I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
42. E-World




E-World



Surabaya.


Hampir seminggu sudah aku berada di Surabaya disibukan dengan pekerjaan kantor yang masih menjadi PR besar bagiku. Electronic World (E-World), sebuah retail yang baru saja dibuka Mahesa group (MHG) di salah satu mall terbesar di Surabaya, bahkan menjadi mall terbesar, terluas dan terlengkap di Indonesia yang terletak di area Superblock daerah Surabaya Barat.


Superblock itu sendiri terdiri dari beberapa gedung mall mewah, perkantoran, hotel, dan beberapa apartemen mewah yang salah satunya terhubung langsung dengan supermall, lebih tepatnya berada di atas supermall. Dan tebak aku tinggal di mana?


Yap! Apartemen mewah yang berada tepat di atas supermall. Ketika baru pertama datang aku hanya berdiri di depan pintu apertemen, tak yakin kalau Pak Supri (Yang ternyata sopir pribadiku yang dipilih Caraka untukku) telah mengantarku ke tempat yang benar.


Sampai akhirnya aku curiga kalau seseorang berada di balik semua itu. Iya, tidak lain dan tidak bukan dia adalah … Kang kopi.


“Hahaha … kamu pikir aku akan tenang kalau kamu di sana ngekost, atau menyewa apartemen yang keamanannya tidak terjamin?”


Dia tertawa tanpa menyangkal pertanyaanku, mungkin karena dia tahu kalau sudah seperti ini aku tak mungkin bisa menolaknya.


“Iya, tapi tidak perlu yang seperti ini juga.”


“Sayang, tolong terima saja … lakukan untukku agar di sini aku bisa tenang karena tahu kamu berada di tempat yang aman di sana, oke? Ah, dan ingat kalau kamu pergi kemanapun jangan sendiri, tapi harus bersama Pak Supri, paham?”


Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Aku telah curiga, dia tak mungkin melepasku dengan begitu mudahnya kecuali semuanya sudah di dalam pengawasannya.


“Jadi bagaimana, Mbak?”


Aku tersentak menatap Ivan yang duduk di sampingku. Saat ini aku tengah meeting bersama tim MRP untuk membicarakan program promosi yang akan dilakuan E-world.


“Saat ini kita harus memperkenalkan E-world kepada masyarakat, karena bagaimana pun kita adalah pendatang baru di retail electronic Surabaya, dan aku yakin masih banyak yang belum mengetahui tentang E-world.”


Ivan, senior supervisor yang nanti akan berperan sebagai PIC (Person in charge / orang yang bertanggung jawab) di MRP Surabaya mengangguk setuju.


“Yudi, buat selebaran iklan yang membuat orang penasaran dan tertarik datang … kata-katanya harus sederhana, dan mudah dipahami. Jangan terlalu panjang, kalau terlalu panjang itu malah akan membuat orang malas untuk membacanya.”


Yudi, staff design grafis mengangguk mengerti.


“Jangan lupa cantumkan logo E-world di setiap iklan, untuk membuat orang minimal mengenal logo kita. Ah, dan buat design untuk stiker E-World, nanti kita lakukan stickering di mobil-mobil.”


Yudi kembali mengangguk dan menuliskannya di dalam buku memo.


“Fer, coba buat sesuatu yang unik, yang bisa manarik orang minimal untuk masuk ke dalam toko kita.” Feri, staff bagian visual, terdiam terlihat berpikir. “Maksud saya, sesuatu yang eyes catching, yang membuat orang-orang minimal akan melirik ke arah toko kita. Misalnya buat seperti tema … lorong waktu, mungkin? Bisa dengan membuat kanopi lampu-lampu seperti bintang-bintang yang akan menghubungkan booth-booth dan tiap booth (stand) bisa memiliki tema sendiri-sendiri, jangan terlalu monoton seperti sekarang … gunakan barang display (barang yang dipajang) sebaik-baiknya. Kamu bisa bekerja sama dengan brand untuk tema booth.”


Feri kini tersenyum mengangguk mengerti, dan menuliskannya di dalam memo seperti Yudi.


“Ivan, bantu Feri untuk menghubungi pihak brand.”


“Siap.”


Ini hanya sebagain PR yang harus aku selesaikan. Ketika pertama kali datang melihat toko E-World, otakku langsung berputar berusaha mencari ide. Konsep yang terlalu biasa yang diusung toko elektronik pada umumnya, walaupun memiliki barang-barang canggih dan terbaru dari merk-merk ternama yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, tapi sayang pen-display-an yang biasa tidak akan menarik calon pembeli untuk masuk, jadi itu adalah PR yang harus segera ku selesaikan.


Tapi sebelum itu yang pertama aku lakukan ketika sampai di Surabaya adalah memindahkan kantor MRP ke kantor yang berada di toko, tidak di gedung perkantoran yang sebetulnya berada di area Superblock hanya jaraknya cukup jauh. Menurutku itu kurang efektif, bagian promosi seharusnya selalu berada dekat dengan toko untuk mengetahui apa yang diperlukan untuk meningkatkan penjualan supaya mencapai target.


Jadi kami akhirnya berbagi kantor dengan bagian Store dan IT. Untuk sementara Feri mendapat gudang yang berada di lantai B1, mengambil sedikit ruangan bagian gudang logistic barang stock E-world, sampai bagian GA (General affair / bagian umum) mendapat gudang khusus bagian promosi. Karena bagaimana pun Feri memerlukan ruang khusus untuk menyimpang peralatan promosi, juga tempat untuk membuat patung, atau apapun yang berhubungan dengan barang promosi yang akan dipajang di toko.


Sebetulnya selain Ivan, Feri, dan Yudi, masih ada bagian riset yaitu Willy yang sedang melakukan tugas riset ke luar, dan Aileen bagian administrasi yang sibuk mencatat hasil meeting.


“Ada ide lain atau masukan?”


Semua orang terdiam terlihat berpikir.


“Saat ini cukup kali ya, kalau ada masukan, ide apapun itu bisa hubungi Ivan atau saya.”


“Siap, Bu.”


“Leen, kalau notulennya sudah selesai langsung email saya ya, biar saya report ke pusat.”


“Iya, Bu.” Gadis keturunan dengan kaca mata berbingkai merah itu dengan cepat menuju mejanya.


Kantor yang aku tempati saat ini tidaklah begitu luas hanya berukuran sekitar 6x6 dan ditempati oleh 3 divisi. Store (toko) terdiri dari Pak Wiradi sebagai Store Manager yang bergantian shift dengan Pak Cahyo sebgai asisten manager membawahi 1 orang staff administrasi, 4 SPV, 8 orang leader, dan 97 SPM/G yang dibagi menjadi 2 shift jam kerja, bertanggung jawab dengan penjualan dan pencapaian target toko. Pak Ade, Manager IT yang membawahi langsung 3 orang staff yang dibagi menjadi 3 shift, yang bertanggung jawab dengan seluruh data online. Dan terakhir divisi MRP, yang terdiri dari aku, Ivan, Feri, Yudi, Willy, dan Aileen.


Jadi walaupun tak begitu besar kantor ini cukup menampung kami, karena selain diisi oleh staff ke atas dari 3 divisi, orang-orang store lebih banyak melewatkan jam kerja mereka di toko (floor) paling hanya Yuli, staff administrasi yang berada di dalam kantor, store manager dan store SPV mereka biasanya jarang berdiam di kantor dan lebih sering berada di floor dan satu orang IT yang bertugas di satu shift, selebihnya hanya aku dan staffku yang berada di kantor yang di kelilingi oleh dinding kaca satu arah menghadap floor, sehingga dari dalam kami bisa mengawasi apa yang terjadi di area toko.


“Permisi, Bu, ini titipannya.” Pak Supri memasuki area kantor dengan menjinjing satu paper bag dengan logo dan nama sebuah coffee shop ternama membuatku tersenyum.


“Matur nuwun, Pak Supri.” Aku mengambil paper bag itu dari tangan Pak Supri.


“Sami-sami, Bu.”


Dengan senyum lebar aku mengeluarkan late dan juga cheese cake … aaah, aku pikir karena jarak memisahkan aku tak akan mendapat kiriman kopi sore hari lagi, tapi ternyata aku salah. Setelah seminggu tinggal di sini, setiap sore Pak Supri akan berubah jadi kurir untuk mengantarkan kopi dan cake.


Kirana : Thank you for coffee n cake … miss you so bad. (Terima kasih untuk kopi dan cake-nya … aku sangat merindukanmu).


Kang kopi : Anytime, honey … miss you too. (Kapan saja, Sayang … aku juga merindukanmu).


Kang kopi : Kerjanya jangan terlalu diporsir, yang namanya pekerjaan tidak akan ada habisnya.


Kirana : Oke, Boss.


“Leen.” Aku memanggil Aileen kemudian menyerahkan cheese cake kepadanya. “Berdua sama Yuli ya.”


“Waaah, matur nuwun, Bu Na.”


“Kita-kita mana, Bu Na?”


Iya, staff-staffku juga Yuli memanggilku Bu Na, kata mereka kalau Bu Kirana kepanjangan. Lumayanlah daripada Bu Kir kan?


“Nanti kalau tercapai target, saya traktir makan di atas.”


“Angel wes angel (udahlah susah ini mah susah),” ucap Yudi sambil menggelengkan kepala membuatku tertawa. Ya walaupun tidak tahu artinya apa, tapi sepertinya itu sesuatu yang lucu karena yang lainpun tertawa.


“Kalau ada yang mencari, saya ke toilet sebentar ya.”


“Oke, Bu!” seru Yuli dan Aileen dengan mulut penuh cheese cake.


Karena berada di Mall, jadi toilet yang ku gunakan pun toilet umum, untung saja aku tak harus berjalan terlalu jauh, karena E-Word menguasa hampir sebagian besar lantai LG, jadi tepat di sebelah E-Word ada toilet, aku hanya tinggal belok kiri memasuki lorong yang mengarahkan ke arah toilet yang nyaman, bersih, juga wangi.


Dan aku baru akan kembali ke kantor ketika seseorang memanggilku. Suara seseorang yang sudah lama ku tak dengar.


“Kiki!”


Aku terdiam menatap sekeliling memastikan apa, yang aku dengar itu tidak salah. Dan ternyata tidak, di sana berdiri seorang pria dengan rambut klimis dan senyum lebar menatapku. Mungkin aku akan kabur kalau seandainya ini di Jakarta, tapi di Surabaya ketika tidak ada seorangpun yang ku kenal dan kini berdiri seseorang yang mengenalku. Aku tak percaya ini, tapi aku senang melihat Anto si tempe kriuk yang kini berjalan dengan cepat ke arahku. Aku bahkan tersenyum lebar melihatnya.


“Kiki … waaah, memang kalau jodoh tidak kemana ya.”


Oke, lupakan kebahagianku tadi. Walaupun ini Surabaya dimana tempe mendoan digoreng setengah matang, tapi ternyata pria di hadapanku ini tetaplah tempe kriuk.


*****