
The real truth (kebenaran sesungguhnya)
Andi Santoso, pov.
Masih ada kekecewaan yang terlihat jelas dari sorot mata putriku. Aku bisa memaklumi itu. Kesalahanku dua puluh tahun ini tentu saja tak akan terhapuskan hanya dengan perkataan maaf. Ku akui ini semua salahku, karena ego dan harga diriku.
Sebetulnya aku masih merahasiakan alasan yang sebenarnya aku menceraikan ibunya …
Bisnisku tidaklah gagal, buktinya setiap bulan aku masih bisa mengirimi mereka uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketika keuntunganku dirasa cukup untuk membayar biaya kompensasi pembatalan kontrak Mega, aku telah mengurus semuanya dan bersiap ke Jepang menjemput mereka. Namun takdir berkata lain … aku mengalami kecelakaan cukup parah di proyek hingga aku harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan untuk menjalani beberapa kali operasi perbaikan tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan pada kakiku.
Aku mengalami kelumpuhan karena terjatuh dari ketinggian lantai tiga gedung yang sedang ku bangun membuatku hanya terbaring di atas tempat tidur selama beberapa bulan berharap ada keajaiban untukku bisa kembali berjalan seperti dulu agar aku bisa segera menjemput mereka ke Jepang.
Aku melarang keluargaku menghubungi Mega, aku tak ingin membuatnya khawatir, tapi aku tak melarang mereka memberi kabar kepada orangtua Mega. Aku memang ingin bertemu dengan ayahnya Mega untuk meminta maaf karena meninggalkan putri dan cucunya di Jepang.
Ayah mertuaku, bapaknya Mega yang mendapat kabar tentang kecelakaanku datang untuk menjenguk. Ketika bertemu dengannya aku menangis meminta maaf karena meninggalkan putri dan cucunya di Jepang dan belum bisa menjemputnya karena kondisiku seperti itu, namun yang ku dengar dari mulut mertuaku saat itu semakin membuatku terpuruk.
“Ceraikan putriku!” Bagai tersambar petir aku hanya bisa terbelalak tak percaya dengan apa yang ku dengar. “Mega masih muda, dia pintar dengan masa depan cerah. Dia berhak bahagia.”
Aku hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa, terkejut, tak percaya kalau bapak mertuaku akan berkata seperti itu.
“Mega tak akan meminta harta gono gini apapun, aku akan pastikan itu. Mengenai hak pengasuhan anak … kamu bisa mengasuh Bi, dan Kirana diasuh oleh Mega.”
Mulutku benar-benar kelu, hatiku sangat sakit mendengar ucapan itu.
“Kamu tidak ingin menjadi beban bagi Mega kan?” Saat itu aku hanya bisa mengangguk. Aku memang tak ingin menjadi beban siapapun. “Aku mendengar kabar kalau kamu lumpuh, apa itu benar?” aku hanya bisa kembali mengangguk. “Kalau seperti itu kamu hanya akan menjadi beban bagi Mega. Ini mungkin hukuman yang Allah berikan kepadamu karena menelantarkan istri dan anakmu.”
Aku benar-benar tak bisa berkata-kata, kakiku yang lumpuh tapi seluruh tubuhku yang mati rasa.
“Pikirkan baik-baik. Kalau kamu menyayangi istri dan putrimu dan tak ingin menjadi beban bagi mereka … ceraikan Mega, biarkan dia bahagia.”
“Tidak perlu dipikirkan!”
Aku semakin terkejut ketika bapak tiba-tiba masuk dengan wajah merah padam menahan amarah. Saat itu di dalam ruangan seolah terjadi adu harga diri dua keluarga.
“Pak.” Aku coba menahan amarah bapak.
“Anak saya akan menceraikan putri anda seperti yang anda harapkan.” Bapak tak menggubris seruanku yang mencoba menghentikannya. “Anda tidak perlu khawatir, pengacara saya yang akan mengurus semuanya.”
Saat itu duniaku benar-benar hancur, karena ku tahu bapak akan serius dengan ucapannya apalagi mengingat bapak memang pada awalnya tidak merestuiku dan Mega karena mitos dan itu seolah menjadi senjatanya untuk menyerangku.
"Wes a opo seng bapak omong... Sakjane bien awakmu ngandel opo seng d omong bapak, Ojo kawin ambek arek iku! Ancen koen keras kepala (apa bapak bilang, seharusnya kamu mendengarkan bapak waktu itu. jangan menikahinya! Dasar anak keras kepala), sekarang ceraikan wanita itu!”
Setelah hari itu bapak langsung menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraianku yang masih tak bisa bergerak di atas tempat tidur. Awalnya aku menolak dan berusaha mempertahankan pernikahannku, namun meliihat kondisi kakiku yang tak ada perkembangan sama sekali juga teringat ucapan bapak mertua kalau aku hanya akan menjadi beban membuatku dengan berat hati menandatangani surat gugatan cerai.
Setelah perceraian itulah yang membuat hidupku benar-benar terpuruk. Kaki yang lumpuh dan putusan cerai membuat ku tak lagi memiliki semangat hidup. Dengan kondisiku yang benar-benar terpuruk, uang modal usahaku habis untuk biaya operasi dan pengobatan membuat proyekku terbengkalai dan mengalami kerugian cukup besar bahkan beberapa vendor sempat akan menuntutku. Tak memiliki lagi dana untuk menutup kerugian itu mau tidak mau akhirnya orangtuaku menjual asset mereka untuk menutupi semua kerugianku.
Yang menjadi penyemangatku hanyalah Bi yang saat itu telah berganti nama menjadi Anggi, juga Mayang yang selalu merawat dan berada di sampingku. Melihat Bi dan orang-orang terdekatku memberiku semangat membuatku memutuskan membawa Bi pindah ke Surabaya untuk menjalani berbagai macam terapi agar bisa kembali berjalan dan bisa membuktikan kepada orang-orang yang telah menatapku sebelah mata kalau aku tak akan menjadi beban siapapun.
Namun Bi yang sudah dekat dengan Mayang tak ingin jauh darinya, dan atas saran dari kedua keluarga akhirnya kami menikah. Jangan dikira aku dengan gampang menikahi Mayang. Tidak! Aku sempat menolak karena bagaimana pun saat itu aku baru bercerai dari Mega dan tak bisa dipungkiri aku masih mencintainya. Mayangpun mengetahui hal itu, tapi dia tidak keberatan karena dia telah sangat menyayangi Bi, dan ternyata diam-diam dia mencintaiku.
Awalnya aku sedikit sulit menerima Mayang sebagai seorang istri, tapi seiring berjalannya waktu dan melihat bagaimana dia dengan tulus mencintaiku dan Bi membuatku akhirnya menyerah. Mereka berdualah menjadi penyemangatku untuk kembali bangkit.
Kurang lebih setahun aku menjalani terapi, walaupun lambat dan penuh kesakian perlahan kakiku bisa digerakkan, sampai akhirnya aku bisa melangkah satu dua langkah, kemudian berjalan dengan bantuan tongkat dan akhirnya bisa lepas dari tongkat dan bisa kembali bisa berjalan normal.
Akupun perlahan kembali memulai bisnisku, tapi aku harus memulainya dari nol. Akibat kegagalan proyek terdahulu tak ada lagi yang percaya padaku, tapi itu ternyata memberiku jalan lain untuk memulai bisnis. Aku mulai melakukan jual beli rumah. Awalnya aku hanya membeli satu rumah yang kemudian akan ku renovaasi untuk dijual kembali, perlahan dari satu rumah akhirnya bertambah menjadi dua, dan terus meningkat hingga aku bisa mengembalikan asset orangtuaku, dan sisa dari keuntungan itu ku jadikan modal awal untuk memulai bisnis propertiku.
Karena rasa rindu dan mencoba menebus rasa bersalah ku cari keberadaan Kirana. Hari itu dengan percaya diri aku datang ke Bekasi selain untuk mencari Nana, aku juga ingin menunjukan kepada bapaknya Mega kalau aku bisa bangkit dan dia salah dengan menganggapku hanya menjadi beban bagi putrinya. Saat itu aku tak peduli kalau Mega sudah menikah lagi atau bagaimana, karena keinginanku hanya untuk bertemu Kirana.
Namun yang kutemui lagi-lagi adalah bapak mertuaku yang memerlihatkan foto Kirana dengan anak kecil laki-laki tampan dengan kulit kulit putih yang sedang tersenyum hingga memerlihatkan matanya yang hanya tinggal segaris.
“Mega sudah bahagia di Jepang bersama anak-anaknya.”
Saat itu mataku hanya fokus menatap wajah gadis kecil dengan rambut sebahu dengan tengah bermain ayunan."
“Kamu tak perlu lagi mencari anakmu.”
“Kirana adalah putri saya. Saya berhak mencari dan bertemu dengannya.”
Bapaknya Mega terdiam menatapku yang sedikit emosi.
“Anakmu pasti akan mencarimu. Bukankah dia perlu wali untuk menikah nanti? Aku berjanji, suatu saat nanti anakmu yang akan mencarimu. Sampai saat itu tiba sebaiknya kamu fokus kepada kehidupan barumu saja dan juga Bi, jaga dia baik-baik.”
Mantan mertuaku itu terdiam sesaat, dia menghembuskan asap putih rokok sebelum kembali berkata,
“Kalau kamu menepati janjimu untuk merawat Bi dengan sangat baik, aku pun akan menepati janjiku, suatu saat nanti … kamu akan kembali bertemu dengan anak-anakmu.”
Saat itu aku hanya terdiam, tak memahami kata anak-anak dari ucapan beliau, aku berpikir itu mengacu kepada Kirana dan Bi, namun kini ku sadari kalau itu adalah Kirana dan Oka.
Beberapa bulan kemudian aku mendengar kalau beliau meninggal, dan rumah yang di Bekasi akan di jual karena putrinya akan kembali ke Jepang. Dan akulah yang membeli rumah itu dengan harga di atas harga pasar dengan harapan itu akan cukup untuk menjadi bekal Kirana, sedangkan rumahnya telah ku renovasi dan selama ini aku sewakan yang uangnya aku masukan ke dalam rekening khusus untuk Kirana, dan rumah itupun nantinya aku akan berikan untuk Kirana.
Setiap tahun aku menghitung umur Kirana, sudah sebesar apa dia? Apa dia bahagia? Apa ayah sambungnya menyayangi dia seperti Mayang menyayangi Bi? Ketika umurnya menginjak usia 23 tahun yang ku rasa cukup untuk menikah, dengan harap cemas setiap tahun aku menunggunya, berharap janji kakeknya akan ditepati dengan mengirim dia untuk memintaku menjadi walinya, karena aku telah menepati janjiku untuk tidak mencarinya dan merawat Bi dengan sangat baik.
Aku telah berjanji pada diriku sendiri, aku tak akan menghalangi siapapun lelaki yang dipilih anakku sebagai calon suaminya. Dari suku apa, dari tingkat sosial seperti apa, aku tak peduli yang aku pedulikan adalah dia menyayangi putriku dan tidak akan melakukan kesalahan yang dulu ku buat.
Sampai saat ini aku tak tahu alasan bapaknya Mega menyuruhku menceraikan Mega. Namun aku berpikir mungkin itu bentuk kekecewaan beliau terhadapku karena meninggalkan Kirana dan juga Mega yang saat itu tengah hamil. Memisahkan aku dengan mereka dan merahasiakan tentang status Oka seolah menjadi hukuman untukku karena beliau tahu bagaimana keluargaku berharap akan cucu lelaki, dan juga tahu bagaimana aku sangat menyayangi Kirana, putri sulungku.
Tentang kebenaran ini biarkan hanya menjadi rahasiaku, baik Mega atau Kirana tak perlu mengetahui alasan yang sebanarnya. Aku tak ingin gambaran ayah dan kakek yang selama ini menjadi kebanggan mereka menjadi hancur, lagi pula beliau sudah meninggal. Biarkanlah ini menjadi tanggung jawabku sendiri … cukup mereka marah dan kecewa padaku saja, karena memang semua berawal dari kesalahanku dan keluargaku.
“Kami tidak pernah kembali ke Jepang.” Aku menatap Kirana tersadar dari lamunan masa lalu. “Setelah kakek meninggal mamah memang mendapat tawaran untuk kembali ke Jepang karena itulah rumah yang di Bekasi di jual, tapi kemudian mamah mendapat tawaran di Jakarta dan mamah lebih memilih untuk mengambil yang di Jakarta. Mamah juga tidak pernah menikah dengan siapapun, jadi ayah jangan ragu ... Oka benar-benar anak ayah.”
Suara Kirana masih sarat akan kekesalan, jadi aku hanya bisa terdiam tak ingin membuatnya bertambah kesal.
“Oka ... apa dia tahu tentang ayah?”
Kirana menatapku kemudian mengangguk. “Iya, tidak ada yang mamah sembunyikan dari kami, Oka berhak tahu siapa ayahnya. Tidak seperti ayah yang menyembunyikan kami dari Bi.”
Aku hanya bisa mengela napas pasrah mendengar kata-katanya, namun tanpa terasa aku tersenyum merasa bahagia karena putra yang baru ku ketahui keberadaanku ternyata mengetahui tentang aku.
“Ayah janggan merasa bahagia dulu,” ucap Kirana membuat ku manatapnya. “Oka tidak akan semudah itu menerima ayah.” Senyumku langsung hilang mendengar ucapannya, berganti denggan sebuah deheman.
Aaah … Kirana Az Zahra, putri kecilku yang memang secerdas ibunya. Sedari dulu dia paling pintar bermain kata-kata. Dan kini gadis kecil yang cerewet itu sudah tumbuh menjadi gadis cantik, kecerdasannya semakin terlihat dari cara bagaimana dia bertutur kata dan bertindakan. Tak ada teriakan emosi, walaupun aku tahu seberapa marah dan kecewanya dia selama ini, terlihat dari sorot mata dan juga air mata yang terus saja mengalir, tapi dalam keadaan seperti itu dia masih bisa menjaga emosinya dengan sangat baik.
“Nana juga belum bisa memaafkan ayah sepenuhnya. Nana masih belum bisa menerima alasan ayah.” Hatiku mencelos mendengar ucapannya, tapi ini adalah konsekuensi yang harus aku terima. “Nana akan benar-benar memaafkan ayah kalau ayah sudah membereskan masalah ini … tentang Bi, Oka, juga mamah.”
“Ayah berjanji akan menyelesaikan masalah ini.”
Tentu saja aku harus menyelesaikan masalah ini. Sudah sangat lama aku menunda menyelesaikan masalah ini hingga berakhir seperti ini. Aku tak boleh menundanya lagi, dan satu lagi yang harus aku selesaikan dengan sangat baik.
Dulu aku tak ada di sisi mereka ketika para baj*ngan itu melukainya. Namun kini berbeda … ada aku di sini yang akan melindungi mereka.
*****