
44. Jealous guy
Beberapa malam ini aku habiskan dengan mengawasi proyek relokasi booth and display store. Sebetulnya tidak ada kewajibanku untuk mengawasi cukup Feri yang jadi pengawas, tapi mengingat ini adalah proyek pertamaku jadi aku ingin semuanya sempurna. Alhasil setiap malam aku baru naik ke apartemen lebih dari tengah malam, dan siap-siap mendengar omelan Kang kopi.
“Di cerita Disney, Cinderella itu sampai jam 12 malam … ini ko’ lebih dari jam 12 malam.”
Saat itu aku baru naik ke atas sekitar pukul 1 malam.
“Hehehe, itukan di dongeng ini dunia nyata, Kang, Cinderella butuh kerja ekstra biar segera jadi putri.”
Ketika aku sudah menyebut mantraku biasanya dia hanya akan menghela napas panjang, tanda menyerah.
“Kalau kamu sakit bagaimana? Tidak ada orang yang akan merawat kamu. Mamah, Oka, Siska, aku, kami semua jauh dari sana.”
Dia memang menghela napas setelah aku mengucap mantra, tapi itu tak menghentikan omelannya. Sepertinya mantraku sudah mulai luntur.
“Iya, maaf.”
“Jangan minta maaf, ini bukan buat aku, tapi untuk kebaikan kamu.”
“Iya, Sayang, maaf … aku janji tidak akan mengulang lagi.” Aku benar-benar menyesal karena telah membuatnya khawatir. “Halo … jangan marah dong.” Aku melihat layar ponselku apa panggilannya sudah terputus? Tidak kok, masih tersambung. Kenapa dia diam saja? Aaah gawat dia benar-benar marah sepertinya.
“Halo, Kang?”
“Lagi gini saja manggilnya Kakang, Sayang, coba kalau hari-hari biasa… ckkk.”
“Hahaha ... Kang, kangen.”
“Enggak bakal ngaruh!”
“Hahaha … serius, Sayang.”
“Sudah tidur sana!”
“Hahaha … oke, kamu juga tidur ya … love you.”
“Love you too.”
Untung saja marahnya dia itu adalah marah yang beralasan dan tidak pernah melewati batas, hanya seperti itu dan ya, semua memang demi kebaikanku. Dan aku sudah tahu bagaimana menenangkannya yang sedang marah, karena aku juga tahu kalau kesalahanku bukanlah sebuah kesalahan fatal yang bisa membuatnya marah hingga berlarut-larut, jadi cukup mengakui kesalahan kita dan bilang maaf ditambah kata-kata mantra … Kakang, Sayang dan love you. Ya, sesederhana itu.
*****
Dua minggu sudah aku berada di Surabaya, yang menjadi PR ku satu persatu selesai. Relokasi dan display booth. Toko kini telah diubah menjadi lebih menarik sesuai dengan konsep yang waktu itu aku sarankan, dan itu cukup berhasil menarik pengunjung yang meningkat 60% yang secara otomatis meningkatkan penjualan 20% walau masih di bawah target.
Dari laporan hasil riset Willy, untuk penjualan electronic di wilayah Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya, pasar electronic dikuasai oleh Haryanto group.
“Sebetulnya barang-barang kita tidak kalah komplit dari Haryanto, tapi mereka memiliki kelebihan dari pelayanan yang sangat memuaskan. Karyawan mereka benar-benar men-treat pegunjung yang datang dengan sangat ramah, dan membuat pengunjung nyaman.”
Aku mencatat semua itu dalam buku agendaku.
“Bagaimana dengan harga?”
Willy menggelengkan kepala. “Mereka memiliki semuanya … pelayanan yang ramah, tempat yang nyaman, dan harga yang tak kalah dari pasar tradisonal.”
Bagaimana aku bisa mengalahkan raksasa electronic yang menguasai pasar daerah timur dengan toko yang bahkan tak semua orang mengetahuinya? Ini adalah PR terbesarku. Aku harus memutar otak agar minimal toko ini dikenal masyarakat luas, syukur-syukur kalau bisa mencapai target.
“Stickering bagaimana?”
“Sedang berjalan di pintu-pintu masuk area Superblock.”
Aku mengangguk mendengar jawaban Yudi kemudian menceklis tulisan stickering di antara list must to do (yang harus dilakukan) yang aku tulis di buku agenda.
“Kalau bisa lakukan di luar superblock juga.” Yudi mengangguk kemudian menuliskan dalam memonya. “Van, coba kamu sama Willy cek titik-titik strategis untuk pemasangan billboard, sebanyak yang kita bisa.”
Candra paling akan terkejut melihat biaya yang harus dikeluarkan untuk promosi, aku akan pikirkan nanti untuk menghadapi Candra. Segala sesuatu memiliki harga kan? Begitu juga dengan mempromosikan produk, apalagi ketika produk kita masih baru dan belum memiliki nama pasti memerlukan perjuangan dan harga sangat besar.
“Leen, bisa tolong buat surat undangan untuk meeting dengan store dan product?”
“Kapan Bu Na?”
“Lusa, jam 2 bisa tidak?”
“Nanti Aileen tanya sama Yuli dan Sonya deh, Pak Wira sama Bu Fenti lusa ada jadwal kosong jam berapa?”
“Kalau besok ada jadwal kosong, besok saja. semakin cepat semakin bagus.”
Aileen mengangguk mengerti.
“Sekarang saja kita meeting.” Aku terkejut mendengar suara seseorang yang baru masuk ke dalam kantor.
Candra berjalan di bagian terdepan, menyusul di belakangnya hampir semua manager dari semua departemen departemen.
“Saya tidak tahu kalau Bapak akan datang hari ini.” Aku berdiri menyambut Candra, karena bagaimanapun dia adalah atasanku di sini.
Candra menduduki posisi yang sama dengan Caraka, hanya di bidang berbeda. Caraka di perhotelan dan resort, sedangkan Candra di MHG retail. MHG retail sendiri membawahi beberapa departemen store, merk fashion ternama, lifestyle sampai restoran siap saji, dan kini merambah bidang electronic dengan E-Word.
Bisa dibayangkan sebesar kan apa MHG retail? Aku saja sampai membelalakan mata ketika mengetahui untuk pertama kalinya membaca company profile MHG retail. Jangan bandingkan dengan hotel dan resort karena itu malah akan membuat mata kita benar-benar bisa ke luar.
“Tidak, dengan senang hati saya mengundang Bapak untuk ikut bergabung bersama kami.”
“Jadi dimana kita akan meeting? Mau sambil makan?”
“Kalau sambil makan itu namanya ngobrol, Pak, bukan rapat.”
Candra terkekeh sambil mengangguk setuju. “Jadi di sini saja?”
Karena semua Manager ikut bergabung maka para staff terpaksa mengungsi dulu ke luar, untung saja kantor di sini tidak terdiri dari kubikel-kubikel, hanya meja dan kursi saja tanpa sekat, jadi kami bisa melakukan rapat darurat di kantor.
Aku melaporkan tentang program kerja yang sudah, sedang dan akan berjalan. Salah satunya aku meminta kepada departemen store untuk melakukan training bukan hanya tentang pengetahuan tentang produknya saja (product knowledge), tapi juga training tentang manner (tata kerama) kepada semua bagian yang berada di bawah store manager seperti SPG/M, GPU (goods pick up / pengambilan barang), tester and checker (bagian pengecekan dan percobaan produk), kasir, sampai customer service.
Dan untuk departemen product aku meminta mereka untuk menekan harga. Dan dengan departemen product inilah rapat berjalan sedikit alot karena bagaimanapun bagian product terhubung dengan bagian luar yaitu pihak brand.
“Saya tidak berharap kita bisa menekan harga sampai seperti yang ada di competitor apa lagi pasar tradisional, tapi minimal range (selisih) harganya tidak begitu jauh seperti sekarang, kalau kita bisa menekan harga jual, kita bisa gabungkan dengan berbagai promo lainnya yang akan menambah sales income kita.”
“Itu akan susah …”
“Tapi bisa diusahakan dulukan?” Candra memotong ucapan Bu Fenti. Manager Product.
Mata Candra menatap Bu Fenti tajam, walaupun umur Bu Fenti jauh di atas Candra, tapi aura kepemimpinan jelas terlihat dari sosok pria berkacamata itu. Tanpa banyak ucapan hanya dengan tatapannya saja cukup membuat Bu Fenti terlihat gugup dan akhirnya berkata,
“Bisa, Pak, saya usahakan.”
Candra mengangguk puas. Dan rapat pun berakhir yang artinya sebagian tugasku sudah selesai tinggal menunggu realisasinya saja.
“Sepertinya aku harus mengeluarkan biaya untuk promo lagi?” ucap Candra pelan ketika aku menemaninya berkeliling toko untuk memeriksa keadaan toko. Di depan Pak Wiradi mencoba menjelaskan tentang pencapaian department store saat ini.
“Hahaha, terakhir … hanya untuk billboard.”
Candra mengangguk. Kami kembali berjalan melewati beberapa booth yang cukup ramai dengan pengunjung. “Apa Raka tahu kalau saat ini aku di sini?”
“Tidak, bagaimana dia bisa tahu kalau aku saja baru tahu.”
Saat ini kami melewati bagian home theater dimana beberapa ruang dari kaca terlihat nyaman lengkap dengan sofa, tv layar datar, peralatan audio canggih dengan logo brand-brand ternama terpasang di atas dinding, dan di depan pintu kaca seorang SPM siap menyapa tamu yang datang.
“Kita coba ini.” Candra tiba-tiba masuk ke dalam home theater JBL, membuat aku dan Pak Wiradi saling pandang kemudian mengangkat bahu sebelum ikut masuk.
“Nyaman,” ucapnya sambil duduk di sofa berwarna putih depan smart TV yang tengah menayangkan sebuah film action dengan audio menggelegar seperti di dalam bioskop. “Sini!” Candra menepuk sofa di sebelahnya membuatku mengangkat alis sebelum akhirnya duduk di sampingnya.
Pak Wiradi dan SPM mengeluarkan semua kemampuan product knowledge mereka berusaha mengesankan Candra yang kini tengah mengutak atik ponselnya sambil sesekali menatap ke depan menyiratkan kalau dia mendengarkan mereka, sedangkan aku duduk dengan nyaman di atas sofa sambil menikmati film yang tayang.
“Na!”
Aku menoleh bersamaan dengan Candra yang menekan kamera ponsel. Senyum iseng seketika terbit sambil kembali mengutak atik ponselnya. Tak berapa lama ponselnya berdering dan senyum lebar kembali menghiasi wajah Candra.
Nama Raka menghiasi layar ponselnya, yang langsung di-reject oleh Candra. Beberapa kali Raka menghubunginya yang selalu dia tolak dengan senyum lebar. Sebelum akhirnya ponselku yang berbunyi memperlihatkan nama Kang kopi di layar.
“Halo.”
“Mana anak nakal itu?”
“Anak nakal?” Aku menatap Candra bingung yang malah tertawa terbahak sambil berdiri.
“Hahaha.”
“Candra. Kapan dia datang? Pokoknya jauh-jauh dari dia? Jaga jarak tiga meter!”
Aku tersenyum menyadari yang terjadi. Adik yang iseng dan kakak yang posesif.
“Aku tidak mungkin menjauhinya … dia adalah atasanku.”
Aku mendengar dia mengumpat di sana yang membuatku kembali tersenyum. Aku seperti memiliki bayi besar yang sangat pencemburu. Sedangkan orang yang dicemburui tengah serius berjalan kembali berkeliling toko sambil mendengarkan penjelasan Pak Wiradi, meninggalkanku di ruang home theater.
“Bukankah sudah ku katakan kalau sekarang standartku tinggi?”
“Maksudmu anak nakal itu berada di bawah standartmu?” suaranya kini telah terdengar tenang, membuatku tersenyum.
“Tentu saja bukankah kamu adalah Putra Mahkota sedangkan dia hanya Pangeran?”
Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirny tertawa.
“Kamu benar, dia di bawahku.”
“Hahaha.”
“Anak nakal itu membuatku sangat iri, ketika aku sangat merindukanmu, dia malah bisa bertemu denganmu.”
“Aku juga sangat merindukanmu.” Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku sangat merindukannya.
Belum satu bulan aku tinggal di Surabaya, dan selama ini pula aku disibukan dengan berbagai pekerjaan hingga terkadang membuatku lupa waktu dan larut dalam kesibukan, tapi percayalah di antar kesibukan itu aku sangat merindukannya. Ketika istirahat aku merindukan rooftop dan berharap dia menemaniku sesaat, memelukku memberi kekuatan.
Aaaah … aku sangat merindukannya.
*****