I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
81. Lelaki paripurna




Lelaki paripurna



Kirana, pov.


Rasa lelah selama beberapa hari ini benar-benar baru terasa sekarang sampai-sampai aku tak bisa menahan kantukku ketika menemani Caraka menyelesaikan pekerjaannya. Entah dari kapan aku mulai tertidur, aku sedikit tersadar ketika ku rasa seseorang membopongku dengan lembut, tapi mataku terlalu berat untuk ku buka, bibirku pun terasa kelu untuk berkata-kata, ku coba tersenyum sebagai ucapan terima kasih.


Caraka kini membaringkan tubuhku di atas kasur … aaah nyamannya, aku baru akan kembali terlelap ketika ku dengar dia memanggilku.


“Sayang.”


“Hmmm”.


Mataku masih berat, bibirku pun masih kelu, tapi telingku bisa mendengar semua ucapannya. Setiap kata yang dia ucapkan untuk melamarku membuat jantungku berpacu dua kali lebih cepat, kesadaranku pulih seutuhnya. Hatiku terenyuh ketika mendengarnya berbisik lirih kalau dia akan menungguku sampai kapanpun.


Perlahan mataku membuka setelah mendengar pintu kamar ditutup. Aku terdiam dengan perasaan bersalah mendera hatiku.


Dulu aku pernah berkata ketika ku tolak lamarannya, kalau aku yang akan melamarnya ketika aku sudah siap. Sekarang aku sudah mengantongi pengakuan dari berbagai pihak tentang kemampuku, juga pengakuan langsung dari sang Raja sebagai calon menantu Mahesa, hingga tak akan ada lagi yang berani memandangku dengan sebelah mata. Namun aku terlalu fokus pada masalah keluargaku sendiri, tanpa pernah memikirkan perasaannya.


Selama ini dia selalu berada di sampingku, mendukungku, melindungiku dalam berbagai keadaan. Dengan setianya menunggu dan menunggu ku dalam ketidak pastian.


Aku benar-benar merasa bersalah, seolah menjadi perempuan egois, yang hanya menyuruhnya menunggu dan menunggu.


Baiklah! Sekarang masalah keluargaku telah selesai. Aku pun telah bertemu dengan ayahku. Jadi apa lagi yang ku tunggu?


Dan keputusanku semakin bulat ketika subuh dengan Caraka berbisik lembut,


“Sayang … asholatu khairum minannaum.”


Masyaallah … ditambah lagi ketika membuka mata, aku disuguhkan oleh pemandangan luar biasa. Caraka terlihat luar biasa tampan dengan baju koko, wajah dan rambut yang masih basah oleh air wudhu membuatku diliputi perasaan bangga juga bahagia ketika menyadari pria tampan nan luar biasa ini adalah calon imam masa depanku.


Melihatnya duduk di atas sejadah menungguku, kemudian berdiri di depanku untuk menjadi imam shalatku, diakhiri dengan ku amini setiap doanya membuatku semakin mantap untuk menikahinya.


Bismillah! Akhirnya ku menunaikan janjiku untuk memberitahunya tentang kesiapanku menerima lamarannya.


***


“Berhentilah menatapku seperti itu,” ucapku sambil menyantap nasi goreng yang ku buat untuk sarapan kami berdua.


“Aku penasaran, apa yang membuatmu berpikir kalau sekaranglah waktunya?”


Aku hanya mengedikkan bahu sambil terus mengunyah.


Aku tak mungkin mengatakan kalau penampilannya yang paripurna tadi subuh ditambah cara dia membangunkanku menjadi faktor penentu kan?


Hei! Siapa juga yang tidak berkhayal memiliki suami soleh, tampan rupawan, mapan, dan dengan suaranya yang lembut dia berbisik membangunkan kita, “Sayang, asholatu khoirum minannaum.”


Beuh! Ingin rasanya ku rekam lalu ku jadikan alarm yang akan membangunkanku setiap subuh. Tapi … kalau aku bisa dibangunkan secara live setiap pagi, kenapa aku harus merekamnya segala? Belum lagi aku akan mendapatkan bonus senyuman dari wajah tampan nan paripurna plus morning kiss. Untung banyak bukan? … hehehe.


“Aku akan memberitahu orangtuaku untuk melamarmu secara resmi kepada orangtuamu.”


Aku mengangguk sambil meneguk air putih.


“Aku tergantung padamu. Apa mau di Surabaya atau menunggu ketika kamu sudah kembali ke Jakarta.”


Aku terdiam sambil membereskan piring bekas sarapan kami.


“Aku akan membicarakan ini dengan mamah. Aku sih maunya di Surabaya, tanpa melibatkan keluarga ayah, tapi apa itu bisa?”


Banyak yang harus aku pikirkan. Kalau aku ingin egois, aku ingin acara lamaran atau pernikahan nanti tanpa melibatkan keluarga ayah. Oke! ayah mungkin akan menjadi waliku, tapi ku harap hanya itu tak lebih. Bukannya aku egois atau tega, seolah aku tak memikirkan perasaan ayah. Justru karena aku memikirkan perasaan ayah.


Bisa dibayangkan kalau ayah dilibatkan dalam pernikahanku, melebihi dari hanya sebagai seorang wali? Istrinya ayah pasti akan ikut terlibat juga, bahkan mungkin keluarga besarnya ikut terlibat.


Mereka bukan siapa-siapa bagiku, jadi kenapa mereka harus ikut terlibat di acara sakralku?


Dan kalau misalnya ayah ikut duduk di kursi pelaminan mendampingi mamah, bagaimana dengan istrinya? Dan bukankah semua relasi ayah yang mengenal tante Mayang sebagai istri ayah akan curiga dan akhirnya ayah yang akan menjadi hot topik di kalangannya.


Atau kalau misalnya mamah mengalah dan meminta tante Mayang untuk mendampingi ayah di pelaminan, maka aku yang akan menolak keras idenya itu! Lebih baik aku tidak duduk di pelaminan kalau bukan mamah yang duduk di kursi orangtua.


Haaah … belum apa-apa sudah pusing!!!


Tapi … kepusinganku sedikit menguap ketika hari itu setelah menjemput mamah dari rumah sakit, Caraka mengajak kami untuk makan siang di salah satu restoran Bali yang ada di daerah Darmo yang menjadikan bebek sebagai menu utamanya.


“Saya bemaksud melamar Kirana secara resmi,” ucap Caraka ketika kami telah menyelesaikan makan dan aku tinggal menikmati jus apel ditambah jeruk nipis yang segar. “Sebelum saya meminta orangtua saya datang, saya ingin memastikan terlebih dahulu … acara lamarannya apa akan diadakan di Jakarta atau Surabaya.”


Mamah menatapku yang hanya terdiam.


“Terserah kalian saja enaknya di mana.”


“Jakarta saja.” Oka yang menjawab membuat kami menatapnya. “Aku harus segera pulang ke Jakarta mengurus SNMPTN.”


Oka memang trouble maker, tapi kalau soal kepintaran ... jangan ditanya. Dia adalah juara olimpiade matematika tingkat nasional selama tiga tahun berturut-turut mewakili sekolahnya, dan kini dia masuk ke dalam salah satu jajaran siswa berprestasi yang berkesempatan masuk perguruan tinggi negri lewat jalur undangan. Cukup membanggakan bukan?


“Kapan kamu pulang?” tanya Caraka.


“Kalau bisa secepatnya,” jawab Oka membuat kami kembali terdiam.


Ku sadari Oka terlihat kurang nyaman ketika saat bersama Anggi atau ayah. Dia tetap terlihat sopan, hanya saja dia bukan seperti Oka si trouble maker yang ku kenal. Dia lebih banyak diam dan menjawab pertanyaan Anggi atau ayah dengan singkat, padat, dan jelas, hingga tak ada lagi celah bagi mereka untuk mengajukan pertanyaan lagi.


“Hari minggu bisa?” Caraka kembali bertanya yang dijawab Oka hanya dengan diam. “Ini baru pemikiran saya saja.” Caraka kini menatap mamah sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


“Tadinya saya ingin mengadakan acara tunangan di Surabaya, jadi kita bisa mengundang teman-teman kantor Kirana yang di sini karena sepertinya akan sedikit kesulitan kalau mereka kita undang di acara pernikahan kami yang pasti akan diadakan di Jakarta. Sekalian juga sabtu besok adalah ulang tahun Kirana, jadi kita bisa mengadakan acara lamaran tepat di hari ulang tahun Kirana. Bukan pesta besar, karena saya tahu Kirana tidak menginginkan itu.” Aku tersenyum menatap Caraka yang sangat mengerti diriku. “Mungkin hanya acara makan-makan sederhana saja.”


Aaah, Caraka Benua, lelaki paripurnaku… dia memang paling mengerti dan memahamiku, dia telah memikirkan semuanya dengan matang. Aku bahkan lupa kalau sabtu besok aku genap berusia 26 tahun. Dengan banyaknya kejadian akhir-akhir ini mana sempat aku memikirkan ulang tahunku sendiri.


“Ka, kita pulang ke Jakartanya minggu saja ya?” Mamah menatap Oka yang terdiam. “Hari jumat mamah harus kontrol ke rumah sakit, sekalian kalau misalnya harus kontrol lagi kita minta rujukan ke rumah sakit di Jakarta saja.”


Oka masih terdiam terlihat berpikir. Aku tahu sepertinya Oka memiliki pemikiran yang sama denganku. Kami tak ingin keluarga ayah terlibat dalam acara ini. Cukup ayah saja, tapi tidak dengan yang lainnya.


“Sabtunya kita adakan acara ulang tahun teteh sekalian pertunangannya. Minggunya baru kita pulang ke Jakarta. Bagaimana?”


Aku lihat Oka sudah mulai goyah. Aku tahu dia paling tidak bisa menolak permintaan mamah.


“Perjanjian kita masih belaku ko, Ka, walaupun bukan kamu walinya,” ucap Caraka sambil tersenyum menggoda, membuat Oka tersenyum samar sebelum akhirnya mengangguk setuju.


“Dasar matre!” Ku lempar tisu yang malah membuat Oka mendengus tertawa, tapi kemudian dia kembali terdiam terlihat melamun.


“Kenapa? Lagi mikirin jenis dan tipe apa?” tanyaku yang membuatnya kembali tertawa.


“Hahaha … harus dong, buat kuliah nanti.”


“Pakai si merah saja, lumayanlah cicilan tinggal 3 kali lagi bisa over credit, nanti kakang yang bayar ke teteh.”


“Rugiii!!!”


“Hahaha.”


Oka … aku tak tahu apa yang ada dipikirannya, tapi sedikit banyak aku tahu apa yang dia rasakan. Bingung … mungkin itu yang dia rasakan, karena aku pun merasakan hal yang sama.


Akan tetapi aku sangat mengenal bagaimana adikku ini, dia adalah pria yang tangguh. Cepat atau lambat aku yakin dia pasti akan bisa menerima semuanya.


Ku lihat Anggi yang duduk di samping mamah di depanku. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya ketika mengetahui kalau Caraka akan melamarku secara resmi, hanya untuk memastikan perasaannya. Entah Anggi yang pintar menyembunyikan perasaannya atau mungkin sekarang dia tidak merasakan apapun lagi kepada Caraka, karena aku tak melihat reaksi apapun darinya yang kini tengah tersenyum menatapku.


Aku tak tahu … tapi ku harap, dia benar-benar sudah bisa melupakan caraka dan hanya mengangapnya sebagai kakak ipar saja.


*****