HAPPIER

HAPPIER
BAB 63



Mata Bery melotot tajam kepadaku, lalu sepersekian detik tersenyum kepada Stella saat Stella meminta persetujuannya.


"Gak papa kan kak kalo Sky tetap di sini."


Uugghh.. aku paling tidak suka melihat tampang memohon Stella seperti ini kepada Bery.


"Oh.. gak papa, itu terserah Sky. Aku permisi yah."


Apa katanya? Terserah? Aku benar-benar kecewa mendengarnya apalagi saat dia duluan berjalan tanpa menoleh lagi kepadaku. Ada yang sakit di dadaku!


"Hati-hati kak!" Ucap Stella. "Sky, gak papa kan kamu di sini dulu?"


Ucapan Stella membuatku tersadar karena sempat bengong melihat Bery pergi begitu saja.


"Maaf Stella, aku ada urusan penting dan mendadak. Aku tinggal dulu!"


Aku langsung bergegas meninggalkan Stella di sana. Bersyukur sekali ada notifikasi sms iklan togel masuk di ponselku sehingga aku punya alibi untuk segera kabur. Padahal aku sudah hampir menyerah mencari alasan agar bisa kabur.


Aku tidak mengerti, kenapa sekarang isi folder sms semuanya diisi oleh pesan dari nomor tidak dikenal yang isinya tidak jelas? Apa hanya rakyat jelata saja yang dapat sms seperti itu? Apa pegawai provider dan pegawai kementrian terkait luput dari pesan-pesan seperti itu?


Aku mempercepat langkahku mengejar Bery, tapi dia sudah tidak ada. Mungkin sudah masuk gedung kantor, pikirku.


Cepat-cepat kunaiki tangga dan masuk ke dalam ruangan, tidak ada Bery. Ada dompet dan ponselnya. Mungkin di toilet! Kembali pikiran positifku bekerja.


Namun hingga 1 jam Bery tidak juga muncul. Aku keluar menemui ibu Kinan, pasti beliau sudah stand by di depan karena jam istirahat sudah usai.


"Bu, lihat Bery gak?" Tanyaku berusaha menutupi rasa kesalku.


"Loh.. bukannya tadi kalian keluar bareng?" Jawab bu Kinan tampak bingung.


"Iya, tapi dia duluan balik."


"Sudah hubungi ponselnya?"


"Ponselnya ada di dalam."


"Mungkin lagi di toilet, musholla atau ruang meeting." Benar juga apa yang dikatakan bu Kinan.


Mungkin lagi meeting, kalau sholat, di ruangan Bery ada space tersendiri buat sholat.


"Ya sudah, saya tunggu di dalam saja." Pamitku kemudian kembali ke ruangan.


Tidak tenang menunggu di ruangan, aku putuskan menyisir setiap sudut kantor untuk mencarinya, bahkan sudah beberapa orang sudah kutanyai namun tidak ada yang tahu.


Hingga memasuki azan Asar, Bery tidak juga kembali. Aku mulai merasa aneh dan khawatir.


Aku baru ingat, ada kamera tersembunyi yang kupasang di dalam ruangan ini. Kubuka ponselku dan melihat rekaman dari jam sebelum aku tiba di sini. Tak ada Bery sama sekali, dia tidak pernah kembali ke ruangan. Kemana dia?


Pikiranku mulai tidak tenang, masalahnya dompet dan ponselnya tidak dia bawa.


Kuambil ponselnya dan memeriksa sesuatu di sana. Binggo, ponselnya terhubung dengan kamera cctv di apartemennya. Ternyata dia pulang ke apartemennya. Naik apa? Bayar pake apa? Tanyaku dalam hati.


Aku bergegas sholat Asar dan setelah itu langsung pulang ke apartemen Bery.


Apa dia marah kepadaku? Tapi dia yang ninggalin aku di kafe tadi, dia juga yang bilang terserah dan sekarang dia yang marah.


Sesampainya di apartemen Bery, aku langsung masuk ke unitnya tanpa menekan bel. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di ruang tamu. Kubuka kamarnya namun tidak menemukan dia di dalam.


Aku keluar kemudian mencarinya di ruang kerja, tapi juga tidak ada. Aku kembali melangkahkan kakiku ke kamar dan mendapatinya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sky!" Dia tampak kaget melihatku namun sesaat kemudian wajahnya tampak acuh lalu mengambil pakaian gantinya dibawa masuk ke kamar mandi.


Apaan? Aku memilih duduk di sisi kasur menunggunya.


"Kenapa pulang tidak bilang aku?" Tanyaku setelah dia keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di depan meja rias menyisir rambutmya.


Dia hanya diam tidak menanggapi.


"Aku seperti orang gila cari kamu, mana dompet dan ponsel kamu ditinggal di kantor. Aku langsung kejar kamu tadi, tapi kamu sudah menghilang. Aku mencarimu di setiap sudut kantor, tapi tidak ada." Ucapku lagi kepadanya.


"Ponselku mana?" Bery memutar badannya menghadapku tapi yang ditanyakan malah ponselnya.


"Itu!" Jawabku memajukan bibir ke arah tas slempangku yang ada di salah satu sudut kasur.


Bery langsung berjalan ke sana kemudian mengambil ponsel dan dompetnya. Dia duduk memainkan ponsel, mengabaikanku.


"Sayang, kamu marah?" Tanyaku seraya melingkarkan tanganku di perutnya.


"Enggak." Jawabnya singkat.


"Kalau gak marah kenapa pulang gak bilang? Pulangnya ke sini lagi, bukan ke rumah kita."


"Aku tadi kebetulan ketemu mas Rangga, jadi sekalian aja ke sini." Ucapnya santai.


Aku langsung memutar tubuhnya menghadapku, aku sampai kehilangan kata tidak tahu harus berkata apa setelah mendengarnya mengatakan itu.


Sejak kapan dia memanggil pak Rangga dengan sebutan Mas?


Bery menatapku datar, tak ada senyum atau raut wajah cerah di sana. Setengah mati aku menahan emosi melihatnya. Kok bisa sesantai itu pulang dengan laki-laki lain sementara suami ditinggal.


Aku mendesah pelan kemudian berlalu masuk ke kamar mandi. Lebih baik aku mengurung diri di sana, mendinginkan rasa panas yang menyeruak di hatiku, daripada aku marah dan meluapkan emosiku di depan Bery, bisa-bisa Bery semakin marah kepadaku.


*****


Aku benar-benar gondok sama Sky, gak peka banget jadi suami. Harusnya dia langsung menolak Stella walaupun aku bilang terserah. Hatiku panas dong, akhirnya aku langsung meninggalkan mereka. Aku menoleh setelah keluar dari kafe tapi dia tidak mengejarku.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku.


"Butuh tumpangan?" Ucapnya setelah menurunkan kaca mobilnya.


Tanpa berfikir lagi, aku langsung masuk ke dalam mobil dan memintanya langsung jalan.


"Mau diantar kemana?" Tanyanya.


"Apa bapak keberatan kalau mengantar saya ke apartemen? Dompet saya ketinggalan!" Ucapku nyengir.


"Tidak masalah, kemana saja boleh, diantar ke KUA pun aku siap." Ucapnya sambil tertawa ringan.


"Pak Rangga ada-ada saja."


"Gak usah terlalu formal, panggil Rangga saja, kita kan tidak sedang dalam urusan pekerjaan."


Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Mmmm...bagaimana kalau mas atau abang?"


"Senyamannya kamu aja, mas boleh, abang juga boleh." Jawabnya diplomatis.


"Oh yah, tidak apa-apa kan kalau aku jemput Sasa dulu ke sekolahnya?" Tanyanya lagi.


"Oh, gak masalah pak, eh..mas!"


Aduh, niatnya pulang cepat malah harus ikut jemput anaknya. Semoga sekolahnya tidak terlalu jauh.


"Gak jauh kok dari apartemen." Ucapnya seolah tahu apa yang kufikirkan.


Dan ternyata sekolah Sasa memang tidak jauh dari apartemen, malah searah dengan jalan pulang dari kantor.


Aku memilih menunggu di mobil saat mas Rangga masuk ke area sekolah menjemput Sasa. Tidak mungkin aku ikut masuk menjemput anaknya, bisa jadi bahan ghibahan dong akunya nanti.


"Hai, aunty! Ketemu lagi.." sapa Sasa dengan suara cadelnya setelah duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Hai cantik, iya kita ketemu lagi, kamu jadi lebih besar sekarang." Ucapku tersenyum ramah kepada Sasa yang tampak menggemaskan.


"Aunty mau jadi mama Sasa yah?"


What?


Aku bergeming kemudian menyorot wajah mas Rangga yang sudah duduk di depan kemudi.


"Aunty ini teman papa, sayang!" Biar mas Rangga yang memberi penjelasan kepada anaknya.


"Tapi papa bilang mau kasi mama ke Sasa!" Anak itu cemberut kemudian membuang muka ke arah jendela.


Mas Rangga mengelus tengkuknya, melirikku dengan senyum kikuk, "maaf yah, Ber! Dia hanya kangen mamanya."


"Iya mas, wajar kok. Usia-usia seperti ini memang dia akan banyak bicara dan ingin dekat dengan mamanya."


Sisa perjalanan kami habiskan dalam diam, aku melirik ke belakang dan Sasa sudah tertidur.