I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
28. I love you, just the way you are.




I love you, just the way you are.



Siska datang sejam kemudian, dengan wajah cemas dia masuk ke dalam apartemen Caraka.


“Dimana Kirana?”


“Di kamar.”


Mereka berjalan ke arah kamar kemudian masuk ke dalam. Kirana masih tertidur, sesekali wajahnya terlihat gelisah membuat Caraka langsung menggenggam tangannya dan membisikan kata-kata menenangkan.


“Apa yang terjadi dengannya?” Siska berjongkok di samping Caraka yang terdiam mantap Kirana.


Caraka mengelus kepalanya penuh kasih sayang sebelum menjawab Siska.


“Dua orang baj*ngan mengganggunya.”


“Mengganggu?” Siska terlihat bingung beberapa saat sebelum matanya menangkap luka di bibir Kirana. “Ya Tuhan!” Siska menutup mulutnya, matanya yang berkaca-kaca menatap Kirana sendu. “Bagaimana bisa?” suaranya gemetar melihat bibir Kirana yang sedikit bengkak dan terluka.


“Kirana yang berhak menceritakan semuanya padamu, tapi aku bisa pastikan para baj*ngan itu kini telah mendekam di penjara.”


Mereka terdiam beberapa saat, menatap Kirana yang kembali terlihat gelisah.


“Bisa aku titip Kirana sebentar? Ada apotek 24 jam di bawah, aku harus membeli obat, dan mungkin makan … dia belum makan dari siang.” Siska mengangguk mengerti.


Caraka berdiri dan bersiap untuk pergi, tapi dia kembali menghadap Siska ketika mengingat sesuatu.


“Bajunya sedikit basah, bisa tolong gantikan … aku takut dia masuk angin.”


“Tidak usah khawatir, aku akan menggantinya.”


Caraka mengangguk sebelum akhirnya ke luar meninggalkan Siska yang masih menatap Kirana sendu.


Apa yang terjadi dengan sahabatnya ini hingga terlihat begitu menderita bahkan di saat tidur? Kirana adalah seorang perempuan yang kuat.


Jika dia ditampar, dia akan balas menampar … jika seseorang memukulnya, dia akan memukul balik. Namun ketika seseorang baik padanya, dia akan jauh lebih baik … karena itulah Siska bisa bersahabat dengan Kirana selama hampir dua puluh tahun, karena tidak pernah ada kepura-puraan pada diri seorang Kirana.


Namun melihat kondisi Kirana saat ini, dengan luka di bibir dan lengannya yang memerah Siska bisa menebak secara garis besar apa yang telah terjadi. Dadanya terasa sakit, tubuhnya ikut gemetar membayang kalau tebakannya benar. Dengan tangan gemetar dia mencari kaos yang tadi dengan asal dan cepat dia masukkan ke dalam tas.


Siska akhirnya menemukan sebuah kaos biru muda yang akan terasa nyaman untuk dipakai tidur. Dia tengah menutup tasnya kembali ketika terdengar erangan suara kecemasan dari arah tempat tidur membuat Siska dengan cepat kembali ke samping Kirana.


“Na, Kirana … ini gue Siska.” Siska menggenggam tangan Kirana yang terasa dingin. “Lo aman sekararang, ada gue sama Caraka di sini.” Suara Siska terdengar bergetar, dia berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya.


Perlahan mata Kirana membuka, sesaat dia terlihat bingung karena berada di tempat yang tidak di kenal sampai akhirnya matanya menangkap sosok Siska yang duduk di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. Siska menyunggingkan senyum yang malah membuat air matanya bergulir, dan itu kembali menyadarkan Kirana tentang apa yang terjadi beberapa jam lalu.


Sesaat mereka hanya saling tatap dengan mata yang bekaca-kaca, tangan mereka saling menggenggam erat, dada mereka sama-sama terasa sakit, sebelum akhirnya mereka berangkulan dan sama-sama menangis.


Sebagai perempuan dan seorang sahabat, tak perlu penjelasan panjang lebar untuk Siska bisa memahami betapa terlukanya sahabatnya saat ini. Dia hanya akan memeluknya erat, menangis bersamanya, tanpa bertanya ‘kenapa?’, dia akan berada di sampingnya sampai Kirana siap untuk bercerita.


Entah berapa lama mereka berpelukan sambil menangis, sampai akhirnya Kirana merasa bebannya sedikit terangkat, tak seemosinal tadi lagi. Mereka melepaskan pelukan, dan saling menghapus air mata dengan bibir menyunggingkan sedikit senyum.


“Kenapa ada di sini?” Kirana bertanya dengan suara serak.


“Raka menghubungiku.”


“Raka?”


“Iya,” jawab Siska sambil mengambil kaos yang tadi dia siapkan untuk mengganti baju Kirana.


“Dia bilang kamu tertidur dengan baju basah, jadi dia memintaku untuk membawa baju ganti untukmu.” Siska menyerahkan koas ke arah Kirana. “Ganti dulu bajunya, dia takut lo sakit.”


Tanpa banyak bicara Kirana mulai mengganti bajunya. “Apa dia menceritakan apa yang terjadi?”


“Tidak. Dan lo tidak perlu cerita sekarang … lo bisa cerita kapan pun setelah lo siap untuk cerita.”


Kirana terdiam menatap Siska kemudian tersenyum. Dia tahu tanpa harus berceritapun Siska pasti sudah bisa menebaknya, tapi dia ingin bercerita kepada seseorang yang bisa memahaminya. Caraka bukannya tidak bisa memahaminya, dia pasti akan memahaminya. Hanya saja, pemahaman dari seorang pria dan perempuan itu berbeda.


Karena Kirana yakin Siska sebagai seorang perempuan bisa lebih memahami apa yang dia rasakan saat ini dari pada Caraka, karena itulah Kirana memutuskan untuk mulai bercerita. Sesakali terlihat SIska menghapus air matanya yang terus ke luar mendengar apa yang terjadi pada Kirana.


“Setiap gue ingat bagaimana baji ngan itu menyentuh gue … gue merasa jijik.” Kirana bergidig sambil memeluk dirinya sendiri.


“Bagaiman dengan Raka, Sis?” Suara Kirana kembali bergetar, matanya berkaca-kaca. “Gue saja merasa jijik dengan diri gue sendiri, bagaimana dengan Raka? Dia juga pasti merasa jijik setiap melihat gue?”


“Lo, ngomong apa sih, Na!” Siska menggenggam tangan Kirana. “Tidak ada yang merasa jijik sama lo, apa lagi Raka! Dia sayang banget sama lo, dan lo harus lihat bagaimana sedihnya dia melihat lo seperti ini.”


Kirana menghapus air matanya.


“Dari tadi duduk di samping lo, genggam tangan lo … tadi gue malah sempet berpikir kalau lo itu bukan Cinderella tapi Putri Tidur yang lagi nunggu dicium Pangeran.” Kirana tersenyum mendengar ucapan Siska. “Atau jangan-jangan tadi lo tidur cuma modus doang ya, biar dicium Pangeran?”


“Sudah deh ngaku saja, gue kan tahu sengebet apa lo pengen di cium Pangeran.”


“Sialan! Fitnah, lo, hahahaha.”


Siska ikut tertawa, senang rasanya melihat sahabatnya bisa kembali tertawa. Mereka saling tatap dengan senyum di wajah masing-masing.


“Lo sudah ngasih mereka pelajaran kan?”


Kirana mengangguk sambil tersenyum. “Gue banting mereka berdua, terus gue tendang!”


“Bagus!” Siska bersorak bahagia. “Gue yakin lo tidak akan membiarkan mereka begitu saja.”


Kirana, Siska dan Kayas sering diajarkan bela diri dasar untuk melindungi diri sendiri oleh Oka yang notabanenya adalah pemegang sabuk hitam karate dan pemegang beberapa medali tingkat nasional.


“Belum lagi mereka dapat amukan dari Raka.”


“Kalau gue ada di sana gue ikutan, Na, menghajar mereka!”


Kirana tersenyum kemudian mengangguk. Dia bersyukur Caraka menghubungi Siska untuk datang malam ini, setidaknya dengan berbicara dengan Siska dia bisa sedikit melupakan kejadian tadi sore.


Tok-tok-tok.


Terdengar pintu kamar di ketuk sebelum akhirnya terbuka. Caraka masuk sambil tersenyum manatap Kirana yang duduk di atas tempat tidurnya.


“Sudah bangun?” Caraka berjalan ke arah Kirana yang mengangguk sambil tersenyum. “Lapar? Kamu belum makan dari tadi siang kan? Aku membeli nasi goreng, sekarang kita makan dulu biar kamu ada tenaga buat nangis lagi, dan aku ada tenaga buat gendong kamu lagi.”


Kirana mendelik ke arah Caraka yang malah membuat pria itu tersenyum. Caraka bersyukur setidaknya Kirana sudah lebih baik. Ketika pulang tadi Caraka terkejut mendengar suara tawa Kirana di dalam kamar, membuatnya berdiam diri di depan kamar beberapa saat membiarkan Kirana bersama Siska yang berusaha keras mengembalikan kecerian Kirana.


Mereka bertiga kini duduk di depan TV sambil makan nasi goreng, sesekali Kirana akan meringis merasa sakit karena bibirnya yang terluka, dan setiap dia merasa sakit Kirana kembali terlihat sedih mengingat alasan kenapa bibirnya bisa terluka seperti itu.


“Sudah kenyang.” Kirana menaruh piring yang masih terisi setengah nasi goreng di atas meja.


“Habiskan, Sayang, apa mau aku suapin?”


Kirana menggelengkan kepala. “Beneran sudah kenyang.”


Caraka melihat piring nasi goreng Kirana yang masih setengah. Itu lebih baik daripada tidak makan sama sekali.


“Ya sudah, nanti jangan lupa minum obatnya.”


Kirana mengangguk sambil minum, tapi kemudian dia kembali meringis ketika merasakan perih di bibirnya.


“Sakit?” tanya Caraka, tangan kanannya menangkup sebelah pipi Kirana dan jempolnya mengelus bibirnya pelan.


Tak bisa berkata-kata Kirana hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Mau aku obatin?” Caraka kembali bertanya, sedangkan Kirana masih kehilangan kata-katanya. “Aku jamin obatku sangat mujarab.”


Pandangan mereka saling mengunci beberapa saat, wajah Caraka mulai mendekat ketika tiba-tiba terdengar deheman yang sangat kencang.


“EHM! Jadi haus,” ucap Siska sambil berdiri lalu berjalan menuju dapur. “Lanjutkan saja pengobatannya, anggap saja gue ini hanya pohon kaktus hiasan meja dapur … atau botol kecap? … Atau toples kerupuk? … terserah kalian saja, gue orangnya fleksibel ko bisa jadi apapun.”


Siska terus mengoceh sambil berjalan menuju dapur meninggalkan Caraka dan Kirana yang saling pandang sebelum akhirnya mereka tertawa sambil menggelengkan kepala. Caraka tiba-tiba memeluknya membuat Kirana tersentak sesaat, tapi kemudian dia kembali tenang dalam pelukan Caraka.


“So glad to see your smile again (sangat senang melihat senyummu lagi),” bisik Caraka membuat Kirana tersenyum. “I love you Kirana Az Zahra … I love you.”


Hati Kirana bergetar mendengar pengakuan cinta Caraka, seandainya dia mendengar pengakuan itu sebelum kejadian tadi mungkin dia akan sangat senang, tapi kini semua terasa berbeda.


“Tapi aku … baj*ngan itu sudah…”


“Sssttt …” Caraka melepaskan pelukan, dia kini menatap Kirana lembut. “Dimana dia menyentuhmu? Di sini?” Caraka mengelus lengan Kirana lembut membuat gelenyar aneh dirasakan Kirana. “Di sini?” Tangan kanan Caraka kini menyentuh tengkuknya, jantung Kirana mulai berdetak kencang melihat mata Caraka yang menatapnya lembut. “Dan … di sini.” Bibir Caraka kini menciumnya lembut, sangat lembut membuat Kirana lupa bernapas untuk beberapa saat.


Sentuhan yang lembut seolah menghapus semua rasa jijik, hina dan kotor yang dirasa Kirana beberapa saat lalu, berganti dengan perasaan dicintai dengan teramat sangat. Menumbuhkan kembali perasaan percaya diri yang tadi sempat hancur.


“I Love you, just the way you are, Kirana Az Zahra.” Caraka kembali membisikan kata cinta dengan penuh keyakinan membuat Kirana tersenyum.


“Thank you for loving me … I love you too, Caraka Benua.”


Mereka tersenyum dengan mata saling pandang, wajah mereka kembali mendekat ketika tiba-tiba.


“Ehm! Permisi …” terdengar suara dari arah dapur. “Pengobatannya sudah selesai belum?”


Kirana dan Caraka tersentak terkejut sesaat sebelum mereka saling pandang dan tertawa.


Hari itu Kirana merasakan titik terendah dalam hidupnya, dilecehkan baik fisik maupun verbal, merasa diri kotor, hina dan menjijikan. Namun dia juga patut bersyukur karena di kelilingi orang-orang yang sangat peduli padanya, orang-orang yang akan selalu ada untuknya, seperti Siska, sahabat sejatinya, juga Caraka, lelaki yang dulu dia anggap mustahil dia miliki, kini pria itu lah yang berdiri paling depan untuk membelanya, memeluknya untuk memberi kenyamanan, dan membisikan kata cinta yang kembali memberi kehangatan dalam hatinya.


Ya … mungkin dia bukan seorang Putri Raja, tapi dia adalah anak, kakak, sahabat, dan kekasih yang berharga bagi orang-orang yang mencintainya. Dia patut bersyukur untuk itu.


*****