
Mereka berbaring saling memunggungi, masing-masing sibuk dengan perang batin yang melanda.
Sky merasa sekujur tubuhnya memanas, jantungnya berdetak kencang memompa darahnya yang terus berdesir tidak karuan.
Ternyata seperti ini rasanya tidur satu ranjang dengan istri. Sky
Tidak jauh berbeda dengan Bery, jantungnya dag dig dug serrrr menghentak-hentakkan dadanya. Ia senyum-senyum sendiri melihat tingkah Sky yang sering salah tingkah menghadapinya. Namun di satu sisi, ia merasa terancam. Bagaimanapun ia kini berada di dalam satu kamar dengan makhluk berjenis laki-laki. Ia tidak tahu sampai kapan Sky bisa menahan diri untuk tidak menerkamnya. Karena pada dasarnya Bery tidak punya alasan untuk menolaknya.
Maafkan aku Sky, aku janji suatu saat nanti akan kubaktikan seluruh jiwa ragaku hanya untukmu. Bery
Menit demi menit berlalu berganti jam, namun ternyata tidak ada diantara mereka yang mampu memejamkan matanya. Sky bisa merasakan tidur Bery yang gelisah.
Sky membalik tubuhnya menghadap Bery yang masih memunggunginya.
"Ada apa? Tidak bisa tidur?" Tanya Sky sambil menopang kepalanya dengan tangan kirinya.
Bery mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, menatap lurus ke atas langit-langit. Ia menghembuskan nafasnya kasar.
"Gak bisa tidur, padahal tadi udah ngantuk banget."
"Apa kamu mau sesuatu? Cemilan or something?" Tanya Sky menawarkan bantuan.
Bery menggelengkan kepalanya, "gak ada Sky, kalau ada yang kubutuhin saat ini hanyalah rasa kantuk, biar bisa tidur cepat." Jawab Bery menolehkan kepalanya menghadap Sky yang masih dengan posisi tidur menyampingnya.
Sky bergerak bangun dan duduk di atas kasur.
"Bagaimana kalau kita main game?" Usul Sky.
"Huuu...dasar bocah, game apa emang?" Bery mengerucutkan bibirnya namun tetap ikut duduk. Mereka kini berhadapan dengan duduk bersila.
"Game jempol! Umi paling suka memainkannya denganku." Ucap Sky bersemangat.
Seketika wajah Bery berubah sendu. Ia merasa iri dengan kedekatan Sky dengan kedua orang tuanya. Berbeda dengan dirinya yang sedari kecil lebih banyak bermain dengan pengasuh di rumah.
"Kenapa? Apa aku salah?" Tanya Sky sedikit panik melihat perubahan raut wajah Bery meski di bawah percahayaan yang rendah.
Bery menggeleng, "gak Sky, kamu gak salah. Ayok main.." ajak Bery semangat kemudian mengambil satu bantal di atas pangkuannya.
Sejenak Sky menatap wajah Bery, merasa aneh dengan perubahan mood-nya yang terbilang cepat.
"Kok malah bengong? Ayok, katanya mau main..." ucap Bery mengangkat satu tangannya tepat di depan wajah Sky.
Sky langsung menyambut tangan Bery dengan kedua tangannya.
Deg..
Deg..
Seketika seperti ada sengatan listrik diantara keduanya. Sejenak mereka saling pandang dan tak ada yang ingin memutus kontak matanya.
"Sorry..sorry.." ucap Sky mengakhiri tatapannya kemudian meminta izin memegang tangan Bery.
"Aku pegang tangannya yah, seperti ini..." Sky memegang punggung tangan kanan Bery kemudian menyematkan 4 jarinya dengan 4 jari Bery lalu mengeratkannya.
"Nah, sekarang jempolnya ditempelkan dulu. Aturannya, siapa yang bisa menangkap jempol lawan dengan menghimpit jempol lawan dengan jempolnya dia dapat 1 poin. Misalnya, seperti ini..." Sky langsung menyerang jempol Bery kemudian menekannya dengan jempolnya.
"Gimana..gimana? Ulang!" Bery belum faham karen gerakan Sky terlalu cepat.
"Sekarang, coba jempol kita saling dijauhkan, terus cari timing yang tepat untuk men-take down jempol lawan. Hap..." Sky memberi contoh layaknya gerakan slow motion.
"Oke, i see.. i see.." Bery pun menganggukan kepalanya berkali-kali tanda mengerti.
Akhirnya mereka memulai permainannya. Bery begitu bersemangat hingga berkali-kali ia berteriak histeris saat merasa bisa mengalahkan Sky, lalu cemberut setiap kali Sky yang menang.
Hingga ronde ke sepuluh, belum sekalipun Bery berhasil menangkap jempol Sky.
"Stop..stop.. kamu curang, ini mah semut lawan gajah, anak TK lawan anak kuliahan. Kamu udah expert banget mainnya, aku malah baru kali ini mainnya. Kalah mulu lagi. Aku berhenti." Mode wajah Bery sekarang tampak seperti orang ngambek.
Sky merasa lucu melihatnya hingga tanpa sadar ia tertawa .
"Curang apanya? Ayok, main lagi. Practise make you perfect, right? Gitu aja ngambek!" Sky kembali mengambil tangan Bery ke dalam posisi bermain..
"Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan seratus... Posisi sekarang 100 : 10, aku menang!" Bery meledek dengan menjulurkan lidahnya.
"Nah, ini baru yang namanya curang, kalo curang harus dihukum." Ucap Sky asal.
"Ih..curang apanya? Gak ada yah dihukum hukum segala." Bery mangkir.
"Pokoknya harus dihukum." Sky tidak mau mengalah.
"Enggak.." Bery melempar bantal yang tadi ada di pangkuannya ke dada Sky.
"Oh.." Sky langsung bergerak cepat menangkap tangan Bery namun Bery sudah membaca sejak awal pergerakan Sky. Bery langsung menghindar dan melompat turun dari tempat tidur.
Sky tidak mau mengalah, ia mengejar Bery dan akhirnya berhasil menangkap kedua tangan Bery. Bery terus mundur karena tersudut oleh dorongan Sky hingga tubuh belakangnya mentok di dinding.
Nafas mereka memburu, Bery terus berusaha menghindar namun kedua lengan kekar Sky sudah mengungkung tubuhnya yang sudah terpojok.
"Sky, lepasin.. gak lucu ih.. lepasin gak?" Ucap Bery memukul-mukul lengan Sky.
"Kalau gak mau?" Tanya Sky dengan sorot mata tajam menusuk ke kedalaman mata Bery.
Posisi tubuh mereka sudah sangat dekat meski tidak rapat. Bery bisa merasakan nafas Sky di wajahnya dengan posisi seperti ini dimana Sky menunduk sementara Bery mendongak ke atas.
Bery mengendurkan perlawanannya, melawan Sky tentu tenaganya tidak sepadan.
Mata mereka masih saling bertaut, Bery kemudian berjinjit, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sky.
"Aku... akan..." Bery berbisik dengan menekankan kata-katanya dengan perlahan.
"Cup..."
Seketika Sky mematung. Ia sama sekali tidak menduga Bery akan melakukan ini kepadanya.
Bery langsung berlari ke tempat tidur lalu masuk dan membungkus dirinya dengan selimut. Hentakan denyut jantungnya memompa begitu dahsyat. Entah kegilaan apa yang menghampirinya hingga ia bisa melakukan hal memalukan tersebut. Ia terus merutuki dirinya di dalam selimut. Ia habis-habisan mengumpati dirinya sendiri. Sungguh memalukan!
Setelah beberapa menit mematung menatapi tembok, Sky kemudian mengelus pipinya yang tadi dikecup Bery. Andai kulit yang tadi dikecup Bery bisa dilepas, ia akan lepas kemudian akan ia laminating buat dijadikan kenang-kenangan.
Sky kembali merangkak naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Bery. Sky memiringkan tubuhnya menghadap tubuh miring Bery yang memunggunginya.
"Aku tau kamu belum tidur." Sky mencoba membuka selimut tebal yang menutupi bagian kepala Bery, ia khawatir Bery akan sesak nantinya.
"Buka selimutnya, gak sesak apa?"
"Iya...iya.. udah! Aku mau bobo." Akhirnya Bery pun menyingkap turun selimutnya sekedar tidak menutupi wajahnya.
"Yang ini dilepas yah?" Sky menyentuh dan sedikit menarik kain yang masih menutupi kepala Bery. "Kelihatan lembab, gak baik tidur dengan rambut masih begini, kerudungan pula."
Betul yang dikatakan Sky. Sedari tadi Bery merasa tidak nyaman dengan rambutnya yang terikat dalam keadaan basah saat habis mandi karena buru-buru takut kedapatan Sky. Meskipun sekarang sudah agak kering, namun bagian tempat tali ikatan rambutnya ia rasakan memang masih sedikit basah.
"Aku tidak akan melihatnya kalau kamu gak bolehin." Ucap Sky mengerti jika Bery belum siap memperlihatkan auratnya di depan Sky. Sky bergerak memunggungi Bery, tepat setelah itu Bery pun melepas jilbab instan yang sedari tadi dipakainya begitupun dengan ikat rambutnya..
Sekarang giliran Bery yang merubah posisi tidurnya miring menghadap punggung Sky.
"Sky..."
"Hmmm..."
"Tidur!!!"
"Hmmm..."
"Good night..."
"Good night, wife!"
Senyum melebar di wajah kantuk Sky, nafasnya pun mulai teratur, begitupun dengan Bery.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗