
Gift (hadiah(
“Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik tadi,” ucap Ibu Suri.
Saat ini kami tengah makan malam di hotel. Lebih tepatnya di sky dining restaurant yang dimiliki hotel M. Makan di atas ketinggian sambil menikmati pemandangan kota Surabaya di malam hari, ditambah makan yang disajikan dengan sangat cantik dan juga nikmat. Tapi sayang porsinya kecil, mana nendang itu untukku. Setelah ini aku akan mengajak Caraka berburu nasi bebek, atau mungkin pecel? rawon? Aduuuh mulutku jadi ngiler membayangkan makan-makanan itu.
“Tetap tenang ketika orang-orang berusaha menjatuhkan mental kita dengan pandangan merendahkan dan ucapan sarkas. Biarkan prestasi kita yang membungkam mereka. Kecuali kalau mereka terang-terangan menghina kita, kita wajib membela harga diri kita.”
Ibu Suri tidak tahu saja, tadi rasanya gatal sekali mulut ini ingin menjawab ucapan mereka semua, untung saja tadi aku menahan diri karena tak ingin mempermalukan Ibu Suri yang berdiri di sampingku. Jadi tadi aku hanya bisa senyum sambil menahan diri. Luar biasa kan seorang Kirana bisa menahan diri … puk-puk-puk, good job Kirana.
“Sangat jarang Haryanto memuji seseorang seperti tadi,” ucap Sang Raja membuatku menatapnya. “Sekarang semua orang tidak akan ada lagi yang berani memandangmu sebelah mata karena sudah mengetahui kemampuan yang kamu miliki dan sudah mendapat pengakuan dari Haryanto, Hanya tinggal menunggu waktu sampai berita tentang kamu akan tersebar.”
Selama ini aku telah menjadi urutan teratas topik gossip ibu-ibu komplek, dan kini sepertinya aku naik kelas menjadi tajuk utama gossip ibu-ibu sosialita. Tapi setidaknya mereka tidak akan menggosipkanku di warung sayur seperti emak-emak komplek kan?
“Dan semua orang kini telah tahu kalau kamu adalah calon istri Caraka, jadi kamu harus bisa menjaga dirimu sebaik mungkin.”
“Belum semua,” ucap Caraka yang duduk bersandar santai. “Masih ada seseorang yang harus tahu hubungan aku dan Kirana.” Pandangan Caraka terlihat menerawang membuat aku, Ibu Suri dan Sang Raja mengangkat alis melihatnya. “Orang yang benar-benar harus tahu tentang ku dan Kirana.”
“Siapa?” tanyaku penasaran.
Caraka hanya tersenyum penuh misteri membuatku mengerutkan alis.
“Kamu sudah tahu kan kalau besok Mahesa group akan mengadakan santunan yatim dan duafa?”
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Big Boss. Beberapa hari yang lalu aku mendapat undangan untuk menghadiri santunan yatim dan duafa yang kali ini akan digelar di ballroom hotel M yang akan dihadiri anak yatim dari Yayasan rumah yatim Surabaya, beberapa pengurus Yayasan yatim piatu , panti jompo, Yayasan Duafa Indonesia serta pejabat daerah untuk secara simbolis diberikan donasi yang kemudian akan disalurkan kepada masyarakat sekitar yang berhak.
Kegiatan ini setiap tahun sekali dilakukan perdaerah dimana Mahesa group berada, dan biasanya hanya diwakilkan oleh GM, jajaran Manager dari masing-masing daerah, serta perwakilan dari pusat yang biasanya diwakili oleh salah seorang Direktur atau GM. Big Boss akan datang secara bergilir ke daerah tertentu dan biasanya daerah yang dihadiri Big Boss acaranya akan lebih besar dengan mengundang lebih banyak orang juga pejabat daerah.
Dan kali ini ternyata Surabaya yang berkesempatan didatangin oleh Big Boss, pantas saja panitia bekerja ekstra dari sebulan sebelumnya. Bahkan Aileen, Yuli, Feri dan beberapa orang staff ikut diperbantukan untuk acara ini.
“Kamu datang kan?”
“Harus datang,” ucap Caraka membuatku yang baru membuka mulut untuk menjawab Big Boss kini menatapnya. “Wajib!” Aku baru akan kembali membuka mulut untuk bilang kalau aku memang akan datang, tapi kembali diurungkan karena mendengar Caraka berkata, “Dan kali ini, aku yang telah mempersiapkan pakaian untukmu.”
Aku menatap Caraka yang tersenyum penuh misteri membuatku curiga. Tapi kecurigaanku tidak terbukti ketika Caraka mengantarku ke apartemen dia memberikanku sebuah paper bag dengan merk baju muslim ternama tercetak di sana.
Sebuah gamis putih yang cantik dengan motif sulur di bagian manset tangan juga bawah rok yang mengembang dengan kain lembut yang jatuh, menjulur dari bawah ke atas hingga bawah dengkul dengan gradasi warna ungu dan biru muda, sebuah motif sulur yang sangat cantik terlihat seperti lukisan.
“Cantik banget.”
“Suka?”
Aku mengangguk sebagai jawaban. “Terima kasih.”
“Terima kasih saja? tidak dapat hadiah?”
“Hahaha.”
“Oh, ayolah.” Caraka menarikku hingga aku kini berada di dalam rangkulannya. “Kamu tahu, hari ini kamu terlihat sangat cantik … luar biasa, dan aku harus menahan diri untuk tidak langsung memelukmu di depan Mamah tadi ketika aku pertama melihatmu.”
“Hahaha … itu karena pakaian persiapan yang dilakukan oleh mamahmu.”
Dia tidak tahu saja kalau tadi dia juga terlihat laur biasa tampan dengan batik yang dia kenakan. Aura ketampanannya pol-polan deh.
“Aku harus berganti pakaian.” Aku kembali tersadar kalau saat ini aku masih mengenakan pakaian yang tadi ku pakai ke pesta sedangkan Caraka telah berganti pakaian dengan kaos hitam dan celana blue jeans.
“Nanti dulu.” Caraka kembali menarikku yang akan berdiri hingga kembali duduk di sampingnya. “Setelah … ini.”
Dan … dia mendapatkan hadiahnya, atau ini hadiah lanjutan untukku? Hadiah yang sangat lembut dan manis. Hmmm … cukup lama kali ini hingga jantungku semakin berdetak kencang, dan aku yakin jantungnya pun berdetak sama gilanya denganku, sampai akhirnya kami mengakhir acara ‘tukar hadiah’ itu dengan napas yang sama-sama memburu.
“A-aku harus beganti pakaian.” Aku berdiri kemudian berjalan dengan cepat ke arah kamar.
Sesampainya di dalam kamar ku pegang dadaku. Gila, ini pertama kalinya jantungku berdebar begitu kencang. Dengan cepat aku ke kamar mandi, membasuh mukaku, dan baru sadar kalau kami belum shalat isya. Astagfirullahadzim. Bahaya, benar-benar bahaya! Aku harus cepat-cepat menemukan ayahku, agar bisa segera mengesah hubunganku dengan Caraka. Menjauhkan kami dari dosa berkelanjutan, menghalalkan yang haram, dan mendapat ridho Illahi.
“Sayang, shalat isya dulu baru kita jalan lagi cari makan!”
Aku mendengar seruan Caraka dari luar, membuatku dengan cepat berganti pakaian lalu mengambil wudhu, dan ke luar dari kamar setelah mengenakan mukena untuk shalat berjamaah dengan Caraka yang baru selesai wudhu yang terlihat shinning, shimmering spending (bersinar, berkilau indah).
Masyaallah …
Astagfirullahadizim!!
Aku menggelengkan kepala setelah beberapa saat kembali terpesona oleh sang Pangeran. Aaah pokoknya aku harus cepat-cepat bertemu Randi atau Andi, atau siapapun itu yang penting cepat SAH!!!
***
Saat ini kami baru saja memasuki area Taman Bungkul, sebuah taman yang menjadi salah satu ikon kota Surabaya. Sebetulnya sudah lama aku ingin main ke sini karena mendengar cerita dari Aileen dan yang lainnya, tapi karena sibuk bekerja dan rasanya kurang menyenangkan kalau aku datang sendiri, jadi baru kesampaian sekarang mumpung ada ayang bebe yang menenami.
Suasana malam hari di taman bungkul sangat semarak, lampu-lampu berbentuk hewan dari mulai burung kakak tua, kupu-kupu, bebek, ayam, kancil dan banyak lagi, ada juga yang berbentuk kotak yang berwarna seperti lampu disco, ditambah para pengunjung yang datang bersama keluarga mereka membiarkan anaknya bermain bebas, ada yang berlarian, ada yang hanya duduk santai di panggung outdoor, ada juga yang bermain kitiran.
Tahu kitiran kan? itu lho, yang berbentuk seperti baling-baling yang diterbangkan ke atas memakaian karet, nanti bakal berputar-putar terbang, turun lagi ke bawah sambil mengeluarkan warna-warni dari lampu kecil yang terpasang di badan kiritan yang membuat langit malam di taman bungkul semakin meriah, ditambah para pedagangan asongan yang menawarkan dagangan mereka, teriakan orangtua yang memanggil anaknya serta celotehan dan tawa anak-anak.
Bukan hanya orangtua dan anak-anak, tapi banyak juga para remaja yang datang dengan pasangannya, mereka duduk di depan air mancur berwarna hijau, di sana mengalir sungai yang bersih dengan air yang jernih membuat suasana semakin nyaman mendengar gemericik air. Beberapa remaja juga terlihat sedang berlatih skateboard di area yang dibangun khusus untuk para pencinta olah raga ekstream itu.
Sedangkan aku dan Caraka berjalan menuju sentra PKL Taman Bungkul yang berada tak jauh dari taman bermain anak, dimana terdapat perosotan, jungkat-jungkit , ayunan dan banyak lagi yang sekarang tengah diisi oleh anak-anak yang diawasi oleh para orang tua yang duduk tak jauh dari mereka.
“Mau makan apa?”
“Rawon.” Aku sudah membayangkan kuahnya yang gurih, dicampur perasan jeruk nipis dan sambal, beuh… nikmat.
Kami masuk ke dalam tenda yang betuliskan rawon kalkulator, kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia. Di atas meja terdapat toples berisi kerupuk udang, juga piring-piring berisi paru goreng, telor asin, dan tak ketinggalan tempe goreng.
Seorang pelayan mendatangi meja kami dengan membawa buku memo kecil.
“Mbak e kalean Mas, nipun pesen nopo?” (Mbak sama Masnya mau pesan apa?)
“Adanya apa, Mas?”
“Rawon wonten, soto daging wonten.” (Rawon ada, soto daging ada).
“Mau makan apa?” Aku mentap Caraka yang tengah makan paru goreng.
“Samain saja,” jawabnya sambil kembali mengambil paru goreng.
“Rawon dua, Mas.”
“Minume opo?” (Minumnya apa?)
“Teh hangat saja dua.”
“Pesanane rawon kale, teh hangat kale, leres nggih?” (Pesanannya rawon dua, teh hangat dua, betul?)
“Iya, yang satu nasinya setengah saja ya, Mas.”
“Inggih, Mbak, diantosi nggih.” (Baik, Mbak, ditunggu ya, Mbak).
“Sudah jago bahas Jawa rupanya sekarang,” seloroh Caraka setelah pelayan pergi meninggalkan meja kami.
“Bukan jago, hanya mulai sedikit paham. Bagaimana tidak, setiap hari hampir semua orang berbicara dengna bahasa Jawa yang mau tidak mau membuatku harus belajar, minimal bisa paham dengna apa yang mereka ucapkan.”
Aku menambil paru goreng dan mulai memakannya seperti halnya Caraka.
“Oh iya, nanti aku titip perhiasan punya Mamah ya.”
“Bukannya itu sudah diberikan untuk kamu?”
Aku menggelengkan kepala. “Itu terlalu berlebihan, aku tak bisa menerimanya.”
Caraka terdiam menatapku.
“Kenapa tidak bisa? Terima saja.”
“Aku tidak bisa … hubungan kita belum pada tahap itu.”
“Dan kapan tahap itu akan terjadi.”
“Nanti ketika saksi mengatakan sah.”
Caraka kembali terdiam kemudian mengangguk.
“Aku tahu Mamah membeli itu khusus untukmu, jadi Mamah pasti akan sedih kalau kamu menolak dan mengembalikannya.”
“Tapi …”
“Simpan saja, anggap saja itu sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian Mamah untuk kamu. Apa kamu tega menolak salah satu bentuk perhatian Mamah?”
Aku terdiam, serba salah … berat, sungguh berat kalau aku menerimanya.
“Begini saja, besok aku sendiri yang akan mengembalikannya kepada Mamah, tapi kalau Mamah menolaknya … aku akan menyimpan itu.”
Caraka mengangguk setuju. Pelayan datang membawa dua mangkuk rawon dan dua piring nasi. Aku langsung menambahkan air perasan jeruk nipis dan dua sendok sambal.
“Kalau aku yang membelikannya apa kamu akan terima?”
Aku menatap Caraka yang menatapku serius. Aku bisa melihat harapan di sorot matanya, tak tega rasanya aku mengecewakannya, tapi jujur aku juga tak mau menerima hadiah mahal darinya. Bagaimana pun hubungan kami hanya sepasang kekasih bukan suami-istri, tak ada hak dan kewajibanku untuk menerima barang-barang berharga darinya. Tapi …
“Asal tidak berlebihan.”
Caraka tersenyum kemudian mengangguk mengerti dan mulai menyantap rawonnya.
Saat itu tak tahu kalau Caraka telah menyiapkan sebuah cincin yang sangat cantik yang dia berikan ketika mengantarku pulang ke apartemen.
“Ini bukan cincin pertunangan kita … anggap saja ini hadiah ulang tahun lebih awal bebarapa minggu.” Aku tersenyum mendengarnya karena ulang tahuku masih dua minggu lagi. “Kamu harus memakainya besok. Ingat, harus! Oke!”
Saat itu aku hanya termangu menatap cincin emas putih dengan berlian-berlian kecil yang disusun hingga membentuk lingkaran di bagian tengah, di sisi kanan-kirinya terdapat tiga bunga kecil dimana di setiap putik bunga terdapat berlian kecil.
“Sayang!”
“Iya?”
“Besok dipakai, oke!”
Aku hanya mengangguk sambil menatap cincin yang kini tersemat di jari manisku, tanpa tahu ada niat tertentu di balik pemberian cincin itu.
*****