
Just my imagination? (hanya khayalanku saja?)
“Apa Pak Supri mengetahui nama lengkap Pak H. Joko?”
Pak Supri terdiam sebelum akhirnya menggeleng.
“Maaf, Bu, saya tidak mencari tahu tentang itu.”
Apa Mamah tahu? Namun sepertinya kecil kemungkinan Mamah tahu karena selama ini yang Mamah sebut namanya lengkap hanya nama ayah, sedangkan yang lainnya hanya nama depan.
“Apa perlu saya mencari tahunya, Bu?”
Aku terdiam berpikir sebelum akhirnya aku mengggeleng. “Tidak perlu, Pak, terima kasih banyak untuk informasinya, nanti kalau orang kepercayaan Pak Bayu menghubungi Pak Supri, tolong beritahu saya secepatnya.”
“Baik, Bu.”
Aku belum siap kalau benar nama itu yang kini menjadi nama lengkap ayah dan juga Bi. Bi? Aku mengerutkan alis mengingat nama lengkap Bi … Sagita Bentari … apa mungkin Bi juga berganti nama?
Tidak! Bi, tidak mungkin perempuan itu! Nama mereka sangat berbeda jauh, dan ku harap Randi atau Andi pun tetap memakai nama Prasetyo bukan nama yang lain, termasuk nama keluarganya sekalipun.
Tapi itu benar-benar mengganggu pikiranku. Aku harus menemukan jawaban secepatnya. Dengan cepat aku kembali ke kantor, membereskan pekerjaan yang masih tertunda walau dengan pikiran bercabang. Ketika jam kerja selesai aku langsung naik ke atas, tak menunggu lama aku langsung menghubungi Mamah.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku merindukan Mamah. Mengingat sosok wanita yang kemarin baru dikenalkan denganku. Penampilan khas kelas atas, semua yang menempel pada tubuh wanita itu semua nomor satu … pakaian, perhiasan, tas, bahkan make up. Sedangkan Mamah … Mamah dengan pakaian sederhananya, jangankan untuk memanjakan dirinya sendiri dengan pakaian, tas atau sepatu bagus. Mamah lebih memikirkan apa yang akan kami makan? Apa bajuku dan Oka tidak sobek? Apa sepatu sekolahku dan Oka tidak kekecilan? Bagaimana Mamah membayar biaya sekolahku dan Oka?
Bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan kami lebih tepatnya kebutuhanku dan Oka, memastikan semua kebutuhanku dan Oka terpenuhi tanpa peduli dengan kebutuhannya sendiri. Mamahku yang hebat, dan memikirkan kalau betul nama itu adalah nama ayahku sekarang … bukankah seharusnya Mamah bisa sedikit merasakan kemewahan seperti yang wanita itu rasakan? Setidaknya Mamah tidak harus bekerja keras untuk menghidupi ku dan Oka.
Astagfirullahadzim … apa yang aku pikirkan? Itu hanya pikiran terliarku, dan belum terjamin kebenarannya.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Lagi apa, Mah?”
“Baru selesai ngaji.” Aku lupa, selepas shalat magrib Mamah biasa mengaji sambil nunggu adzan isya. “Teteh udah shalat magrib?”
“Kirana lagi tidak shalat, Mah.”
“Oh, pasti lagi BT.”
“Hahaha, engga ih! Siapa yang BT.”
“Hahaha, kan biasanya juga kalau Teteh lagi 'dapat' suka BT, tuh Oka yang suka jadi korban Teteh.”
“Hahaha … Oka lagi apa?”
Aku juga sangat merindukan Oka … kalau memang tebakanku benar maka yang dipikirkan anak itu selama ini akan menjadi kenyataan, tapi apakah dia akan senang? Mengingat Oka telah mengetahui kebenaran bagaimana pria yang kami sebut ayah itu meninggalkannya ketika masih dalam kandungan?
“Lagi belajar.”
“Belajar? Kesambet apa dia? Hahaha.”
“Ih! Kan lagi UN, Teh.”
“Oh, lagi UN ya?”
“Iya, makanya jangan ganggu dia dulu seminggu ini.”
“Yaaah, padahal Kirana tadinya mau minta Mamah sama Oka ke Surabaya minggu ini.”
“Kenapa? Sudah ketemu H. Joko nya?”
“Sudah, tapi katanya lagi sakit jadi belum bisa ketemu... Mah …”
“Hmmm.”
“Mamah tahu tidak nama lengkapnya H. Joko itu siapa?”
“H. Joko?”
“Iya, Mah … Mamah tahu tidak?”
“Aduh siapa ya, Teh? Mamah lupa! Soalnya dulu ayahmu jarang sekali cerita soal orangtuanya.”
“Ya sudah, Mah, tidak apa-apa.”
“Memang kenapa, Teh? Katanya sudah ketemu.”
“Iya, hanya saja … siapa tahu ini bukan H. Joko yang kita maksud.”
Aku terdiam sambil menghela napas, pikiranku kembali melayang kepada wanita yang ku temui kemarin.
“Mah, kalau misalnya ayah sudah menikah lagi bagaimana?”
“Ya tidak apa-apa, sudah cerai juga sama Mamah. Wajar dong, Teh, kalau ayah nikah lagi sudah hampir 20 tahun kami pisah. Lagian kita nyari ayah kan bukan biar Mamah bisa balik lagi sama ayah, si Teteh mah suka ada-ada saja.”
“Hehehe … siapa tahu Mamah belum nikah lagi tuh karena belum bisa move on dari ayah.”
“Ckkk … Mamah tidak nikah lagi bukan karena gagal move on, tapi gimana dong Teh, laki-laki yang Mamah suka malah suka sama orang lain.”
“Siapa, Mah?” ini kali pertama aku mendengar kalau Mamah menyukai pria lain, dan itu membuatku cukup terkejut.
“Itu … Kang Lee Min ho, si kasep.”
“Euuuh, Mamah!”
“Hahaha … nggak apa-apa deh gak dapat Kang Lee Min Ho juga, sekarang Mamah kan punya menantu Kang Raka, udah ganteng, soleh lagi … Te O pe be ge te, pokoknya mah.”
“Hahaha.”
Aku tertawa mendengar ucapan Mamah, seperti biasa berbicara dengan mamah dan Oka selalu membuat perasaanku jauh lebih baik. Namun tetap saja membayangkan ayah dengan gampangnya menikah lagi dan hidup bahagia dengan keluarga barunya, melupakan kami membuat hatiku sakit.
Membayangkan ayah menikah lagi membuatku berpikir apa aku memiliki adik lainnya selain Bi dan Oka? Atau jangan-jangan perempuan itu adik tiriku?
Tidak, kirana, berhentilah berkhayal semua belum tentu benar!
Sekarang yang harus aku lakukan adalah fokus mencari kebenarannya secepatnya.
***
“Van, buat even minggu ini bagaimana?”
“Sudah dapat izin dari pihak building? Stock product aman kan?”
“Pihak building sudah acc, Mbak … stock … saya belum dapat info.”
“Coba tanya bagian logisti, stock aman nggak? Terus tanya product, mereka sudah order belum untuk barang-barang yang ikut promo nanti? Jangan sampai kita promosiin besar-besaran, tapi stoknya tidak ada.”
“Sip, Mbak.”
“Yudi kemana, Van?”
“Lagi ke percetakan, katanya ada sedikit salah cetak di flyer.”
“Salah cetak? Ko bisa? Apa yang salah?”
“Alamat E-World, sharusnys LG ini UG.”
Aku mengangguk mengerti. “Telepon Yudi, kalau masih di percetakan suruh perhatikan type barang, harga dan S&K nya, kalau itu sampai salah cetak juga bisa gawat.”
“Siap, Mbak.”
Aku kembali mengecek email yang masuk ke alamat email kantorku, kebanyakan adalah dari rekanan bisnis, departemen lain yang memberi informasi, juga dari Candra yang membalas laporanku. Ponselku berbunyi mengalihkan perhatianku dari email-email tentang pekerjaan, aku tersenyum ketika melihat nama Siska di layar ponsel.
“Munaroh!”
“Woi, Julaeha! Mentang-mentang sudah diakui secara resmi jadi menatu Mahesa sampai lupa lo sama gue.”
“Hahaha, ya elah perasaan baru beberapa hari doang gue nggak chat lo, udah ngambek aja.”
“Dan lo, lupa nge chat gue pas acara pentingnya! Masa gue tahu dari gossip emak-emak komplek.”
“Hah?! Gue masih jadi tajuk utama di tempat Bang Jarwo? Gue kira kalau gue nggak ada bakal bebas digosipin emak-emak komplek.”
“Lo hampir bebas, sampai tiba-tiba semua acara gossip nayangin mertua lo yang dengan bangga ngenalin lo di depan semua orang pas acara santunan kemarin.”
“Hahaha.”
“Jiaaah, sekarang aja lo bisa ketawa-ketawa seneng, dulu-dulu ngapain aja, Neng, sampai galau, pakai pura-pura nolak Caraka segala. Untung ada gue yang selalu setia menunjukan jalan yang benar.”
“Hahaha … tenang, nanti gue pulang ke Jakarta gue traktir lo makan enak.”
“Aseeek … eh, btw lo tahu gak tempat beli daster murah di Surabaya?”
“Daster? Nggak tahu, buat apa?”
“Kita jualan daster! Pasti bakal laris manis diborong emak-emak, apalagi kalau tahu dasternya dari Jawa.”
“Pekalongan kali kalau daster murah-murah gitu, atau Jogja.”
“Ya siapa tahu di Surabaya juga ada, lo cari info dulu kalau ada langsung info harganya biar gue tawarin emak-emak komplek.”
“Tar gue tanya anak-anak deh.”
“Cieee … yang sudah punya anak buah.”
“Hahaha … hmmm, Sis!”
“Kenapa?”
“Bentar-bentar!”
Aku ke berjalan ke luar dari kantor berbelok kiri memasuki lorong menuju lift barang dan karyawan. Di ujung lorong ada ruang loker dan ruang istirahat anak-anak store, juga ruang security. Di dekat lift ada meja tempat security yang jaga, memeriksa barang yang masuk dan ke luar mencocokannya dengan dokumen dan melakukan body checking kepada setiap karyawan yang masuk dan ke luar.
“Bu.”
Aku tersenyum sambil mengangguk menjawab sapaan Pak Dodi dan Mbak Wiwik, security yang jaga di shift kali ini. Aku membuka pintu darurat yang berada tak jauh dari lift kemudian duduk di anak tangga setelah memeriksa kalau tidak ada orang yang akan mendengarkan obrolanku dengan Siska.
“Sis, bantu gue cari informasi tentang Anggi Santoso.”
“Anggi Santoso?”
“Iya, info apapun itu … terutama tentang keluarganya.”
Siska terdiam beberapa saat, sebelum dia bertanya, “Dia gangguin lo? Lo diapain sama dia?”
“Tidak.” Hadeuh, nih orang main ngamuk saja. “Dia nggak ngapa-ngapain.”
“Terus ngapain lo cari info tentang dia?”
“Gue hanya perlu mastiin sesuatu.”
“Mastiin apa?"
“Gue belum bisa bilang sekarang karena belum pasti, makanya lo bantu gue cari info buat mastiin kalau apa yang gue pikirin ini … salah.”
Siska terdiam beberapa saat sebelum akhirnya aku mendengar dia menghela napas.
“Info apa yang harus gue cari?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Seperti biasa Siska adalah sahabat yang paling bisa diandalkan. Kami tidak pernah memaksa bertanya tentang masalah masing-masing karena kami saling percaya, dan kami yakin kalau memang waktunya kami akan bercerita satu sama lain.
“Tentang keluarganya.”
“Keluarga?”
“Iya … pokonya cari info tentang keluarganya, dari mulai kakek, om, tante, saudaranya, terutama … ayahnya.”
Siska kembali terdiam.
“Oke, gue usahain secepatnya, tapi … nanti lo harus jelaskan semuanya.”
Aku menghela napas, sebelah tanganku memijat pelipis yang terasa pusing beberapa hari terakhir ini.
“Iya, nanti kalau sudah yakin gue jelasin semuanya, tapi untuk saat ini gue belum bisa ngomong apa-apa karena semua masih abu-abu.” Siska terdiam, tapi aku tahu saat ini mungkin dia tengah mengangguk paham maksudku. “Sis, satu lagi … jangan beri tahu nyokap gue juga Oka soal ini.”
Untuk saat ini aku tak ingin ada yang tahu selain diriku sendiri
Apa Anggi memang Bi? Atau Anggi adalah adik seayahku yang lain? Atau bisa juga dia hanyalah orang lain.
Ya, semua belum pasti jadi aku tak ingin sesumbar dulu sebelum semuanya terbukti kebenarannya.
*****