
Shoulder to cry on
Aku berusaha kembali terlihat seperti tak terjadi apa-apa, walaupun tetap saja hatiku merasa panas mengingat kejadian di kantin siang tadi. Shanti, Olive, Dika dan teman-teman lain yang mengetahui apa yang terjadi mencoba menghiburku. Aku benar-benar bersyukur memiliki mereka di sampingku, tapi hari ini aku hanya ingin sendiri dalam keheningan. Itulah yang membuatku langsung menuju rooftop sehabis jam kerjaku selesai.
Hening yang terasa damai … bertemankan semilir angin dan senja, aku mencoba mencari kedamaian. Aku tahu dari awal memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Caraka kalau itu tidak akan mudah. Akan banyak lalat hijau yang mengganggu dengan suara sumbangnya.
Tapi aku tak pedulikan itu selama Caraka tetap berada di sampingku, memberiku kekuatan, dan menjadi shoulder for me to cry (sandaran untuk ku menangis) ketika aku membutuhkannya, juga selama keluarganya tidak mempermasalahkan hubungan kami, maka akupun tak akan mempermasalahkan para lalat hijau yang mengganggu. Aku hanya tinggal menepuk mereka agar mereka diam, atau mungkin sekali-kali perlu menyemprot mereka dengan pestisida. Done! Semua selesai.
Tapi tadi mereka berani untuk mengorek luka yang hampir sembuh, dan menganggap apa yang kualami tak ubahnya hanya sebuah gurauan bagi mereka.
“AAARRRGGGHHH!!!”
Dari tadi aku sangat ingin berteriak di depan wajah mereka, tapi sebisa mungkin aku menahannya, alhasil seolah ada yang mengganjal di dalam sini. Sekarang rasanya sedikit plong karena aku telah berteriak mengeluarkan semuanya.
Ya, aku masih bisa menahannya kalau para lalat hijau itu hanya menggangguku, bahkan ketika mereka mengorek lukaku. Aku mungkin akan marah seperti tadi, tapi setelah memberikan sedikit tepukan dan sedikit berteriak untuk mengeluarkan amarah, maka semua selesai. Namun beda ceritanya kalau para lalat itu berani menghina Caraka, sahabat dan keluargaku, terutama Mamah dan Oka. Orang-orang yang paling aku sayangi dan hormati di dunia ini, jangan harap mereka hanya akan menerima tepukan atau semprotan pestisida. Tidak! aku akan pastikan mereka benar-benar hangus terbakar.
“Astagfirullahaladzim!”
Aku tersentak terkejut ketika tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, yang malah terkekeh geli sambil mengeratkan pelukan dan menumpukan dagunya di bahuku.
“Kenapa berteriak?”
“Apa terdengar sampai bawah?”
Apa aku berteriak terlalu kencang hingga terdengar ke ruangan Direksi?
“Aku baru sampai sini ketika mendengarmu berteriak.”
“Oh, syukurlah aku pikir teriakanku terdengar sampai ruanganmu”
“Teriakanmu tidak sekencang itu hingga sampai terdengar ke bawah.”
Aku terkekeh mendegar ucapannya.
“Need shoulder to cry on?” (Butuh bahu untuk menangis?)
Aku sudah bilangkan, dia selalu ada untukku … dan bahunya selalu tersedia untukku bersandar … he is the real prince for me (dia adalah pangeran sesungguhnya untukku).
“No, but I need a hug.” (Tidak, tapi aku memerlukan sebuah pelukan).
Caraka tersenyum kemudian membalikan badanku dan memelukku erat.
Aaah … sebuah pelukan yang benar-benar terasa sangat nyaman. Wangi parfum yang menenangkan, pelukan yang memberi kedamaian, membuat rasa kesal dan amarah yang tadi tersimpan di dada perlahan mulai menghilang.
“Maaf aku terlambat, dan tidak ada di sampingmu tadi.”
Aku merenggangkan pelukan untuk menatapnya yang menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Yesi menceritakannya padaku.”
“Bu Yesi? Tapi tadi tidak ada Bu Yesi di kantin.”
“Yesi melihatmu ke luar dari kantin dengan terburu-buru dan ketika dia masuk ke dalam, suasana terasa berbeda jadi dia mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi ... aku benar-benar minta maaf karena kamu harus melewatinya seorang diri.”
Wajahnya benar-benar dilanda rasa bersalah yang mendalam, membuatku terasa hangat.
“Jangan khwatir, kalau hanya menghadapi lalat hijau seperti mereka, itu hanya masalah kecil untukku.” Aku tersenyum kemudian kembali memeluknya. “Aku sudah memperkirakan akan banyak lalat hijau yang akan mengganggu hubungan kita, jadi aku sudah bersiap untuk itu. Jadi jangan terlalu mengkhawatirkanku.”
Dia balik memelukku erat … ah, Kang kopi yang satu ini memang paling bisa membuatku merasa damai dan nyaman.
“Yesi sudah memberi mereka pelajaran, jangan khawatir.”
Aku tahu ketika Bu Yesi telah turun tangan maka mereka tidak akan berkutik. Bu Yesi bukan hanya sekertaris kepercayaan Caraka, tapi dia juga merupakan sekertaris senior yang memiliki wewenang untuk mengatur semua sekertaris direksi dan komisaris.
“Kang …”
“Hehehe … mau apa? Kalau kamu sudah manggil Kang, biasanya ada maunya.”
“Hahaha.”
Aku melepaskan pelukan dan menatapnya yang tersenyum, tangannya merapihkan rambutku sebelum dia kembali menatapku.
“Aku rasa … aku benar-benar harus ke luar dari sini.”
Dia terdiam mematung menatapku. Oke, aku akan menjelaskannya dengan cepat sebelum mantra panggilan kesayangan hilang keampuhannya.
“Aku memerlukan suasana dan tempat baru dimana tak ada seorang pun yang akan mengingatkanku kepada kejadian itu, hingga aku bisa kembali berdiri tegak dan kembali menjadi diriku sendiri sebelum nanti aku bisa dengan percaya diri berdiri di sampingmu.”
Dia masih terdiam menatapku, kemudian bersandar di panggar pembatas
“Apa kamu sudah mendapat panggilan pekerjaan lain? Hingga mau ke luar dari sini.”
“Belum,” jawabku dengan putus asa.
Hampir sebulan setelah aku mendapatkan izin mencari pekerjaan lain, dan entah sudah berapa banyak lamaran yang ku kirimkan, tapi sampai sekarang tak satu pun yang memanggilku walau hanya untuk melakukan wawancara. Untuk sesaat aku lupa kalau dunia pencari kerja itu memang sangat kejam.
Di saat ribuan pengangguran berburu lowongan pekerjaan, banyak perusahaan yang pailit dan melakukan PHK besar-besaran. Disaat banyaknya fresh graduate yang semangat mencari pengalaman kerja, sebagian besar perusahaan lebih mementingkan calon karyawan yang berpengalaman. Disaat banyaknya pencari kerja yang telah berpengalan, perusahaan menolak dengan alasan maksimal umur sebagai syarat. Itulah paradoks dunia pekerjaan.
“Apa aku usaha saja ya?”
“Mau usaha apa?”
“Nah itu dia, apa ya? Usaha yang modalnya tidak terlalu besar.”
“Aku tahu.”
Aku manatap Caraka yang kini berdiri miring menghadapku.
“Apa?”
Aku menatap Caraka yang terlihat serius menatapku.
“Kamu hanya memerlukan modal sedikit, bahkan tidak perlu modal, tapi keuntungannya sangat besar.”
“Serius?”
Ini dia yang ku perlukan! Sesuai prinsip ekonomi, dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatlan keuntungan sebesar-besarnya.
“Serius.” Caraka mengangguk yakin membuatku mengubah posisi berdiriku menjadi menghadapnya dan menatapnya dengan mata berbinar penuh harap.
“Apa?”
Dia terdiam, matanya menatapku serius membuatku balik menatapnya.
“Menikah denganku.”
Deg!
Aku bergeming menatapnya yang masih menatapku. Semilir angin sore hari, langit berwarna jingga berhiaskan arak-arakan burung yang kembali ke sarang, dan seorang pria tampan berdiri di hadapanku. Melamarku.
Perempuan mana yang tidak akan merasa bahagia mendapat lamaran dari pria yang dicintai, begitu pula dengan aku. Dan aku hampir saja mengatakan “Ya!” ketika aku kembali tersadar, kalau saat ini aku masih belum bisa berdiri di sampingnya dengan percaya diri. Tidak, aku harus mengubah diriku menjadi sosok yang pantas berdiri di sampingnya, yang akan memberinya kekuatan dan tak akan membuat kepercayaan yang diberikan keluarga Mahesa terbuang sia-sia. Menjadi seseorang yang bisa mmebuat para lalat hijau bungkam, tanpa harus menepuk mereka.
“Kamu tak perlu modal sepeser pun, cukup hanya menjadi dirimu sendiri dan keuntungan yang akan kamu dapatkan adalah selain suami yang sangat tampan, juga semua asset yang menjadi miliknya akan menjadi milikmu. Bukankah itu sesuai prinsip ekonomi?”
Aku tertawa mendengarnya menjabarkan tentang prinsip ekonomi versinya sendiri.
“Aku ingin mengatakan, Ya.”
“Just say yes.”
Aku tersenyum kemudian menggengga ke dua tangannya.
“Tidak sekarang. Kepercayaan diriku belum kembali seutuhnya, jadi bagaimana bisa aku berdiri di sampingmu dengan kepala tertunduk. Aku ingin berdiri di sampingmu dengan penuh percaya diri, memberimu kekuatan.”
Aku memberi sedikit jeda sebelum kembali berkata,
“Selama ini kamu yang selalu ada untukku, mendukungku, menerimaku apa adanya, memberiku kekuatan dan menjadi tempatku bersandar … aku ingin menjadi seperti itu bagimu. Selalu ada untukmu, mendukungmu, menjadi kekuatan bagimu dan … I wanna be your shoulder to cry on (aku ingin menjadi sandaran tempatmu menangis).”
Aku tersenyum menatapnya yang balas tersenyum.
“Jadi … maukah kamu menungguku, hingga waktu itu tiba, hingga kepercayaan diriku kembali tumbuh, dan bisa kembali mengangkat kepalaku? Dan mungkin saja saat itu aku yang akan melamarmu terlebih dahulu.”
Caraka tersenyum kemudian menarikku ke dalam pelukkan.
“Nanti … aku yang akan kembali melamarmu, cukup persiapkan hatimu untuk menjawab … iya.”
Aku tersenyum sambil memeluknya erat. Secepatnya … aku janji, secepatnya aku akan mengatakan … ya … sampai saat itu tiba, tetaplah di sini menungguku.
*****
Shoulder to cry on
By Tommy Page
Side by side with you till the end
Menemani hingga akhir waktu
I’ll always be the one to firmly hold your hand
Aku akan selalu menggenggam erat tanganmu
No matter what is said or done
Tak peduli apa kata orang
Our love will always continue on
Cinta kita akan selalu bertahan
Every one needs a shoulder to cry on
Semua orang butuh bahu untuk sandaran tangisnya
Every one needs a friend to rely on
Semua orang butuh teman yang bisa dipercaya
When the whole world is gone
Saat seluruh dunia tiada
You won’t be alone ‘cause I’ll be there
Kau takkan sendiri karena aku kan selalu ada
Note :
Mari kita menundukan kepala sejenak, berdoa agar kapal selam Nanggala 402 bisa ditemukan dan semua ABK bisa kembali pulang ke keluarga masing-masing dalam keadaan sehat wal'afiat ... aamiin yaa robbal'alaamiin.