
Ini bukan pertama kalinya aku berada di atas kendaran yang sama dengan Bery. Bahkan di awal aku melihatnya adalah di atas mobil abi. Aku juga sudah beberapa kali mengantarkannya pulang ke kos-kosannya dulu ketika belum pindah ke apartemennya 2 tahun terakhir ini. Pernah juga beberapa kali umi atau kak Nindi memintaku menjemput Bery di lokasi proyek entah karena sudah kemalaman atau mobilnya bermasalah di tengah perjalanan. Selama ini aku cuek dan memilih tidak pusing untuk menjaga image atau apalah yang disebut ramah tamah dan sopan santun.
Kali ini aku sedikit bingung bagaimana bersikap kepadanya karena sekarang statusnya dia adalah atasanku sementara di mobil ini ada sopir. Ingin rasanya kusumpal mulut supir yang membawa kami karena ia begitu cerewet menanyaiku tentang hal-hal yang menurutku tidak penting. Beruntung Bery beralih menjadi juru bicara untukku dan berusaha mengalihkan pembicaraan sehingga membuat supir tersebut bungkam selama sisa perjalanan.
Di tengah perjalanan Bery meminta supir singgah di rumah makan yang kami lalui untuk makan siang. Sebenarnya aku tidak tertarik makan siang dengan mereka namun demi menjaga sikap, akhirnya aku ikuti langkah Bery yang ternyata memilih salah satu ruang privat untuk kami. Tapi akhirnya hanya kami berdua yang makan di ruang tersebut karena supir tadi izin makan di area bebas merokok.
Aku tahu Bery mengambil ruang privat untuk menjaga kenyamananku, tapi suasana ini malah membuat kami canggung. Bery juga hanya lebih banyak diam, tidak seperti saat di kantornya tadi.
"Bagaimana tadi pekerjaannya, ada masalah gak?" Akhirnya Bery membuka obrolan.
"Aman." Jawabku singkat.
"Good." Ucap Bery dengan senyum mengembang di wajahnya.
Kembali kami hanya saling diam, tak ada obrolan lagi hingga kami menghabiskan menu makanan masing-masing.
Aku berdiri hendak membayar semuanya, aku laki-laki, pantang ditraktir perempuan. Namun Bery menahanku.
"Kita makan pakai uang kantor, udah ada budget-nya." Lagi-lagi Bery berucap diiringi senyum lebar di wajahnya.
Aku hanya bisa mengangguk kemudian garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
Kami tidak langsung berangkat ke lokasi proyek setelah dari kasir tadi, kebetulan sudah masuk waktu dhuhur dan ada mesjid tepat di samping rumah makan tersebut. Setelah sholat dhuhur barulah kami melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi proyek.
Ternyata proyek pembangunan apartemen yang dimaksud baru masuk ke tahap pembuatan pondasi. Aku terus mengikuti langkah Bery dengan menjaga jarak aman sekitar 1 meter darinya. Meskipun Bery mengenalkan aku ke orang-orang di lokasi proyek sebagai asistennya yang baru, tapi aku merasa merangkap sebagai bodyguard-nya.
Bagaimana tidak, di lokasi proyek ini, hanya Bery satu-satunya perempuan yang ada di kerumunan ratusan laki-laki yang sedang berada di lokasi yang sama. Aku merasa tidak nyaman setiap kali melihat ada diantara orang-orang di sana yang posisinya terlalu dekat dengan Bery. Karena tidak tahan, setiap ada yang bergerak kurang dari 30 senti dari Bery, aku akan memberi kode dengan sedikit mendorong pundak mereka agar sedikit menjauh. Mau tidak mau akhirnya aku lebih merapatkan diri ke sisi Bery agar tidak ada lagi yang berusaha curi-curi kesempatan mendekatinya. Tentu aku faham, mana gerakan dan tatapan modus mana yang memang hanya untuk kebutuhan kerja.
"Good job, Sky!" Ucap Bery setengah berbisik kepadaku. "Mulai hari ini dan seterusnya, kalau aku ada jadwal turun ke lapangan, kamu aja yang jadi asistenku, biar sekalian jadi bodyguard." Ada tawa renyah yang tertangkap di telingaku. Untuk kedua kalinya dalam satu hari ini jantungku dibuat berlompatan tak karuan oleh Bery. Wajahku terasa memanas karena aku tahu Bery sedang menggodaku.
Tentu saja Bery sudah hafal mati bagaimana aku memperlakukan kak Nindi jika berada di dekatnya, posesif. Aku sangat posesif kepada kakak perempuanku tersebut. Dan terhadap Bery, tentu saja aku tidak suka melihat tatapan lapar dari laki-laki yang memandangnya.
Inilah yang membuatku tidak ingin dekat dengan perempuan manapun selain umi dan kak Nindi, mana ada perempuan yang akan tahan dengan sifat posesifku? Lihatlah, Bery yang bukan siapa-siapaku, dia hanyalah sahabat kak Nindi tapi sudah cukup merepotkanku selama ini. Aku selalu tidak bisa menahan diri membiarkannya didekati oleh laki-laki tidak jelas.
Sebutlah aku gila, kenyataannya aku tidak gila. Memang banyak yang menganggapku gila setelah kasusku di waktu yang lalu, tetapi posisi Bery di dalam keluargaku berbeda. Dia bukan hanya sahabat bagi kak Nindi, tetapi dia menjadi sahabat bagi umi begitupun dengan abi.
Aku sering menyaksikan bagaimana abi dan Bery menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berdiskusi ngalur-ngidul urusan kerjaan, tak jarang diselingi diskusi tentang agama bahkan tentang bola pun mereka sangat nyambung. Aku yang anak laki-lakinya yang seharusnya berdebat tentang bola dan melawannya bermain catur malah dilakoni oleh seorang Bery.
Begitu pun dengan umi, Bery selalu lebih nampak antusias dibanding kak Nindi menjadi kelinci percobaan setiap kali umi belajar menu masakan baru. Bery tidak akan bosan duduk berjam-jam menemani umi bercerita sepanjang umi melakukan aktifitasnya di dapur.
Bery adalah warna baru di dalam keluargaku, semua menyayanginya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana menamai tempat Bery di dalam hidupku, tapi karena Bery adalah warna bagi keluargaku, maka akan kupastikan warna itu akan selalu cerah.
Tetapi, sepertinya aku memang sudah gila. Setiap laki-laki yang mendekati Bery semuanya ada di dalam pantauanku. Aku akan mencari sedetail mungkin latar belakang laki-laki tersebut, jika berpotensi akan menyakiti Bery, maka akan kubuat laki-laki itu mundur perlahan. Aku punya caranya, dan hanya aku seorang yang tahu.
Wajahku semakin memanas, aku tidak tahu membuat alasan dan lidahku juga sudah kelu duluan tak mampu berucap satu patah kata lagi. Aku sudah terbiasa mendiami segala hal, di dalam kondisi seperti ini yang mengharuskanku segera bersuara malah membuatku bingung sendiri.
"Ayok ikut kakak, kita ke meeting room dulu, sebaiknya kamu juga ikut."
Tanpa menunggu persetujuanku, Bery melenggang memasuki meeting room yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri. Akhirnya aku hanya bisa mengekor seperti anak bebek mengikuti induknya. Meskipun aku merasa malu, tapi kuabaikan saja, aku tahu Bery tidak akan pernah mempermalukan aku di depan banyak orang.
Dia memang adalah pelindungku, bukankah dulu karena dirinyalah aku bisa menghirup udara bebas setelah membunuh laki-laki bajing*n itu? Mungkin karena itu jugalah diriku selalu ingin melindunginya meskipun tak terlihat bahkan mungkin juga tak terasa olehnya. Tidak mengapa, kelak aku akan berhenti setelah dia mendapatkan pelindung sejatinya. Aku berjanji!
Sebenarnya aku merasa bosan mengikuti meeting ini, karena menurutku semuanya sudah jelas dari detail gambar yang Bery berikan kepada mereka, hanya saja project manager-nya seolah-olah punya banyak hal yang ingin ditanyakan. Menurutku itu terlalu mengada-ada dan dibuat-buat. Sepertinya setelah pulang dari sini aku akan mengambil kursus kepribadian, terutama masalah komunikasi efektif. Aku sudah tidak sabar mementahkan semua pertanyaan dari project manager yang kelihatan sok kepintaran itu namun aku juga takut karena aku tidak punya pengalaman berdebat apalagi berbicara panjang lebar dengan siapapun.
"Kamu yang nyetir, pak Maman tadi izin sekalian jenguk keluarganya katanya. Kita langsung ke rumah abi saja, ini sudah hampir maghrib, nanti cari mesjid buat sholat."
Aku lagi-lagi hanya menganggukkan kepala kemudian mengambil kunci mobil dari tangan Bery. Nampaknya Bery sangat lelah sehingga ia sedikit mengubah sandaran kursinya lebih miring ke belakang.
"Sky, bisa gak kamu gak irit bicara gitu? Kakak harap di meeting-meeting berikutnya kamu bisa speak up, kakak tau kemampuan kamu, jadi jangan merasa sungkan atau tidak percaya diri. Kelak kamu yang akan gantiin abi, ada tugas dan tanggung jawab besar yang menunggu kamu." Bery melirikku yang sepertinya sudah tidak sabar menghadapiku.
"Akan ada waktunya." Jawabku dengan tetap fokus menyetir.
"Iya, tapi kalo kakak ajak kamu ngobrol tuh jawabnya jangan pelit-pelit amat kata-katanya. Kakak ngantuk, ajak ngobrol kek biar gak ketiduran di jalan."
"Saya gak tau mau obrolin apa sama ibu."
"Ishhh.. memangnya kakak sudah setua apa sampe kamu panggil ibu terus? Kalau kamu gak mau panggil kakak, panggil nama aja juga boleh. Sama kakak tuh santai aja, gak usah pakai bahasa formal, kecuali kalo lagi meeting atau sedang bertemu klien, kakak izinkan kamu memanggil ibu. Itu saja. Pokoknya kakak gak mau lagi kamu panggil ibu. Kalo tidak..."
"Kalau tidak?" Akhirnya aku melirik sebentar ke arah Bery, aku penasaran dia mau ancam aku dengan apa.
"Kalau tidak, aku akan bilang ke orang-orang kalo kamu itu pacar aku."
"Bagus dong, hidupku akan aman dari cewek-cewek yang suka ngejar-ngejar aku selama ini."
"Ha ha ha.." Bery tidak bisa menahan tawanya.
Menurutku tidak lucu, tapi ini adalah kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan kepadanya sepanjang aku mengenalnya.
"Lama-lama aku bisa cerewet juga kalau begini terus." Batinku.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗