HAPPIER

HAPPIER
BAB 10



Sky...


Aku baru tahu kalau ternyata Bery lebih cerewet dari yang kubayangkan. Dan lihatlah, baru sehari aku bekerja di kantornya, tingkat sok akrabnya sudah sampai ke level maksimal. Aku sudah cukup pusing mendengarnya bertanya soal ini itu kepadaku, sampai pake acara maksa segala, bahkan dia ngancam akan bilang ke orang-orang kalau kami pacaran. Gila bener tuh orang!


Dia berlaku seolah-olah orang yang kenal aku baru sehari, padahal aku yakin dia sudah hapal mati dengan sifatku yang berbeda dengan orang lain. Semua orang kecuali keluargaku mengatakan aku tidak normal dan aku tidak peduli itu, aku juga sebenarnya berharap Bery berfikir kalau aku adalah orang yang tidak normal sehingga dia tidak perlu memaksaku berperilaku sebagaimana orang normal pada umumnya.


Satu lagi, jika tidak menyebut namaku, dia memanggilku, "Dek..."


Sejak kapan aku menjadi adiknya?


Mentang-mentang dia adalah sahabat kak Nindi sehingga bisa seenaknya memanggilku seperti kak Nindi. Meskipun dia 3 tahun lebih tua dariku, tapi aku merasa tidak punya kewajiban memanggilnya kakak layaknya kak Nindi. Bery terlalu manja untuk kusebut kakak. Kenapa aku mengatakan dirinya manja? Bagaimana tidak, setiap bertemu umi atau kak Nindi, bisa kupastikan dia akan merengek meminta pelukan. Kalau kak Nindi, merengeknya biasanya karena minta uang atau ada keinginannya yang minta dipenuhi, si Bery beda, dia paling suka merengek minta dipeluk. Untung mintanya hanya sama umi dan kak Nindi doang, kan gak lucu kalo minta peluknya sama aku, apalagi abi. Aku bergedik ngeri sendiri.


Nah, seperti pagi ini. Sedari tadi kuperhatikan dia lengket terus di dekat umi yang sedang menyiapkan menu sarapan pagi, bahkan kalau posisi umi lagi gak dekat kompor, pasti si Beri-beri suka curi-curi peluk umi. Dan sok dekatnya kumat lagi saat diriku mulai mengambil sarapanku. Gerah!


"Eh, ada Bery, abi kira masih di kamar, masih ingat juga pulang ke rumah!" Ucap abi saat masuk ruang makan lalu menarik satu kursi untuk beliau duduki.


"Abi ngomong apa sih? Abi kan tau sendiri kalau aku lagi sibuk-sibuknya beberapa bulan terakhir ini." Bery nampak memanyunkan bibirnya sepertinya tidak terima dengan ucapan abi sebelumnya.


"Proyek apa saja yang sudah jalan?" tanya abi.


"Udah-udah, ayo sarapan dulu, umi gak suka urusan pekerjaan dibawa-bawa ke meja makan." Sela umi menengahi, jika tidak dihentikan dengan cepat, bisa 7 hari 7 malam gak selesai-selesai diskusi antara abi dan Bery kalau topik pembicaraannya sudah masuk ke tema pekerjaan.


Tampak abi dan Bery biasa-biasa saja dan saling melempar senyum melihat reaksi umi yang selalu tidak suka dengan kebiasaan abi membahas urusan pekerjaan dengan Bery. Mau bagaimana lagi, sepertinya abi memang sangat nyaman dan nyambung membahas urusan pekerjaan dengannya dibandingkan dengan diriku. Bukannya aku tidak peduli dan malas tahu, aku hanya malas berbicara banyak apalagi sekedar basa-basi.


Aku menyelesaikan sarapan dengan cepat kemudian segera berlalu ke kamarku untuk siap-siap berangkat ke kantor.


*****


Awalnya, aku  berniat ingin berlama-lama ngobrol dengan umi Aida. Sayangnya aku dapat kabar kalau pagi ini akan ada salah satu klien yang ingin bertemu denganku di kantor. Sedikit kecewa, akan tetapi seperti inilah tuntutan pekerjaan, aku harus profesional, bukan hanya diriku yang menggantungkan hidup di perusahaanku ini, ada beberapa kepala yang keluarga mereka juga bergantung dengan keberlangsungan perusahaan milikku tersebut.


Saat keluar dari kamar, aku melihat Sky juga baru keluar dari kamarnya. Penampilannya sangat berbeda hari ini, aku belum tahu di bagian mananya, hanya saja dia kelihatan lebih dewasa dan keren.


Sky menatapku tajam, sepertinya ia tidak nyaman mendapati tatapanku yang semenjak tadi terpana melihatnya. Ia hanya mendengus kasar kemudian berjalan melewatiku dan berlari kecil menuruni tangga.


"Sky, tunggu!!!" Seketika langkah Sky terhenti dan berbalik menatapku. "Aku ikut kamu yah, mau ke kantor bukan?"


Sky pun mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju ke garasi rumah.


Kami pun akhirnya pamit kepada umi Aida yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah dan juga kepada abi yang sedang menyempatkan diri membantu umi membuatkan media tanam untuk beberapa bibit cabe yang sudah siap dimasukkan ke dalam polibag.


Merasa Sky tidak mungkin mau mengajakku mengobrol dan kalaupun aku mengajaknya ngobrol pasti tidak mendapatkan respon yang kuharapkan, aku memilih mengambil ponsel di dalam tas tanganku kemudian membuka aplikasi email. Khawatir ada pekerjaan yang aku lewatkan karena sejak semalam aku belum mengecek email.



Gedung kantor milikku tidak terlalu besar dan hanya memiliki 2 lantai. Tentu saja aku tidak membutuhkan gedung besar untuk menjalankan perusahaan Biro Arsitektur milikku ini karena jumlah karyawan yang bekerja denganku tidak banyak. Beberapa partner kerjaku dalam membuat desain gambar juga lebih banyak bekerja dari rumah. Makanya di gedung ini ada 3 buah meeting room karena kami lebih sering berkumpul saat ada meeting untuk membicarakan kelanjutan proyek yang dipegang oleh masing-masing penanggung jawab dan anggota tim dari proyek yang sedang ditangani.


Kali ini kembali akan kulibatkan Sky dalam pertemuan dengan salah satu klien penting yang berasal dari Timur Tengah tersebut. Beliau adalah pengusaha besar di bidang perhotelan. Hotel-hotel miliknya bertebaran di berbagai negara. Kudengar kali ini beliau akan berinvestasi dalam sebuah proyek ambisius menurutku, bagaimana tidak, kali ini beliau ingin membuat hotel di bawah air di perairan laut Maldives dan beliau tertarik menggunakan jasaku untuk memindahkan ide besarnya tersebut ke dalam sebuah gambar.


Jika kesepakatan terjadi, maka ini akan menjadi pengalaman pertama buatku mendesain bangunan yang menjulang ke bawah air. Tantangannya tentu saja berbeda, namun hal ini juga memacu adrenalinku untuk melihat sejauh mana kemampuanku dan partner-partnerku dalam bekerja.


"Sky, ikut aku meeting dengan Mr.Abdullah di meeting room 1 nanti yah. Aku akan mengenalkan kamu sebagai asistenku, jadi kamu boleh terlibat secara aktif dalam meeting tersebut." Ucapku pada Sky saat kami berjalan menuju ke ruang kerjaku.


"Tapi..."


"Gak ada tapi-tapi. Pokoknya kamu harus ikut." Ucapku tegas tidak ingin mendengar Sky membuat alasan.


Aku tidak akan bersikap lembek kepadanya meskipun dia adalah adik sahabatku, Sky ada di sini karena dititipkan abi Hasan agar aku bisa membuatnya menjadi orang sukses di masa depan. Waktunya di sini hanya 3 bulan, sangat singkat menurutku, jadi aku akan memaksa Sky untuk mengeluarkan semua potensi yang dimilikinya selama ini. Aku tahu dia anak yang cerdas, hanya saja tidak banyak yang menyadarinya karena memang dia tidak pernah menunjukkannya, malah terkesan dia nampak seperti orang idiot.


Dan benar saja, feeling-ku tidak meleset. Sky anak yang cerdas, boleh dibilang, keberhasilanku mendapatkan proyek tersebut karena kegeniusan Sky. Ia berhasil meyakinkan Mr.Abdulllah dengan ide bangunan bawah laut yang tahan dan kuat terhadap gempa dengan magnitudo 8SR. Pemaparan akan ide-idenya dan kemampuannya menjawab semua pertanyaan Mr.Abdullah membuatku hanya bisa memandangnya penuh rasa takjub. Dia nampak seperti orang yang sangat ahli dan menguasai seluk-beluk struktur bangunan di bawah air laut.


Meeting yang awalnya hanya dibuat sebagai penjajakan yang dilakukan oleh Mr.Abdullah akhirnya sukses menjadi sebuah kesepakatan yang akan sangat menguntungkan buat kami. Harusnya meeting tadi dibuatkan dokumentasi dalam bentuk video, sayang sekali aku tidak memikirkannya di awal. Melihat Sky yang banyak berbicara dengan intonasi tegas dan meyakinkan, tidak ada kecanggungan atau keragu-raguan di setiap kata yang diucapkannya.


"Sky, kamu memang anak yang spesial!" Batinku.


Setelah meeting selesai, aku membawa Sky ke semua ruangan kantor untuk mengenalkannya kepada semua staf dan karyawan di kantorku. Tanpa ragu aku mengenalkannya sebagai asistenku. Aku sangat bahagia hari ini, rasanya kadar kebahagiaanku bertambah 10 kali lipat karena Sky.


"Bu, kenapa asisten?" Protes Sky saat kami sudah sampai di ruanganku.


"Kenapa? Gak suka? Kalau kamu keberatan dikenalkan sebagai asistenku, ya udah kapan-kapan aku kenalkan kamu sebagai pacar aku. Gimana? Itu kan mau kamu?" Ucapku dengan senyum mengejek kepadanya.


Sky tidak menjawabnya, kudengar dia hanya menghela nafas kasar kemudian menenggelamkan dirinya di depan komputer. Aku pun sudah malas mengganggunya. Aku tidak ingin merusak mood-nya dan aku tidak ingin merusak vibe yang dihadirkan Sky hari ini.


Aku yakin, aku tidak salah memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Dia punya potensi yang luar biasa, hanya butuh jumlah jam terbang yang banyak maka bisa kupastikan dia bisa melebihi kesuksesan abi Hasan di masa depan.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗