
Aku terbangun dan tidak menemukan Bery di sisiku. Kulirik jam dinding dan sudah menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit.
Aku melewatkan alarm, pasti Bery yang mematikannya.
Kepalaku rasanya sedikit berat, mungkin akibat terkena hujan semalam. Aku melakukan beberapa exercise untuk meregangkan otot-ototku. Biasanya, di saat kepalaku terasa berat, sedikit berkeringat akan membantu meringankannya. Tidak lama, cukup 10 menit melakukan beberapa gerakan sederhana dan itu akan menghasilkan keringat.
Setelah selesai olahraga ringan, aku penasaran akan keberadaan Bery. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, namun sepertinya indera penciumanku menangkap sebuah aroma yang mulai menusuk.
Aku bergegas menuruni tangga dan menemukan 2 piring mie goreng di atas meja makan. Bery tampak serius merapikan dapur yang asli penampakannya sudah melebihi kapal pecah.
Dengan langkah pelan kudekati dirinya, kulingkarkan kedua tanganku diperutnya kemudian menggantungkan daguku di pundaknya.
"Morning, wife!" Sapaku sambil mengendus leher jenjangnya yang putih mulus.
Bery bergedik geli, "Sky! Kamu ngagetin aku." Ucapnya sambil terus menyelesaikan pekerjaannya.
"Istrinya Sky rajin banget, makin cinta deh!" Ucapku lagi-lagi memainkan bibir di lehernya juga tengkuknya.
Aku tersenyum melihat tubuh Bery yang meremang. Kuelus lembut lengannya yang menunjukkan bulu romanya yang masih berdiri.
"Sky, geli ih.. aku udah masak, makan sana!" Usirnya mendorong kedua sikunya melebar membuat pelukanku akhirnya terurai.
"Ayo makan bersama, nanti biar aku yang beresin dapur!" Kutarik tangan Bery ke washtafel kemudian mencuci kedua tangannya.
Tanpa protes, Bery mengikuti semua yang kulakukan kepadanya. Sekarang kami sudah sama-sama duduk di meja makan dengan bersisian.
Kuseruput kopi hitam yang masih panas buatan Bery. "Kopi buatan kamu selalu yang terbaik." Ucapku tulus dan bersemangat.
"Gombal!" Ucapnya cemberut.
Mengabaikan tuduhannya yang mengatakan gombal itu, aku langsung mencicipi mie buatannya.
Sejenak aku terdiam, mengunyah dengan pelan, membiarkan lidahku semakin lama mencecapi rasa masakan perdana istriku ini.
Kulirik Bery yang wajahnya menyimpan sejuta rasa penasaran akan bagaimana tanggapanku dengan rasa masakannya.
"Bagaimana? Enak gak?" Tanyanya menatapku intens.
Aku mengambil suapan kedua kemudian melahapnya penuh minat.
"Perfect!!!" Ucapku mengangkat kedua jempolku ke depan wajahnya.
"Serius? Kamu gak bohong kan?" Tanyanya tidak percaya.
"Ini enak, ini mie goreng seafood terenak sejagad raya yang pernah aku makan. Coba deh!" Ucapku menjawab keraguannya dengan mengambil satu suap kuarahkan kepadanya.
Ia membuka mulut dan memakannya. Dia mengunyahnya pelan dan sepertinya juga sedang mengenali rasanya.
"Bagaimana?" Giliran aku yang bertanya.
"Enak, lumayan... aku gak nyangka bisa masak yang rasanya seperti ini. Pas!"
"Istriku memang paling the best!" Ucapku memujinya.
"Thanks, besok-besok aku akan belajar lagi bikin resep lain."
Aku tidak menyangka Bery bisa seantusias dan sebahagia itu karena masakan perdananya di rumah ini berhasil.
"Siiipppp, aku tidak sabar jadi kelinci percobaan!" Ucapku menyeringai usil.
"Enak tidak enak kamu wajib makan." Ucapnya dengan mulut penuh.
Aku mengangguk dan menghabiskan makanan di piringku dengan lahap.
"Oh yah Sky, itu isi kulkas sama freezer, kamu bikinnya kapan? Rajin banget.. tapi keren sih, aku suka, masaknya jadi lebih gampang dan porsinya pas untuk kita berdua."
"Itu aku beli sama teman yang punya bisnis barang fresh. Jadi mereka kirimkan sesuai pesanan costumers. Kita kan hanya berdua, jadi aku minta ikan dan yang lain-lain itu masing-masing dimasukin ke dalam box, termasuk sayurannya yang juga sudah dipotong-potong. Tapi dipilih-pilih juga sih, mana yang boleh dipotong dan tahan berapa lama, mana sayuran yang baru bisa dipotong-potong saat akan langsung dimasak. Itu sudah diberi label nama dan tanggalnya. Dan yang paling membantu menurutku sih urusan perbumbu-bumbuannya yang lengkap. Mau masak apa saja kita tinggal panasin di kompor, gak perlu bikin nangis tiap hari gara-gara iris bawang. He he he!"
Bisnis barang fresh seperti ini amat sangat membantu untuk para keluarga yang dua-duanya sibuk bekerja, tapi kalau kata owner-nya, justru pelanggannya kebanyakan mama-mama muda di rumah yang lagi punya baby dan balita. Pokoknya sangat cocok untuk mereka yang malas belanja ke pasar apalagi yang tidak punya banyak waktu karena kesibukannya bekerja atau mengurus rumah.
"Aku kirain kamu yang bikin. Trus kamu dapat duitnya dari mana? Bukannya debit card kamu ada sama aku?"
"Kebetulan bisnis barang fresh tadi aku yang modali temanku itu, jadi kami bagi hasil. Nah, sebagian hasil dari bagi hasil tadi udah dipotong untuk memenuhi isi kulkas kita." Ucapku tersenyum kepadanya.
"Kamu itu masih nyimpan banyak rahasia dari aku, Sky. Isi rekening kamu itu isinya lumayan banyak untuk ukuran mahasiswa seperti kamu. Aku tau kamu ikut kerja di perusahaan abi, tapi paling gaji kamu berapa di sana dan aku juga tahu kalau sejak kuliah kamu tidak lagi mengambil uang jajan dari abi."
Akhirnya satu pertanyaan itu keluar juga. Aku sebenarnya bukannya ingin menyembunyikan banyak hal kepada Bery, hanya saja belum mendapat momennya untuk itu. Apalagi aku fikir Bery tidak tertarik untuk tahu banyak hal tentang diriku.
"Maaf! Aku fikir kamu gak berminat tau tentang diriku!" Ucapku jujur.
Bery mendesah pelan kemudian meletakkan sendoknya sedikit kasar.
"Kita itu suami istri, Sky. Aku sebagai istri kamu berhak tau darimana sumber penghasilan suami aku, aku perlu tau halal apa tidak, kamu dapat dari jalan yang jujur apa nipu? Aku tidak peduli seberapa banyak yang kamu hasilkan, aku hanya peduli kehalalannya, Sky!"
Aku meraih kedua tangan Bery kedalam genggamanku. "Kamu tenang saja, InsyaaAllah semuanya dari sumber yang halal." Ucapku meyakinkan agar tidak ada keraguan di dalam hatinya.
Aku mengerti kekhawatirannya. Aku sama sekali tidak tersinggung apalagi marah karena diragukan seperti ini. Aku justru senang melihat kehati-hatiannya dalam menerima nafkah yang diberikan suaminya.
Betapa banyak kepala keluarga yang membawa pulang nafkah yang tidak halal ke dalam rumahnya dan berapa banyak istri yang tidak peduli dengan sumber datangnya nafkah tadi. Bahkan banyak kepala keluarga yang akhirnya terjerembab pada perilaku korupsi, menipu bahkan mencuri demi memenuhi tuntutan istrinya.
"Dihabisin dulu makanannya, nanti kita bicara lagi." Imbuhku kemudian mengangkat piringku ke washtafel dan melanjutkan pekerjaan Bery tadi membereskan dapur.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat banyaknya wadah yang dipakai dan percikkan minyak bahkan sampai ke lantai dan dinding dapur. Luar biasa kekacauan yang diciptakannya, tapi tentu saja sebanding dengan rasa masakan yang dihasilkannya.
Begini saja rasanya sudah sangat membahagiakan dan melegakan. Melihat usaha Bery pagi ini untuk melakukan tugasnya sebagai istri yang baik membuat diriku berjanji akan lebih giat lagi dan akan terus berusaha membuatnya bahagia.