
"Jadi kalian sudah nikah hampir 2 bulanan ini?" Tanya bu Kinan yang masih sulit mempercayai fakta bahwa kami benar memang sudah menikah.
Bu Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak.
"Pantesan saja cuti kalian selalu barengan, dari cuti nikah, cuti ke Bali, cuti sakit dan cuti-cuti lainnya."
Aku dan Sky hanya tersenyum melihat wajah antusias bu Kinan.
"Kamu pake pelet apa, Sky? Aku ini salah satu saksi hidup banyaknya laki-laki tampan dan mapan berguguran di tengah jalan mendapatkan dia. Lah kamu, sorry to say yah Sky, kamu ini meski tampan, tapi kan masih mahasiswa, dompet kamu pasti masih tipis, kok bisa Sky???"
Aku hanya tersenyum mendengarnya, bagiku Sky lumayan berdompet tebal untuk ukuran seorang mahasiswa.
"Aku jebak dia, bu!" Jawab Sky tanpa tedeng aling.
"Maksudnya?" Bu Kinan masih belum mengerti.
"Aku pepet dia sampai ke orang tuanya, pokoknya aku buat kondisi dimana dia tidak punya pilihan lain selain menerima aku jadi suaminya!" Sky tersenyum lalu mengerlingkan matanya kepadaku.
Dasar bocah, jadi dia memang niat banget mau nikahin aku dari awal, pantas saja alasannya klise banget waktu itu, pake acara bawa-bawa nama Nindi lagi.
"Keren kamu, Sky! Tipe dia ini memang gak bisa didekati pake kata-kata manis atau pake bunga, bahkan bunga bank pun gak mempan!"
"Bunga bank mah riba, bu! Dosa..." Sela Sky dan ditanggapi tawa keras dari bu Kinan.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat mereka berdua yang sepertinya terlalu asyik menggosipi aku di depan mata kepalaku sendiri.
Karena bu Kinan tidak bisa berlama-lama di rumah dan mesti kembali ke kantor, akhirnya beliau pun pamit dan memperingatkan bahwa dia masih belum puas mendengar kisah pernikahan dadakan kami itu.
--
--
"Kamu jangan mengalihkan, Sky! Terlalu banyak rahasia yang kamu simpan dariku. Ceritakan semuanya!" Ucapku menarik Sky duduk di sofa saat ia ingin berbaring di kasur.
"Tanyakan saja! Aku bukannya punya banyak rahasia, hanya saja selama ini kamu tidak pernah melihatku, jadi wajar kamu tidak tau apa-apa tentang diriku."
"Oke, pertanyaan pertama... apa yang kamu tau tentang diriku?" Tanyaku memulai, aku merasa terganggu seolah-olah hanya dia saja yang tahu tentang diriku sementara aku sama sekali tidak mengenalnya.
"Hampir semuanya, hampir!!!" Jawabnya mantap.
Aku tidak mengerti dengan ucapan sok tahunya itu, "jangan mengada-ada Sky, kita baru menikah belum dua bulan dan meski kita sudah saling mengenal lama tapi interaksi diantara kita itu masih bisa dihitung jari sebelum kamu magang di kantor! Jadi kamu tau apa?"
"Aku tau cukup banyak dan siapa saja laki-laki yang berusaha mendekati kamu."
Keningku berkerut, apa dia menguping pembicaraanku dengan Nindi? Tapi Nindi taunya tidak sedetail itu.
Mataku membulat mengingat sesuatu.
"Kamu menguntitku, Sky?"
Sky mengangguk!
"Subhanallah.. aku jadi curiga sama kamu Sky, jangan-jangan mereka-mereka yang ngejar-ngejar aku tiba-tiba menghilang kabarnya seperti ditelan perut bumi karena ulah kamu. Bahkan ada beberapa orang yang tiba-tiba pura-pura tidak melihatku bahkan seolah-olah tidak pernah mengenalku sama sekali. Apa itu juga ulah kamu???" Tanyaku melotot.
"Satu lagi, kadang-kadang aku merasa seperti ada yang mengikutiku. Oh..God!" Ingin rasanya mengumpat tapi kutahan, aku bukan orang yang suka mengumpat. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang.
"Berarti itu kamu Sky? Berkali-kali aku seperti melihat kamu di sekitarku tapi aku abaikan karena merasa itu tidak mungkin kamu, tidak mungkin laki-laki yang selalu menatapku tanpa ekspresi dan tidak pernah mengajakku berbicara mau repot-repot mengikutiku."
"Apakah kamu terobsesi kepadaku, Sky? Jangan-jangan kamu gak cinta sama aku, tapi kamu hanya terobsesi kepadaku."
Sky menggeleng cepat.
"Jangan menuduhku seperti itu, di sini sakit mendengarnya." Ucap Sky sendu memegang dadanya.
Aku masih berusaha mencerna penjelasan panjang yang dikatakannya itu. Aku masih tidak habis fikir bagaimana Sky menguntitku selama itu.
"Jadi apa yang kamu lakukan kepada mereka?"
"Aku bilang ke mereka kalau kamu adalah istriku!" Ucapnya menyeringai.
"Dan mereka percaya?" Tanyaku penasaran.
"Tentu saja, aku punya banyak cara untuk membuat mereka percaya dan akan berfikir 1.000 kali untuk mendekati kamu lagi. Sedikit shock teraphy tidak akan membuat mereka kehilangan nyawa." Jawabnya menampakkan raut wajah bengis.
"Oh, apakah aku menikahi laki-laki yang terlibat dalam salah satu organisasi rahasia seperti agen pembunuh misalnya atau mafia?" Gumamku bergedik ngeri.
Pletak!
Jari Sky menyentil keningku.
"Aowww.. apaan sih, Sky? Sakit tau!" Kesalku mengelus keningku yang sebenarnya tidak sakit karena Sky melakukannya dengan pelan.
Sky langsung mendekatkan wajahnya kemudian meniupnya dan mengelusnya dengan ibu jarinya.
"Begini-begini aku tetap pria baik-baik, apaan mafia-mafia segala?" Ucapnya tidak senang dengan tuduhanku tadi.
"Aku adalah pria yang paling ingin melihatmu bahagia, percayalah!"
Aku bisa melihat kesungguhan dari pancaran sinar matanya.
"Kalau bahagiaku bukan kamu, apa kamu akan melepasku?"
Sky menunduk, mendesah pelan, bisa kulihat tangannya mengepal kuat seperti menahan sesuatu yang hendak meledak. Sepertinya pertanyaanku melukainya.
"Aku adalah pria yang sudah tidak tau caranya pergi dari kamu," ucapnya lemah, Sky kembali menghela nafas berat kemudian menatapku dengan sorot mata tajam yang mampu menembus langsung ke jantungku.
"Katakan apapun yang bisa membuat kamu bahagia, akan kulakukan semuanya, tapi jangan memintaku melepaskan kamu!"
Aku tersenyum menatapnya penuh haru, sepersekian detik aku menghambur ke dalam pelukannya, meresapi alunan melodi debar jantungnya yang menggetarkan jiwa.
"Untuk kedua kalinya aku memintamu, Sky... buatlah aku jatuh cinta kepadamu karena aku akan menjadi perempuan paling bodoh di dunia ini bila menyia-nyiakan laki-laki sebaik kamu." Ucapku mempererat pelukanku dan dibalasnya dengan kecupan-kecupan ringan di kepalaku.
Sky mengurai pelukan kami dan menatapku dengan tatapan memujanya.
"Itu pasti, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku hingga kamu tidak bisa lagi melihat laki-laki lain selain diriku. Aku akan membuatmu merasakan sensasi perasaan cemburu hingga cemburumu pun tidak akan luput dari kak Nindi bahkan umi sekalipun." Ucapnya percaya diri.
"Itu tidak masuk akal, Sky! Kamu yang akan ketar-ketir melihat aku didekati banyak laki-laki di luar sana." Aku tak kalah percaya diri darinya.
"Cinta itu memang terkadang tidak masuk akal. Kamu belum pernah melihat gadis-gadis di luar sana menatapku penuh hasrat, sayang!"
"Jangan macam-macam, Sky! Jangan pernah coba main api." Ancamku menatapnya tajam.
"Tidak akan sayang, aku adalah pria yang paling tidak ingin menyakitimu!"
"Good boy!!! Next, masih banyak yang ingin aku tanyakan ke kamu." Sky kembali menatapku lurus menunggu pertanyaan selanjutnya.
"Apa yang kamu lakukan kepada Rio? 3 hari... dia bilang akan menagih jawabanku dalam 3 hari tapi hingga detik ini dia sama sekali tidak ada kabar. Aku yakin kamu terlibat, jadi cepat katakan apa yang kamu lakukan kepadanya???"
Sky langsung terlihat menelan ludahnya kasar namun sesaat kemudian ekpresinya berubah salah tingkah dan memandangku dengan seringaian usilnya.
Aku hanya bisa mendesah kasar dan menggelengkan kepala. Melihat mimik wajahnya yang tiba-tiba sok polos, aku yakin dia sudah melakukan sesuatu yang tidak wajar kepada Rio.
Aku tidak ingin memikirkannya, selama itu bukan tindakan kriminal, terserah!!!