
💥💥💥 Yang penasaran kapan MPnya mereka, noh.. author kasih! MPnya based on true story malah, bukan fiksi. hahahaha...
💦💦💦
"Kamu duduk manis di sini saja dan aku akan siapkan makan malam untuk kita." Ucapku meletakkan tubuh Bery di kursi meja makan kemudian dengan cekatan kusiapkan semua bahan yang kubutuhkan untuk membuat sop tomyam seafood.
Sengaja memilih menu tomyam karena bahan-bahannya lengkap di kulkas dan sudah ada bumbu instannya juga jadi tinggal celup semua bahannya ke panci.
"Aku jadi merasa tidak berguna sebagai istri kamu, Sky!" Ujarnya dengan menopang dagunya dengan tangan kanannya.
"Khusus malam ini kamu cukup jadi penonton saja. Maaf membuatmu makan malam selarut ini. Tidak papa kan?" Tanyaku dengan kedua tangan sibuk memainkan bahan tomyam.
"Gak masalah." Bery tampak berfikir. "Mmmm... ini rumah siapa Sky?" Tanyanya penasaran.
"Rumahku, rumah kita!"
"Kamu serius, Sky? Sejak kapan?"
"Ini udah setahun selesai, hanya kamu yang tau!"
Aku memang sengaja tidak memberi tahu orang rumah tentang keberadaan rumah ini. Rumah ini kubangun dari hasil jerih payahku menjadi feelancer interior designer selama ini.
"Wow.. aku merasa tersanjung!"
"Dan untuk anger room kamu itu? How can, Sky? Maksudku, kamu selama ini tampak tenang, diam, minim ekspresi, seperti tembok, kaku, dingin, cuek, anti sosial dan lain lagi.. sorry.. no hurt feeling ya Sky, apa kamu melampiaskannya di sana? Seberapa jauh itu menolong perasaan kamu?"
"Pertanyaan kamu terlalu banyak."
"Jawab satu-satu kan bisa!"
"Sebenarnya, mengendalikan rasa marah itu bisa cukup dengan cara menghirup napas panjang, menurunkan segala ekspetasi kita, dan tetap berusaha bersikap tenang."
"Hanya saja ada type orang yang temperamennya tinggi sehingga butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya."
Aku mengamati wajah Bery yang serius menyimak penuturanku.
"Dan apa kamu termasuk orang bertemperamen tinggi?" Tanyanya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya kepadaku.
"Aku beberapa kali datang ke sini dan mengeluarkan semua emosiku. Dengan adanya ruangan ini aku bisa menahan diri dari melakukan tindak kekerasan atau meluapkan emosiku di depan orang lain." Jawabku menunduk.
Mungkin Bery akan takut kepadaku setelah ini, tapi inilah kejujuranku. Ada perasaan khawatir yang seketika menghantam perasaanku, tapi aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik topengku. Aku mungkin bisa menyembunyikannya dari keluargaku, dari orang-orang di sekitarku, tapi tidak dengan orang yang kupilih untuk berada di sisiku.
Tak ada lagi kata yang keluar setelah obrolan tersebut hingga makanan sudah siap terhidang di meja.
Hatiku terasa tercubit melihat Bery yang terus diam dan enggan menatapku.
Apakah sekarang Bery takut kepadaku? Apakah aku semenakutkan itu?"
"Silahkan dimakan!" Ucapku setelah mengambil tempat duduk berhadapan dengannya.
"Iya, terima kasih." Ujarnya kemudian menyuap makanannya.
Aku hanya mengangguk dan ikut makan padahal selera makanku sudah hilang sejak tadi.
Hingga makanan kami tandas, masih tidak ada kata yang keluar untuk mencairkan suasana atau sekedar saling berbasa-basi.
Bery beranjak membersihkan piring dan merapikan dapur terlebih dahulu. Aku ingin membantunya namun ia menolak.
"Giliran aku Sky. Istirahatlah!" Ujarnya.
Aku terpaksa mengikuti perkataannya, aku memilih duduk di sofa dan menyalakan televisi. Menyalakan televisi hanya pengalihan, mataku lebih suka menonton Bery di dapur sementara biarlah televisi yang menonton diriku.
"Pantesan jago masak, ternyata kamu suka nonton acara masak-masak." Ucap Bery setelah duduk di sampingku.
"Haa..." aku menoleh menatap televisi dan benar saja di sana terlihat acara ibu-ibu ngerumpi di dapur.
Aku segera mengambil remot dan mematikan televisi.
"Tidur." Aku berdiri dan memberikan tangan kananku kepada Bery. Bery menyambutnya dan segera kutarik hingga dia ikut berdiri.
Sesampainya di kamar aku langsung menuju kamar mandi membersihkan tubuhku karena merasa gerah sehabis olahraga dan masak tadi.
10 menit kemudian aku keluar dan mendapati Bery duduk di tepi ranjang dengan masih memakai pakaian gymnya.
"Gak ganti baju?" Tanyaku sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tanganku.
"Sky, apa gak ada baju lain selain yang di lemari itu?" Tanyanya dengan wajah masam.
Aku tersenyum kikuk setelah menyadari isi lemari yang kusiapkan untuk Bery. Sebenarnya itu semua adalah pilihan kak Nindi dan dibawa oleh orang suruhanku ke rumah ini.
"Kak Nindi yang pilih." Aku mengelus tengkukku dan nyengir kepadanya.
Bery mendesah pasrah. "Aku pinjam baju kamu yah?"
Bery pun menghilang dibalik pintu dan aku memilih menyandarkan tubuhku di kepala ranjang sambil bermain ponsel.
Berselang beberapa waktu, Bery keluar dari walk in closet menggunakan kemeja berwarna biru muda milikku. Kemeja tersebut tampak kebesaran di tubuhnya namun tidak bisa menutup sempurna bagian pahanya yang putih mulus.
Aku hanya bisa menundukkan pandanganku dan menelan salivaku melihat pemandangan tadi. Bery kini sudah membungkus tubuhnya dengan selimut dan memunggungiku.
Kumatikan lampu kamar lalu meletakkan ponselku di nakas. Suasana kamar kini gelap, cahaya yang masuk hanya bergantung dari jendela persegi panjang horizontal antara balkon dengan pintu walk in closet.
Aku membaringkan tubuhku menghadap punggung Bery, mencuri-curi membelai beberapa helai rambut hitamnya yang sebahu.
"Sky, itu membuat kepalaku terasa gatal."
Rupanya ia merasakan kelakuanku.
"Maaf!" Ucapku kemudian mengubah posisi tidurku telentang.
Bery ikut mengubah posisi tidurnya menghadap kepadaku.
"Sky?"
"Hmmm..."
"Misalnya.. misal aku melakukan kesalahan besar sama kamu, apa kamu akan memukulku?" Tanyanya seperti sedang menahan rasa takutnya kepadaku.
Aku mendesah pelan, betul dugaanku, aku sudah berhasil membuatnya takut kepadaku.
"Aku tidak akan pernah memukul wanita, apalagi wanita itu adalah orang yang kusayanhi, tapi aku akan menghabisi siapa saja yang menyakiti wanitaku." Ucapku tegas.
"Kamu membuat aku takut Sky. Kamu tidak boleh lagi memukul orang lain, apalagi kembali membunuh." Ucapnya melingkarkan tangannya di perutku.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin menjadi janda." Jawabnya mengeratkan pelukan tangannya tadi.
Aishhh.. tak sadarkah dirimu Ber, gerakan tanganmu ini sungguh menyiksaku menahan sesuatu yang tengah bergejolak di bawah sana.
Aku menyusupkan tanganku ke bawah lehernya dan membiarkan kepalanya menjadikan lenganku sebagai bantal kepalanya.
Kutolehkan kepalaku menghadapnya. Wajah kami begitu dekat hinga kami saling bertukar udara yang keluar masuk dari saluran pernafasan kami.
Entah bagaimana caranya hidung kami sudah saling bersentuhan.
"Jadilah milikku seutuhnya!" Ucapku dengan nafas yang sudah terasa berat.
Bery menatapku dengan tatapan sayunya, meski pencahayaan sangat minim, namun aku bisa menangkap semburat malu di wajahnya.
Dan..
Cup...
Bery menempelkan bibirnya di atas bibirku. Aku sedikit shock karena tidak menyangka dia dengan sukarela melakukannya.
Beberapa detik kemudian, Bery hendak manarik diri namun dengan cepat kutahan tengkuknya dan untuk pertama kalinya bibir kami saling bertaut mencecap segala rasa yang ada di sana.
Kami terbakar oleh api gairah yang selama ini tertahan bertumpuk-tumpuk meminta segera dilepaskan.
Hingga sesuatu yang seharusnya terjadi sejak beberapa minggu yang lalu akhirnya terjadi juga.
Dan ketika aku berhasil membobol masuk pintu pertahanan terakhir Bery...
"Allahu Akbar!!! Keluar.. keluar.. keluar, Sky!!! Sakit..." teriak Bery menangis tersedu karena tidak sanggup menahan rasa sakitnya.
Aku langsung menyingkir dari atas tubuhnya kemudian menyalakan lampu terlebih dahulu lalu memeluknya erat.
"Maaf...maaf sayang.. aku tidak bermaksud menyakiti kamu." Ucapku mengusap air matanya.
"Sakit Sky.. hiks..hikss.."
"Masih sakit? Sini, biar aku obati." Ucapku menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
"Sky...!!!" Bery malah histeris menarik kembali selimutnya. "Kamu apa-apaan sih, Sky? Malu tau, aku malu. Jangan dilihat!!" Wajahnya yang tadi memerah karena kesakitan sekarang bertambah merah menahan rasa malunya.
Aku hanya bisa meringis menyadari kesalahanku. Aku terlalu panik melihatnya kesakitan dan tidak habis fikir kalau dia masih bisa mengatakan malu padahal baru beberapa detik yang lalu aku sudah menginvasi semua wilayah kekuasaannya tanpa terkecuali.
Oh, sungguh menggemaskan, meski harus menahan ngilu di bawah sana, tapi tidak mengapa, sepertinya kesabaranku masih butuh ujian lagi. Sabar!!!
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗