suatu hari ayahmu sudah benar-benar merasa putus asa. Biasa hidup berkecukupan dari kecil, tapi sekarang harus hidup dengan tergantung kepada penghasilan istri membuat egonya terusik, harga dirinya sebagai seorang lelaki terluka, dia merasa tidak berharga sebagai seorang suami juga seorang ayah padahal Mamah tidak masalah dengan itu, karena Mamah pikir yang namanya keluarga itu tentang saling mendukung dan saling percaya.”
Mamah menghela napas berat seolah mengingat pertengkaran-pertengkarannya bersama ayah.
“Pada akhirnya ayahmu menyerah apalagi setelah dia mengetahui Mamah akan dipindah tugaskan ke Yokohama. Ayahmu sangat marah dan tak mengizinkan kita pindah ke Yokohama, sedangkan Mamah terikat kontrak dan harus menerima penugasan itu kalau tidak kita harus membayar kompensaasi yang tidak sedikit karena dianggap menyalahi kontrak, belum lagi resiko untuk dipecat. Ayahmu pulang ke Indonesia dengan membawa Bi dalam keadaan marah meninggalkan kita.”
Ku lihat Mamah menghirup napas dalam-dalam sebelum kembali berkata,
“Mamah masih berharap ayahmu akan menghubungi Mamah setibanya dia di Indonesia, tapi selama apa Mamah menunggu tak pernah ada kabar dari ayahmu, bahkan sampai kita pindah ke Yokohama dan Oka lahir pun ayahmu tak pernah sekalipun menghubungi Mamah. Sedangkan Mamah tidak tahu kemana harus menghubungi ayahmu terlebih dahulu. Dulu komunikasi tidak semudah sekarang, dulu itu hanya mengandalkan surat atau telepon rumah, dan Mamah tidak mengetahui alamat ayahmu di Jawa apalagi nomer telepon rumahnya. Setiap bulan yang Mamah dapati hanya sebuah transferan yang Mamah yakini itu dari ayahmu.”
Mamah kembali terdiam dengan pandangan menerawang, kemudian melanjutkan ceritanya dengan suara lirih.
“Mamah lebih menunggu kabar dari ayahmu daripada sebuah angka dibuku tabungan yang setiap bulan bertambah.” Mamah menghela napas dengan kepala tertunduk sebelum kembali melanjutkan ucapannya, “Suatu hari saat Oka tepat berumur setahun Mamah mendapat telepon dari Indonesia, tapi bukan dari ayahmu melainkan dari kakekmu yang memberitahu kalau ayahmu telah melayangkan gugatan cerai.”
Hatiku benar-benar sakit mendengarnya, ku lihat Mamah tersenyum tapi matanya masih menyorotkan rasa sakit hati yang teramat sangat.
“Apa ayah tahu kalau Mamah sedang hamil saat dia pergi?”
“Tidak, bahkan Mamah sendiri baru mengetahuinya setelah kita pindah ke Yokohama. Mamah pikir itu hanya faktor hormon karena stress atau terlalu lelah, sampai Mamah menyadari ada perubahan dalam bentuk badan Mamah, dan ternyata Oka sudah ada di dalam perut Mamah.”
Mamah kini benar-benar tersenyum dengan tulus ketika membicaraka Oka.
“Ketika Oka lahir tentu saja Mamah bahagia, karena ayahmu selalu mengharapkan anak laki-laki. Tak sabar rasanya Mamah memperkenalkan Oka pada ayahmu, berharap Oka akan menjadi alasan hubungan kami menjadi baik kembali. Tapi Allah memiliki rencana lain.”
Ku genggam tangan Mamah yang tersenyum menatapku.
“Ayahmu sesungguhnya adalah pria baik, dan bertanggung jawab, hanya harga dirinya sebagai seorang pria yang terlalu tinggi. Perihal dia menceraikan Mamah, mungkin itu sudah yang terbaik mengingat kami sudah berpisah tanpa kabar berita selama 2 tahun. Mamah bisa memahami keputusannya, karena itu bukan hanya kesalahan ayahmu tapi juga kesalahan Mamah. Kami berdua sama-sama keras kepala saat itu, tapi setidaknya kami memiliki beberapa tahun pernikahan yang sangat menyenangkan. Banyak sekali tawa yang diciptakan ayahmu untuk Mamah, dan kamu … ayahmu sangat menyayangimu, dia selalu membanggakanmu dengan mengatakan kalau kamu persis seperti dirinya.”
Aku tersenyum dengan tenggorokan tercekat mendengar ucapan Mamah. Tangan Mamah kini balik menggenggam tanganku kemudian menepuknya lembut.
“Mamah sangat yakin, kalau selama ini ayahmu pasti sangat merindukanmu.”
“Kalau ayah merindukan kita, kenapa dia tidak mencari kita?” Mamah terdiam menatapku. “Mencari kita tak sesulit kita mencarinya. Ayah bisa datang ke Bekasi bertanya sama kakek dimana alamat kita sekarang, tapi tidak kan, Mah?”
Mamah masih terdiam, kemudian mengangguk.
“Mungkin dia memiliki alasan lain, kita tidak tahu apa yang terjadi padanya selama ini. Dan jangan lupakan Bi … Mamah sangat merindukannya, Na. Mamah ingin bertemu dengan Bi, minimal sekali saja sebelum Mamah meninggal.”
“Mamah bicara apa sih! Mamah akan panjang umur sampai Mamah nanti melihat cucu-cucu Mamah dari Kirana, Bi, dan Oka.”
“Aamiin.” Mamah tersenyum sambil kembali menggenggam tanganku. “Jadi, maukan kamu mencari ayahmu dan juga Bi sebelum semuanya semakin terlambat?
Aku terdiam menatap Mamah, dimana sorot matanya kini penuh harap menatapku. Tak ingin mengecewakannya akhirnya aku mengangguk, membuat senyum Mamah seketika terbit.
Mamah melepaskan genggaman tangan kami, dia mengambil sesuatu dari saku daster bunga-bunganya. Sebuah foto yang sudah menguning.
“Kamu pasti sudah lupa bagaimana wajah ayahmu.”
Aku menatap foto dimana Mamah tengah duduk sambil menggendong bayi, di sampingnya duduk pria yang sedang memangku seorang gadis kecil. Aku.
“Itu ayahmu … Randi Prasetyo.”
Ayah … hatiku berdesir menatap wajah ayah dalam sebuah potret tua. Seperti yang Mamah bilang, ayah cukup tampan. Kini aku tahu dari mana Oka mewarisi ketampanannya, hidung mancung dan matanya yang tajam sudah dipastikan diwarisinya dari ayah. Aku pikir aku akan langsung mengenalinya ketika bertemu bahkan di jalan sekalipun.
Tapi … apakah ayah akan mengenaliku? Putri yang dia tinggalkan hampir dua puluh tahun yang lalu?
*****
Note:
Mitos tentang lelaki Jawa yang tidak boleh menikahi perempuan Sunda, konon katanya didasari dari kisah perang Bubat.