HAPPIER

HAPPIER
BAB 23



Entah sudah berapa lama Bery tertidur, namun rasanya baru seperti beberapa detik yang lalu ia memejamkan matanya, sekarang harus terbangun karena bunyi ponselnya yang terus bernyanyi.


"Assalamu'alaikum!" Meski malas Bery tetap mengangkat teleponnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Wa'alaikum salam, kak. Kak, ayah sakit...sekarang kami sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit." Jawab suara dari seberang sana dengan panik.


Seketika mata Bery membulat lalu duduk dari posisi tidurnya. Ia melihat layar ponselnya, memastikan nama pemanggilnya.


"Astaghfirullah, iya dek. Tenang, jangan panik.. Anzi tetap jaga ayah di situ, kakak akan segera mencari penerbangan ke situ. Tolong jaga ibu dan ayah, okey!" Ucap Bery menenangkan adiknya.


"Iya kak."


Bery mengelus pelan keningnya kemudian memijatnya berkali-kali. Ia kembali menatap layar ponselnya yang masih ada di dalam genggamannya, jam baru menunjukkan pukul 3 dini hari berarti sekarang pukul 4 dini hari di daerah kelahirannya.


Tak ada waktu untuk bersedih. Bery kembali berkutat dengan layar pipih di tangannya kemudian memesan tiket via online. Setelah urusan tiket selesai, ia segera bangkit dari tempat tidur kemudian menyiapkan segala kebutuhannya.


Kebetulan ada penerbangan untuk pemberangkatan jam 6 pagi ke ibukota provinsi, kemudian ia akan melanjutkan perjalanannya jam 10 pagi dengan pesawat lagi ke kota kabupaten tempatnya berasal.


Setelah 1 jam kemudian, semuanya dirasa siap, Bery segera menuju lobby apartementnya, di bawah taksi online yang dipesannya sudah menunggu. Karena tidak ingin mengganggu, Bery hanya mengirim pesan ke beberapa orang kantor tentang keberangkatannya yang mendadak tersebut.


Sesampainya di Bandara, ia langsung check in, masih sementara check in, ponselnya kembali terus berdering.


"Assalamu'alaikum, Sky!"


"Kamu dimana?"


"Ini lagi check In, salam sama umi dan abi yah, maaf belum sempat kabari mereka. Kakak buru-buru soalnya..."


"Naik pesawat apa?" Sky menjeda penjelasan Bery.


"Rajawali..."


"Tuuut tuuut tuuut..." telpon dimatikan Sky.


Bery tidak punya waktu untuk memikirkan kenapa Sky menelponnya dan tentang pertanyaannya. Setelah selesai melakukan Check In, Bery bergegas ke ruang tunggu karena sekitar 30 menit lagi pesawat akan segera lepas landas.


Tidak terasa, penerbangan selama 2,5 jam di atas udara berakhir juga. Akhirnya pesawat mendarat mulus di Bandara ibukota provinsi S. Sebentar lagi ia akan bertolak ke kota kabupaten X.


Karena jarak waktu transit yang begitu singkat, Bery segera menuju ke tempat pemberangkatan berikutnya. Karena buru-buru dan ia berjalan sambil sesekali mengecek ponselnya, tidak sengaja ia menabrak sesuatu hingga membuat ponselnya terjatuh.


"Prak..."


"Sorry..." ucap Bery.


"Kalau jalan mata lurus ke depan, jangan di ponsel." Bentak laki-laki yang ditabrak Bery.


Bery segera memungut ponselnya tanpa melirik laki-laki yang membentaknya tersebut.


Setelah mengecek ponselnya dan masih bisa menyala meskipun layarnya sudah retak, Bery kembali berniat melanjutkan langkahnya.


"Lain kali hati-hati kalau jalan." Ucap laki-laki tersebut mengingatkan yang masih berdiri menunggu Bery mengangkat wajahnya.


"Maaf! Permisi." Jawab Bery melirik sekilas laki-laki tersebut kemudian langsung bergegas pergi.


"Tunggu!" Kembali laki-laki tersebut menjeda langkah Bery.


Bery berbalik lalu menoleh ke arah suara tadi.


"Iya, ada apa yah? Maaf, saya sedang buru-buru." Bery sebenarnya sangat malas meladeni orang seperti itu namun Bery juga bukan tipe orang yang bisa menyepelekan orang lain.


"Bery, bukan? Ah, tidak mungkin!" Tanya laki-laki tersebut dalam hati.


"Bery..." sebuah suara bergema memanggil Bery.


Kembali Bery menjeda langkahnya demi mendengar sebuah suara emas yang begitu dikenalnya.


"Sky...!" Bery menatap Sky penuh tanda tanya. "Kamu ngapain di sini?" Tanya Bery tidak sabar.


"Menyusul kamu, disuruh kak Nindi." Bery hanya bisa menggeleng demi mendengar penjelasan singkat Sky.


Sementara itu, seketika wajah laki-laki yang tadi ditabrak Bery memerah. Ternyata ia tidak salah. Wanita itu adalah Bery. Ia terus berdiri mematung memandangi punggung Bery yang semakin menjauh dari jangkauan matanya.


"Akhirnya aku menemukanmu. Kamu semakin cantik dan anggun sekarang. Tapi kenapa kamu tidak mengenaliku?"


*****


Akhirnya kami mendarat di kota kelahiran kami, aku dan Sky sama-sama lahir di kota ini. Hanya saja kami sama-sama harus pergi jauh dari kota ini karena alasan yang juga sama, sama-sama ingin melupakan masa lalu dan menjalani hidup yang baru.


Kami langsung menuju Rumah Sakit tempat ayahku dirawat yang tidak jauh dari Bandara. Mungkin hanya butuh 30 menit untuk sampai ke sana dengan menggunakan taksi online, apalagi kondisi jalanan tidak sepadat di ibukota Negara.


Aku segera berjalan cepat menuju ruang perawatan ayah, aku sudah tidak bisa membendung air mataku yang semenjak tadi berdesakan ingin keluar namun kutahan.


Sky terus mengikuti langkahku sambil membawa travel bag mini milikku dan sebuah tas ransel di bahunya.


Sesaat aku memaku diri di depan pintu ruangan ayah, kehela nafas panjang lalu mengusap air mataku.


"Assalamu'alaikum." Ucapku kemudian membuka pintu, tak lupa kuajak Sky ikut masuk mengikutiku.


"Wa'alaikum salam," jawab Anzi dan ibu serentak.


"Ibu..." aku langsung bersimpuh kemudian mencium tangannya penuh takzim. Setelah itu aku mendekati brankar ayah. Kuciumi pipinya yang mulai mengeriput, kuletakkan sejenak kepalaku di dadanya, kemudian mengelus-elus tangannya lalu membawanya ke wajahku untuk kukecup berkali-kali.


"Apakah ini calon menantu ibu?" Tanya ibu lembut menebak siapa laki-laki yang sedari tadi hanya berdiri mematung di sisi pintu.


Seketika mataku dan Sky melebar, kami saling menatap dan pandangan kami saling mengunci beberapa saat.


"Bukan..."


"Iya, tante. Kenalkan, saya Sky. Maaf karena datang mendadak." Jawab Sky kemudian mendekati ibu dengan berlutut di hadapan ibu dan mencium tangannya.


Jawabanku terpotong begitu saja mendengar Sky dengan mudahnya mengaku sebagai calon suamiku. Aku ingin meluruskan namun rasanya sekarang bukan waktu yang tepat. Apalagi setelah melihat wajah ibu yang seketika berbinar lalu memeluk Sky.


"Setelah ayahnya Bery sembuh, bawalah orang tua kamu ke sini anak muda." Ucap ibu mantap setelah memeluk Sky.


"Oh Tuhan, apa yang kamu lakukan Sky?" Tanyaku dalam hati.


"InsyaaAllah, tante. Segera!" Jawab Sky tak kalah mantap.


Aku benar-benar tidak habis fikir dengan apa yang barusan dikatakan Sky. Bisa-bisanya ia mengaku-ngaku calon suamiku di hadapan ibu. Aku sendiri belum memutuskan apa akan menikah atau tidak, anak ini...benar-benarlah.


Aku memijit pelipisku yang tiba-tiba terasa berat. Bagaimana cara menjelaskannya ke ibu dan ayah nantinya?


Apa kata umi Aida dan abi Hasan nantinya? Ah, sepertinya aku harus mencari alasan keluar dari ruangan ini bersama Sky. Ini tidak bisa dibiarkan sebelum anak itu terlalu banyak bertingkah. Bisa panjang urusannya jika ini dibiarkan, kasihan ayah dan juga ibu yang pasti sangat berharap aku segera menikah.


"Mengapa menikah yang harus jadi syaratnya, ayah?" Teriakku dalam hati.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗