
In the right place at the right time (Di tempat yang tepat, di waktu yang tepat)
Acara penyerahan santunan secara simbolis telah dilakukan. Acara kini berlanjut ramah tamah, meja prasmana juga beberapa stand makanan di buka serempak yang langsung diserbu tamu undangan. Home band mulai melantunkan lagu-lagu pilihan. Kata Aileen yang menjadi panitia, makanan sengaja dilakukan secara prasmanan biar orang-orang bisa berbaur dan tidak hanya duduk canggung di kursi menunggu pelayanan datang membawakan makanan. Dan sepertinya itu berhasil, orang-orang kini mulai berbaur berbincang, sedangkan para tamu VVIP masih duduk di kursi masing-masing dan pelayan dengan sigap menyajikan makanan di meja mereka.
Sedangkan aku tengah dikerumuni oleh Ivan, Feri, Aileen, Yuli, Pak Wiradi dan beberapa orang E-World yang penasaran dengan hubunganku dengan Caraka.
“Jadi yang Aileen ketemu di pasar Blauran itu … putra sulungnya Mahesa?”
“Yang guanteng-teng-teng itu?”
“Yang makan lontong mie?”
Aku hanya bisa tertawa sambil mengangguk.
“Waaaah … Bu Na.”
“Hahaha.”
“Pantas saja … aku sudah curiga. Setingkat Manager tapi tinggal di atas terus punya sopir pribadi? Aku pikir Mbak ini anaknya orang kaya, tahunya … calon menantu yang punya perusahaan.”
“Hahaha.” Aku kembali tertawa mendengar ocehan Ivan yang masih belum percaya.
“Bu Na …” Aku menatap Aileen yang kini termangu menatap tanganku. “Ini ...” Aileen kini mengangkat tanganku, memerhatikan cincin yang tersemat di jari manis. “… cincin pertunangannya?”
Semua orang kini menatap cincin di jariku.
“Bukan, ini … hadiah ulang tahun.”
Mata semua orang kini terbelelak menatapku.
“Hadiah ulang tahun?”
“Cincin berlian?”
“Aaaah … Bu Na, mauuu!” rengek Aileen dan Yuli membuatku tertawa melihat mereka.
“Permisi … apa saya mengganggu?”
Semua orang kini menatap Caraka yang ikut bergabung dengan kelompok kami.
“Tidak!” seru semuanya seperti anak-anak sekolah yang menjawab gurunya serempak.
“Sayang, kamu harus mengenalkanku kepada rekan-rekanmu.”
“Oh iya, lupa! Hehehe.”
Caraka tersenyum sambil mengelus kepalaku membuat Aileen dan Yuli mengeluarkan suara.
“Aaaaah …!” Yang langsung membuat semua tertawa.
"Bajunya couple!"
Lagi-lagi Aileen dan Yuli heboh setelah menyadari bajuku dan Caraka sarimbit, membuatku kembali tertawa karena dapat godaan dari yang lainnya.
“Ini Pak Wiradi, beliau adalah Manager store E-World, ini …” aku mulai mengenalkan mereka semua mengalihkan perhatiian mereka dari baju dan cincin yang ku kenakan, dan Caraka menyalami semuanya dengan ramah.
“Terima kasih karena telah bekerja keras selama ini,” ucap Caraka sambil menatap semuanya. “Dan selamat karena telah berhasil mencapai target, insyaallah insentif dan bonus akan turun secepatnya.”
Seruan bahagia terdengar dari semunya.
“Sayang, kita harus keliling untuk mengenal yang lainnya. Papah masih harus menjamu tamu-tamunya, jadi kita yang mewakilinya.”
Aku menatap ke meja VVIP dimana Big Boss dan Ibu Suri tengah bercengkarama dengan para tamu VVIP.
“Aku juga?”
“Iya, kamu mewakili Candra kali ini.”
Akhirnya aku mengangguk, dengan menggandengan tangan Caraka kami berdua berkeliling menyalami karyawan Mahesa group, seperti tadi Caraka juga mengucapkan terima kasih untuk kerja keras mereka. Caraka juga mengenalkanku sebagai wakil Candra yang tidak bisa hadir hari ini.
Sampai akhirnya kami berada di sekumpulan orang dimana Elvan berada di antara mereka.
“Elvan, saya GM SUHO.” Elvan mengenalkan diri serperti yang lainnya disambut senyuman ramah dari Caraka serta ucapan terima kasih yang sama seperti yang dia ucapkan kepada yang lainnya.
Ketika aku menyalami Elvan, matanya terpaku kepada cincin yang ku kenakan. Sebetulnya bukan hanya Elvan, tapi hampir semua orang yang bersalaman denganku akan melihat cincin yang melingkar di jari manisku. Hhmmm… rupanya ini salah satu alasan Caraka terus-terusan mengingatkanku untuk memakai cincin, bahkan tadi sebelum berkeliling dia memastikan kalau aku memakai cincinnya dan setelah melihat cincin pemberiannya melingkar di jari manisku, dia tersenyum penuh misteri.
“Ini Kirana, selain calon istri saya, dia adalah wakil Candra yang nanti akan bertanggung jawab terhadap MHG retail. Jadi mohon kerja sama dengannya.”
Aku tersenyum walaupun masih belum mengerti. Sejak kapan aku akan menjadi wakil Candra dan bertanggung jawab terhadap MHG retail? Ckkk, dasar Kang kopi! Dia sepertinya hanya ingin membuat Elvan terkejut dengan mengatakan itu. Dan terbukti kini Elvan terdiam terbebelalak menatapku.
“Sayang, katanya ada teman kuliahmu yang bekerja di SUHO. Apa dia hadir hari ini? Kamu harus mengenalkannya padaku.”
“Waah, Bu Kirana dan Pak Elvan teman kuliah?”
“Iya.” Aku tersenyum menjawab Bu Anne, orang yang tadi duduk semeja denganku.
“Oh iya? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi,” ucap Caraka dengan senyum lebar. “Kalau begitu kita harus mengundangnya di pesta pernikahan kita.”
Pesta pernikahan? Siapa yang menikah? Kapan? Kami yang menikah? Kok aku tak tahu kalau aku akan menikah?
“Sayang?”
“Ah, iya … nanti kami kirim undangannya ya, Van, jangan lupa datang.”
Elvan terdiam menatapku kemudian mengangguk.
“Kami tidak diundang, Pak?”
“Hahaha … insyaallah semuanya diundang.”
Aku ikut tersenyum mendengar ucapan Caraka.
"Kita akan mengundang Elvan?" bisikku ketika kami berjalan menuju meja kelompok lainnya, dimana beberapa dari mereka menatap ke arah kami dengan senyum lebar.
"Tentu saja tidak, aku hanya ingin dia tahu kalau sekarang dia sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mendekatimu."
"Hahaha."
Aku hanya bisa tertawa mendengar alasannya yang kekanak-kanakan. Lagian siapa yang kemabalii mendekatiku? Tidak ada.
Setelah menyapa semua karyawan Mahesa group, MC memanggil kami untuk sesi foto, awalnya Kami berfoto dengan Yayasan Yatim Surabaya, dilanjut dengan perwakilan dari berbagai Yayasan, kemudian tamu VVIP. MC kembali memanggil perwakilan Yayasan dan para anak yatim untuk berfoto bersama para tamu undangan VVIP. Seteleh selesai, kami berfoto bersama dengan para karyawan Mahesa group, juga para panitia. Dan acara pun selesai dengan pembagian bingkisan untuk para anak yatim.
Satu persatu tamu undangan mulai pamit, tapi aku dan Caraka masih menyalami para panitia acara, mengucapkan terima kasih dan memuji kerja keras mereka hingga acara bisa berjalan lancar dan sukses. Yang lucu ketika kami menyalami panitia adalah ketika aku menyalami Anto yang kini jangankan untuk menggodaku, menatapku saja dia tak berani. Anto si tempe kriuk rupanya kini telah berubah menjadi tempe mendoan.
***
“Jadi ini alasanmu memberikanku baju dan juga cincin untuk ku kenakan hari ini?”
“Aku hanya ingin memberimu hadiah,” jawab Caraka santai. “Hadiah di saat dan waktu yang tepat untuk digunakan di tempat yang tepat.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Caraka. Saat ini kami tengah duduk di taman hotel, santai sejenak setelah acara tadi.
“Di saat kita memakai pakaian sarimbit, di saat aku mengenakan cincin, di waktu semua orang bisa melihat itu semua dan tempat semua orang berkumpul.”
“Bukankan itu waktu yang sangat tepat … mengungkapkan, tanpa banyak berbicara.”
“Hahaha.”
“Tapi Papah mengacaukan semuanya. Seharusnya aku yang mengenalkanmu tadi, tapi rupanya Papah sudah tidak sabar ingin mengenalkan calon menantunya. Tapi itu jauh lebih baik … lebih nendang.”
“Hahaha.”
Aku mengingat tadi bagaimana Big Boss mengenalkanku di depan umum. Antar percaya dan tidak kalau keluarga Mahesa menerimaku dengan mudahnya, seolah tanpa syarat. Selama ini yang aku takutkan adalah tidak dapat restu dari Sang Raja dan Ibu Suri, tapi ternyata mereka hanya orangtua biasa yang akan mengalah dan meredam ego demi kebahagian anaknya.
“Aku masih antara percaya dan tidak kalau orangtuamu bisa menerimaku secepat ini. Terutama Big Boss, selama ini kalau bertemu dengannya aku masih takut, hehehe … mungkin karena Bog Boss jarang berbicara, juga kharismanya yang membuatku merasa segan juga sangat menghormatinya.”
Aku tersenyum menatap Caraka.
“Mungkin juga karena selama ini aku tak pernah mengenal sosok seorang ayah, jadi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan ketika menghadapi seorang ayah.” Aku merasakan hatiku sedikit sakit setiap membayangkan sosok ayah.
“Aku mendengar kalau seorang ayah adalah cinta pertama setiap anak perempuan, mungkin aku salah satunya, tapi … selain cinta pertama, ayahku juga orang yang membuatku mengenal patah hati untuk pertama kalinya.”
Aku tersenyum miris mentap Caraka yang kini menggengam tanganku. Ku tatap tangan kiriku yang ada di dalam genggamannya.
“Selama ini kita hanya tahu kalau ayahmu menginggalkanmu, tapi kita tidak tahu alasan dari sisi ayahmu kan? Mungkin saja beliau memiliki alasan yang kuat.”
“Apapun alasannya, meninggalkan istri dan anak di negri orang tetaplah salah.”
Caraka terdiam kemudian mengangguk.
“Kamu benar, itu memang salah dan ayahmu pasti sangat menyesal karena telah kehilangan seorang putri yang luar biasa, yang bahkan membuat seorang Rudi Mahesa bangga mengakuinya sebagai menantu.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Caraka.
“Kamu benar … ayahku mungkin meninggalkan dan tidak mengakuiku, tapi kini aku memiliki seorang Rudi Mahesa sebagai calon ayah mertua, dan Caraka Buana sebagai calon suami. Itu membuat semua perempuan iri padaku.”
“Hahaha … iya, itu yang perlu kamu ingat karena kini kamu tak lagi sendiri, ada aku yang akan selalu ada untukmu, tak akan meninggalkanmu.”
Kepalaku ku sandarkan di bahunya, lengannya merankulku memberi kenyamanan.
Ya, mungkin semua orang kini mengakui kemampuanku, bahkan Rudi Mahesa mengakuiku sebagai calon menantu. Namun egoiskah aku ketika mengharapkan pengakuan dari seorang ayah? Ayah yang telah meninggalkanku dan tak mengakuiku selama ini … karena bagaimanapun aku adalah seorang anak yang butuh pengakuan dari orangtuaku sendiri, bukan pengakuan dari orang lain.
*****