HAPPIER

HAPPIER
BAB 53



Pagi-pagi sekali Bery dan Sky berangkat ke Bali. Bukan bulan madu, tetapi untuk urusan pekerjaan. Di sana sedang ada proyek pembangunan resort dan besok adalah jadwal kunjungan Bery ke proyek tersebut.


1 minggu setelah Bery menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Sky, hubungan mereka semakin dekat dan Sky semakin overprotektif. Seperti saat ini, Sky sama sekali tidak mengizinkan Bery pergi seorang diri atau didampingi oleh orang kantor lainnya.


Bery sebenarnya merasa geram karena Sky memaksa ikut padahal sebentar lagi akan naik sidang Skripsi, selain itu Bery ke Bali untuk urusan pekerjaan, bukan me time, maka terjadilah drama puasa bicara Bery kepada Sky. Bahkan sampai di Hotel pun Bery masih mendiamkan Sky.


Sky hanya bisa menghela nafas panjang karena wanitanya masih terus ngambek, padahal maksud Sky baik, dia tidak ingin Bery pergi sendiri atau didampingi oleh pria lain meskipun itu adalah rekan Bery di kantor. Bukan tidak percaya, Sky hanya khawatir sesuatu terjadi kepada Bery dan tidak ada yang bisa menolongnya.


"Sayang... udah dong ngambeknya. Please!" Sky mencoba membujuk Bery dengan puppy eyes-nya.


Bery tidak peduli, dia memilih sibuk memindahkan pakaian mereka ke dalam lemari, hampir saja pertahanannya roboh demi melihat Sky yang seperti anak kecil merengek pada ibunya. Ini benar-benar Sky versi kebalikan dari sifatnya selama ini.


Setelah merapikan pakaian, Bery beranjak masuk ke kamar mandi dan kembali Sky menyusulnya.


Sesekali Sky dan Bery saling menangkap tatapan mata lewat cermin di atas hand towel saat Bery membasuh mukanya dan lagi-lagi Sky menunjukkan muka memelasnya meminta perdamaian.


Hati Bery masih keras, tidak mudah baginya mentolerir sifat pemaksa Sky itu. Bery tetap keukeh mengunci mulutnya.


Setelah menyelesaikan aktifitasnya di kamar mandi, Bery mengganti pakaiannya di hadapan Sky tentu saja namun tetap berlaku seperti Sky tidak ada di sana. Bery membaringkan tubuhnya kemudian memejamkan mata, masih ada waktu untuk istirahat sebelum habis dhuhur nanti berkunjung ke lokasi proyek yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


Sky merangkak ikut naik ke atas tempat tidur, duduk bersila di depan Bery. Sky mengambil tangan kanan Bery kemudian terus menghujaninya dengan kecupan.


"Maaf! Jangan diamkan aku seperti ini. Aku tidak bisa tenang kalau kamu gak mau bicara."


Tak ada respon, Bery tetap diam dan menutup matanya tak ingin melihat wajah Sky.


"Ber, please!!! Aku tidak bisa hidup kalau kamu gak maafin aku. Ber... Ber!" Bery tak bergeming.


Sky menjambak rambutnya frustasi, dia sudah kehilangan akal membujuk Bery.


Ia kemudian beranjak turun dari tempat tidur, mengambil gawainya lalu memesan makanan untuk mereka.


Tidak lama kemudian makanan pesanan Sky datang. Ia kemudian menyiapkannya, berharap setelah makan Bery akan kembali ceria seperti semula.


"Sayang, makan yuk. Kamu tadi pagi belum sarapan, ini sudah mau dhuhur, makan dulu."


Bery malah mengubah posisi tidurnya membelakangi Sky.


Mata Sky sudah berkaca-kaca, belum pernah dirinya berada dalam situasi seperti ini. Ternyata sesakit ini diabaikan oleh orang yang disayanginya. Hatinya terasa tercubit, niat hati menunjukkan kepedulian dan perhatian lebih kepada istrinya ternyata itu dianggap salah.


"Aku memang suami tidak berguna!"


Deg


Hati Bery begitu sakit mendengar ucapan Sky. Bukan itu maksudnya, dia hanya ingin Sky sadar dan mengerti keadaannya.


"Maaf kalau aku membuat kamu tidak nyaman." imbuh Sky.


Suasana di antara mereka masih hening. Sky duduk di tepi ranjang dengan tubuh menunduk seperti tak ada gairah hidup. Sementara Bery masih memunggungi Sky dengan menggigit bibir bawahnya menahan isak yang mendesak di ujung kerongkangan.


"Apa aku tidak termaafkan?" Tanya Sky parau.


Masih tak mendapat jawaban, Sky berdiri kemudian berjalan cepat ke arah dinding tembok yang paling dekat dengannya.


Bughhh..


Sky membenturkan kepalanya, "aku memang jahat, tidak pantas dimaafkan!"


Bughhh..


Bughhh..


Teriak Bery yang menghambur menarik tubuh Sky menjauh dari dinding.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bery dengan air mata sudah membasahi pipinya.


Tubuh Sky melorot memeluk kaki Bery. "Aku lebih baik mati daripada kamu mengabaikan aku."


Bery mendesah dan ikut berlutut mensejajarkan posisi mereka. Bery tidak menyangka Sky akan senekad ini, menyakiti tubuhnya sendiri. Bukan maksud Bery mengabaikan, Bery hanya jengkel dan malas bicara kepada Sky. Bery tidak tahu akan seperti ini reaksi Sky setelah usahanya membujuknya tidak berhasil.


"Kamu membuatku takut, Sky. Jangan seperti ini lagi. Aku mohon!" Ucap Bery membingkai wajah Sky. Hanya kerapuhan yang menggantung di wajah itu.


Beruntung tidak ada darah yang keluar dari kepala Sky, namun Bery yakin itu pasti sakit.


"Maafkan aku!" Ucap Sky menatap netra Bery penuh permohonan.


Bery kemudian menarik Sky masuk ke dalam pelukannya. "Jangan diulang lagi!"


"Jangan abaikan aku!" Pinta Sky semakin mengeratkan pelukannya.


Bery mengurai pelukannya kemudian mengelus bagian kepala Sky yang tampak memerah.


"Apa sakit?"


Sky menggeleng kemudian melebarkan senyumnya. Ia mendekatkan wajahnya hingga membuat bibir mereka saling bertaut satu sama lain, saling mencecap dan saling menuntut. Mereka saling menyentuh dengan sentuhan yang penuh rasa menginginkan, sentuhan yang diisi dengan rasa takut kehilangan, dari perasaan yang sangat dalam meletupkan gairah yang bergelora dan membakar segala ego hingga luruh dalam puncak-puncak kenikmatan yag tak bertepi.


"I love you, wife!" Ucap Sky mengakhiri kegiatan panas mereka, ia menghujani wajah Bery dengan kecupan-kecupan kecil kemudian membawanya ke dalam pelukannya.


*****


Kami kembali pulang ke hotel dari lokasi proyek pembangunan resort setelah maghrib. Rasa lelah begitu terasa karena udara Bali yang cukup panas sore tadi. Sebenarnya, agenda di lokasi proyek tadi sudah selesai sejak pukul 5 sore, hanya saja aku dan Sky memilih bertahan di sana karena ingin menunggu melihat sunset di pantai privat dimana proyek pembangunan resort tersebut berada.


"Aku sudah siapkan air hangat di buthtup, mandilah!" Ujar Sky saat keluar dari kamar mandi. Dia sendiri sudah tampak segar karena sesampainya di hotel dia memang langsung menuju kamar mandi.


Aku sebenarnya sudah mager, namun tidak mungkin membiarkan tubuhku yang sudah beraroma laut dan lengket ini sepanjang malam.


"Mau makan di luar atau aku pesan layanan hotel?"


"Pesan aja!" Jawabku kemudian menutup kamar mandi.


Aku sudah terlalu lelah untuk sekedar mencari makanan di luar hotel, padahal rencana awalnya aku ingin menghabiskan sedikit waktu di malam hari untuk kulineran.


Masalahnya, sejak tadi siang kurasakan ada yang salah dengan tubuhku. Entahlah, yang jelasnya itu membuatku sering-sering bertamu ke kamar mandi.


Mungkin aku harus berkonsultasi ke Nindi sebelum terlalu larut malam.


oooO○●•••●○Oooo


Author tulis karakter suami seperti Sky bukan fiktif loh, author ada kenal laki-laki/suami yang gigih banget minta maaf sama istrinya, dan ketika istrinya terus mengulur waktu, dia akan memilih menyakiti dirinya demi mendapatkan perhatian si istri.


Pada dasarnya, ide cerita atau bagian-bagian dari semua Novel yang author tulis, karakter yang author pilih itu tidak semuanya fiktif, hanya saja memang menggabungkan beberapa karkater dari beberapa orang yang author kenal ke dalam satu karakter di dalam novel ini.


Btw, thanks yah atas supportnya. 😘