
Bersua Baji dengan Matan
Perlakuan Caraka padaku pagi ini sedikit banyak membantuku. Ya, walaupun itu seperti pengalihan isu karena semua orang seperti melupakan kejadian dua hari lalu, dan lebih tertarik untuk membahas hubunganku dengan Caraka. Tak sedikit yang menatapku iri, menilai dari atas sampai bawah sambil mencibir seolah aku benar-benar tak pantas untuk Pangeran. Namun tak sedikit pula yang mendukung hubungan kami, seperti Shanty, dan rekan-rekan di front office lainnya.
Ternyata masuk kerja tidak sehoror yang ku bayangkan. Aku pikir aku akan mendapat tatapan iba atau bahkan mungkin jijik, tapi ternyata tidak. Bahkan ketika briefing semua bagian front office memujiku karena berani melawan dua orang yang tidak memiliki etika itu. Mereka bertepuk tangan dengan meriah membuatku dilanda haru.
Dika, Pak Edi dan rekan-rekan pria semua meminta maaf karena mereka tidak ada di sana saat itu untuk melindungi ku, yang malah memancing godaan dari rekan-rekan yang lain.
“Kak Kirana tidak perlu Kak Dika, Pak Edi dan yang lainnya,” ucap Shanty membuat semua orang mulai tersenyum menggoda.
“Apalah arti kami yang hanya udang di balik bakwan dibanding Bos.”
“Hahaha.”
“Tuuuhkan, Shanty sudah curiga kalau Mas Bos sama Kak Kirana itu ada apa-apanya waktu di kantin waktu itu!”
“Jadi yang sering kirim-kirim pesan ketika kamu jaga di depan itu … Pak Benua?”
Sambil meringis aku mengangguk menjawab pertanyaan Pak Edi yang langsung terlihat terkejut dengan mulut menganga.
“Jadi yang kamu bilang hari itu benar, kalau kamu itu kekasihnya Mas Bos?” Kali ini Olive bertanya penasaran, membuatku tersenyum sambil mengangguk.
“Pantas saja Mas Bos sampai ngamuk.”
“Mas Bos keren banget deh!”
“Sayang, sayang! Kamu tidak apa-apa? Kamu aman sekarang, ada aku …. Aaaahhhh!!!”
Shanty berusaha menirukan Caraka membuat semua orang bersorak heboh memuatku tertunduk sambil aku menutup wajahku malu.
“Tapi Kak Kirana juga keren!” seru Shanty dengan mata berbinar dan mengacungkan dua jempolnya.
“Iyaaa … cowok kurang ajar seperti mereka memang harus dibanting, ditendang terus diinjek!!!” Olive dengan gemas menginjak lantai seolah tengah menginjak seseorang. Semua tertawa sambil mengangguk setuju.
Keputusanku untuk kembali kerja ternyata tidak salah, berada di sekeliling orang-orang yang mendukung kita seolah kembali menyuntikkan kepercayaan diriku. Sekali lagi aku harus bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyangiku dan sangat luar biasa.
Mengenai sebagian rekan perempuan yang menatapku dengan mencibir menghina karena hubunganku dengan Caraka dan menganggapku tidak pantas untuk seorang Carak Benua, aku hanya akan mengabaikannya (untuk saat ini) pikiranku sendiri sudah pusing dengan kasus kemarin, aku tak ingin menambah pikiranku dengan hal-hal tak berguna lainnya.
*****
Author, pov.
Seperti yang Caraka duga hanya tinggal menunggu waktu untuk Big Boss mengetahui tentang kasus yang dialami Kirana. Jadi dia tak terkejut lagi ketika sore dia mendapat panggilan untuk datang ke ruang Komisaris, tapi yang membuatnya terkejut adalah Kirana ada di sana berdiri di depan meja sekretaris komisaris yang memandangnya dengan pandangan merendahkan, terlihat mereka sedang beradu argumen.
“Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?” Caraka dengan cepat berjalan mendekati Kirana yang seketika lega melihat pria itu.
“Big Boss menghubungiku dan memintaku untuk datang ke sini.”
“Kanapa kamu masih berdiri di sini?”
Kirana menghela napas, matanya melirik sang Sekertaris yang kini terlihat terlihat gugup.
“Dia tidak percaya kalau Big Boss yang menghubungiku langsung.”
“Bapak tidak memberitahu saya kalau ada janji temu dengan … dia.” Sekartaris yang terlihat angkuh dengan blazer biru tua itu mencoba mencari alasan.
“Yang Bos di sini itu ayah saya bukan kamu, jadi ayah saya tidak perlu melaporkan atau izin padamu dengan siapa dia akan bertemu,” ucap Caraka membuat pias wajah sang sekertaris. “Jadi kenapa tadi kamu tidak segera menghubungi Bos mu untuk menanyakan apa benar dia ada temu janji dengan NONA KIRANA, atau tidak?”
Si Sekertaris terlihat menelan ludahnya mendengar suara tegas Caraka.
“Sa-saya … akan bertanya pada Bapak.”
“Tidak perlu,” ucapan Caraka menghentikan tangan si Sekretaris yang hendak meraih telepon. “Sayang, kita masuk sekarang … Papah pasti sudah menunggu kita.” Caraka merangkul pinggan Kirana menuntunya menuju pintu dengan papan nama Rudi Mahesa, dan Commissioner di bawah nama Big Boss, di sampingnya terukir emblem group Mahesa, berupa M besar dalam lingkaran.
Tok – tok – tok.
“Masuk!” Terdengar suara Rudi Mahesa dari arah dalam.
Di dalam ruangan Rudi Mahesa tengah berbicara dengan Dimas.
“Kalian berdua duduk, ada yang harus kita bicarakan.”
Kirana dan Caraka saling tatap, kemudian duduk di sofa tamu depan Dimas, sedangkan Big Boss seperti biasa duduk di singgasananya.
Ruangan Rudi Mahesa, dua kali lebih besar daripada ruangan Caraka, dengan sofa tamu yang dilapisi kulit berwarna coklat tua yang terasa nyaman, interior ruangan yang terkesan elegan dan mewah, dinding kaca raksasa memerlihatkan pemandangan Kota Jakarta di atas ketinggian lantai 14, dimana dari jauh terlihat Monas berdiri dengan megah, hampir sama dengan pemandangan di rooftop, tapi tentu saja di sini lebih nyaman dengan udara sejuk dari pendingin dan pewangi ruangan.
“Saya sudah mendengar apa yang terjadi denganmu beberapa hari kemarin … apa kamu tidak apa-apa?” Rudi Mahesa menatap Kirana yang duduk dengan sedikit tegang di samping Caraka
“Iya, saya baik-baik saja.”
Kirana menatap Rudi Mahesa sebelum akhirnya dia mengangguk mengerti.
“Tapi, kita akan sedikit kesulitan untuk memenangkan kasus ini,” lanjut Rudi Mahesa membuat Kirana menatapnya bingung.
Kirana mengalihkan tatapannya kepada Caraka mencari jawaban, tapi Caraka hanya terdiam dengan mata memancarkan amarah.
“Kenapa? Bukankah ada rekaman CCTV, dan juga saksi? Rekanku yang bertugas bersamaku bisa menjadi saksi bagaimana dia melakukan pelecehan secara verbal kepada kami.”
“Kita hanya memiliki satu orang saksi,” ucap Dimas.
Pria berkaca mata yang masih terbilang muda, mungkin hanya beberapa tahun di atas Caraka, tapi kemampuannya dalam bidang hukum sudah tidak diragukan lagi.
“Sudah diatur dalam KUHAP jumlah saksi minimal adalah dua orang, dan CCTV hanya bisa menampilkan visual tapi tidak dengan audio, untuk bukti pelecahan secara verbal itu adalah bukti yang lemah,” lanjut pria berkaca mata itu membuat Kirana lemas.
“Jadi maksudnya mereka akan bebas begitu saja, setelah apa yang mereka lakukan pada saya?”
“Tidak, mereka tidak akan bebas begitu saja,” ucap Caraka sambil menggenggam Kirana mencoba memberi kekuaatan kepada Kirana yang terlihat marah juga putus asa.
“Mengenai saksi tambahan kita bisa mencarinya,” ucap Rudi Mahesa membuat Kirana kembali menatapnya dengan sedikit harapan. “Mungkin ada salah satu tamu yang melihat dan mendengar tentang apa yang terjadi, dan bersedia menjadi saksi.” Kirana mengangguk dengan harapan yang kembali hadir. “Tapi kita jangan terlalu berharap dengan itu, dan … apa kamu tahu siapa yang akan kamu hadapi nanti?”
Kirana terdiam, alisnya berkerut berpikir. Kenapa dia harus mengetahui siapa para baj*ngan itu? Yang Kirana tahu mereka adalah para baj*ngan yang hanya berani merendahkan kaum perempuan dengan aksi bejat mereka.
“Hadian Izam Noor … kamu pernah mendengarnya?”
Kirana menggelengkan kepala, mendengar nama yang baru saja dia dengar.
“Dia adalah salah satu orang yang cukup berkuasa, dan … salah satu dari baj*ngan itu adalah putranya.”
Seketika Kirana merasa lemas, harapan yang sempat muncul kembali dihempaskan hingga dasar. Ketika kekuasaan dan uang berperan di sini, tak perlu pengadilan untuk mengetahui akhir dari kasus ini.
“Pengacara mereka sudah mengajukan penangguhan penahanan dengan memberikan uang jaminan,” ucap Dimas yang mendapat anggukan dari Rudi Mahesa.
“Sial!” umpat Caraka dengan amarah menggebu.
“Kirana, semua tergantung padamu … apa kamu mau melanjutkan kasus ini hingga ke pengadilan, tapi dengan resiko kita akan kalah di sana karena kurangnya bukti dan saksi.”
Kirana terdiam berpikir, walaupun dia tahu akan kalah tapi setidaknya dia ingin berjuang terlebih dahulu.
“Apa kita benar-benar akan kalah?” tanya Kirana dengan mata menatap Dimas, berusaha mencari sedikit harapan di sana.
“Selain kurangnya bukti dan saksi … jujur saja di negara kita pelecehan secara verbal belum diatur secara spesifik dalam perundang-undangan, jadi kita hanya bisa melakukan pendekatan perundang-undangan konsepsual dan kasus.”
“Tapi dia bukan hanya melakukan pelecehan secara verbal! Dia … dia …” Tubuh Kirana kembali bergetar mengingat kejadian dua hari lalu.
“Saya paham, tapi saya mohon maaf … itu hanya bisa diartikan sebagai pelecehan tingat rendah.”
“Tingkat rendah? Bagaimana bisa!”
Kirana benar-benar tidak habis pikir, bagaiman bisa ada kata hanya atau cuma dalam sebuah kejahatan? Ya mungkin benar bagi orang yang melihat, mereka bisa saja berkomentar … hanya dicium doang, lebay banget sih! Atau cuma dipegang doang sampai lapor polisi … tapi bagi para korban tidak ada kata cuma atau hanya, tetap saja itu membekas dan bisa menjadi sebuah trauma.
“Dan kita jangan lupakan siapa orang yang berada di belakang mereka.”
“Apa sebegitu hebatnya orang-orang dengan kekuasaan dan materi yang berlimpah, hingga bisa lepas dari jerat hukum?” Kirana sudah benar-benar purus asa, rasa percaya diri yang tadi pagi dia miliki kini seolah kembali lagi ke titik nol ketika menyadari kekalahannya bahkan sebelum bertarung.
“Saya cukup mengenal siapa Hadian.” Rudi Mahesa memecah keheningan membuat Kirana mentapnya. “Dan bagi orang-orang yang mengenalnya mendapatkan hukuman dari Hadian lebih menakutkan daripada mendapatkan hukuman pengadilan, dan itu juga berlaku sama bagi anak-anaknya”
Kirana mengerutkan alis mendengar ucapan Rudi Mahesa.
“Saat ini Hadian pasti sudah mendengar tentang kasus putranya, tapi dia belum mengetahui siapa korban yang sebenarnya.”
Kirana semakin tak mengerti dengan ucapan Rudi Mahesa yang terlihat santai. Rudi Mahesa terdiam beberapa saat, matanya menatap Kirana dan Caraka yang terus memberi gadis itu kekuatan.
“Kirana, keputusan ada di tanganmu … apa kamu akan melanjutkan kasus ini ke pengadilan dengan kemungkinan besar kalah karena kurangnya saksi dan bukti, atau … kamu percayakan mengenai ini pada saya dan Caraka.”
Kirana terdiam menatap Caraka dan Rudi Mahesa bergantian, mata mereka menyorotkan keyakinan.
Dia berpikir beberapa saat ... ketika hukum tak bisa menjerat mereka karena kurangnya saksi dan bukti, apa kini saatnya dia meyerahkannya kepada orang yang mampu?
Dia akan memaafkan orang itu seandainya orang itu hanya mencuri uang, ponsel atau bahkan mungkin si merah motor kesayangannya, karena itu semua bisa dia ganti dengan yang baru. Tapi ketika harga diri dan kehormatan yang direnggut, kemana dia akan mencari penggantinya? Tidak ada yang menjualnya, bahkan mimpi buruk itu akan terus mengikutinya sepanjang hidupnya.
Bagaimanapun mereka harus mendapat balasannya … jadi lebih baik dia menyerahkan semuanya kepada yang lebih mampu. Bukankah seekor singa lebih baik dilawan oleh singa lagi?
Bersua baji dengan matan … kuat dilawan kuat.
*****
Note :
1. Batas minimal alat bukti saksi sekurang-kurangnya dua orang saksi karena kalau satu orang saksi bukan merupakan saksi. Sesuai dengan asas unus testis nulus testis (vide, pasal 169 HIR/306 RBG).
2. Keterangan seorang saksi saja belum dianggap sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa atau unus testis nulus testis (Pasal 185, ayat 2 KUHAP)