I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
83. Daughter first love



2 episode terakhir



Daughter first love (Cinta pertama anak perempuan)



Ku hempaskan tubuhku di atas kasur kamar yang telah ku tinggalkan selama tiga bulan ini.


Lelah … tapi lelah yang menyenangkan ketika mengingat acara semalam. Tak ada drama seperti yang ku bayangkan, semua berjalan sebagaimana mestinya.


Mamah berperan sebagai nyonya rumah yang menyambut para tamu, ibu suri bahkan mengenalkan mamah kepada sesepuh keluarga Caraka yang hadir malam ini, mereka berdua kemudian terlibat pembicaraan tentang rencana pernikahanku dan Caraka, sedangkan ayah berbicara serius dengan papah, sesekali ku lihat mereka tertawa terbahak.


Oka seperti biasa, dia akan mengekor Candra dan membicarakan tentang automotive, sedangkan Anggi ku lihat dia memiliki pengawal pribadi, Birendra, yang selalu berada di sampingnya walaupun dengan muka tanpa ekspresinya itu. Oh, iya! Mamah mengira Birendra sebagai kekasihnya Anggi, dan entah apa maksud Anggi dengan tidak menyangkal itu, mungkin dia tak ingin membuat mamah mengetahui hubungannya dulu dengan Caraka.


Ngomong-ngomong soal Caraka, lelaki parapurnaku yang satu itu membuatku geleng-geleng kepala karena ulahnya. Ketika tengah menyalami para tamu undangan yang datang untuk mengucapkan selamat. Aileen, Ivan, Fery, Willy, Pak Ade, Pak Wiradi, dan beberapa rekanku dari departemen lain, juga sebagian para pekerja Mahesa group cabang Surabaya, dan tebak siapa yang berada di antaranya? Yap! Elvan.


“Aku mengundang beberapa orang sebagai perwakilan dari M group cabang Surabaya, jadi kita tidak perlu mengundangnya lagi nanti,” ucap Caraka ketika aku heran melihatnya ada di antara tamu undangan.


Aku mengangkat alis sambil manatapnya curiga, yang malah tersenyum sambil merangkul pinggungku, calon suamiku yang terlihat luar biasa tampannya dengan kemeja batik warna senada dengan kebayaku itu berbisik,


“Biar dia tahu, kalau aku lah pemenangnya.”


Membuatku tak bisa lagi menahan tawa.


Ya itulah Caraka Benua calon suamiku yang paripurna, dan sepertinya sudah tak kuasa lagi untuk menunda pernikahan kami. Dia hanya memberi waktu sebulan untuk menyiapkan acara ijab kabul dan pesta pernikahan yang membuatku, Anggi, mamah, Siska, dan ibu suri, pontang panting menyiapkan semuanya.


“Jangan lupa nanti kamu datang ke Jakarta secepatnya” Anggi hanya mengangguk sambil menghapus airmatanya ketika mengantar kepulangan kami. “Mau kan kamu bantuin kakak dan mamah menyiapkan pernikahan kakak?” Anggi mengangguk-anggukan kepalanya semangat membuatku tersenyum. “Kakak tidak mau pusing sendirian karena mamah pasti bakal lebih heboh dari pada kakak,” bisikku membuat Anggi tertawa.


Dia sedih karena baru saja dipertemukan dengan kami, tapi harus kembali kami tinggal pulang ke Jakarta, begitu juga dengan ayah yang ikut mengantar kami ke bandara.


“Kalau perlu apa-apa jangan ragu untuk menghubungi ayah, kamu tidak usah memikirkan biaya pernikahan, itu urusan ayah. Kamu hanya perlu menjaga diri dengan baik.” Aku tersenyum sambil mengangguk. “Menganai kasusmu di sini, jangan khawatir serahkan semua pada ayah dan Birendra.” Aku kembali mengangguk merasa tenang karena ada seseorang yang akan memperjuangkan keadilan ini untukku selain Caraka. “Calon mertuamu sudah memastikan Hadian Izam tidak akan berani untuk ikut campur dalam masalah ini, dan ayah akan pastikan mereka semua akan mendekam sangat lama di penjara.”


“Terima kasih.”


“Jangan berterima kasih, itu sudah kewajiban ayah untuk membela anaknya.” Ayah terdiam sesaat sebelum kembali berkata, “Sekali lagi maafkan ayah … ayah sangat menyangimu, dan bangga padamu,” ucap ayah sambil mengelus kepalaku sambil tersenyum.


Hatiku merasa hangat. Apa ini yang namanya perasaan dilindungi oleh seorang ayah? Perasaan yang sudah aku lupakan selama ini, namun kini kembali hadir. Perasaan terlindungi, seolah kita telah menemukan tempat teraman dalam hidup kita.


Aku melihat ayah juga mengatakan sesuatu kepada Oka sebelum memeluknya erat.


****


Sebulan ini aku disibukan oleh persiapan pernikahanku, untungnya di sini kami memiliki tetangga yang siap membantu (Inilah salah satu keuntungan kita bertentangga) walaupun setelah detik rencana pernikahanku tersebar, akupun kembali menjadi hot topik dunia pergosipan emak-emak di komplek, tapi itu tidak seberapa mengingat bagaimana mereka banyak membantuku.


Dari mulai mengurus syarat pernikahan oleh pak Sukendar yang menjabat RT di sini, sampai emak-emak komplek yang heboh mempersiapan pengajian sebelum acara siraman. Sehari sebelum acara siraman ayah datang ke Jakarta yang membuat heboh emak-emak karena untuk pertama kalinya melihat sosok ayah.


“Pantesan nyokap lu nolak bang Hasan yang juragan kontrakan. Bokap lu rajanya juragan kontrakan,” ucap Siska membuatku tertawa. “Sekarang juga gue paham kenapa lu sama Oka bisa cetar gini. Bibitnya juga pada cetar,” lanjut Siska membuatku kembali tertawa.


Di rumah kini mulai terlihat kesibukan, beberapa orang dari WO hilir mudik untuk mempersiapkan siraman, sedangkan aku, Anggi, Siska dan Kayas tengah mempersiapkan goodie bag untuk acara siraman yang akan dilakukan besok pagi, yang artinya lusa aku akan menikah!


“Kakak! Kakak istirahat, duduk yang cantik, jangan cape-cape!” seru Anggi ketika melihatku ikut membantu memasukan handuk yang telah diikat pita, sisir, satu botol kecil sabun cair, dan sebuah lilin aroma terapi ke dalam tote bag transparan yang depannya telah dipasang pita juga kartu kenang-kenangan acara siraman Kirana Az Zahra.


“Ini juga duduk, Bi, kata siapa kakak lagi koprol.”


“Ya ampun, Kakak! Nanti hasil perawatannya bakalan sia-sia. Kakak tidak mau kan kakang ilfill lihat kulit kakak jadi kusam pas hari H?” Anggi menatapku galak yang malah membuatku nyengir kuda.


Adikku yang satu ini paling sibuk, paling cerewet dalam menyiapkan segalanya di antara kami semua. Ini ternyata rasanya memiliki saudara perempuan yang bisa diandalkan … dan itu membuat hatiku diliputi rasa hangat.


Sebelum siraman, aku melakukan sungkem kepada mamah juga ayah. Saat meminta izin itulah aku tak bisa menahan tangisku.


“Mah … mamahku yang hebat dan luar biasa. Mamah adalah perempuan tangguh yang menantang kejamnya dunia demi cita-cita dan mimpi putra-putrinya. Mamah adalah perempuan yang telah memberi cinta dan kasih sayang yang teramat sangat dalam, dari mulai aku kecil sampai sekarang, bahkan mungkin hingga aku menua nanti.”


“Mah … mamah yang telah mengajarkan ku dari mulai tertatih, hingga berjalan dan kini siap berlari. Tangan Mamah yang selalu mendekap ku ketika jiwaku mulai menyerah dengan kejamnya dunia, tangan Mamah yang selalu terulur dan terbuka ketika ragaku mulai merasa lelah dan ingin pulang.”


“Mah … mamah adalah segalanya bagiku. Duniaku … jiwaku dan hidupku.”


“Banyak orang bilang seorang ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuan di dunia ini. Bagitu juga bagiku … ayah adalah cinta pertamaku. Lelaki pertama yang namanya bisa kuucapkan, lelaki pertama yang akan kupanggil ketika aku merasa takut, lelaki pertama yang menggenggam tanganku, lelaki pertama yang memelukku, melindungiku dari kejamnya dunia, uluran tangan ayah adalah tempat teraman untukku.”


“Mah, Yah, besok insyaallah aku akan menjadi milik pria lain. Pria yang aku cintai dan aku pilih sendiri untuk menjadi suamiku dan menghabiskan sisa hidupku dengannya. Pria yang besok tangannya akan ayah genggam untuk mengucapkan ijab kabul, dan mengambil alih semua tanggung jawab mamah dan ayah yang selama ini kalian emban, sampai akhirat nanti.”


“Mah, Yah … restuilah pernikahan kami dengan doa terbaik kalian agar malaikat ikut mendoakan kami dan Allah mengabulkan doa kalian.”


“Terima kasih untuk pengorbanan mamah dan ayah selama ini. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang luar biasa selama ini … semoga Allah selalu memberi keberkahan, kebahagiaan dunia akhirat, Kesehatan serta keselamatan untuk mamah dan ayah.”


Aku bersimpuh di kaki mamah yang langsung memelukku erat sambil berderai air mata, begitu juga dengan ayah yang memelukku erat.


****


“Besok ijab kabul di masjid, hanya bapak-bapak, mamah dan para sesepuh yang nanti akan menyambut kedatangan calon mantu dan besan di sana.”


Aku mengangguk mengerti mendengar ucapan ayah. Saat ini kami berdua berbicara di dalam kamar setelah para MUA selesai melukis tanganku menggunakan inai atau henna. Ayah sendiri baru saja selesai berbicara dengan para pengurus di lingkungan sini mengenai acara besok. Besok rencananya setelah acara ijab kabul kami mengadakan acara ramah tamah untuk warga sini karena tak mungkin untuk mengundang mereka semua ke acara resepsi di hotel pada malam harinya.


Tak akan ada kursi pelamina hanya meja prasmanan, beberapa stand makanan, desert, minuman dan kursi-kursi yang akan di susun di halaman untuk para tamu yang datang.


“Kamu tunggu di sini sampai kami datang dengan Caraka yang telah sah menjadi suamimu. Nanti kamu akan ditemani Anggi, Siska, bu Yati, dan … tante Mayang, tidak apa-apa kan?”


Aku tersenyum kemudian mengangguk.


Aku telah memutuskan untuk menerima ayah kembali, artinya akupun harus menerima semua tentang ayah, termasuk tante Mayang yang kini berstatus istri ayah, juga keluarga yang lainnya termasuk H. Joko, yang tak lain dan tak bukan adalah kakekku sendiri.


“Terima kasih, karena mau menerima kami,” ucap ayah dengan senyum yang menular padaku.


“Besok kamu akan menikah. Kamu yakin mau menikah besok? Kalau kamu ragu ayah bisa membatalkannya, dan kita pergi dari sini sebelum Rudi Mahesa mengirim para bodyguardnya untuk menculikmu.”


“Hahaha.”


Ayah tersenyum menatapku sendu, kedua tangannya menggenggan tanganmu memberikan kehangatan.


“Na … jadikan pernikahan ayah dan mamah dulu sebagai pelajaran. Pernikahan bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari segala. Dalam pernikahan kamu harus belajar komunikasi, saling meredam ego, saling menghormati, saling memahami, juga belajar berkompromi. Dan dulu ayah dan mamah gagal dalam hal itu … ayah berdoa agar kalian tidak gagal seperti kami.”


Aku hanya bisa kembali tersenyum dengan tenggorokan yang sudah memanas menahan tangis.


“Ketika nanti kalian merasa lelah, ingatlah alasan kalian memulainya, ingatlah perasaan saat pertama kalian saling jatuh cinta, ingatlah semua pengorbanan yang harus kalian lalui hingga akhirnya sampai pada titik ini. Ingatlah alasan kenapa kalian saling memilih, ingatlah niat kalian memutuskan untuk menikah … pupuk rasa itu kembali, jangan menyerah hanya karena sedikit ego yang terluka.”


Air mataku tak kuasa lagi terbendung, ku hapus dengan cepat sebelum menangkup tangan ayah yang masih menggenggam tangan kananku.


“Kamu adalah putri kecil ayah, sampai kapanpun akan tetap menjadi putri kecil ayah. Dua puluh tahun ayah kehilanganmu. Bukan waktu yang singkat, dan bukan masa yang menyenangkan. Dan kini ketika baru saja ayah bisa kembali lagi memelukmu ayah harus melepaskanmu untuk lelaki yang kamu pilih menjadi suamimu … berbahagialah, Na. Semoga Allah memberkahi rumah tangga kalian.”


Tak kuasa lagi ku puluk tubuh ayah sambil tergugu. Ayah, tetaplah ayah yang akan menjadi cinta pertama dalam hidupku, yang akan menjadi tempat teraman untukku berlindung.


Kesalahan di masalalu hanya sebagai bukti kalaukami adalah manusia biasa.


*****