
Spell (Mantra)
“Apa yang kamu pikirkan? Apa ucapan Mamah tadi menyinggung perasanmu?”
“Tidak, yang dikatakan Ibu Suri tadi itu benar.”
Aku menghela napas, mataku menatap jalan yang padat seperti biasa, ditambah hujan yang mengguyur Ibu Kota membuat sebagian jalan dilanda banjir yang memperparah kemacetan.
“Selama ini kita … maksudku. Aku. terlalu fokus memikirkan untuk tidak menjadi Cinderella yang patah hati. Aku lupa kalau ada nama besar dan perasaan orangtuamu yang harus dijaga.”
Perkataan Ibu Suri tadi benar-benar menyadarkanku. Selama ini aku benar-benar hanya fokus terhadap perasaanku, tak pernah sedikitpun aku berpikir tentang bagaimana perasaan mereka. Aku lupa kalau dunia mereka itu lebih menyeramkan daripada dunia sederhana tempatku tinggal selama ini.
“Tidak perlu dipikirkan. Aku akan mendukung apapun keputusanmu.”
Caraka duduk di belakang kemudi mobil, terlihat tampan dan keren seperti biasanya. Aku rasa bahkan orang awam sekalipun yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Caraka Benua, aku jamin pasti akan tertarik padanya walaupun hanya ketertarikan fisik.
Hei, siapa yang tidak menyukai pria tampan? Jadi ya, sangat wajar kalau banyak yang menyukainya. Dan seperti yang kita semua ketahui, perempuan yang menyukainya pun dari berbagai kalangan. Dari mulai perempuan biasa yang hanya bisa mengahalu seperti rekan-rekanku di kantor, sampai perempuan kalangan atas dari dunia yang sama dengannya yang akan mudah masuk ke dalam keluarga maupun lingkaran sosialnya.
Sedangkan aku? Aku termasuk golongan yang beruntung karena bisa membuat sang Pangeran menyukaiku. Setelah 1001 keraguan sebelum akhirnya aku nekad menjalin hubungan, berbagai ketakutan ketika harus di hadapkan dengan keluarga besarnya. Dan sekarang disaat semua telah teratasi apa aku hanya akan duduk diam dan hanya menjadi pajangan seperti yang dikatakan Ibu Suri tadi?
Tidak! Aku tidak mau hanya menjadi pajangan saja. Aku ingin menjadi pasangan yang ideal bagi seorang Caraka Benua. Aku tak bisa berbuat-apa dengan silsilah keluargaku, tapi setidaknya aku bisa berjuang degan cara lain. Yang jelas aku ingin menjadi pasangan yang bisa mendukung Caraka nantinya, yang tidak akan membuat dia dan keluarganya malu dan menyesal karena telah memilih dan mempercayaiku.
Ya! Aku telah mengambil keputasan sudah saatnya Cinderella berubah, bukan lagi menjadi upik abu.
“Aku telah mengambil keputusan!”
Caraka menatap ke arahku sebelum kembali menatap ke dapan.
“Keputusan tentang?”
“Aku akan mencari kerja di tempat lain.”
Caraka kembali menatap ke arahku dengan terkejut.
“Apa?”
“Iya, seperti yang Ibu Widya bilang, aku harus berubah agar pantas menjadi pasanganmu nanti. Maksudku kalau nanti ada yang bertanya, aku kerja dimana atau apa posisiku, setidaknya jawabanku bukan resepsionis.”
“Tidak ada yang salah dengan menjadi respsionis.”
“Memang tidak, tapi semua akan salah ketika si resepsionis ini menjadi pasangan Direktur hotel bintang lima yang merupakan putra sulung Konglomerat.”
“Cerita itu akan disukai masyarakat umum. Seorang resepsionis menjadi menantu konglomerat, itu seperti kisah Cinderella di dunia nyata.”
“Ya, masyarakat umum akan menyukai itu, tapi tidak dengan rekan bisnis, keluarga besar orangtuamu, juga ‘masyarakat’ yang tinggal di duniamu.”
“Tidak perlu memikirkan pandangan dan ucapan orang lain.”
“Ya, memang … kalau itu hanya menyangkut aku pribadi, aku tidak peduli terserah orang mau bicara apa tentangku. Tapi di sini bukan hanya tentang aku. Ada nama besar keluarga Mahesa yang harus kita jaga baik, orangtuamu, juga dirimu.”
“Aku tak peduli dengan nama baikku.”
Saat ini kami masih terjebak di jalanan yang padat merayap. Ya, ini memang bukan saat yang tepat untuk membicarakan masalah ini, tapi aku harus membicarakan ini secepatnya sebelum aku kembali berubah pikiran.
“Ini bukan tentang kamu, tapi aku juga.”
Aku sedikit memiringkan tubuhku menghadap Caraka yang menatapku beberapa saat di antara berhentinya laju kendaraan.
“Aku ingin menjadi pasangan yang bisa membuatmu bangga.”
“Sekarang pun aku bangga memiliki kamu menjadi pasanganku.”
“Aku ingin menjadi pasangan yang pantas untuk mu di mata semua orang.”
“Cukup menjadi pasangan yang pantas di mataku saja, tidak perlu memedulikan pandangan orang lain.”
“Aku ingin menjadi pendukungmu di masa depan.”
“Cukup berada di sampingku, kamu sudah lebih dari mendukungku.”
Aku menghela napas antara kesal dan ingin tertawa mendengarnya selalu memiliki jawaban atas ucapanku. Tapi untung saja imunku cukup kuat terhadap kemampuan speak-nya yang membuat hatiku deg-deg ser ketika mendengarnya. Oh, ayolah! Siapa yang hatinya tidak akan berdetak mengila ketika kekasih kita mengatakan itu dengan wajahnya yang super tampan?
“Aku tidak mau orang-orang memandangku sebelah mata karena statusku, dan menganggapku tidak pantas untuk mendampingimu.”
“Katakan siapa yang berani memandangmu dengan sebelah mata? Akan ku pastikan besoknya dia tidak akan lagi bisa melihat dengan kedua matanya.”
“Raka!” Aku terkejut mendengar ucapannya.
“Yes, honey,” ucapnya dengan santai tak memedulikanku yang menatapnya dengan mata membulat.
“Ih, nyebelin!”
“Aku serius.”
“Aku tahu, dan aku pun serius dengan ucapanku tadi … kamu cukup menjadi dirimu sendiri, berada di sampingku, itu sudah cukup untukku.”
“Tapi … aku ingin mempunyai sesuatu yang bisa ku banggakan ketika aku memasuki duniamu nanti. Aku tak bisa mengubah status keluargaku, sama sepertimu yang tidak bisa mengubah status keluargamu, tapi setidaknya biarkan aku berusaha agar setidaknya aku memiliki sesuatu yang bisa membuatmu dan orangtuamu bangga kepadaku karena aku telah berusaha, tidak hanya duduk diam tanpa melakukan usaha apapun.”
Caraka terdiam, matanya fokus menatap ke depan. Aku tahu kalau dia tengah memikirkan ucapanku.
“Ya … Cinderella-pun pasti berusaha untuk menjadi seorang putri yang hidup di istana. Dia tidak mungkin tetap menjadi upik abu meskipun telah tinggal di dalam istana kan? Dia pasti belajar bagaimana caranya agar menjadi seorang Putri yang baik untuk mengimbangi dan menjadi partner bagi Pangeran. Aku pun ingin seperti itu, walaupun aku tahu usahaku mungkin tidak akan semulus cerita Cinderella, tapi setidaknya izinkan aku berusaha terlebih dahulu, ya?”
Caraka masih terdiam, sebelum akhirnya dia menatapku sambil berkata,
“Aku akan memberikan posisi Manager keuangan padamu.”
“Tidak … itu bukan bidangku.”
Caraka menatapku kecewa, dengan cepat aku berusaha menjelaskan maksudku.
“Kalau itu bagian PR atau Marketing and Promotion, dengan senang hati aku akan mencobanya. Setidaknya aku ada pengalaman di bidang itu, tapi kalau akunting dan keuangan.” Aku menggelengkan kepala. “Itu benar-benar hal baru untukku.”
“Kamu bisa belajar. Aku tahu kamu bisa.”
“Ya, aku bisa belajar seandainya aku mengambil posisi staff, tapi ketika aku mengisi posisi Manager itu artinya aku harus lebih paham dari bawahanku.”
Caraka kembali terdiam, dan aku tahu dia setuju dengan ucapanku walaupun dia kurang setuju dengan keputusanku. Ok, sepertinya aku harus mengeluarkan sedikit jurus merayu.
“Kang, dengarkan aku.” Ku sentuh lengannya membuatnya menoleh terlihat terkejut. (Ya Allah, aku malu sendiri memanggilnya seperti itu!!!) “Aku mencari pekerjaan dengan posisi baru untuk membuktikan kalau aku mampu dan pantas menjadi pendampingmu kelak, bukan untuk mempermalukan diriku sendiri dengan memperlihatkan ketidak mampuanku. Kamu paham kan, Kang?”
Caraka hanya terdiam menatap depan dengan serius. Hei, apa rayuannya tidak berhasil? Oh ayolah, ini kali pertama aku merayu seorang lelaki. Itu termasuk rayuan kan? Haruskah aku melakukan seperti perempuan-perempuan yang pura-pura manja? Iiiih, membayangkannya saja aku sudah geli sendiri. Tapi baiklah, tidak ada salahnya aku mencoba.
“Kang … Kang Raka, boleh ya?”
Ya Tuhan, mudah-mudahan wajahku tidak memerah karena malu, dan seandainya ini juga tidak berhasil aku harap ada seseorang yang memukul kepalaku dan membuatku amnesia hingga lupa pernah merayunya seperti ini.
“Kamu membuatku tak bisa konsentrasi menyetir.”
Aku menganga mendengarnya. Oke, fix! Rayuanku gatot alias gagal total! Lubang mana lubang? Aku benar-benar ingin menghilang saat ini juga!!!
“Lain kali kalau mau menggodaku. Jangan ketika aku sedang menyetir atau melakukan pekerjaan, itu malah membuat konsentrasi buyar. Bahaya.”
“Si-siapa yang mengoda! Tidak ada yang menggoda.”
“Itu tadi.”
“Kapan? Tidak!”
“Coba panggil lagi!”
“Panggil apa?”
“Ayo dong, Na, panggil lagi Kang Raka seperti tadi ... bikin deg-degan tahu dengarnya.”
“Iiih, apaan sih!”
“Hahaha, ayo dong … sekali lagi.”
Aku menggelengkan kepala sambil mengalihkan pandangan ke luar.
“Na … Nana, ayo dong panggil, Kang Raka.”
Lebih baik aku pura-pura tak mendengar, dan menatap ke luar jendela seolah pemandangan hujan dan kemacetan kota Jakarta sesuatu yang sangat jarang terjadi.
“Banjir, lihat!” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi tidak berhasil. Ckk!
“Aku juga harus manggil kamu dengan sesuatu yang bikin kamu deg-degan.”
Dia tidak tahu saja setiap dia manggil aku Nana, Rara, bahkan Kiki itu membuatku jantungan, belum lagi kalau dia manggil Sayang, Honey, Baby … beuh! Jangan tanya bagaimana kondisi jantungku! Yang pasti deg-degan tak karuan.
“Nana? Rara? Kiki? Sayang? Honey? Sweetheart? Baby? Yang mana yang kamu suka?” Aku masih terdiam sambil melukis di jendela mobil yang berembun menggunakan jari telunjuk.
“Atau senin aku panggil Nana, selasa Rara, Rabu Kiki, kamis Sayang, jumat Honey, sabtu Sweetheart, minggu Baby … pas kan buat seminggu?”
Aku langsung menatapny horror. “Kalau seperti itu aku bisa lupa siapa namaku sebenarnya.”
“Hahaha … ayo dong, Na, panggil sekali lagi. Aku janji nanti aku akan pikirkan tentang semua yang kamu ucapkan tadi.”
“Kang Raka.” Takut dia berubah pikiran aku langsung memanggilnya Kang Raka yang langsung menatapku sebelum akhirnya tertawa terbahak bahagia.
Aaah, sepertinya aku sudah menemukan titik kelemahan seorang Caraka Benua … cukup menyebutkan mantranya maka dia akan menuruti keinganku. Dan mantranya adalah … Kang Raka!
Hei! Mantra itu hanya berlaku untukku, tidak berlaku untuk kalian!
*****