
“Sayang, kamu datang ke sini sama siapa? Pak Supri sedang ke Pacet kan? Apa perlu aku meminta sopir hotel menjemputmu? Atau aku yang menjemputmu?”
Aku hanya menghela napas mendengar sederet pertanyaan Caraka. Saat ini aku sendiri baru ke luar dari apartemen dan tengah berjalan menunggu lift.
“Tidak perlu, aku sudah janjian dengan Ivan, Pak Wiradi dan yang lainnya.”
“Siapa? Elvan? Ngapain bareng dia? Tidak boleh! Aku yang jemput kamu.”
“I-van! Bukan El-van … I-van, yang akan menggantikanku nanti.”
“Oooh … hehehe. Ya sudah, kita ketemu di sini.”
“Oke!"
“Kamu memakai baju yang dariku kan?”
“Iya.”
“Cincin dipakaikan? Awas jangan sampai lupa!”
Aku menatap cincin di jari manisku yang membuatnya tambah terlihat manis. “Iya, ini sudah di pakai.”
“Bagus! Ya sudah, hati-hati, Honey, see you.”
“Ya … assalamualaikum”
Aku mengakhiri panggilan setelah mendengarnya menjawab salam.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku masuk ke dalam lift yang sepi. Ku lihat pantulan diriku di dinding lift. Mengenakan gamis putih, dan pashmina yang kujadikan hijab hasil praktek setelah melihat tutorial di youtube. Dengan make up sederhana walau tak secetar kemarin, tapi aku cukup puas dengan penampilanku hari ini.
“Waaah, sopo iki? Mbak Kirina ta? Ayune.” (Siapa ini? Mbak Kirana kah? Cantiknya).
“Hahaha.” Aku tertawa mendengar ucapan Ivan yang terkejut melihat penampilanku. Ivan sendiri mengenakan batik lengan panjang sama seperti Pak Wiradi.
“Bu Kirana? Ayune ... sampek pangling aku.”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan anak-anak store ketika aku memasuki area E-World.
“Sudah siap? Pak Ade mana?”
“Lagi ke ruang server dulu sebentar.”
Aku mengangguk mengerti. Saat ini adalah hari minggu, anak-anak office hour sedang libur jadi yang ada di dalam kantor hanya anak-anak IT dan store. Suasana bebas terasa di dalam kantor, terlihat dari anak IT yang mengenakan kaos dengan santai dan lagu hardcore terdengar dari salah satu computer mereka. Surya anak IT yang bertugas hari ini memang menyukai lagu-lagu hardcore yang untuk sebagian orang, termasuk aku malah bikin migren.
“Wiiih, sopo iki?”
“Hahaha.”
Aku tertawa mendengar Pak Ade yang baru ke luar dari ruang server kini menatapku tak percaya.
“Yang lain sudah pada jalan, kita jalan sekarang.”
Kami pun ke luar dari kantor menuju tempat parkir, dengan menggunakan mobil Pak Wiradi kami menuju hotel. Tak berapa lama kami sudah sampai hotel dan langsung menuju ballroom Danaraja, ballroom terbesar yang ada di hotel ini. Beberapa petugas yang bertugas sebagai penerima tamu memeriksa kartu undangan kami sebelum akhirnya mempersilahkan kami masuk.
Suasana di dalam sudah ramai dengan tamu undangan yang hadir, meja-meja sudah hampir terisi sepenuhnya oleh tamu undangan juga anak yatim yang terlihat ceria dengan senyum di wajah mereka. Mengenakan pakaian seragam muslim berwarna putih, mereka duduk dengan rapi di kursi yang disediakan.
“Bu Na!” Aileen dan Yuli tersenyum lebar sambil berjalan ke arahku. “Bu Na, cantik banget!”
“Kamu juga.”
Aileen hari ini terlihat cantik dengan gamis putih seperti Yuli sebagai seragam panitia dan pashmina tersampir di bahunya.
“Hehehe … oh, iya! Bu Na sama Pak Wiradi duduknya di meja no 9. Duduknya di campur sama yang lainnya biar pada kenal. Pak Ade sama Mas Ivan di meja 10 ya.”
Aku mengangguk mengerti, kemudian berjalan mengikuti Aileen menuju meja no 9, ku lihat beberapa orang telah duduk di sana, yang membuatku terkejut adalah Elvan duduk di meja yang sama denganku.
Aku tersenyum sebagai bentuk kesopanan.
“Aku sengaja bikin Bu Na semeja sama Pak Elvan, kan teman kuliah jadi biar nggak canggung mejanya.”
Hadeuh! Aileen tidak tahu saja kalau itu malah membuat suasana semakin canggung. Elvan kemudian mengenalkanku dan Pak Wiradi kepada tiga orang lainnya yang merupakan perwakilan dari SUHO dan MHG food and beverage.
“Kiki!” Aku menatap ke samping dimana Anto berdiri dengan senyum lebar. Dia mengenakan koko putih seperti para panitia lainnya.
“Waaah, cantik banget! Pangling aku lihatnya … kalau pakai jilbab gini terlihat benar-benar sebagai calon istri solehah.”
"Fffttt!"
Aku mendetik ke arah Pak Wiradi yang mendengus menahan tawa mendengar ucapan Anto, begitupun yang lainnya, kecuali Elvan yang kini menatap Anto penuh selidik.
Lubang mana lubang? Aku ingin menghilang saat ini juga! Ya Allah, kenapa aku harus dipertemukan dengan tempe kriuk di saat acara seperti ini?!
Tapi untungnya Anto segera kembali ke alamnya ketika suasana tiba-tiba riuh ketika tiga orang memasuki ruangan. Siapa lagi kalau bukan Sang Raja, Ibu Suri, juga Sang Pangeran yang membuat mataku langsung membulat menatapnya. Bagaimana aku tidak terkejut ketika melihat Caraka mengenakan baju koko putih dengan motif sulur sama persisi sepertiku. Seketika aku menutup mulut sambil berusaha menahan tawa menyadari ternyata dia sudah mempersiapkan baju couple untuk kami.
Dia ikut menyalami beberapa orang yang merupakan para pejabatan daerah dan tamu undangan termasuk para anak yatim, tangan kirinya mengusap kepala mereka dengan senyum mengembang membuatku ikut tersenyum.
Tak sengaja mataku bersitatap dengan Aileen yang menganga sambil menunjuk-nunjuk Caraka, membuatku tersenyum sambil mengangguk yang membuat Aileen menutup mulutnya dengan telapak tangan, tubuhnya sedikit melonjak-lonjak kemudian membisikan sesuatu kepada Yuli yang berada di sampingnya, Yuli kini menatapku dengan mata membulat dan mulut menganga membuatku ingin sekali tertawa melihat reaksi keduanya.
Big Boss, Ibu Suri dan Caraka kini duduk di meja khusus bergabung dengan beberapa tamu VVIP, dan akhirnya acarapun di mulai. Diawali dengan pembukaan dari perwakilan Mahesa group yang diwakali oleh GM hotel yang menjadi tuan rumah kali ini, dilanjutkan pembacaan doa oleh saorang tokoh masyarakat kemudian acara - acara yang diisi oleh penampilan dari anak-anak dari Yayasan Yatim Surabaya yang melantunkan sholawat, kemudian tausiah dari ustad ternama yang sering muncul di acara TV, dan akhirnya acara inti yaitu santunan untuk anak-anak yatim, dan penyerahan secara simbolis bantuan oleh Big Boss dan Caraka kepada beberapa Yayasan, dan pemerintah setempat untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.
Setelah itu Big Boss diminta untuk berbicara di atas podium. Diawali dengan sambutan pada umumnya, ucapan terima kasih kepada beberapa pihak termasuk kepada seluruh karyawan Mahesa group yang telah bekerja keras, sampai akhirnya …
“Sebagian yang ada di sini terutama teman-teman yang bekerja di hotel M mungkin sudah mengenal putra sulung saya, yang biasa dipanggil Benua Mahesa atau sebagian lagi mengenalnya sebagai Caraka Mahesa. Insyaallah nanti dia yang akan menggantikan saya, tentu saja dengan dibantu adiknya ... Candra. Untuk rekan-rekan di retail pasti sangat mengenal Candra. Mohon maaf hari ini Candra tidak bisa hadir karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan di Jakarta.”
Rudi Mahesa menatap sekeliling ruanganan, tak satupun yang luput dari pandangannya hingga semua orang merasa kalau dirinyalah yang tengah diajak bicara oleh Sang Raja.
“Namun kali ini Candra telah mewakilkan dirinya dan MHG Retail kepada calon kakak iparnya.”
Deg! Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, sebelum akhirnya menggila ketika ku lihat Caraka menatapku sambil tersenyum miring.
“… insyaallah akan menjadi menantu kami secepatnya.”
“Aamiin.”
Sautan kata aamiin menggema di dalam ballroom. Semua orang pun terlihat penasaran dengan sosok calon menantu Mahesa yang tidak ada di meja VVIP.
“Ah, sepertinya semua penasaran dengan sosok calon menantu Mahesa.”
“Iya …” sautan riuh bercampur tawa kembali menggema membuat Sang Raja tersenyum lebar.
“Sebagian orang telah mengenalnya dengan baik dua bulan terakhir ini, dia ikut bekerja juga … bahkan pekerja paling keras akhir-akhir ini hingga akhirnya berhasil membuat terobasan baru dan memuat seorang Haryanto memujinya kemarin.”
Pak Wiradi menatapku dengan mata membulat, membuatku hanya bisa tersenyum. Begitu pun dengan Elvan yang sepertinya telah curiga padaku, tapi aku tak peduli bagaimana tanggapan dia.
“Tidak! Dia tidak kami datangkan ke sini untuk memata-matai kalian.” Semua orang tertawa mendengar ucapan Big Boss. “Tapi dia didatangkan ke sini benar-benar karena kemampuannya dan berusaha membuat kondisi di sini menjadi lebih baik. Dan akhirnya dia berhasil, E-World untuk pertama kalinya mencapai target.”
“Wow, Bu Na!” terdengar seruan Ivan, Pak Ade, Yudi, Aileen dan yang lainnya sambil bertepuk tangan membuat semua orang yang tak mengenalku kembali penasaran mencari sosok menantu Mahesa.
“Bu Na?” Big Boss kini menatapku. “Apa itu panggilanmu di sini?” Seisi ruangan kini menatap ke arahku.
Aah, kalau sudah seperti ini mau tidak mau akhirnya aku mengangguk sebagai jawaban yang membuat orang-orang E-World bertepuk tangan bahkan ada yang bersiul, membuatku tertawa sambil menutup mukaku karena malu.
“Iya … dia adalah Kirana Az Zahra, calon menatu Mahesa.”
Big Boss mengenalkanku secara resmi yang membuatku dengan malu berdiri dan sedikit membungkukan badan sebagai salam perkenalan kepada semua orang yang hadir. Suara tepuk tangan kembali bergemuruh mengisi ballroom.
Aku tak percaya kalau aku ada diposisi ini saat ini, merasa diterima dan diakui olah semua orang. Tak ada pandangan merendahkan ataupun tatapan sinis, semua tersenyum dan menatapku dengan ramah.
*****