I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
21. Surprised!!




Surprised!! (Kejutan)



“Jadi, sudah sampai mana hubungan lo sama Bos lo yang tampan itu?”


“Ya, gitu deh.”


“Ya gitu deh gimana?” Siska kembali penasaran.


Saat ini kami tengah duduk di teras sambil makan mie ayam, Mamah sedang pergi mengaji mingguan di masjid komplek, Oka belum pulang sekolah, sedangkan aku libur, dan karena ini hari rabu jadi Bos masuk kerja, alhasil yang selalu siap sedia menemaniku hanya Siska.


Jangan kalian pikir Siska itu pengangguran. Bukan! Dia itu pebisnis sejati, dia menyediakan apa saja yang kita perlukan. Pokoknya palugada deh (apa yang lu mau, gue ada) dari barang kw super sampai kw 5, dari menyediakan jasa ketik skripsi sampai menyediakan jasa kuli bangunan, pokoknya dia ada semua kecuali santet dan perdukunan, dan juga barang-barang branded ori. Ya, maklum saja karena modal kami yang tak seberapa. Oh iya, aku juga salah satu penanam modal di sana, lumayanlah buat tambahan bayar cicilan si merah.


“Masalah perjodohannya sudah selesai?”


Aku menghela napas mendengar pertanyaan itu.


“Tidak tahu.”


“Memangnya dia tak pernah memberitahumu soal itu?”


Aku menggelengkan kepala.


“Dan lo nggak tanya?”


“Gue bingung, mau tanya-nya gimana.”


“Ya tinggal tanya.”


“Ya gimana?”


“Ya tanya.”


“Iya, Munaroh, tanya-nya gimana? Bagaimana gue ngomongnya?!” seruku sedikit kesal membuatnya berpikir.


“Gampang!” jawabnya setelah terdiam berpikir beberapa saat membuatku menatapnya penasaran.


“Bagaimana?”


“Ya tanya saja, masalah perjodohannya bagaimana? Sudah selesai belum? Gampangkan!” ujarnya santai sambil kembali menyuap mie ayam.


Ya, memang semudah itu, tapi percayalah kalimat sederhana itu sangat sulit diucapkan.


“Kalau gue tanya gitu masalah nggak ya?”


“Masalah kenapa? Justru kalau elo nggak tanya, itu bakal jadi masalah buat lo. Memangnya mau sampai kapan hubungan lo sama dia seperti ini?”


Aku menghela napas.


“Gue juga tidak mau seperti itu, Sis, tapi kalau gue keseringan tanya gitu kesannya gue tertalu nekan dia nggak sih? Karena gue tahu ini bukan hal mudah juga buat dia ngomong sama orangtuanya, dia juga pasti nunggu waktu yang tepat buat ngomongin masalah ini sama mereka.”


“Daaaan … waktu yang tepat itu kapan?”


Aku terdiam tak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Sampai kami menghabiskan mie ayam dan abang penjual mie ayam datang untuk mengambil mangkuknya, bahkan sampai gerobaknya tak terlihat lagi, dan hari berganti pun aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.


Pertanyaan sederhana Siska yang membuatku kembali berpikir beberapa hari ini. Selama ini kami menjalani hubungan seperti tidak ada masalah apapun, atau lebih tepatnya berpura-pura tidak ada masalah apapun. Kami menjalani hari-hari kami seperti pasangan pada umumnya, pergi berkencan, nonton, makan, atau hanya sekedar jalan-jalan menikmati saat-saat berdua kami.


Dia mengenalkanku kepada teman-teman dekatnya, berusaha membuatku nyaman agar bisa masuk kelingkaran pertemanan mereka. Dia juga telah cukup dekat dengan Mamah, Oka, dan Siska, tapi tak sekalipun aku dikenalkan kepada salah satu anggota keluarganya dan itu kembali seperti ada kekosongan dalam hubungan kami.


Aku merasa kedekatan dan kebahagian kami selama ini seolah semu, karena bagaimanapun hubungan kami ini seperti berjalan di atas permukaan es tipis yang akan menenggelamkan kami kapan pun.


“Ngelamunin apa?”


Aku tersentak menatap ke samping dimana Caraka berdiri sambil menatapku menyelidik. Saat ini aku tengah berada di rooftop menikmati malam di waktu istirahatku, sedangkan dia sudah selesai bekerja, dasinya sudah terlepas, rambutnya sudah sedikit berantakan, lengan kemejanya sudah dilinting hingga ¾, terlihat santai dengan sebatang rokok di sela jari yang sesekali dia hisap.


“Tidak,” jawabku sambil kembali menatap ke kejauhan dimana terlihat air mancur menari yang berubah warna di taman lapangan banteng, dan jalanan sudah benar-benar sepi hanya sesekali terlihat satu-dua kendaraan yang melintas, angin pun terasa semakin dingin berhembus di antara kegelapaan malam.


“Kamu itu tidak bisa berbohong.”


“Itu tandanya aku orang yang jujur.”


Bos tertawa sambil membuang rokoknya kemudian menginjaknya sebelum dia melangkah mendekat untuk memelukku dari belakang membuatku tersenyum walau awalnya sedikit terkejut.


“Dingin?” tanyanya sambil memelukku erat dengan dagu ditumpukan di bahuku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. “Kenapa malam-malam malah di sini, bukannya tidur sebentar di ruang istirahat.”


“Bahaya kalau aku tidur, bisa-bisa kebablasan sampai pagi.”


“Hahaha … kalau begitu tidur di sini sebentar, aku akan menjagamu.”


Aaah… wangi ini, wangi parfum yang menjadi khas seorang Caraka Benua. Wangi yang lembut, tapi terkesan maskulin juga sangat menenangkan, membuatku tanpa sadar tersenyum sambil memejamkan mata, hidungku mencium dalam wangi parfum yang pasti ori dan mahal karena masih bertahan dari pagi sampai sekarang sudah lebih dari tengah malam.


Berbeda dengan parfumku yang ku beli di toko parfum isi ulang langganan Siska di daerah Condet, yang hanya bertahan beberapa jam dan wanginya akan kabur setelah tertiup angin.


“Kenapa belum pulang? Apa ada masalah di kantor?” tanyaku dengan mata terpejam.


“Ada sedikit masalah, tapi aku sudah membereskannya dan malam ini aku menginap di sini.” Aku mengangguk mengerti


Caraka memang memiliki sebuah kamar pribadi di hotel ini, di penthouse malah.


Tapi dia lebih suka pulang ke apartemennya daripada menginap di hotel, alasannnya karena dia merasa kalau menginap di sini itu sama saja dia menginap di kantor. Tidak bisa istirahat.


“Jadi apa yang kamu pikirkan dari tadi?” Sebelah tangannya mengelus rambutku membuatku semakin mengantuk. “Apa kamu memikirkan tentang kita?”


“Hmmm.” Aku mengangguk sebagai jawaban.


“Tentang perjodohanku?”


“Hmmm.” Aku kembali mengangguk.


“Jangan terlalu memikirkannya … aku telah mengurusnya.”


Aku meregangkan pelukan kami untuk menatapnya dengan terkejut karena mendengar ucapannya.


“Maksud kamu telah mengurusnya?”


“Beberapa hari yang lalu aku menemui Big Boss untuk mengatakan kalau Big Boss tidak mau memutuskan perjodohanku, maka aku yang akan langsung berbicara dengan keluarga Anggi untuk menolak perjodohan ini.”


Kantukku seketika hilang mendengar ucapan Caraka yang juga tengah menatapku.


“Terus?”


“Teruuus …” Caraka kembali menarikku ke dalam pelukannya.


“Iiih, jawab dulu!” Aku menjauhkan badanku membuatnya tertawa.


“Kan bisa ngobrolnya sambil pelukan seperti tadi, kapan lagi coba bisa meluk kamu, biasanya juga galak bangat.”


“Tadi karena ngantuk … sekarang sudah tidak mengantuk lagi.”


“Ckkk.” Dia berdecak sambil menyandarkan tubuhnya ke pagar beton, membuatku berdiri di depannya penasaran.


“Lanjutkan yang tadi.”


“Iya sudah sini atuh kalau mau dilanjutin mah.” Dia kembali menarikku ke dalam pelukan membuatku memukul dadanya sambil menjauh.


“Raka, ih! Serius!”


Oh iya, setelah hari dimana aku memutuskan untuk mengikuti kata hatiku, aku memutuskan untuk memanggilnya Raka. Awalnya aku ingin memanggilnya Benua (karena di kantor dia dipanggil Pak Benua), tapi kata dia, Benua itu adalah nama yang biasa digunakan kebanyakan orang yang tak begitu dekat dengannnya. Sedangkan keluarga dan sahabat memanggilnya Caraka atau Raka. Jadi aku memutuskan memanggilnya Raka, tanpa embel-embel Mas, aa, akang, abang, atau yang lainnya. Belum, bukan tidak mau, hanya saja mungkin nanti akan ada waktunya aku memanggilnya … Kang Raka? atau Mas Raka? atau mungkin Bang Raka? Iya, itu nanti setelah semuanya serba jelas.


“Hahaha, iya, Sayang, apa sih? Dari tadi juga aku serius.”


“Lanjutin yang tadi … terus bagaimana jawaban Big Boss?”


Dia terdiam beberapa saat kemudian menggenggam kedua tanganku sebelum akhirnya berkata,


“Mereka ingin bertemu denganmu.”


“A-apa?”


“Mereka mengundangmu untuk makan siang bersama.”


“A-apa?!”


“Sabtu besok.”


“A-APA?!!”


“Besok, aku akan menjemputmu untuk bertemu dengan keluargaku.” Dia masih berbicara dengan santai tak peduli aku yang kini menatapnya tajam dengan degup jantung yang tiba-tiba tak beraturan.


“Kenapa baru memberitahu sekarang? Seharusnya kamu memberitahuku lebih awal.”


“Surprised!” serunya santai dengan senyum lebar membuatku ingin sekali mencakar wajahnya.


Apa ini waktunya semua kejadian yang selama ini aku tonton di TV akan terjadi? Keluarga pihak laki-laki berusaha membuat si perempuan tertekan dengan menghina dan merendahkannya, dilanjutkan dengan tawar menawar sejumlah uang agar meninggalkan si pria, dan diakhiri dengan disiramnya si perempuan oleh sang calon mertua?


Mamah … apa yang harus aku lakukan???


*****