HAPPIER

HAPPIER
BAB 16



Aku heran dengan sikap pemaksa Sky yang semakin menjadi-jadi saja. Sudah maksa aku pulang, maksa beli pembalut, sekarang maksa bikin teh hangat. Padahal aku sudah biasa tetap bertahan di kantor saat aku mulai merasakan tidak enak badan menyambut tamu bulananku datang. Stock pembalutku sudah habis, sebenarnya di kantor masih ada, tapi aku keburu dipaksa pulang. Aku juga merasa sangat mampu membuat segelas teh hangat untuk diriku sendiri saat ini, tapi kelakuan bocah kecil itu maksa banget.


"Kenapa masih berdiri di situ?" Tanyanya melotot. "Istirahat sana!" Lagi dia memerintahku seperti anak kecil.


"Dasar bocah sableng," gerutuku dalam hati.


"Iya...iya.. ini juga mau istirahat kok, tapi tunggu tehku dulu baru ke kamar." Ucapku kemudian menarik gelas teh yang baru selesai dia seduh.


"Ini aku bawa ke kamar, kamu langsung pulang aja kalau malas balik kantor, pake mobilku aja lagi." Aku berbalik ke arah kamar dengan membawa teh buatan Sky tadi.


Sebelum membuka pintu kamar, kulirik dia sebentar yang berjalan ke arah sofa lalu menghempaskan tubuhnya di sana.


"Aku mau istirahat bentar, capek!" Katanya sambil memejamkan matanya.


Aku sudah malas menanggapinya, mau aku usir juga gak bakal pulang anaknya, dia keras kepala banget, mungkin ini yang dikatakan kepala batu.


Aku segera berlalu masuk kamar dan mengunci pintunya. Aku merasa butuh berendam air panas dan setelah ini aku akan tidur. Rasa sakit di perutku semakin melilit saja, ditambah lagi sakit kepala yang juga mendera. Sempurna sudah rasa sakitnya. Dulu, saat sakit karena mau haid begini, kalau ibu ada di rumah, beliau akan membuatkan teh jahe dan juga mengompres perutku dengan air hangat dan itu rasanya terbukti manjur untuk mengurangi rasa sakitnya.


Selama 10 tahun ini kulewati rasa sakitku seorang diri, sedih...sedih banget. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus kuat untuk diriku sendiri.


Teh hangat dan berendam di air hangat lumayan membuatku sedikit rilex. Aku tidak tahu apa Sky masih ada diluar atau sudah pulang. Aku malas memeriksanya keluar, aku sangat butuh tidur siang saat ini.


Sejenak fikiranku melayang kepada kedua orang tuaku, rasanya ada yang menusuk-nusuk di dadaku, lagi-lagi tanpa permisi air mataku keluar begitu saja. Selalu begitu, aku paling tidak bisa membendung air mataku tiap kali teringat akan mereka. Lelah menangis, aku pun akhirnya tertidur.


*****


Aku langsung ke kantor Imigrasi pagi ini, sesuai instruksi ibu bos kemarin dengan membawa beberapa dokumen untuk kelengkapan persyaratan pembuatan passport. Ibu Kinan sudah menungguku di ruang tunggu dan kami langsung dilayani oleh salah satu petugas di sana. Sepertinya ibu Kinan sudah terbiasa mengurus hal-hal seperti ini. Jika yang lain pada antri, aku malah langsung foto dan diambil sidik jarinya. Kurang dari 1 jam, urusan passport selesai. Urusan Visa, itu akan menjadi urusan ibu Kinan lagi, aku sudah boleh kembali ke kantor. Lagian, setahuku Maldives salah satu negara yang bebas diakses tanpa visa untuk wisatawan Indonesia. Aku juga ke kantor hanya untuk mengambil beberapa dokumen yang sudah aku siapkan untuk kunjungan ke Maldives nanti.


Sesampainya di kantor, aku tidak menemukan Bery di ruangannya. Aku fikir mungkin dia sedang ada meeting. Namun, setelah 2 jam berlalu, Bery belum juga muncul. Akhirnya aku bertanya kepada OG yang kebetulan melintas di sana dan katanya sejak tadi pagi bu Bery belum masuk kantor.


Kucoba menekan nomor ponselnya di ponselku tapi tidak aktif. Aku sudah lama menyimpan nomor ponselnya, tapi ini adalah panggilan pertamaku menghubunginya.


Karena tidak aktif, kutelpon lagi bu Kinan, mungkin dia tahu kenapa Bery tidak masuk kantor hari ini. Aku hanya khawatir saja karena kemarin ia tampak pucat dan sakit perut. Aku tahu kalau itu dikarenakan tamu bulanannya, tapi aku tetap khawatir karena ponselnya tidak aktif.


Setelah menelpon bu Kinan, ternyata dia juga tidak tahu kenapa Bery tidak masuk kantor hari ini, padahal besok kami akan berangkat ke Maldives.


Kuselesaikan cepat pekerjaanku lalu bergegas menuju apartemennya. Sesampainya di sana, beberapa kali kugedor-gedor pintunya namun tidak ada jawaban, mau masuk tapi aku lupa kalau aku tidak tahu kode pintunya.


Kutelpon kak Nindi, pasti dia tahu.


"Assalamu'alaikum, kak!"


"Wa'alaikum salam, iya dek, kenapa?"


"Kak Nindi tau gak kode pintu unit Bery?"


"Tau, memangnya untuk apa? Kenapa tidak tanya langsung ke orangnya?" Aku yakin kak Nindi sangat penasaran saat ini. Aku nyesal bertanya sama dia.


"Ini..kemarin Bery sakit, hari ini gak ngantor dan ponselnya tidak aktif. Aku khawatir dia kenapa-kenapa di dalam."


"Tunggu, kamu dimana sekarang?"


"Di depan unitnya."


"Oke, kodenya ********. Kabari kakak segera kalo sudah ketemu." Titahnya dibalik telpon.


"Iya, assalamu'alaikum."


Aku membuka pintu dengan perlahan dan melangkah pelan masuk ke dalam unitnya.


Aku berjalan mendekati kamarnya, kuketuk pintu kamarnya berkali-kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Aku semakin khawatir dibuatnya. Kutempelkan telinga di pintu. Hening!


Ini seperti de javu. Sesaat aku berusaha menetralkan perasaanku, kutarik nafas dalam-dalam dan membuang jauh fikiran negatif yang mulai bersarang di kepalaku.


Kembali kuketuk pintu kamarnya, "Bery... Ber, kamu ada di dalam?" Tanyaku masih dengan telinga menempel di pintu. Tak ada jawaban.


Kutarik daun pintunya dan ternyata tidak dikunci dari dalam. Kuedarkan pandanganku menyapu seisi kamar namun keberadaannya tidak kutemui juga.


Sayup-sayup terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Aku langsung mendekat ke sana dan mengetuk pintu kamar mandinya.


"Bery.. kamu di dalam?"


Suara air tiba-tiba tidak terdengar lagi.


"Bery, kamu di dalam gak?" Tanyaku mulai tidak sabar. Ingin rasanya kudobrak pintu kamar mandi ini namun aku ragu melakukannya.


"Sky.. kamu ngapain di situ?" Teriak Bery dari dalam.


Alhamdulillah.. demi apapun, aku sangat lega mendengar suaranya.


"Udah cepat mandinya, aku tunggu diluar!" Ucapku kemudian segera keluar dari kamar Bery.


Untung saja aku tidak gegabah langsung mendobrak pintunya. Bisa-bisa leherku digorok sama Bery. Aku yakin dia bakal ngamuk setelah ini karena berani-beraninya masuk ke dalam unitnya tanpa izin. Bahkan sampai ke kamar pribadinya.


"Sky!!!" Panggilnya dengan suara melengking.


Nah kan, marah kan dianya...


"Sky, kamu apa-apaan masuk ke unit seorang perempuan tanpa izin begini? Gak sopan tau!" Ucapnya menyusulku ke dapur dengan tatapan tajam seolah ingin memakanku hidup-hidup.


"Aku udah izin kak Nindi?"


"What???" Matanya membulat.


"Lalu kalau Nindi kasi kamu izin, kamu boleh gitu nyelonong masuk sampai ke kamar?"


"Aku udah ketuk pintu , udah manggil-manggil juga berkali-kali tapi kamu gak jawab. Ponsel kamu juga seharian mati. Aku khawatir kamu kenapa-napa karena kemarin kamu sakit." Jawabku tanpa rasa bersalah. Siapa suruh bikin aku khawatir setengah mati.


"Yaa Allah... Sky... aku tuh hanya sakit karena mau haid, udah biasa, bukan karena apa-apa. Dimana-mana yang namanya perempuan itu kebanyakan sakit perut kalau mau haid. Kamu yah, dasar bocah!" Aduh, ngeri juga lihat dia merepet seperti ini.


"Maaf!" Jawabku menunduk. Aku salah.. aku mengkhawatirkan orang yang ternyata baik-baik saja.


Bery memilih diam lalu mengambil segelas air minum dan membawanya ke meja makan. Ia duduk kemudian meneguk airnya sampai habis.


"Ya sudah, tapi lain kali jangan diulangi. Aku juga yang salah karena lupa ngecash ponselku dan memberi kamu kabar." Ucapnya dengan nada rendah namun masih tersisa kekesalan di sana.


"Terus, kamu lagi ngapain di dapur?"


"Masak, kamu belum makan siang kan?" Jawabku santai dan melanjutkan membuat nasi goreng untuk kami.


"Kamu so sweet banget sih, Sky! Kemarin kamu udah masakin makan malam, bahkan masih bisa kumakan untuk sarapan, sekarang masak lagi. Sudah jadi asisten di kantor, jadi bodyguard di lokasi proyek, sekarang jadi chef di rumah. Besok mau jadi apa lagi, Sky? Mau jadi suami?"


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗