
💥💥💥 Masih penasarankan dengan nasib Sky?
💦💦💦
Bery mulai terlelap setelah Sky berhasil menenangkannya. Tinggallah Sky seorang diri berjuang mati-matian menahan gejolak di dalam tubuhnya.
Ada dua kepala yang terasa sakit di tubuh Sky saat ini.
Ia sama sekali sulit memejamkan matanya, gelisah mencoba mencari posisi dan perasaan nyaman agar tidak kembali menyerang istrinya. Ia berusaha meloloskan diri dari tubuh istrinya namun Bery malah semakin mengeratkan pelukannya.
Sky tidak tahu, apa pernah matanya terpejam hingga dini hari tiba dan ia harus membuang air yang telah memenuhi kandung kemihnya. Gairahnya yang naik turun bak roller coaster menguras energi dan fikirannya.
Pelan-pelan Sky beranjak dari ranjang agar tidak mengganggu tidur istrinya namun baru satu kaki ada di lantai, sebuah suara menginterupsinya,
"Mau kemana?" Tanya Bery dengan suara seraknya.
"Buang air, tidur lagi!" Sky bergegas ke kamar mandi dan menyelesaikan hajatnya.
Sky kembali bergabung di dalam selimut dan memeluk tubuh polos istrinya yang memunggunginya.
"Apa masih sakit?"
"Sedikit!"
Nafas berat Sky kembali terasa berhembus di tengkuk dan telinga Bery membuat sekujur tubuh Bery seperti tersengat aliran listrik yang kuat.
"Coba lagi yah, sayang!"
Tanpa menunggu persetujuan Bery, Sky kembali melancarkan aksi serangan keduanya mengulang kegiatan yang tadi malam sempat menggantung.
Saat memasuki inti dari inti kegiatan mereka, kembali Bery berteriak histeris lalu mendorong tubuh Sky menjauh darinya.
"Hentikan, Sky! Sakit, sakit banget. Aku gak kuat. Ini rasanya sudah ngilu banget!" Tolak Bery merapatkan kedua pahanya.
"Maaf!" Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Sky menahan rasa frustasinya yang kembali berhenti di tengah perjalanan menuju tempat yang katanya surga dunia itu.
Sky menelungkupkan tubuhnya di atas kasur mengerang frustasi.
"Sky.. maaf.. hiks..hiks..hiks.." Bery benar-benar merasa bersalah melihat suaminya yang benar-benar kacau karena dirinya.
"Hei..jangan nangis. Nanti kita coba lagi. kita masih punya banyak waktu untuk mengulanginya." Ucap Sky menghapus air mata istrinya itu.
"Kita mandi dulu, sebentar lagi subuh." Sky kemudian bangkit dari tempat tidur. "Tunggu di sini aku siapkan air hangat dulu, katanya itu bisa mengurangi rasa sakit di bagian inti kamu."
Blush..
Wajah Bery memerah mendengar bagian itu disebut Sky.
Setelah beberapa saat, Sky keluar dari walk in closet dan langsung memangku tubuh Bery ke dalam gendongannya. Refleks Bery mengalungkan kedua tangannya di leher Sky dan mereka pun membersihkan diri dan mendinginkan suasana panas akibat sisa-sisa percikan gairah setelah semalam dan dini hari tadi.
--
--
"Sarapan datang!" Sky masuk kamar membawa sebuah nampan berisi beberpa potong roti lapis dan 2 cangkir kopi untuk mereka berdua.
Bery yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya bergerak ke arah sofa panjang dimana Sky sekarang meletakkan sarapan untuk mereka.
"Thanks!" Ucap Bery tulus merasa terharu dengan semua kelembutan dan sifat sabar Sky kepada dirinya.
"Aku senang melakukannya!" Kata Sky tersenyum ceria. Bagaimanapun ia sangat bahagia pagi ini. Hatinya berbunga-bunga persis seperti remaja tanggung yang sedang jatuh cinta.
Sky selama ini tidak pernah merasakan indahnya jatuh cinta dimana orang yang dicintai menyambutnya dengan hangat. Meski ia belum yakin dengan perasaan Bery kepadanya, namun tetap saja ia bahagia karena Bery juga selalu berusaha menjadi istri yang baik untuknya.
Ponsel Bery terus berbunyi tanda masuknya rentetan pesan di salah satu aplikasi sosial medianya.
"Siapa?" Tanya Sky melihat Bery yang senyum-senyum membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Nindi." Sky membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
"Kak Nindi bilang apa?" Tanyanya mendekat ke Bery.
Bery kemudian menjauhkan ponselnya agar Sky tidak melihat riwayat percakapan mereka.
"Gak mau, ini urusan perempuan." Ucap Bery tanpa sadar mengerucutkan bibirnya.
Sky baru melepaskan pagutannya setelah Bery memukul-mukul dadanya karena kehabisan oksigen.
"Jangan mulai lagi deh, Sky! Ini masih sakit, aku gak mau lagi." Ketus Bery menatap tajam Sky.
"Siapa suruh bibirnya dibuat seperti itu, gemes tau!"
"Bilang aja, modus!" Ucap Bery kemudian mengambil semua piring dan cangkir bekas sarapan mereka tadi.
Meski Bery masih tidak nyaman dengan intinya, dia tidak mungkin membiarkan suaminya yang melakukan segala halnya sendiri di rumah ini.
Setelah selesai beres-beres di dapur, Bery memilih bersantai di depan televisi. Belum sempat memegang remot TV, ponselnya berdering dan yang menelpon rupanya adalah Nindi dengan mode video call.
Bery menggeser tombol hijau setelah menetralkan raut wajah dan perasaannya.
"Morning adek ipar.. cieeee... yang udah buka segel? Gimana, enak gak?"
"Apaan sih, Nin? Enak apanya? Sakit tau!"
Bery memang sengaja mengirim pesan ke Nindi pagi tadi menanyakan bagaimana cara melakukan malam pertama yang enak seperti yang dibicarakan orang-orang selama ini.
Meski harus menekan rasa malunya, namun Bery tidak ingin membuat suaminya semakin lama semakin tersiksa. Walaupun di satu sisi ia merasa takut memulainya lagi mengingat rasa sakit yang sampai sekarang menderanya.
"Yaa ditahan dong rasa sakitnya. Jangan manja gitu! Semua perempuan yang pernah melakukannya bisa, kok kamu enggak?"
"Tapi sakit, Nin. Sakit banget!" Ucap Bery frustasi memanyunkan bibirnya.
"Iya, tau. Sakit memang. Tapi sakitnya di awal-awal aja, Ber. Habis itu tinggal enaknya, enak dan pokoknya kamu harus rasakan sendiri." Ingin rasanya Nindi menjitak kepala sahabatnya itu, tidak habis fikir manjanya bisa se-akut itu.
"Ber, kamu harus tanamkan di dalam fikiran kamu kalau kamu bisa. Sampai kapan kamu mau seperti itu, kasihan suami kamu. Kamu hanya perlu menahannya sedikit lagi dan kamu akan menyesal kenapa kemarin tidak bisa lebih kuat sedikit. Itunya Sky sudah berhasil masuk bukan?"
Bery mengangguk dan wajahnya memerah karena malu.
"Harusnya sih gak sakit lagi saat kalian melakukan percobaan selanjutnya, yang penting kamu obati dulu sakit akibat yang semalam. Kalau kamu mau sabar, sekarang pun bisa kalian ulangi lagi, tapi kalo Skynya yang masih mau sabar, tunggu sampai nanti malam aja."
"Gimana caranya sekarang, Nin? Buang air aja rasanya perih sampe keluar air mata." Protes Bery tidak terima saran Nindi.
"Hai kak!" Tiba-tiba Sky datang menjeda obrolan mereka. Wajah Sky sekarang ikut mengisi layar ponsel Bery.
"Hai adik gantengnya kakak... wajahnya cerah amat, dek? Udah dapat jatah yah?" Nindi sengaja menggoda Sky.
Sky menyengir lebar kemudian mencuri kecup di pipi kiri Bery membuat wajah Bery memerah seketika.
"Sky...!!!"
Plak
"Aowwww.." keluh Sky pura-pura sakit karena mendapat pukulan Bery di lengannya.
"Hahaha..jangan galak-galak sama suami, Ber!" Nindi tertawa keras melihat pasangan suami istri yang menurutnya lucu dan menggemaskan itu.
"Iya ini kak, KDRT mulu dia!" Lapor Sky.
"Mana ada, Sky? Kamu jangan ngawur deh." Kesal Bery.
"Kemersaan dalam rumah tangga, sayang!" Ucap Sky memeluk tubuh Bery dan memberinya kecupan bertubi-tubi di pipi.
"Wow..wow.. hello, aku masih ada di sini loh kalo kalian lupa. Mesra banget sih..." Nindi kembali tersenyum lebar melihat interaksi Sky dan Bery yang benar-benar membuat hatinya meleleh.
Akhirnya panggilan video pun diputus sepihak oleh Nindi karena dia tidak mungkin menyaksikan adegan dewasa secara live pagi ini.
Dan benar saja, Bery akhirnya mengikuti saran Nindi. Mereka akhirnya terbang ke angkasa tertinggi oleh puncak-puncak kenikmatan yang menyerang semua saraf-saraf di tubuh mereka dengan begitu indahnya.
Sky tersenyum puas dan memeluk tubuh istrinya posesif dan kembali melanjutkan tidur di sofa panjang yang menjadi saksi pertempuran panjang mereka pagi ini.
Setelah ini, mungkin Bery akan meraung-raung di kamar mandi karena rasa perih yang tak tertahankan saat cairan di dalam kandung kemihnya meminta dikeluarkan.
Mungkin ini yang disebut; no pain, no gain!
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗