
Ordinary people (manusia biasa)
Ruang rawat inap mamah hening. Saat ini aku tengah memberitahu mamah dan Oka tentang pertemuanku dengan ayah. Caraka ikut berada di sini, aku ingin dia mendengar semuanya karena bagaimana pun Caraka akan menjadi bagian dari keluarga kami, aku ingin dia mengetahui semuanya tentang keluargaku.
“Intinya ini semua tentang pria dan egonya yang tinggi, dan Kirana belum bisa menerima hal itu. Ayah meninggalkan kita karena ego dan harga dirinya, ayah menceraikan mamah juga karena ego dan harga dirinya, dan dia tak mencari Kirana selama ini karena asumsinya sendiri.”
Mamah terdiam beberapa saat, matanya menatapku penuh selidik.
“Dia mengatakan itu?”
Aku hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan mamah yang terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa membuat aku, Oka dan Caraka saling pandang heran.
“Aaah, ayahmu malah memberi mamah pekerjaan baru untuk menjelaskannya kepada kalian.” Aku mengangkat alis bingung. “Mau mamah bagi sebuah rahasia besar yang selama ini mamah simpan rapat-rapat?”
Aku menatap mamah serius sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
“Sebelum kakek meninggal, kakek memberitahu kalau ternyata kakek yang meminta ayah kalian menceraikan mamah.”
Aku dan Oka menatap mamah tak percaya.
“Kakek kalian merasa sakit hati ketika ayah kalian pergi meninggalkan kita di Jepang. Sebagai seorang ayah, dia marah melihat putri yang dia sayangi disia-siakan seperti itu, belum lagi H. Joko yang pernah mengatakan kalau mamah hanya akan jadi beban dan menghambat karir ayah kalian membuat kemarahan kakek semakin menjadi.”
Mamah tediam sesaat terlihat menerawang.
“Kakek mengatakan kalau setelah ayahmu meninggalkan kita, ayahmu mengalami kelumpuhan karena kecelakaan.”
Aku benar-benar tidak bisa bernapas mendengar cerita mamah. Rasanya tak percaya, ayah yang baru saja ku lihat mengalami kelumpuhan?
“Saat itulah kakek kalian merasa memiliki kesempatan untuk mengembalikan ucapan H. Joko kepada mereka dengan mengatakan kalau ayah hanya akan menjadi beban bagi kita, dan meminta ayahmu menceraikan mamah sebagai bentuk pembalasannya kepada ayahmu karena meninggalkan kita saat mamah hamil.”
“Tapi ayah bilang …”
“Mamah tidak akan menikahinya kalau dia bukan pria yang baik,” ucap mamah dengan tegas membuatku terdiam. “Dia sangat menghormati kakekmu sebagai mertuanya, jadi mamah rasa ayahmu hanya ingin menjaga nama baik kakek.”
Informasi yang ku terima terasa tumpang tindih membuat kepalaku terasa pening. Tak tahu harus memercayai yang mana.
“Kakek tidak tahu kalau selama ayahmu meninggalkan kita di Jepang, setiap bulan dia masih memberi kita nafkah lebih dari cukup, dan kakek kalian lupa ketika seorang anak sudah berumah tangga sebaiknya orangtua tidak ikut campur urusan rumah tangga anaknya.”
Manik mata mamah menatap kami lembut.
“Saat itu bukan hanya ayah kalian yang salah, mamahpun sama salahnya. Kami sama-sama memertahankan ego kami. Seandainya mamah mengalah dan ikut dengannya pulang ke Indonesia mungkin tidak akan seperti ini jadinya, tapi mamah dengan egoisnya lebih memilih memertahankan pekerjaan mamah.”
“Mamah tidak punya pilihan lain. Mamah harus membayar biaya pembatalan kontrak.”
“Selalu ada jalan ke luar seandainya kami membicarakannya dengan baik-baik dan mencari solusinya bersama.” Mamah tersenyum sambil menengkup tangan kananku dengan kedua tangannya.
“Rumah tangga itu tentang komunikasi, saling terbuka, saling percaya dan juga meredam ego. Tanpa komunikasi dan kepercayaan akan banyak kesalah pahaman, dan ketika kita lebih memilih memertahankan ego kita tanpa ada yang mengalah maka semua akan hancur … seperti rumah tangga mamah.”
Aku hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan mamah.
“Jadi … kalau kamu bilang ini karena ego ayah. Kamu tidak sepenuhnya benar, karena ada andil ego mamah juga di sana. Kalian kecewa dan belum bisa memaafkan ayah itu hal wajar, tapi yang harus kalian ingat … semua sudah terjadi, dan ini adalah takdir yang telah digariskan oleh Allah untuk kita. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah apa kita akan terus berkubang dalam kekecewaan dan kemarahan sampai akhirnya nanti kita terlambat untuk memaafkan dan menyesal seumur hidup, atau … perlahan kamu coba menerimanya kembali dan dengan ikhlas menjalani takdir ini.”
Yang diucapkan mamah mungkin saja benar karena pertengkaran tidak akan terjadi kalau hanya ada satu orang yang marah, harus ada dua orang untuk bisa disebut pertengkaran. Begitu juga dengan ego, seandainya salah satu mengalah dan menurunkan ego, semua ini mungkin tidak akan terjadi. Tapi tetap saja …
“Tapi kenapa selama ini ayah tidak pernah sekalipun mencari Kirana, Mah?”
Mamah terdiam menatapku.
“Seandainya mamah tidak menyuruhmu untuk mencari ayahmu, apa kamu akan mencari ayah? Seandainya bukan karena ingin meminta restu dan memiintanya menjadi wali, apa kamu mau mencari ayah?”
Entah kenapa jantungku seolah berhenti mendengar pertanyaan mamah.
“Kenapa harus selalu orangtua yang mencari anaknya? Kenapa tidak anaknya yang mencari orangtuanya?”
Aku terdiam tak bisa menjawab pertanyaan mamah.
“Apa itu hanya kewajiban orangtua?” Aku semakin terdiam mendengar pertanyaan mamah. “Tidak ada aturan dalam hukum manapun yang mengatur kalau hanya orangtua yang wajib mencari anaknya.”
Mamah terdiam sesaat sebelum dia kembali mengajukan pertanyaan yang membuat hatiku semakin berdegub kencang.
“Jadi kenapa hanya orangtua yang selalu mendapat pertanyaan … kenapa ayah atau ibuku tidak mencariku? Apa orangtua tidak berhak bertanya … kenapa anakku tidak mencariku?”
Pertanyaan mamah itu menohok hatiku, karena selama 20 tahun ini tak pernah sekalipun aku mencari ayah. Aku hanya diam menunggu kedatangan ayah tanpa ikhtiarku untuk mencarinya lebih dulu.
****
Mega, pov.
Kirana Az Zahra, putriku ini memiliki hampir semua sifat ayahnya, keras kepala, realistis, tapi bertanggung jawab juga cerdas. Aku sudah memerkirakan hal ini ketika aku menyuruhnya mencari Randi. Kirana tidak akan dengan mudah menerima Randi sebagai ayahnya kembali setelah dua puluh tahun pergi meninggalkannya walaupun beribu alasan yang Randi kemukakan.
Dan pria itu … Randi Prasetyo, bisa ku bayangkan pasti tadi dia menangis sambil meminta maaf kepada Kirana, menyalahkan dirinya sediri tanpa memberitahu kebenaran yang sesungguhnya. Dan Kirana pasti akan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menjadi bebannya.
Aku sengaja tidak memberitahu Kirana yang sebenarnya, untuk memberinya kesempatan mengeluarkan semua kemarahan dan kekecewaannya yang terpendam selama dua puluh tahun ini agar bebannya sedikit terangkat, dan hatinya sedikit tenang karena telah menanggung beban itu selama ini. Dan juga memberi kesempatan kepada Randi untuk mengklarifikasi semuanya dengan mulutnya sendiri, tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku lupa … orang itu pasti akan menutupi kesalahan bapak, apalagi sekarang bapak sudah meninggal, jadi dia pasti akan memilih untuk menjadi tameng untuk bapak.
Dia tidak tahu kalau untuk menghadapi Kirana yang perlu dia lakukan hanyalah menjadi realistis seperti Randi Praseyo yang dulu. Yang tetap menikahiku karena tak percaya dengan mitos yang orangtuanya pegang, yang selalu menertawakan khayalan-khayalanku, yang selalu melihat sesuatu dari dua sisi.
Tapi aku lupa dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, aku tak tahu mungkin saja sekarang sifatnya sudah berubah.
“Ayahmu pernah mencarimu.”
“Tapi sudah terlambat kakek sudah meninggal, dan rumah Bekasi sudah di jual. Ayah mengira kalau kita tinggal di Jepang, dan mamah sudah menikah lagi.”
Aku mengangkat alisku. “Ayahmu mengatakan itu?” Kirana mengangguk membenarkan.
Aaah, dasar Randi bodoh! Apa harus aku juga yang menjelaskan semuanya? Hei! Seharusnya ini giliranmu untuk klarifikasi, bukannya malah memberi pekerjaan lagi untukku! Adududuh kepalaku pusing lagi. Tenang Mega … ambil napas, buang napas …
“Dia mencarimu ketika kakek masih ada.” Kirana terkejut menatapku. Ok, Na, jangan kecewakan mamah, nanti kamu omelin lagi ayahmu yang bodoh itu karena menutupi semuanya darimu. “Tapi kakekmu kecewa karena dia mendengar kalau ayahmu sudah menikah lagi.”
Aku pun sebetulnya kecewa. Aaah, dasar laki-laki!
“Karena itu kakekmu mengatakan kalau kita sudah bahagia tinggal di Jepang, dan meminta ayahmu tidak mencarimu lagi.”
Mata Kirana membulat mendengar ucapanku. Untuk sesaat dia terlihat terkejut namun kemudian dia terdiam terlihat berpikir. Aku juga harus siap-siap mencari jawaban dari pertanyaan yang akan dia ajukan. Itulah Kirana kalau ada yang masih mengganjal, dia akan terus mencecar kita. Dan mamah harap kamu melakukan itu tadi ke ayahmu yang bodoh itu, Na, buat dia pusing tujuh keliling mencari beribu alasan sebagai pembalasan kita selama ini.
Sedangkan Oka … dia hanya terdiam. Itulah Oka Danubrata, dia akan terdiam menganalisa masalah yang terjadi, ya Oka memang lebih tenang dalam menghadapi masalah daripada kakaknya.
“Kenapa ayah hanya menuruti perkataan kakek saja. Terlepas dari mamah sudah menikah lagi atau belum, dan ayah tidak mengetahui tentang Oka, tapi aku tetaplah putrinya seharusnya dia tetap mencariku.”
Nah, betulkan! Kalau sudah seperti ini, aku harus kembali menyentil logikanya.
“Dan kamupun seharusnya mencari dia, terlepas dari ayahmu sudah menikah lagi atau belum, terlepas dari ayahmu meninggalkan kita dan menceraikan mamah, dia tetaplah ayahmu. Kalau kamu begitu merindukannya selama ini kenapa tidak kamu yang mencarinya?”
Kirana terdiam mendengar ucapanku.
“Setiap pertanyaan kenapa dan apa yang kamu ajukan kepada ayahmu, mungkin menjadi pertanyaan yang sama yang ingin ayah ajukan kepadamu selama ini. Kenapa kamu tidak mencari ayah, Na? Apa kamu tidak merindukan ayah? Apa kamu sebegitu bencinya kepada ayah?”
Aku tidak menyalahkan anak-anakku karena kekecewaannya kepada sosok seorang ayah, aku hanya tidak ingin membuat mereka menjadi seorang pendendam, apalagi kepada ayahnya sendiri yang akan menjadi penyesalannya seumur hidup.
“Bisa kalian bayangkan seterpuruk apa ayah kalian ketika dia terbaring lumpuh dan kakek menyebutnya sebagai beban untuk kita? Bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi juga mentalnya. Yang dibutuhkan adalah dukungan dari orang-orang sekelilingnya bukan ucapan yang malah membuatnya semakin merasa kalau dia tak berguna dan hanya menjadi beban. Kalau ayah kalian marah terhadap kita karena ucapan kakek … mamah bisa maklum itu, tapi tidak, ayah kembali bangkit dan mencarimu walau sedikit terlambat. Minimal dia pernah mencarimu, sedangkan kita … kita hanya duduk diam, tanpa sekalipun pernah mencarinya.”
Aku menghela napas mengingat putri ke duaku yang telah lama tak ku temui.
“Seperti mamah yang tidak pernah mencari Bi selama ini. Mungkin kalau Bi bertemu mamah, dia akan mengajukan pertanyaan yang sama seperti kamu mengajukan pertanyaan kepada ayah. Dia pun akan meraasakan kekecawaan yang sama karena mamah tidak pernah mencarinya selama ini.”
Aku tersenyum miris menatap Kirana. “Bukan kah kita juga egois? Kita marah kepada ayahmu karena tak pernah mencarimu, sedangkan mamah juga hanya diam tak mencoba mencari Bi. Selama ini mamah hanya menunggu Bi mencari mamah seperti kamu yang diam menunggu ayah mencarimu. Egois bukan?”
Kami sama-sama terdiam, menyadari keegoisan kami selama ini.
“Teh … kecewa dan marah itu wajar, kita manusia biasa bukan malaikat. Begitupun dengan ayahmu, dia manusia biasa jauh dari kata sempurna dan setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Yang membedakannya adalah apa dia akan mengakui kesalahannya dan bertobat, atau akan semakin terpuruk dalam lubang kesalahan yang semakin dalam … kamu bisa menilai sendiri ayahmu termasuk dalam golongan yang mana.”
Baik Kirana maupun Oka hanya terdiam tertunduk di samping tempat tidurku. Bukan aku bermaksud untuk membela Randi, tapi ku hanya ingin anak-anakku belajar melihat semua masalah dari dua sisi, bukan hanya dari sisi kami yang menganggap kami sebagai ‘korban’ yang tanpa disadari mungkin kami pun telah melakukan kesalahan yang sama, dan menjadi ‘pelaku’.
*****